Kepemimpinan Kristen Adalah: Pelayanan dan Pengorbanan

Mungkin perbedaan terkuat dalam kepemimpinan Kristen adalah pelayanan dan pengorbanan.

Konsep pelayanan dan pengorbanan merujuk kembali kepada Yesus yang melayani dan berkorban bagi orang-orang yang dipimpin-Nya. Dalam artikelnya, "Leaders as Servants: a Resolution of the Tension" (Pemimpin sebagai Pelayan: Sebuah Resolusi dalam Ketegangan - Red.), Derek Tiball menulis, "Kepemimpinan Kristen dimaksudkan untuk menjadi berbeda dari bentuk-bentuk kepemimpinan lainnya karena pemimpin Kristen dipanggil untuk menjadi hamba."[1] Melayani orang lain dalam kepemimpinan pasti berbeda dengan dunia di mana kekuasaan dan pengaruh dipegang oleh mereka yang memilikinya, dan yang diinginkan dengan iri oleh mereka yang tidak memilikinya.

Konsep melayani orang lain ini sulit karena "naluri manusia yang telah jatuh adalah untuk mencari kekuasaan, kekayaan, status, dan pengaruh. Kepemimpinan yang melayani, dalam kutipan ini, tidak wajar karena manusia telah jatuh. Berpikir seperti pemimpin-pelayan memerlukan cara berpikir yang baru; bersikap sebagai seorang pemimpin-pelayan membutuhkan pemberdayaan dari Roh Kudus."[2]

Salah satu perkataan Yesus yang paling kontroversial dan melawan budaya adalah ketika berada di bumi adalah saat Ia menanggapi pertanyaan murid-murid-Nya tentang siapakah dari kedua belas orang dari mereka yang terbesar dan paling penting. Tanggapan Yesus adalah:

Dalam dunia ini, raja-raja dan orang-orang besar menguasai (berkuasa) atas orang-orang mereka, tetapi mereka disebut "sahabat rakyat". Akan tetapi, di antara kamu (12 murid), hal itu akan menjadi berbeda. Mereka yang terbesar di antara kamu harus menjadi yang paling rendah dan pemimpin harus menjadi seperti seorang pelayan. Siapakah yang paling penting, seorang yang duduk di meja atau orang yang melayani? Seorang yang duduk di meja, tentunya. Akan tetapi, tidak demikian halnya di tempat ini! Sebab, Aku berada di antara kamu sebagai seorang yang melayani.[3]

Sama seperti budaya Amerika, para pemimpin dan penguasa-penguasa pada zaman Yesus memegang kekuasaan atas yang lainnya. Mereka menggunakan kekuasaan mereka untuk mendominasi orang lain dan mempertahankan kontrol atas mereka. Namun, Yesus memanggil murid-murid-Nya keluar dari budaya yang mereka tinggal di dalamnya dan mengumumkan sebuah tatanan baru untuk diikuti oleh para pemimpin Kristen. Dia memerintahkan 12 orang itu, yang akan memimpin orang-orang Kristen baru, untuk menjadi berbeda dari dunia dengan berkata, "Mereka yang terbesar di antara kamu harus menjadi yang paling rendah, dan pemimpin harus menjadi seperti seorang pelayan." Para pemimpin Kristen hanya dapat "mengajarkan apa yang mereka ketahui dan hidupi,"[4] dan Yesus pasti mengetahui secara pribadi apa yang Ia ajarkan ketika berkata, "Aku berada di antara kamu sebagai seorang yang melayani." Yesus berkata kepada para pemimpin Kristen bahwa Ia datang untuk melayani.

Kata Yunani yang digunakan dalam pernyataan Yesus di atas dan digunakan di seluruh Perjanjian Baru, yaitu kata "diakoneo", yang berarti "melayani, pelayanan; mengibaskan debu karena pergerakan; memedulikan kebutuhan-kebutuhan orang lain sebagaimana tuntunan Tuhan dalam tindakan yang aktif dan praktis."[5] Dengan pernyataan Yesus dan penggunaan kata ini, "Kepemimpinan hendaknya bukan menjadi permasalahan mengenai hak dan status khusus, tetapi mengenai pelayanan. Semua status sosial disamakan oleh pernyataan ini. Yesus sendiri adalah contoh utama dari pemimpin hamba."[6] Yesus menunjukkan prinsip dari seorang pemimpin yang menjadi hamba ini dengan secara strategis mengatakannya sesudah membasuh kaki para murid-Nya:

