Kerendahan Hati bagi Pemimpin Kristen

Jangan melakukan apa pun dari ambisi yang egois atau kesombongan yang sia-sia; tetapi dengan kerendahan hati, anggaplah orang lain lebih penting daripada dirimu sendiri. Janganlah masing-masing kamu hanya memandang kepada kepentinganmu sendiri, tetapi juga kepada kepentingan orang lain (Filipi 2:3-4, AYT).

Biarlah pikiran ini ada di antara kamu, sebagaimana juga dimiliki oleh Yesus Kristus, yang walaupun memiliki rupa Allah, Ia tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah itu sebagai sesuatu yang harus dipertahankan. Sebaliknya, Ia membuat diri-Nya tidak memiliki apa-apa dan menghambakan diri sebagai budak untuk menjadi sama dengan rupa manusia. Dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Ia merendahkan diri-Nya dengan taat sampai mati, bahkan mati di atas kayu salib. (Filipi 2:5-8, AYT)

Teladan Kristus

Roh yang benar dan hati yang benar adalah segalanya di dalam hidup dan pelayanan. Ciri khas dari suatu hidup yang benar adalah roh kerendahan hati. Satu-satunya postur rohani yang ke dalamnya kasih karunia Allah bisa mengalir adalah hati yang rendah hati. Kerendahan hati sangat sedikit hubungannya dengan pose atau postur luar, tetapi ia memiliki segalanya yang berhubungan dengan posisi hati. Sebagaimana yang sudah dikatakan sebelumnya, orang-orang yang percaya kepada Allah sering kali dituduh sebagai orang yang angkuh, sedangkan orang-orang yang tenang dan pendiam dicap sebagai orang yang rendah hati. Akan tetapi, hal ini tidak selalu benar. Lalu, bagaimana seseorang dapat mengidentifikasi kerendahan hati yang sejati? Berikut ini adalah lima karakteristik kerendahan hati yang diambil dari ayat-ayat di atas:

  1. Ia tidak membuat reputasi untuk dirinya sendiri.
  2. Ia mengambil rupa sebagai seorang hamba.
  3. Ia memiliki pemikiran yang rendah hati.
  4. Ia menganggap orang lain lebih penting daripada dirinya sendiri.
  5. Ia taat kepada Allah berapa pun harganya.

Kerendahan hati adalah suatu penyesuaian akan kehendak kita terhadap kehendak Allah. Hal ini berarti bahwa hidup kita adalah sebuah mezbah di hadapan Allah dan bukannya sebuah takhta. Apakah Anda membangun hidup Anda sebagai sebuah mezbah atau sebuah takhta? Jika Anda berada di sebuah mezbah yang dipersembahkan untuk Allah, Anda sedang memeluk hal yang lebih berguna bagi orang lain dibandingkan dengan diri Anda sendiri. Bukannya mengambil tempat duduk yang terhormat, Anda justru mengambil tempat duduk yang rendah. Postur rohani Anda bukanlah seseorang yang menunggu untuk dilayani, tetapi ia yang melayani. Jika Anda berada di sebuah takhta yang Anda buat sendiri, Anda sedang memeluk hal yang lebih berguna bagi Anda sendiri dibandingkan dengan orang lain. Tuhan Yesus menyerahkan segala kehendak-Nya di sepanjang jalan menuju Kalvari. Dia menghidupi setiap hari di dalam hidupnya untuk orang lain. Dia taat, bahkan sampai mati di kayu salib. Dia sangat rendah hati, baik di dalam hati maupun di dalam pikiran. Betapa Ia adalah seorang Juru Selamat yang teladan!

Berjalan dalam Kerendahan Hati Setiap Hari

Pada hakikatnya, tidaklah mungkin untuk benar-benar terbebas dari kesombongan rohani. Ia selalu melakukan tawar-menawar untuk hak izin menghuni hati dan hidup kita. Tanpa kita sadari, cukup mudah untuk terjatuh ke dalam muslihat yang licik saat Allah benar-benar menjadi hamba kita daripada menjadi Tuan kita. Kita membuat rancangan-rancangan kita sendiri dan meminta Allah untuk memberkatinya. Kita merancang rangkaian tindakan kita sendiri dan meminta Allah untuk menghilangkan hambatan-hambatan yang ada di dalamnya. Kita berdoa agar Allah melakukan apa yang kita ingin Allah lakukan sehingga kehidupan kita bisa menjadi lebih baik dan lebih bahagia. Semuanya ini dikarenakan pemahaman yang kurang akan siapa Allah itu dan siapa kita dalam hubungannya dengan Dia. Sudut pandang yang salah tentang Allah di dalam hidup kita selalu menghasilkan penyembahan berhala, yang dengan sederhana berarti bahwa kita melayani Allah dengan cara kita sendiri.

