Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Leadership

Loading

Profil Kepemimpinan Nabi Nehemia (Bagian II)

Jenis Bahan Indo Lead: Artikel

Selain memiliki integritas dan visi yang tinggi (lihat kolom Artikel e-Leadership edisi 66), Nehemia juga memiliki beberapa karakter lain yang masih relevan untuk diterapkan pada masa kini.

1. Pembuat Keputusan yang Jelas

Nehemia dapat membuat keputusan-keputusan yang jelas. Ia tidak menghindari kata-kata keras, melainkan berbicara langsung mengenai inti permasalahan dan membuat penilaian. Dan keputusan-keputusannya tidak berat sebelah; ia tidak memandang bulu. Ketika kecaman dibutuhkan, ia memberikannya kepada para pejabat dan eksekutif sebagaimana kepada para pekerja (Nehemia 5:7). Kadang-kadang perlawanan mengembangkan kerendahan hati untuk melindungi kita dari kebanggaan yang sia-sia [26].

Pada umumnya orang tidak menyukai masalah, cepat bosan kepada masalah, dan akan melakukan hampir apa saja untuk melepaskan diri dari masalah. Keadaan membuat orang lain meletakkan kendali kepemimpinan di tangan seseorang -­ kalau dia bersedia dan mampu menangani masalah mereka atau melatih mereka untuk memecahkan masalah. Keahlian memecahkan masalah seorang pemimpin harus dipertajam karena setiap keputusan menjadi keputusan besar [27]. Raja Salomo merupakan satu contoh pemimpin yang memiliki fungsi kreativitas dalam memecahkan masalah, saat dia mengancam untuk membelah dua bayi.

Dalam kepemimpinan gereja, pelatihan inovasi sangat diperlukan. Inovasi sebagai proses penciptaan dan pembaruan nilai sampai dapat dimanfaatkan atau dikonsumsi oleh masyarakat, sebagaimana Yesus berkata, "hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati" (Matius 10:16b), artinya selalu kreatif-inovatif tetapi tetap menjaga ketulusan dan integritas [28].

Kebimbangan dalam mengambil keputusan telah mengganggu efektivitas banyak pemimpin. Pembuat keputusan yang tidak efektif pada dasarnya mengandung dua masalah: keragu-raguan untuk membuat keputusan dan membuat keputusan yang tidak tepat. Satu keputusan yang salah dapat membawa pemimpin ke jalan buntu atau ke jalan yang menuju kehancuran. Sebagai seorang pemimpin, soal mengambil keputusan itu merupakan seni yang harus dikuasai [29].

Kennet O. Gangel membagi permasalahan mengapa pemimpin ragu dalam membuat keputusan ke dalam empat bagian [30], yaitu:

1. Kurangnya tujuan yang jelas.

Kadang-kadang para pemimpin tidak bertindak karena mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan.

2. Ketidakmantapan dalam kedudukan atau otoritasnya.

Kadang-kadang pemimpin takut bertindak karena takut akan akibatnya.

3. Kurangnya informasi

Pemimpin yang tidak secara aktif mencari semua informasi yang dapat ia peroleh sebelum memberikan keputusannya berarti melumpuhkan dirinya sendiri dalam proses pembuat keputusan.

4. Ketakutan akan perubahan.

Banyak pemimpin ingin mempertahankan "status quo". Karena sebagian besar keputusan menghasilkan semacam perubahan, keputusan selalu tampak sebagai ancaman terhadap operasi-operasi yang sedang berlaku.

2. Pemimpin yang Bertanggung Jawab

Di dalam usaha apa pun, pemimpinlah yang bertanggung jawab atas keberhasilan atau kegagalan misinya. Ada beberapa faktor yang memengaruhi motivasi dan semangat juang, dan salah safu faktor kuncinya adalah tanggung jawab [31]. Nehemia menerima tanggung jawab dengan maksud terus mengerjakan pembangunan tembok Yerusalem. Nehemia sudah siap untuk hal yang terburuk [32].

