Dicari: Pemimpin Kristen yang Autentik

  • Dicari: Pemimpin Kristen yang Autentik

    Perubahan zaman dapat membuat seorang pemimpin Kristen tidak lagi berfungsi sebagai garam dan terang, sebagaimana yang dikehendaki Allah. Mari belajar bersama bagaimana seharusnya menjadi seorang pemimpin Kristen yang autentik.

    URL: Sebetulnya Indonesia memanggil dan gereja memanggil pemimpin autentik. Hari-hari ini, kehadirannya makin diperlukan dalam skala yang kalau diperbesar lingkar pengaruhnya oleh bantuan teknologi.

    Apa itu autentik? Kalau berkaitan dengan "apa" Anda googling saja. Banyak sekali definisinya. Jelas, bahwa autentik itu artinya asli, tidak palsu, tidak imitasi, menunjukkan secara betul-betul dan jujur personalitas, spirit, dan karakter orang. Sehingga, kalau saya bilang orang yang autentik itu mudah kita beri hadiah. Dan, hadiah yang kita berikan kepada orang yang autentik adalah TRUST, kepercayaan. Itu mudah kita berikan, tetapi kalau dia tidak autentik akan susah untuk kita berikan hadiah. Kita akan memiliki keraguan dalam banyak hal.

    Gambar: Pemimpin Kristen yang Autentik

    Gereja itu sebetulnya didefinisikan atau dipahami hanya ada 3 model saja penghuninya. Ada orang yang masih selalu saja cari petunjuk - namanya pembelajar kristiani. Ada orang yang selalu berusaha memberikan petunjuk - namanya pemimpin kristiani. Akan tetapi, ada orang yang memainkan peran selalu mencoba mencari cara menolong orang yang mencari petunjuk agar segera bisa memberikan petunjuk.

    Jadi, itu teks sederhananya. Bahwa proses belajar itu adalah proses metanoia, pertobatan berkelanjutan. Dengan cara apa? Dengan cara pembaharuan budi oleh Roh Kudus dan firman Tuhan. Transformasinya ada dalam Roma 8:1-8, itu menjelaskan beberapa poin. Yang pertama, pengguna atau eksekutor itu adalah tubuh, "... karena itu persembahkanlah tubuhmu." Ini berbeda dengan keyakinan Yudhaisme pada masa teks itu disampaikan, yang mempersembahkan hewan yang mati sebagai kurban. Juga, berbeda dengan filsafat Yunani pada masa itu yang mengatakan bahwa tubuh itu ajang peperangan batin terkait dengan dosa-dosa. Akan tetapi, Paulus berkata dengan tegas "Persembahkanlah tubuhmu". Ini sesuatu yang revolusioner pada masa itu, bukan sesuatu yang biasa. Ini sebuah pandangan yang tegas. Tubuh sebagai eksekutor artinya, tubuh kita pakai untuk apa? Itulah persembahan kita kepada Tuhan. Tubuh itu digerakkan oleh apa? Paulus pada ayat 2 dan seterusnya, berbicara tentang memperbarui akal budi agar kita mengenal kehendak Allah.

    Kehendak Allah itu 3 cirinya: yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan sempurna. Itulah kehendak Allah. Jadi, perbaharuan akal budi itu membawa kita kepada pengenalan terhadap 3 hal itu yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna. Itulah proses belajar yang harusnya terus menerus terjadi, baik di rumah, di sekolah, atau di mana pun di kita berada, pembelajaran kita seharusnya begitu. Dengan pembaharuan tersebut, maka tubuh kita ini dipakai untuk mengeksekusi hal-hal itu. Hal-hal seperti apa? Hal yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Dahsyat sekali ajarannya.

    Akan tetapi, kalau kita lihat dari proses itu, jangan lagsung dipotong dengan ayat 1, 2 saja. Kita lihat ayat selajutya, sesudah 3-8 itu dijelaskan bahwa semua itu diletakkan, diberi karunia. Konteksnya diberikan karunia untuk apa? Untuk memperlengkapi tubuh Kristus. Jadi, membuat tubuh Kristus itu berarti melakukan sesuatu yang Kristus lakukan, mengikuti jejak-Nya. Inilah panggilan terhadap pembelajar kristiani.

