Sarana Dialog bagi Pekabaran Injil

BAB II

SARANA DIALOG

DALAM PEKABARAN INJIL

Di bagian akhir bab pertama telah disebutkan, walaupun Paulus gusar hatinya melihat adanya penyembahan berhala di Athena, tetapi dalam pelayanannya, Paulus menghargai orang-orang Athena sebagai bangsa yang diberkati Tuhan, yang memiliki kebebasan memilih untuk menerima atau menolak Injil. Lukas menggunakan beberapa kata kunci untuk menggambarkan pelayanan Paulus di Athena, dan beberapa pemikiran yang mendukung komitmen ganda Paulus untuk memberitakan kebenaran serta menghormati hak pribadi dalam memilih jalan hidup yang akan dilalui.

DIALOG PENGINJILAN (Kisah Para Rasul 17:17,18)

Pada ayat 17 terdapat kata kunci yang menggambarkan pelayanan Paulus, "Karena itu di rumah ibadat ia bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah, dan di pasar setiap hari dengan orang-orang yang dijumpainya di situ." Kata "bertukar pikiran" merupakan terjemahan dari bahasa Yunani "dialegomai", yang merupakan inti dari diskusi tersebut. Dari kata ini muncullah kata dalam bahasa Inggris "dialogue". Lukas sering memakai kata ini untuk menjelaskan pelayanan Paulus (Kisah Para Rasul 17:2,17; 18:4,19; 19:9; 20:7,9). Dia menggunakan kata ini untuk menggambarkan kotbah Paulus. Jadi di mana terdapat Paulus berkotbah di situ ada saat untuk berdiskusi.{1} Para pendengarnya akan diberi kesempatan untuk dan bertanya serta memberi tanggapan lain tentang apa yang Paulus katakan. {2}

Kata kunci kedua yang menjelaskan pelayanan Paulus juga mengandung ide diskusi, "Dan juga beberapa ahli pikir dari golongan Epikuros dan Stoa bersoal jawab dengan dia..." (ayat 18). Di beberapa versi lain kata "bersoal jawab" ini dapat berarti "bercakap-cakap"(NASB), "beragumentasi"(JB), dan "berdebat"(TEV).

Jadi jelaslah bahwa dalam pelayanannya, Paulus selalu mendapatkan umpan balik dari para pendengarnya. Dengan berbagai alasan, dialog merupakan metode penting dalam pekabaran Injil di antara orang-orang non-kristen.

Pertama, para pendengar kami mungkin tidak tertarik untuk mendengarkan kotbah Kekristenan. Mereka bukanlah orang Kristen, dan biasanya mereka tidak mengijinkan kami untuk berbicara dengan mereka. Bahkan mereka tidak tertarik dengan kekristenan. Maka suatu diskusi dapat membawa mereka terlibat aktif dalam proses pengertian tentang Injil.

Beberapa bulan yang lalu, YFC menyelenggarakan kamp pekabaran Injil bagi orang Budha yang datang atas undangan tim misi YFC yang telah mengunjungi desa mereka. Dalam pertemuan ini kami membahas tentang peternakan ayam dan pemeliharaan kesehatan. Para peserta yang beragama Budha tersebut menyatakan bahwa pembicaraan ini sangat menarik sebab subyek yang dibicarakan sangat relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Saya mencoba membahas dua kali tentang siapakah Tuhan dan bagaimana hubungan manusia dengan Tuhan. Pembicaraan pertama mengenai bahasan ini kurang berhasil untuk mendapatkan perhatian dari mereka. Suara saya menjadi parau karena lelah dan saya kecewa karena gagal berkomunikasi dengan mereka.

