Artikel

Artikel

Barometer Kepemimpinan Kristen

"Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku [terus] mengejarnya... Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan." (Filipi 3:12; 4:12)

Bagaimana membedakan pemimpin yang unggul dan cukupan? Apakah ukuran kepuasan diri pemimpin?

Dalam dunia bisnis, ada banyak indikator yang dipakai sebagai tolok ukur efektivitas seorang pemimpin di berbagai level (dari jajaran supervisor sampai CEO). Indikator tersebut biasanya terkait dengan hasil yang konkret, yang dapat dikuantifikasi seperti besar laba, harga saham, penghematan biaya, kuantitas produk, kualitas jasa, efisiensi waktu, dan sebagainya. Read more about Barometer Kepemimpinan Kristen

Menakar Keabsahan Diri Sebagai Pemimpin Rohani (II)

Catatan: Dalam e-Leadership 118, telah dipaparkan hal pertama untuk mengukur kepemimpinan rohani sejati, yaitu membangun kepemimpinan di atas kehendak Allah. Dalam edisi 119, kita akan melihat 2 hal lainnya, yaitu meneguhkan kepemimpinan dengan motivasi agung sebagai pemimpin rohani dan membuktikan kepemimpinan dengan memperjuangkan hal besar yang inklusif, yang akan diakhiri dengan suatu refleksi.

2. Meneguhkan Kepemimpinan dengan Motivasi Agung sebagai Pemimpin Rohani

Dalam upaya menegaskan bahwa saya dan Anda ada dalam kehendak Allah yang sesungguhnya, kita harus meneguhkan sikap kita sebagai pemimpin rohani. Pemimpin rohani adalah dia yang menyadari bahwa Tuhan Allah, demi kemurahan-Nya telah memanggilnya kepada keselamatan. Pemimpin rohani yang terpanggil oleh Tuhan Allah akan selalu berupaya untuk mendahulukan kehendak Allah. Mendahulukan kehendak Allah haruslah nyata dalam hati, pikiran, sikap, kata, serta tindakan, dengan memerhatikan kebenaran berikut ini. Read more about Menakar Keabsahan Diri Sebagai Pemimpin Rohani (II)

Menakar Keabsahan Diri Sebagai Pemimpin Rohani

"... kamu yang rohani, harus memimpin orang ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut...." (Galatia 6:1b)

Pengantar

Seorang pemimpin yang sejati, tahu siapa dirinya, mengapa ia ada, di mana ia berada, ke mana ia akan pergi, dan apa yang akan dicapainya. Kebenaran ini menegaskan bahwa sejatinya, seorang pemimpin harus tahu apa yang menyebabkan ia ada dan berada, serta mengapa ia ada sebagai pemimpin. Hal ini menjelaskan tentang beberapa pertanyaan penting, antara lain: pertama, apa landasan bagi legitimasi kepemimpinannya, yang memberikan otoritas serta keyakinan kepadanya untuk menjadi pemimpin. Landasan legitimasi yang memberi otoritas ini sekaligus memberikan indikator tentang landasan, dinamika, dan arah kepemimpinan dari organisasi yang dipimpinnya. Kedua, apa motivasi yang mendorongnya untuk berada pada tempat di mana ia berada sekarang sebagai pemimpin. Pertanyaan ini mempertanyakan tentang nilai anutan yang memberikan dorongan kepada pemimpin untuk mewujudkan keberadaannya. Ketiga, apa visi dan misi kepemimpinannya yang memberikan arah dan tugas yang akan dikerjakan untuk menggapai idealisme kepemimpinannya. Meneguhkan kebenaran kepemimpinan ini, seorang pemimpin sejati harus memastikan faktor-faktor prima yang merupakan dinamika bagi keberadaannya sebagai pemimpin. Menjawab untaian aspek yang membawa seseorang menjadi pemimpin seperti ini, La Rochefoucauld mengatakan: "Kejayaan orang-orang besar harus selalu diukur dari cara yang mereka gunakan untuk mencapai kejayaan tersebut." Read more about Menakar Keabsahan Diri Sebagai Pemimpin Rohani

Pemimpin yang Baik Memiliki Strategi (II)

Berapa besar kehidupan Anda yang tersentuh strategi?