    Seandainya orang sudah mengalami transisi menjadi pemimpin kristiani, transisi itu seperti apa? Memerlukan apa? Memerlukan Yohanes 3 yang dikatakan Tuhan Yesus kepada Nikodemus. Dia mengatakan bahwa kamu harus dilahirkan kembali. Itu adalah transisi. Begitu orang mengalami transisi, mereka dilahirkan kembali, dia menjadi pemimpin kristiani, secara otomatis. Mengapa otomatis? Bisa dikatakan, karena seperti yang disebutkan dalam Matius 5:13-16 tentang garam dan terang. Dikatakan garam dan terang, bukan kamu akan menjadi, bukan kamu "becoming". Bukan "mungkin menjadi", bukan, tetapi kamu adalah. Ini kalimat yang mesti jelas sekali di pikiran kita. Kamu adalah garam, kamu adalah terang. Jadi, "kamu adalah". "Adalah" itu tidak bisa dihindari, karena itu hakekat diri. Itulah pemimpin.

    Apa itu garam dan terang? Berdampak bagi lingkungan. Definisi apa pun mengenai pemimpin di muka bumi, di dalam sejarah kita itu satu hal yang jelas. Orang disebut pemimpin karena ada pengikutnya. Siapa yang mengikut? Orang-orang yang mendapat manfaat dari apa yang dilakukan oleh orang tersebut. Jadi, garam dan terang itu bisa kita gunakan untuk mengaudit kehidupan kita. Kalau kita sungguh-sungguh sudah mengalami apa yang Tuhan Yesus katakan kepada Nikodemus, yaitu kamu harus dilahirkan kembali, maka 4 hal menjadi jelas.

    Kehidupan kita berada dalam skala yang berbeda-beda sesuai talenta yang Tuhan berikan.

    Yang pertama adalah menjadi garam. Garam itu memberi rasa, memberi manfaat bagi lingkungan. Yang kedua, garam itu mencegah pembusukan, berarti kita mencegah pembusukan-pembusukan yang terjadi di tingkat mana pun, di dalam lingkungan kita supaya perilaku-perilaku busuk itu dicegah. Kejahatan-kejahatan, bentuk-bentuk halus dari segala macam pemerasan, penindasan, ketidakadilan, itu peperangannya. Jadi, kita adalah orang-orang yang melakukan 2 hal itu jika kita berbicara tentang garam.

    Dua hal lagi tentang terang yang langsung merujuk kepada hakekat kekristenan, kekristianian, pemimpin kristiani. Apa itu terang? Fungsi terang yang pertama adalah mengusir kegelapan. Jadi, kegiatan-kegiatan yang mengusir kegelapan adalah kegiatan-kegiatan sebagai terang.

    Yang kedua, terang itu transparan, tidak menutup-nutupi dirinya. Itu sebabnya, dikatakan menjadi autentik karena tidak dibuat-buat, tidak untuk pencitraan, tidak untuk hal-hal lain.

    Jadi, inilah 4 ciri pemimpin kristiani, yaitu:

    1. Dia memberikan guna atau manfaat bagi audience tertentu, bagi kelompok masyarakat tertentu, tidak terbatas pada orang Kristen. Kekristenan itu agama untuk bukan hanya untuk orang Kristen, jadi bukan untuk kalangan sendiri. Saya ingin membuang pemahaman mengenai kekristenan untuk kalangan sendiri. Kekristenan itu satu-satunya organisasi atau gereja yang saya pahami, yang keberadaannya tidak pernah untuk dirinya sendiri, tetapi untuk yang lain.