Pembicaraan yang kedua, saya menggunakan pendekatan dialog. Saya mengajukan pertanyaan kepada mereka tentang topik bahasan hari itu dan saya membiarkan mereka mencoba memberikan pandangan dan tanggapan terhadap topik yang saya bahas tersebut. Saya juga mencoba menjelaskan tentang Injil dengan jelas. Kali ini saya yakin bahwa saya telah mendapatkan perhatian mereka. Walau saya berbicara lebih lama tapi saya hanya merasa sedikit agak lelah di akhir pembicaraan itu. Sebelumnya mereka tidak tertarik tentang segala sesuatu yang saya katakan. Sekarang mereka bersedia memberi kesempatan pada saya untuk berbicara sebab saya telah menarik perhatian mereka dalam proses komunikasi dengan mengajak mereka untuk berbicara juga.

Kedua, metode diskusi membantu dalam berkomunikasi dengan orang non-Kristen sebab pengertian mereka dalam penginjilan monolog mungkin berbeda dengan apa yang ingin kita sampaikan. Karena cara pandang mereka terhadap segala sesuatu bisa jadi sangat berbeda dengan cara pandang Injil.

Beberapa tahun yang lalu, saya mengira bahwa saya telah memberikan berita Injil secara jelas dalam pertemuan YFC. Setelah pertemuan tersebut berakhir, saya bertanya kepada seorang pemuda Budha yang hadir di sana mengenai apa yang ia pikirkan setelah mendengarkan hal tersebut. Ia berkata bahwa ia sangat menyukainya dan agama Budha juga mengajarkan hal yang sama.

Saya kira saya telah menyampaikan dengan jelas pesan yang menunjukkan perbedaan antara Kekristenan dengan agama Budha. Ia telah mendengarkan saya dengan jelas. Tetapi ia menangkap pengertian yang berbeda dengan apa yang saya maksudkan. Ia memproses kata-kata saya menurut cara berpikir Budha dan mengartikan menurut agama Budha yang sangat berbeda dengan pengertian secara Kristiani seperti yang telah saya sampaikan kepada mereka.

Melalui diskusi, kita dapat menemukan apa yang telah mereka mengerti dan apa yang belum mereka mengerti. Kita dapat menemukan adanya salah pengertian, keberatan-keberatan dan pertanyaan-pertanyaan mereka tentang Injil. Dengan menemukan hal-hal seperti ini, kita dapat menyesuaikan cara kita untuk menyampaikan Injil kepada mereka sehingga ia memiliki kesempatan yang terbaik untuk memberikan tanggapan atau respon mengenai Kristus.

Ketiga, diskusi akan merangsang para pendengar untuk mempertimbangkan apa yang kita sampaikan. Meskipun para pendengar kita menatap terus kepada kita, seringkali pikiran mereka sangat pasif-atau aktif, berpikir tentang pertandingan sepak bola atau hal lain yang jauh berbeda dengan apa yang sedang kita bicarakan. Kadang-kadang mereka menyatakan bahwa kotbah-kotbah kita sangat menenangkan atau menyenangkan. Tetapi hidup mereka tidak berubah melalui kotbah-kotbah itu. Ada diantara mereka yang sangat gembira ketika pengkotbah memberikan kepada mereka hardikan yang tepat, tetapi mereka tetap tidak berubah hidupnya oleh berita yang membawa mereka pada pertobatan. Ini hanya beberapa contoh dari pendengar yang pasif.

Keinginan pengkotbah adalah untuk menyentuh bukan hanya pikiran dan emosi pendengar saja, tetapi juga keinginan mereka. Hanya keinginanlah yang mempengaruhi adanya perubahan sikap dalam kehidupan mereka. Kemudian pengkotbah ingin membawa pendengar kepada titik di mana mereka bertanya, "Sekarang apa yang harus kita lakukan?" Diskusi sering menolong untuk mencapai tujuan seperti ini.

Diskusi dapat memberikan semangat kepada pendengar untuk menerapkan pesan yang mereka dengar ke dalam kehidupan mereka dan menolong mereka untuk berubah dari pendengar yang pasif menjadi pendengar serius yang bisa mempertimbangkan dampak dari yang mereka dengarkan. Misalnya, ketika kita bertanya pada seseorang bagaimana tanggapan dia mengenai apa yang telah ia dengar, maka dia terpaksa memberikan tanggapan lebih dari yang kebetulan dia dengarkan.