Kerendahan hati menarik bagi Allah dan bagi orang-orang yang rohani. Ia adalah satu sifat yang membuat semua yang lainnya. Apabila seseorang tidak mendeteksi satu roh kerendahan hati yang sejati di posisi-posisi kepemimpinan, ia harus benar-benar berhati-hati. Kerendahan hati bersifat jujur, terbuka, dan murni/suci. Ia akan mengakui ketika ia bersalah. Ia akan meminta untuk dimaafkan (kapan terakhir kali Anda menyaksikan seorang pemimpin yang sedang meminta maaf?). Ia juga akan memaafkan. Dan, ini yang terbesar: Ia tidak mencari reputasi, kecuali menjadi seperti Kristus yang tidak membuat reputasi untuk diri-Nya sendiri. Ada begitu banyak tentang hal ini di dalam diri kita yang kita bahkan tidak menyadarinya. Apakah Anda mati terhadap pengaruh manusia? Benar-benar mati? Apakah apa yang orang pikir tentang Anda menjadi masalah bagi Anda? Kita semua ingin diterima, bukan? Kita semua ingin disukai dan dihormati oleh rekan-rekan kita, bukan? Ketika hal itu benar-benar tidak menjadi masalah lagi bagi Anda, maka Anda semakin dekat kepada pembebasan yang besar.

Suatu hari, seorang prajurit doa perkasa yang hidup pada tahun 1800-an diminta oleh Roh Allah untuk tidak memakai topi ketika pergi ke kota. Hal ini merupakan suatu penghinaan yang besar karena pada zamannya semua orang yang terhormat memakai topi mereka di depan umum. Itu merupakan kebiasaan mereka. Pria ini beserta keluarganya merupakan orang-orang yang sangat dihormati di kota itu. Akan tetapi, alasan mengapa Tuhan menginginkannya untuk melakukan hal ini adalah supaya Ia memperoleh kemenangan yang mutlak di atas pengaruh manusia. Abdi Allah ini bergumul hanya dengan memikirkan tentang hal itu dan tentang celaan buruk yang akan dibawanya kepada orangtuanya, keluarganya, dan teman-temannya. Pada akhirnya, ia taat dan pergi ke kota. Tuhan membuatnya menjadi tontonan, dan ia berkata seolah-olah seluruh kuasa neraka sedang menyerang tindakan ketaatan ini. Cobaan-cobaan kerendahan hati dan ketaatan yang hebat mengikuti di dalam hidup pria ini. Namun, Allah memberikannya kemenangan dan menghormati ketaatannya melalui pencobaan-pencobaan ini. Betapa besarnya kedalaman hasrat kita untuk diterima dan dihormati di dalam dunia ini! Kita harus dilucuti.

Ini adalah salah satu dari alasan-alasan utama mengapa manusia begitu terdorong untuk sukses, baik dalam hidup maupun pelayanan. Tidak sepenuhnya salah untuk menginginkan untuk dihormati, tetapi ketika hal itu memengaruhi ketaatan seseorang terhadap Allah, hal itu akan menjadi masalah. Orang-orang yang sadar diri secara berlebihan akan menahan diri untuk tidak berteriak, melompat, berlari, atau menari karena mereka tidak ingin kehilangan martabat mereka. Terkadang, orang-orang mempertanyakan apa tujuan dari perwujudan-perwujudan yang semacam itu, tetapi acap kali hal-hal itu mendorong pribadi-pribadi ini terbebas dari pengaruh manusia. Kita tidak akan pernah berjalan di dalam kepenuhan otoritas yang telah diberikan Tuhan kepada kita sampai kita terbebas dari setiap pengaruh manusia. Kerendahan hati merupakan pintu gerbang menuju otoritas yang lebih besar, kebebasan, dan efektivitas dalam hidup dan pelayanan. (t/Odysius)

Diterjemahkan dari:

Judul buku: Soulish Leadership
Judul bab: Humility
Judul asli artikel: Humility
Penulis : Bert M. Farias
Penerbit : Destiny Image Publishers, Inc., USA 2001
Halaman: 27 -- 30
Kategori Bahan Indo Lead: 
Jenis Bahan Indo Lead: 
File: 

Komentar