    2. Mencegah pembusukan secara aktif. Ketidakadilan, kepalsuan, kebohongan, itu harus diperangi

    3. Mengusir kegelapan

    4. Transparan. Bukan berarti tidak ada yang ditutup-tutupi untuk pencitraan. Tidak begitu. Jadi, dalam kerangka inilah saya bilang, keliru sekali kalau orang Kristen berpikir bahwa untung pernah ada atau masih ada orang yang bernama BTP atau Ahok. Sebenarnya, kekristenan itu harus berdampak dengan memunculkan ribuan "Ahok" di Indonesia ini.

    Namun, kekristenan mencari pemimpin kristen autentik. Berkali-kali orang bolak-balk hanya membicarakan Ahok lagi. Semestinya banyak. Semestinya ada ribuan nama yang bisa disebut untuk hal-hal semacam itu. Karena terlalu sedikit, maka tersuruklah orang-orang itu. Maka, tema yang diambil sebelumnya adalah, wanted, dicari, dicari segera. Sebab, kekristenan di Indonesia sangat membutuhkannya dan ajakan itu adalah ajakan-ajakan pertobatan.

    Buanglah kemunafikan, topeng-topeng dan sebagainya. Buang, buang, buang, buang. Itu tidak diperlukan.

    Jika pemimpin kristiani ini mengalami pertumbuhan-pertumbuhan yang bagus, maka ia akan mencapai kematangan jiwa. Ingat, ini model pertumbuhan jiwa. Jadi, dia akan mencapai apa yang disebut keguruan, yaitu menjadi guru kristiani. Apa contoh modelnya? Contohnya adalah Tuhan Yesus sendiri. Model lain yang sebetulnya bisa kita sebutkan, yaitu para rasul dan sebagainya. Namun, Tuhan Yesus sendiri mengatakan dalam Yohanes 13 dan Matius 10, bahwa Dia melakukan pembasuhan kaki. Jadi, level keguruan itu memerlukan kerendahan hati yang luar biasa. Kita lihat dengan tegas dan jelas ini agak aneh. Berbeda sekali dengan dunia ini. Kalau Anda membaca Matius 11:29-30 isinya, "Marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat ...." Dan, kalimat yang menarik di sini adalah " ... belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati." Bukankah ini aneh? Terasa aneh karena yang mengatakan ini adalah Guru. Orang belajar kepada Dia karena Dia lemah lembut dan rendah hati. Jadi, kelegaan dan ketenangan jiwa diperoleh dari guru semacam ini. Bukan guru yang keras atau guru yang suka memaksakan kehendak. Tidak seperti itu. Jadi, belajarlah kepada Dia.

    Kalau kita meniru Guru kita ini, Dia adalah starting down. Jadi, jalan-Nya adalah jalan turun, bukan jalan naik seperti banyak orang yang memanfaatkan YouTube atau segala macam cara untuk naik, dalam arti ingin mendapat popularitas, moneytisasi, dan sebagainya. Itu tidak salah, tetapi itu bukan kristiani. Jalan Tuhan itu jalan turun, kalau kita memahami Filipi 2. Jadi, dari Allah menjadi manusia itu jalan turun, dan turunnya sangat rendah sampai mati dan mati di kayu salib. Bukan mati dalam kemegahan. Itu jalan turun yang sifatnya keguruan. Itulah spirit keguruan yang juga banyak hilang, bahkan di sekolah-sekolah yang memakai palang sekolah Kristen, sekolah Katolik, dan sebagainya.

    Keguruan ini berfungsi untuk melakukan misi. Misinya adalah menjangkau para pembelajar, orang-orang yang belum mengalami kelahiran kembali, yang sebetulnya diajak mengalami lewat kesaksian hidup, lewat sikap perbuatan, lewat bisnis yang dilakukan, lewat apa pun yang dilakukan. Akan tetapi, jelas bahwa itu adalah bagian dari upaya untuk membawa orang menjadi garam dan terang, dengan proses dilahirkan kembali. Ini adalah satu hal yang menjadi terang benderang di kepala selama beberapa waktu, sehingga ini bisa memberikan hasil proses belajar kepada sebanyak mungkin orang di muka bumi ini.