Semuanya ini menjelaskan kepada kita bahwa dialog dapat menjadi cara yang penting untuk memberitakan Injil. Tentu saja, kita mengetahui bentuk diskusi yang tidak membuat diskusi meluas kemana- mana, di mana orang membahas tentang hal-hal yang tidak relevan dan menghindari untuk menghadapi fakta dasar dari pekabaran Injil. Tetapi hal ini bukan karena metode diskusi yang tidak efektif. Hal ini dapat juga karena diskusi tidak ditangani dengan cakap atau karena orang yang kita ajak bicara benar-benar tertarik dalam mempertimbangkan tuntutan kebenaran Injil dalam hidupnya.

MENGGUNAKAN METODE SOKRATES

Ayat 17 dan 18 mengingatkan kita pada Sokrates, yang dikenal menggunakan metode diskusi komunikasi. Penjelasan kuno tentang Sokrates mengatakan: "Dia terlihat di pasar-pasar di saat yang paling ramai.{3} Di sana ia akan terlibat dalam pembicaraan dengan orang- orang yang ia temui. Paulus juga melakukan hal yang sama dengan Sokrates, yaitu, "Ia bertukar pikiran...di pasar setiap hari dengan orang-orang yang dijumpainya di situ." (ayat 17). Paulus ada di kota Sokrates, maka ia juga menggunakan metode dari Sokrates. Berita yang dia sampaikan berbeda dengan yang disampaikan oleh Sokrates, tetapi metode yang ia gunakan hampir sama.

Paulus tidak selalu menggunakan metode yang ia gunakan di Athena. Tetapi ketika ia datang di Athena ia menyesuaikan metodenya dengan kebudayaan Athena. Kita menyebut hal ini dengan 'kontekstualisasi'. Kontekstualisasi terjadi ketika dalam penyampaian dan pemberitaan Injil dilakukan dengan cara yang sesuai dengan konteks situasi dan kondisi serta suasana yang ditemui. Konteks tersebut bisa jadi Athena atau New York atau di desa terpencil di Sri Langka. Kontekstualisasi sangat diperlukan ketika kita bekerja dengan seseorang dari budaya yang berbeda dengan kita. Kontekstualisasi diperlukan pada saat orang kaya dari pinggiran kota New York mencoba bersaksi kepada seseorang dari perkampungan pedalaman yang miskin di New York, atau ketika orang kota di Sri Langka yang berpendidikan tinggi mencoba bersaksi kepada orang desa di Sri Lanka yang berpendidikan formal rendah.

Kontekstualisasi harus dibedakan dengan sinkretisme. Sinkretisme terjadi, misalnya dalam penyampaian dan pelaksanaan Kekristenan, elemen yang penting dalam pekabaran Injil dihilangkan atau elemen yang bertentangan dengan Injil digunakan dalam usaha untuk membedakan dengan orang yang non-Kristen. Sinkretisme terjadi ketika ide penyembah berhala dunia barat diadopsi oleh gereja sehingga gereja mendukung terjadinya pemisahan. Sinkretisme terjadi ketika orang Kristen, mencoba untuk mempertahankan persahabatannya dengan orang yang bukan Kristen, menolak untuk mengakui bahwa mengikut Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan. Sinkretisme terjadi ketika orang Kristen turut berpartisipasi dalam arak-arakan penyembahan agama Hindu ketika mereka melewati sebuah pura. Sinkretisme terjadi setiap kali orang Kristen harus melihat ramalan astrologi sebagai arah hidup mereka. Sinkretisme terjadi ketika orang Kristen memaafkan aborsi dan euthanasia karena pendekatan kemanusiaan yang sekular terhadap kesucian hidup manusia.