Sekali Anda memahami apa yang dimaksud dengan strategi dan mengapa ia begitu penting, maka setiap bagian dari kehidupan Anda akan dibawa ke dalam strategi. Sebenarnya, ada tiga bagian dasar yang memengaruhi strategi Anda: kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, dan kehidupan organisasi.

Sering kali, sasaran mencerminkan keyakinan dan iman kita di dalam Allah yang berkuasa. Apakah kita memercayai Dia untuk melakukan pekerjaan-Nya di dalam kita? Read more about Pemimpin yang Baik Memiliki Strategi (II)

Pemimpin yang Baik Memiliki Strategi (I)

Jangan miliki tujuan, maka Anda akan melanggarnya setiap saat! Kita semua telah mendengarkan itu dari waktu ke waktu. Tetapi sayang, kebenarannya hanya sampai ke dalam hati sedikit orang! Tahukah Anda ke mana Anda pergi? Para pemimpin yang baik harus memiliki strategi. Mereka harus mengetahui bagaimana cara mengerjakan sesuatu. Read more about Pemimpin yang Baik Memiliki Strategi (I)

Pentingnya Kepemimpinan Kristen yang Visioner (II)

Red.: Dalam e-Leadership 114 telah dibahas hal pertama mengenai pentingnya visi bagi pemimpin, yaitu visi menggerakkan organisasi/gereja yang dipimpin. Berikut ini adalah pembahasan bagian berikutnya.

2. Visi Menentukan Tujuan, dan Tujuan Menyatakan Arah dan Sasaran Sebuah Organisasi

Bob Gordon mengatakan, "Ketiadaan visi akan membawa orang-orang hanyut dalam keberadaan yang tanpa arti, tanpa tujuan, dan tidak efektif". Oleh sebab itu, visi sangat penting untuk memberi petunjuk -- memungkinkan kita mengetahui ke mana kita akan melangkah dan apa yang hendak kita capai. Wafford, mengungkapkan bahwa visi seumpama "gyros" (semacam kompas) yang akan menentukan suatu arah yang benar bagi organisasi. Dengan visi yang jelas, maka ke sanalah segala usaha diberdayakan dan difokuskan. Read more about Pentingnya Kepemimpinan Kristen yang Visioner (II)

Penderitaan dan Kematian Kristus: Membatalkan Tuntutan Hukum Taurat Terhadap Kita

"Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu... telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib." (Kolose 2:13-14)

Sangatlah bodoh kita memiliki pemikiran bahwa perbuatan baik kita pada suatu hari nanti akan cukup membayar keburukan yang kita lakukan. Ada dua alasan mengapa kita mengatakan pemikiran itu sebagai kebodohan.

Pertama, pemikiran itu sama sekali tidak benar. Semua perbuatan baik kita pun tidak sempurna, karena kita tidak memuliakan Tuhan dalam cara kita melakukannya. Apakah kita melakukan kebaikan dalam ketergantungan dengan penuh sukacita pada Tuhan dengan tujuan menyatakan kemuliaan-Nya? Apakah kita telah memenuhi perintah untuk melayani "dengan kekuatan yang telah dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus" (1 Petrus 4:11)? Read more about Penderitaan dan Kematian Kristus: Membatalkan Tuntutan Hukum Taurat Terhadap Kita

Menjadi Pemimpin yang Menginspirasi (II)

Catatan Redaksi: Dalam edisi lalu dicatat bahwa kualitas seorang pemimpin harus memiliki: kejujuran dan kesetiaan. Simaklah lanjutannya dalam artikel berikut ini.