    Penjelasan tentang pembelajar kristiani itu ada dalam Roma 12:1-8. "Aku adalah pembelajar, sebab aku harus mengalami perubahan dan pembaruan budi, agar aku tidak menjadi serupa dengan dunia ini." Jadi, kalau orang Kristen menjadi YouTuber tidak ada salahnya, tetapi tujuannya untuk mendapatkan apa? Itu yang menjadi perhatian utama. Jika kita belajar sungguh-sungguh dan mengalami pembaharuan budi, maka kita akan dapat membedakan, tidak tertipu tentang mana kehendak Allah dengan 3 cirinya, yaitu: yang baik, yang berkenan kepada Allah, yang sempurna. Jangan katakan, "Yang penting kita berbicara tentang berbuat baik, cukup." Kekristenan tidak pernah mengajarkan bahwa berbuat baik itu cukup. Itu mesti tegas dan jelas. Orang masih sering bingung menanggapi kehendak Allah. "Apa kehendak Allah untuk saya?", dan sebagainya. Itu karena mereka tidak mengalami pembaharuan akal budi. Itu kalimat kuncinya.

    Jadi, kalimatnya dimulai dengan karena itu. 'Itu' menunjuk kepada pasal 11 ayat yang terakhir, yang dikatakan, "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia, dan bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya." Karena itu, karena hal-hal itu, persembahkanlah tubuhmu sebagai eksekutor, sebagai operator dari apa pun yang terjadi dalam pembaharuan akal budimu, karena yang berkuasa adalah Dia, segala sesuatu dari Dia, dan segala sesuatu oleh Dia, dan segala sesuatu bagi Dia. Ini frasa yang tidak akan habis, ini energi yang besar untuk apa pun yang sungguh-sungguh memenuhi panggilan untuk menjadi Kristen autentik.

    Selanjutannya, Roma mengatakan bahwa pembelajaranku membuat aku tahu diri dan menguasai diriku, menurut ukuran iman yang dikaruniakan kepadaku. Orang yang banyak bicara tentang hal-hal yang tidak berguna dan sebagainya, disebut orang yang tidak tahu diri. Tidak tahu diri di dalam cara berpikir orang filsafat, itu penghinaan terbesar. Kalau diejek "anjing loe, monyet loe," itu masih ada padanannya. Akan tetapi, kalau dibilang tidak tahu diri, itu sebetulnya penghinaan terbesar. Akan tetapi, begitulah yang terjadi kalau kita tidak mengalami pembaharuan budi menurut iman yang dikaruniakan kepada kita. Dan, karunia yang diberikan kepada kita itu bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk diletakkan dalam konteks tubuh Kristus, di mana kita hanyalah salah satu anggotanya. Jadi, secara bersama-sama kita mendorong, melakukan pelayanan yang digerakkan oleh satu kepala, yaitu Kristus sendiri

    Karunia-karunia diuraikan juga di sana. Beberapa disebut, bernubuat, melayani, mengajar, menasihati, berbagi dengan ikhlas, memimpin dengan rajin, menunjukkan kemurahan dengan sukacita. Saya sendiri misalnya, saya merasa diberi karunia untuk mengajar, karena itu saya membuka satu proses. Sesudah bertahun-tahun mengajar dari kelas ke kelas, saya sudah mengajar lebih dari 1 juta orang di republik ini. Akan tetapi, rupanya dengan pandemi ini, Tuhan membuka satu kesempatan untuk menyapa lebih banyak orang dengan kecepatan yang lebih, tanpa terbatas oleh dinding-dinding, sehingga itu membuat saya sangat bersemangat dalam 45-46 hari terakhir itu. Dan, saya penuh sukacita, karena kebenaran-kebenaran ini ingin kita sampaikan kepada dunia.

    Tadi, dikatakan bahwa kamu bukan akan menjadi, tetapi kamu adalah garam dan terang. Jadi, kita tidak dapat tidak memberikan pengaruh untuk mencegah kebusukan dan mengusir kegelapan. Kita tidak dapat tidak melakukan demikian, sebab kita adalah. Akan tetapi, tujuannya bukanlah diri kita, tujuannya adalah supaya Bapa-mu dimuliakan. Muliakan Bapa-mu di sorga. Itulah tujuannya. Jangan mencuri kemuliaan itu, itu untuk Bapa di sorga.