Ada hal penting dalam Injil yang mengatasi semua kebudayaan. Dan apabila beberapa unsur penting ini bertentangan dengan budaya di mana orang Kristen hidup dan bekerja, orang Kristen ini tidak boleh memaklumi dan berkompromi dengan hal tersebut. Dalam mempelajari kotbah Paulus, kita akan melihat bahwa kotbahnya itu banyak yang bertentangan dengan cara berpikir orang Athena. Dia menolak untuk menjadi orang sinkretisme. Tetapi dia seorang kontektualis. Ketika dia memberitakan Injil di Athena, dia berkotbah dengan gaya orang Athena, meskipun isinya bertentangan dengan kepercayaan orang Athena tersebut.

Kita bisa melihat cara Paulus menerapkan kontektualisasi dalam kotbahnya di Athena secara lebih jelas lagi dalam Kisah Para Rasul 17:22-31. Kita mencatat di sini, sebagaimana Paulus berada di Lystra (Kisah Para Rasul 14:15-17), dia tidak memakai kutipan langsung dari Perjanjian Lama, sangat berbeda dengan kotbah Paulus sebelumnya terhadap orang Yahudi. Hal ini disebabkan karena orang Yahudi menerima otoritas Alkitab, sehingga ia mengutipnya. Orang Athena tidak menerima otoritas ini, sehingga Paulus tidak perlu mengutipnya secara langsung. Namun demikian beritanya selalu bersumber pada Yesus seperti yang dibuktikan pada kebangkitan-Nya, dan perlunya bertobat serta menjadikan Kristus sebagai Tuhan.

Sebenarnya, berita Paulus di Athena sangat alkitabiah. F.F. Bruce menunjukkan dan mengatakan hal yang sama "pikiran dan bahasa dari penulisan Perjanjian Lama pada waktu itu." Bruce berkata bahwa, "seperti dalam wahyu Alkitab sendiri, kotbah Paulus selalu dimulai dengan perkataan bahwa Allah sebagai Pencipta segala sesuatu, dan dilanjutkan dengan Allah sebagai pemelihara akan segala sesuatu, dan selalu diakhiri dengan Allah sebagai hakim akan segala sesuatu."{4} Paulus selalu berkotbah dari Alkitab. Tetapi jika pendengarnya tidak menerima Alkitab, atau tidak tahu tentang Alkitab, ia tidak terlihat mengutip Alkitab secara langsung.

Kita juga mencatat bahwa, ketika bahasa dan ide-ide Paulus alkitabiah, bentuk dari tujuan orang Athena paling cocok dengan orientasi pendengar yang sangat filosofis. Kita akan melihat nanti bagaimana ia mengomentari praktek-praktek keagamaan mereka, mengutip ahli-ahli filsafat mereka, dan menggunakan cara argumentasi yang logikal mereka sendiri dalam usahanya untuk mempengaruhi mereka agar menjadikan Kristus sebagai Tuhan mereka.

Ada pelajaran penting di sini bagi setiap orang yang mencoba untuk mengabarkan Kristus kepada orang-orang yang non-Kristen. Kita harus mengetahui metode yang biasa mereka pakai untuk mendapatkan kebenaran dalam pemikirannya. Dalam setiap kebudayaan yang berbeda, metode pekabaran Injil yang digunakan pun berbeda. Misalnya dalam kebudayaan Tamil, yang kaya dengan warisan rethoriknya, metode yang paling efektif untuk mengabarkan Injil di sana adalah dengan cara pidato dan orasi. Selanjutnya orang Budha di Sri Lanka menyukai drama dan musik dalam upacara keagamaan sehingga kedua bentuk seni ini mempunyai tempat yang tinggi dalam upacara keagamaan. Oleh karena itu orang Kristen harus mengunakan drama dan musik secara efektif dalam mengabarkan Injil kepada orang Sri Langka ini.

Dalam pelayanan kami di Sri Lanka, kami menempatkan beberapa pemimpin utama yang bekerja diantara orang Budha untuk mendapatkan latihan dalam drama dan musik. Tapi kami mendapatkan guru-guru dari mereka yang bisa membedakan diri mereka sendiri dari perputaran seni "sekular". Sayang kami tidak menemukan orang Kristen yang tahu tentang bentuk seni sekular dengan cukup baik. Pengertian kami mengenai kesenian terlalu terikat dengan kebudayaan Kristen. Jadi kami akan gagal dalam pekabaran Injil untuk mempengaruhi orang non-Kristen secara efektif melalui pertunjukkan seni yang artistik. Kerinduan kami adalah mengenalkan Injil kepada orang Budha dalam bentuk yang biasa mereka lihat.