3. Kemurahan Hati

Para pemimpin harus memuji pekerjaan yang sudah diselesaikan dengan baik. Kita semua membutuhkan tepukan di pundak secara terus-menerus dan kata-kata yang memberikan dorongan. Tetapi pujian memunyai efek yang baik dan yang buruk. "Kui untuk melebur perak dan perapian untuk melebur emas, dan orang dinilai menurut pujian yang diberikan kepadanya." (Amsal 27:21)

Pujian adalah alat uji yang terbaik terhadap karakter seseorang. Jika seseorang dipenuhi oleh keangkuhan, jika mereka hanya mencari kemegahan dirinya sendiri dan lapar terhadap pengakuan, sebuah pujian hanya akan memperbesar kelemahannya. Sebaliknya, jika seseorang rendah hati dan bijaksana, sebuah kata-kata pujian akan dapat dipakai oleh Tuhan untuk mendorong mereka melakukan pelayanan yang lebih besar lagi bagi Kristus. Oleh sebab itu, para pemimpin harus mengenal setiap anggota mereka dan memperlakukan masing-masing sesuai dengan kebutuhan pribadinya. Read more about Menjadi Pemimpin yang Menginspirasi (II)

Menjadi Pemimpin yang Menginspirasi (I)

Para pemimpin perlu memastikan orang-orang yang berada di bawah mereka senantiasa bertumbuh. Orang Kristen yang baru bertobat membutuhkan susu murni berupa firman Allah, kasih yang melimpah, perlindungan, rasa memiliki dalam keluarga Kristus, pelatihan-pelatihan mengenai cara menjalani hidup, dan lain sebagainya. Murid yang sedang bertumbuh membutuhkan kedisiplinan untuk bersaat teduh setiap hari, mendalami Alkitab secara konsisten, menghafal ayat Alkitab, dan juga bimbingan untuk berani bersaksi. Petobat baru ini juga harus diperkenalkan kepada gaya hidup yang melayani sesama.

Pekerja yang bertunas harus memantapkan dasarnya dalam doktrin iman, memperdalam kehidupannya kepada kesucian dan kekudusan, dan menajamkan kecakapan pelayanannya; mereka juga harus memiliki komitmen yang kukuh kepada ketuhanan Kristus dan visi yang jelas mengenai citra diri dan potensi tiap-tiap individu. Akhirnya, setiap calon pemimpin membutuhkan pelatihan khusus untuk ketegasan dalam kepemimpinan yang mandiri. Jika kumpulan orang-orang ini -- orang-orang Kristen baru, murid-murid yang bertumbuh, pekerja-pekerja yang bertunas, dan calon-calon pemimpin -- merasakan bahwa mereka berada di dalam perhatian orang-orang yang berkomitmen untuk menolong mereka bertumbuh dan berkembang, maka moral dan motivasi mereka akan meningkat. Read more about Menjadi Pemimpin yang Menginspirasi (I)

Harga Sebuah Kepemimpinan (II)

Catatan: Dalam edisi lalu, sudah diuraikan aspek-aspek yang perlu diperhatikan pemimpin dalam membayar harga untuk mencapai keberhasilan, yaitu kritik, keletihan, waktu untuk berpikir, kesendirian, dan identifikasi. Di bawah ini, aspek-aspek lainnya yang harus diperhatikan untuk mencapai keberhasilan.

6. Membuat Keputusan yang Tidak Menyenangkan

Harga lain yang harus dibayar oleh pemimpin ketika ia mulai mengenali atau menyamakan diri dengan anggotanya adalah membuat keputusan yang memengaruhi pencapaian akhir organisasi. Sering kali, tugas pemimpin yang efektif adalah menyingkirkan seseorang yang tidak menampilkan kinerja sesuai standar. Organisasi Kristen sering kali bermasalah dalam hal ini, karena para pemimpin secara alamiah enggan menyakiti hati anggotanya. Read more about Harga Sebuah Kepemimpinan (II)

Pages

Komentar