    Jika kita menghayati panggilan, tugas panggilan, tri tugas panggilan yang dijelaskan tadi, di antaranya untuk belajar, memimpin, dan menjadi guru kristiani menjadi sebuah lagu yang sangat bisa menolong memberikan perspektif.

    Bagaimana proses pengembangan dari lingkar pengaruh, kalau tadinya tingkat RT, tingkat RW. Bagaimana berkembang menjadi tingkat perusahaan, kemudian berkembang menjadi tingkat konglomerasi, tingkat group usaha, tingkat wilayah, tingkat kabupaten, tingkat provinsi, tingkat nasional, bahkan tingkat dunia?

    Namun, gambarannya diberikan saja kepada Anda, untuk Anda pikirkan. Mulai dari konteks. Kalau Anda lihat, memahami konteks, calling, compass, vision, sharing, recruiting, mission, dan reflection. Akan tetapi, ini ada step by step dan mereka saling menghangatkan satu sama lain. Konteks itu dipahami atau diperjelas, apa konteks kita? Apakah konteks nasional, internasional, global, konteks perusahaan, atau konteks gereja. Konteks itu diperjelas dengan kita melakukan sharing dengan orang-orang, membuka pikiran kita, mendapat data-data baru, kita searching di internet dan sebagainya, itu konteks. Kemudian, calling itu dipertajam dengan recruitment.

    Kalau kita tahu kelemahan dosa-dosa kita, kita tahu kekuatan kita, kita akan minta pertolongan. Misalnya, saya sedang minta pertolongan dari tim SABDA, untuk membantu saya, mendidik saya, karena saya ini gaptek. Jadi, saya ini ingin memiliki perspektif digital itu seperti apa. Saya punya mindset digitalnya, operatingnya. Untuk melaksanakan detail, saya tidak tertarik, bahkan, tetapi saya kira saya ingin berkolaborasi dan mengajak orang melakukan hal tertentu. Maka dari itu, saya melakukan perekrutan. Rekruitmen itu bukan menjadi fulltime job, tetapi juga bisa bersifat kolaborasi, juga bisa bersifat memberdayakan.

    Itu hal yang berkaitan dengan calling. Karena ada kelemahan yang kita sadari, kita mengulurkan tangan minta bantuan. Kemudian, kompas itu adalah panduan-panduan untuk misi. Sebagai orang Indonesia. kompas kita itu adalah Pancasila. Sila ke 5 Pancasila dan misi kita adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan kompas itulah kita harus melihat agar pencapaian misi itu harus selaras dengan kompas. Kita tidak mencari nilai-nilai yang lain.

    Dan, kemudian visi itu berefleksi. Dalam proses mengejar visi yang disebut visi Indonesia 2045, Indonesia menjadi 1 dari 5 negara paling maju di dunia, maka kita harus terus-menerus melakukan refleksi. Selalu berdoa dalam bekerja, bekerja di dalam doa. Jadi, doa itu bisa tidak harus dengan doa tutup mata, dan kita harus menguji hati kita dan menguji bagaimana cara-cara memperbaikinya. Improving the heart ini adalah gagasan yang sudah bisa dibandingkan bahkan dengan pikiran-pikiran Steven Cavi dan Steven Hadith, yang buku-bukunya menjadi best seller internasional. Atau, yang lebih baru lagi misalnya pikiran-pikiran profesor Bill George yang menulis autentik leadership. Jadi,silakan diuji. Waktu adalah alat uji yang jujur. Apakah ini sebuah gagasan yang bisa dijadikan pijakan dari sebuah pekerjaan yang besar di Indonesia dan di dunia atau cuma sekadar omong kosong belaka?