Kami mendapati bahwa pemuda Sri Lanka yang kebarat-baratan, yang agamanya dekat dengan humanisme sekular, juga menyukai drama dan musik. Tetapi tipe drama dan musik yang dipertunjukkan sangat berbeda dengan yang kami gunakan terhadap orang-orang Budha.

Sekarang metode yang kita gunakan mungkin bentuknya sudah digunakan oleh orang non-Kristen dalam cara yang tidak mempermuliakan Tuhan. Metode itu tidak jahat. Sesuatu yang menggunakan metode itulah yang dosa. William Booth, pendiri Bala Keselamatan, menjelaskan, "Mengapa Iblis memiliki semua musik-musik yang indah?" dan menempatkan kata-kata Kristiani untuk mempopulerkan musik. Orang-orang Kristen di Afrika dan Asia menggunakan drum secara efektif dalam penyembahan dan pujian kepada Tuhan, walaupun orang-orang animisme sudah menggunakannya untuk upacara penyembahan setan selama berabad-abad sebelumnya. Tidak ada yang jahat pada drum. Cara menggunakannyalah yang jahat.

DIALOG SEBAGAI SALAH SATU BAGIAN DARI PEKABARAN INJIL (Kisah Para Rasul 17:17-18)

Kata kunci ketiga yang menjelaskan pelayanan Paulus di Athena adalah "pemberitaan". "Sebab ia (Paulus) memberitakan Injil tentang Yesus dan tentang kebangkitan-Nya."(Kisah Para Rasul 17: 18b). Pernyataan ini sebenarnya adalah ringkasan dari pelayanan Paulus yang dinyatakan dalam ayat 17 dan 18, yang mana Paulus melayani dalam bentuk dialog. Kata "euangelizo" yang dalam bahasa Inggris berarti "preaching", adalah satu dari tiga kata yang biasa digunakan dalam Perjanjian Baru untuk menyebut pekabaran Injil.{5} Kata ini dapat berarti "membawa", "mengabarkan", dan "mengumumkan" kabar baik. Ayat ini memberitahukan kepada kita bahwa dalam dialognya pun Paulus mencoba untuk mengabarkan Injil. John Stott mengatakan bahwa "Dialog Paulus merupakan bagian dari pekabarannya dan membawahi pekabarannya." Stott juga mengingatkan pada kita bahwa "subyek dari dialog Paulus terhadap dunia adalah karena Tuhan Yesus sendirilah yang memilih Paulus dan obyek dari dialog tersebut selalu mengenai pertobatan pada Tuhan Yesus Kristus.{6}

Orang Kristen masa kini banyak yang mempunyai ide yang sangat berbeda mengenai dialog antar agama. Mereka melihatnya hanya sebagai pembicaraan antara orang-orang yang berbeda agama yang masing-masing memberitahukan tentang kepercayaan dan tata cara agama mereka. Topik- topik yang berbeda diambil dan didiskusikan melalui pandangan masing- masing agama tersebut. Sampai hal ini orang Kristen tidak merasa keberatan. Tidak ada ayat dalam Alkitab yang melarang orang untuk berdiskusi agama menurut cara pandang masing-masing agama. Tetapi kita merasa keberatan ketika kita mempertimbangkan tujuan dari dialog ini. Banyak yang melakukannya untuk menjaga keharmonisan antar agama, pengertian yang saling menguntungkan dan saling memperkaya pengetahuan namun tidak membawa pertobatan. Mencapai situasi dialog masa sekarang dengan keinginan untuk mengabarkan Injil sehingga pertobatan dianggap sebagai hal yang tidak etis. Jadi seorang pemimpin internasional dalam suatu pendekatan dialog yang baru, mengatakan: "Siapa saja yang mendekati orang lain dengan pemikiran utama bahwa ceritanya adalah 'cerita yang paling benar' dapat membunuh dialog sebelum dialog itu dimulai."{7}