Dan jika Aku, Tuhan dan Gurumu, telah membasuh kakimu, kamu harus membasuh setiap kaki yang lain. Aku telah memberi kamu sebuah contoh untuk diikuti. Perbuatlah seperti yang telah Kuperbuat padamu. Aku mengatakan kebenaran kepadamu, para pelayan tidaklah lebih besar daripada tuan mereka. Atau, penerima pesan lebih penting daripada seseorang yang mengirim pesan. Sekarang, jika kamu tahu hal-hal ini, Allah akan memberkatimu untuk melakukannya.[7]

Kabar baiknya adalah bahwa pesan ini dengan berhasil diteruskan dan dipraktikkan oleh murid-murid Yesus dan orang-orang lainnya dalam gereja mula-mula. Sama seperti "Yesus menampilkan diri-Nya secara konsisten sebagai sebuah model pelayanan".[8] Rasul Paulus menggambarkan dirinya dalam beberapa cara ('rasul', 'guru', dll.), tetapi kebanyakan secara terus-menerus sebagai seorang pelayan. Paulus menggambarkan beberapa rekan sekerjanya sebagai pelayan. Paulus menggambarkan dirinya sendiri dan Apolos sebagai "hanya hamba (diadonoi)".[9] Pesan ini jelas: Kepemimpinan Kristen adalah tentang pelayanan. Akan tetapi, dengan itu juga mendatangkan pengorbanan.

Bersamaan dengan pelayanan dalam pelayanan Kristen akan timbul pula sakit dan pengorbanan. Rasul Paulus mengalami pengorbanan luar biasa selama pelayanannya sebagai seorang pemimpin Kristen dari gereja mula-mula. Paulus berada dalam kapal yang ditenggelamkan, digigit ular, dipenjara, dan akhirnya dibunuh karena pelayanannya sebagai seorang pemimpin Kristen. Yesus juga mengalami sakit yang luar biasa dalam pelayanan-Nya untuk para pengikut-Nya. Henry Nouwen berkomentar pada relevansi pengorbanan dalam pelayanan yang menyatakan, "Kualitas paling penting dalam kepemimpinan Kristen pada masa depan ... adalah bukan sebuah kepemimpinan yang berkuasa dan mengontrol, tetapi sebuah kepemimpinan ketidakberdayaan dan kerendahan hati ketika hamba Allah yang menderita, Yesus Kristus, telah dimanifestasikan."[10] Dengan pemahaman ini, bahwa para pemimpin kristen harus menjadi pelayan-pelayan yang berkorban, penting untuk dicatat "pendekatan Kristus untuk memimpin dan pendekatan-Nya memerintahkan para murid-Nya adalah salah satu hal yang memuliakan Allah dan melayani kesejahteraan orang lain. Hal tersebut tidak mencari kemuliaan diri sendiri untuk tindakan pelayanan atau memanipulasi bawahan untuk mencapai kepentingan pribadi pemimpin.[11]

Pertanyaan: Apakah Anda percaya bahwa seorang pemimpin Kristen harus melayani dan berkorban? (t/Santi T.)

[1] Derek Tidball, "Leaders as Servants: a Resolution of the Tension," Evangelical Review of Theology 36, no. 1 (2012), 31.
[2] Joseph Maciariello, "Lessons in Leadership and Management from Nehemiah," Theology Today 60 (2003), 399.
[3] Luke 22:25-27.
[4] Steven Elliott, "The Local Church – Part 3" (Bible study, Enclave Community Church, Turlock, CA, June 3, 2012).
[5] "Strong's Greek: 1247. Diakoneo – to serve, minister" Biblos, http://concordances.org/greek/1247.htm (accessed June 13, 2012).
[6] "Luke 22 'NET Notes'" The NET Bible, https://net.bible.org/#!bible/Luke+22 (accessed June 14, 2012).
[7] John 13:14-17.
[8] Derek Tidball, "Leaders as Servants: a Resolution of the Tension," Evangelical Review of Theology 36, no. 1 (2012), 36.
[9] Ibid., 36.
[10] Henri J.M. Nouwen, In the Name of Jesus: Reflections on Christian Leadership (New York, Crossroads Publishing, 1989). 82.
[11] Joseph Maciariello, "Lessons in Leadership and Management from Nehemiah," Theology Today 60 (2003), 397.

Diterjemahkan dari:

Nama situs: Christopher L. Scott -- Biblical Leadership
Alamat URL: http://christopherscottblog.com/christian-leadership-is-service-and-sacrifice/
Judul asli artikel: Christian Leadership is: Service and Sacrifice
Penulis artikel: Christopher L. Scott
Tanggal akses: 13 Januari 2016
Kategori Bahan Indo Lead: 
Jenis Bahan Indo Lead: 
File: 

Komentar