    Seorang penulis bernama Stedman menulis bahwa pemimpin kristiani itu disyaratkan. Pemimpin autentik yang disyaratkan adalah orang yang memiliki pengalaman Nikodemus. Jadi, kita lihat beberapa model kelahiran kembali. Karena banyak aliran yang ribut soal model-modelnya saja, meski sebenarnya modelnya tidak tunggal.

    Model yang pertama adalah model murid-murid Yesus secara umum. Belum diketahui sebenarnya kapan Petrus itu bertobat menerima Tuhan. Kita tidak pernah tahu tanggal spesifik, jam berapa murid-murid itu sebagian besar bertobat, kita tidak tahu. Jadi, kita tidak perlu terlalu memusingkan hal itu kalau Anda menabur kebenaran firman Tuhan.

    Yang kedua, model farisi. Kita juga tidak pernah tahu kapan sebetulnya Nikodemus akhirnya sungguh-sungguh menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya. Akan tetapi, kita tahu di kemudian hari, dia pastilah sudah menjadi orang yang beriman karena apa yang dilakukannya dengan mayat Yesus.

    Yang ketiga adalah model Saulus menjadi Paulus. Ini spesifik. Jadi, jangan kita mutlakkan sesuatu yang tidak mutlak. Artinya, kisah pertobatan Paulus itu spesifik bisa dilacak, bahkan jamnya mungkin siang hari, dalam perjalanan ke mana, lokasinya, tempat, dan yang lainnya. Ini seperti model pertobatan saya. Saya dulu bertobat usia 17 tahun. Saya ingat sekali saat itu di aula Duta Wacana pada kegiatan student revival meeting sebagai bagian dari gerakan yang muncul di Indonesia dari Inter Varsity. Akan tetapi, kalau saya mengatakan bahwa model kelahiran kembali harus begitu, saya kira kita kurang membaca Alkitab dengan baik. Artinya, banyak sekali yang tidak terlalu jelas. Bahkan John Calvin dan reformator Martin Luther memiliki model pertobatannya sendiri.

    Kemudian, kita bisa lihat juga model Santo Agustinus, yang sebelumnya hidup dengan kebejatan moral yang luar biasa. Akan tetapi, ibunya Monica sangat mendoakan dia sampai satu waktu, dia membaca Alkitab yang langsung memukul-mukul batinnya. Dia bahkan menjadi salah satu bapak gereja yang pemikirannya sampai sekarang diperhatikan dengan seksama.

    Namun, ada juga model seperti Santo Thomas Aquinas, yang menjadi pemikir besar abad 13 atau 14 dan menjadi tonggak bagi kekristenan sebelum Katolik dan Protestan berpisah jalan. Pengalamannya sangat luar biasa. Dia sangat ingin menjadi imam, tetapi ibunya berusaha menolak dia, mengasingkan dia dari panggilannya, sampai dia pernah diasingkan di satu tempat selama satu tahun supaya dia tidak menjadi imam. Namun, itu tidak bisa menghentikannya, pada akhirnya.

    Sesudah mereka dilahirkan kembali, itu yang penting. Maka, kita bisa melihat 3 kemungkinan, menurut Rey Stedman.

    1. Banyak orang yang bertobatnya heboh. Maksudnya, heboh memberikan kesaksian di mana-mana, kemudian balik lagi kepada kehidupan sebelum dia menjadi pengikut Yesus dan hilang begitu saja. Ini model yang pertama.

    2. Orang yang bubbling. Tidak banyak orang seperti Pendeta Stephen Tong yang memiliki api yang stabil, dan yang menjaga apinya itu begitu rupa. Harus katakan, mungkin tidak banyak orang bisa begitu. Kebanyakan orang itu seperti saya, yang kemudian jatuh ke dalam dosa, dan kemudian menyadari kelemahan. akan tetapi, pilihan juga menentukan. Kalau kita memilih bertobat, kemudian mencari bimbingan dari kakak dan orang tua rohani untuk berkembang sampai satu titik di mana kita menjadi stabil, maka inilah pilihan pertumbuhan yang kedua.