Tetapi orang Kristen yang alkitabiah selalu mengadakan pendekatan kepada orang non-Kristen karena ingin memberitakan Injil, dan dengan tujuan utama untuk membawa orang tersebut agar bertobat kepada Kristus. Ini bukanlah hal yang mudah sebab dia menginginkan agar orang non-Kristen tersebut dapat "bergabung di pihaknya". Hal ini disebabkan karena dia tahu bahwa hanya dalam Kristuslah manusia mengharapkan keselamatan, dan kasihnya kepada orang non-Kristen menyebabkan dia merindukan pertobatan orang non-Kristen tersebut.

Beberapa orang mungkin akan mengatakan bahwa jika kita mengadakan dialog dengan tujuan pertobatan maka hal ini akan menghentikan dialog yang sesungguhnya. Tetapi saya harus menyakinkan bahwa dialog yang sesungguhnya dapat terjadi meskipun yang menjadi tujuan kita adalah pertobatan. Pendekatan orang Kristen kepada orang non-Kristen pada dasarnya adalah dengan kerendahan hati. Ia mendengarkan orang itu dengan hormat. Ia menyatakan apa yang dikagumi dalam kehidupan orang non-Kristen. Orang yang non-kristen mendapat kesempatan untuk menyampaikan pandangan dan kepercayaannya, dan menyampaikan keberatan- keberatannya serta meminta penjelasan tentang apa yang telah orang Kristen katakan. Mereka berbicara sebagai seorang teman. Orang yang non-Kristen dapat merasa bahwa ia dihormati dan faktor-faktor yang dikagumi dalam agamanya pun diakui. Tetapi disamping rasa hormat, ia merasa bahwa kerinduan orang Kristen adalah membawa ia kepada Kristus karena hanya dalam Kristus sajalah ada harapan untuk keselamatannya. Selama beberapa tahun terakhir saya telah berbicara dengan banyak orang Budha, Hindu dan orang-orang sekuler tentang Kristus dan kepercayaan mereka. Kita melakukannya sebagai seorang teman dengan saling menghormati. Dalam sebagian besar pembicaraan itu orang yang non-Kristen lebih banyak berbicara dari pada saya. Tetapi saya selalu terlihat menghadirkan Kristus sebagai satu-satunya jalan dan harapan untuk keselamatan mereka. Mereka akan segera merasakan bahwa inilah tujuan saya. Tetapi sedikit dari mereka yang keberatan dengan prosedur ini, walaupun banyak yang tidak setuju dengan desakan saya akan keunikan Kristus.

CATATAN

  1. "Today's English Version of the Bible" (TEV) menggunakan kata ini "held discussions."

  2. Colin Brown, ed., "New International Dictionary of New Testament Theology", vol. 3 (Grand Rapids: Zondervan, 1978), hal. 821.

  3. Disebutkan dalam R. J. Knowling, "The Acts of the Apostles," vol 2, "The Expositor's Greek New Testament", ed. W. Robertson Nicoll (1952; reprint, Grand Rapids: Eerdmans, 1974), hal 365.

  4. F.F. Bruce, "Paul: Apostle of the Heart Set Free" (Grand Rapids: Eerdmans, 1977), hal. 239.

  5. Dua kata lainnya adalah "kerusso" (memberitakan) dan "martureo" (bersaksi).

  6. John R. W. Stott, "Christian Mission in the Modern World" (Downers Grove, III: InterVarsity Press, 1975), hal 63.

  7. Wesley Ariarajah, "Towards a Theology of Dialogue," The Ecumenical Review of Theology, XIX, 1 (Jan. 1977), hal. 5.

Kategori Bahan Indo Lead: 
Jenis Bahan Indo Lead: 
File: 
AttachmentSize
atitude02.txt21 KB
atitude02.htm22 KB

Komentar