    3. Menjadi orang baik seperti tuntutan dunia ini. Ini adalah pilihan jutaan orang. Melayani di gereja, tetapi tanpa sukacita. Merasa Kristiani dan paling takut dibilang munafik, suka menuduh orang lain munafik, tidak mengalami sukacita yang besar di dalam pelayanan, tidak mengalami percakapan atau doa-doa yang intim dengan Tuhan. Hanya sekadar menjadi seperti orang baik. Artinya, orang-orang yang tampilannya orang bermoral, sehingga mereka mengikuti tuntutan dunia ini. Akan tetapi, itu tidak sampai memenuhi, memahami kehendak Tuhan untuk hidupnya, untuk dirinya, untuk pekerjaannya, untuk pelayanannya, untuk apa pun yang dia lakukan.

    Kebanyakan orang yang memiliki jabatan di dalam struktur oraganisasi gerejawi mungkin memiliki alur yang ketiga. Itu keprihatinan saya. Semoga ini salah, tetapi mungkin inilah akar dari sebab-sebab yang mengakibatkan sulit mencari pemimpin kristiani autentik. Oleh karena itu, semoga pembicaraan-pembicaraan seperti ini menjadi sebuah tantangan terbuka kepada setiap orang untuk memeriksa dirinya dan menunjukkan apakah dia menempuh jalan yang mana. Jika seseorang masih menempuh jalan orang baik, dia menempuh jalan yang ketiga. Namun, kalau ada orang yang kemudian melihat dan menyadari kelemahan, maka bertobatlah, datanglah, dan carilah bimbingan dari orang-orang yang memiliki kerohanian yang lebih matang, supaya kita dimungkinkan sungguh-sungguh mengalami pertumbuhan, yang tidak bisa tidak membuat kita menjadi garam dan terang.

    Ini adalah 5 tanda yang dikatakan oleh Stedman, yaitu 5 tanda yang tidak mungkin salah bagi orang yang mereka sebut pemimpin kristiani autentik. 5 tanda itu di antaranya:

    1. Memiliki optimisme yang tak terpadamkan. Dipenjara, disiksa, dianiaya, terdampar di laut, dan sebagainya dan sebagainya, tidak akan bisa padam. Itulah orang yang autentik, pemimpin kristiani yang autentik.

    2. Memiliki keberhasilan yang pasti. Pasti. Keberhasilan yang pasti, mengapa? Sebab, dia hanya mengikuti langkah Sang Guru, yaitu langkah Tuhan Yesus yang adalah langkah yang sempurna. Bahwa keberhasilan itu sepasti matahari terbit dari timur, tidak ada keraguan, tetapi ingatlah, langkah Sang Guru itu berujung pada apa? Di dunia ini berujung sepertinya pada salib, tetapi di dalam iman kita melihat kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga.

    Kita tadi sudah mengatakan bahwa pemimpin itu tidak bisa lebih tinggi dari gurunya. Kegelisahan saya tentang banyak orang yang berjubah pendeta, yang panik dengan pandemi ini karena hatinya tidak melayani domba-dombanya dan yang tidak mau membasuh kaki. Pendeta-pendeta dan hamba-hamba Tuhan yang betul-betul melayani jemaatnya, sungguh-sungguh memiliki kasih, dan pada masa pandemi ini mereka melakukan banyak sekali terobosan yang menghangatkan hati dan menumbuhkan iman jemaatnya.

    3. Dampaknya tak terlupakan. Apa yang dia lakukan itu, tidak mungkin dilupakan oleh orang-orang yang dia layani.

    4. Integritas yang tidak dapat dihancurkan. Orang boleh serang dari mana saja, tetapi dia tidak bisa dihancurkan.

    5. Fakta-fakta berbicara secara tak terbantahkan. Jadi, orang boleh memfitnah, membuat hoax, atau berkata apa saja tentang dia, tetapi fakta-fakta berbicara sebaliknya, seperti yang terjadi pada Paulus.

    Download Audio: Dicari: Pemimpin Kristen yang Autentik

  • Kategori Bahan Indo Lead: 
    Jenis Bahan Indo Lead: 
    File: 

    Komentar