Yesus mendefinisikan kepemimpinan sebagai pelayanan, dan itu berlaku baik dalam organisasi sekuler ataupun gereja. Gaya kepemimpinan Yesus adalah menjadi seorang hamba, meski Dia sungguh memiliki semua kuasa dan otoritas surgawi [33]. Ia menunjukkan simpati pada masalah orang lain, namun simpatinya menguatkan dan membangkitkan semangat; tidak melunakkan dan melemahkan. Disiplin adalah tanggung jawab lain dari pemimpin, tugas yang sering kali tidak disambut dengan baik.

J. Oswald Sanders mengatakan:

"Masyarakat Kristen apa pun membutuhkan disiplin yang benar dan penuh kasih untuk mempertahankan standar-standar ilahi dalam doktrin, moral, dan perbuatan" [34].

Sering kali pemimpin tergoda untuk melemparkan tanggung jawab kepada orang lain, untuk melepaskan diri dari tanggung jawab atas sesuatu yang buruk dan tidak menyenangkan [35]. Seorang pemimpin memiliki banyak elemen dalam hal tanggung jawab. Pertama, pemimpin sejati terutama peduli pada kesejahteraan orang lain, bukan kenyamanan atau kedudukannya sendiri. Pemimpin rohani selalu mengarahkan keyakinan orang lain kepada Tuhan. Ia melihat dalam setiap keadaan untuk menolong. Kedua, disiplin adalah tanggung jawab dari pemimpin, tugas yang sering kali tidak disambut dengan baik. Paulus menjelaskan roh yang harus dimiliki para pemimpin yang memberikan disiplin. "Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman" (Galatia 6:10). Ketiga, para pemimpin harus memberikan bimbingan. Pemimpin rohani harus tahu ke mana ia akan pergi sebelum memimpin orang lain. Pemimpin harus berjalan di depan kawannnya. Bersedia mengambil tanggung jawab merupakan tanda seorang pemimpin. Yosua adalah orang seperti itu. Ia tidak ragu-ragu mengikuti salah seorang pemimpin terbesar seperti Musa [36].

Salomo menyebutkan lima hal yang merupakan tanggung jawab seorang pemimpin.

1. Menegur atau mengoreksi. Ada kalanya seorang pemimpin melihat serangkaian tindakan yang salah tetapi tidak bersedia menegurnya karena takut tidak akan disukai orang. Salomo berkata, "Siapa menegur orang akan kemudian lebih disayangi dari pada orang yang menjilat." (Amsal 28:23)

Yesus memperingatkan murid-murid-Nya tentang berbagai bahaya yang ada di depan. Dia khususnya memperingatkan Petrus bahwa dia akan mengkhianati dan mengecewakan-Nya, dan Petrus memang melakukan itu. Apa yang mengubah Petrus kembali? Yesus yang mengubahnya. Meskipun Petrus menyangkal Yesus tiga kali, tiga kali pula Petrus diberi kesempatan untuk menegaskan kembali kasih dan komitmennya untuk memelihara domba-domba Yesus. Petrus belajar sesuatu tentang kemarahan dari Yesus; kemarahan Yesus itu bisa menjadi hal yang paling disukai di dunia. Dalam mengembangkan para pemimpin, perlu mengetahui bahwa mereka akan gagal. Ketika itu terjadi, mereka perlu dikoreksi, dorongan semangat dan kesempatan untuk mulai lagi [37].

2. Bertindak dengan tegas. Salomo mengatakan bahwa apabila seseorang membiarkan tingkah laku yang tidak benar dengan mengatakan ia tidak mengetahuinya, ia masih harus bertanggung jawab di hadapan Allah yang menguji hati, dan membalas manusia menurut perbuatan-Nya (Amsal 24:11-12). Pemimpin perlu mendorong orang untuk lebih baik, atau bila perlu memecat yang tidak produktif [38].

Dalam kepemimpinan Nehemia, dia terus menggalakkan kerja sama di antara bangsa itu. Ia menghentikan praktik lintah darat dan ia menciptakan persatuan di antara penguasa yang kaya dengan orang-orang yang merasa tertindas. Ia juga mempersatukan orang-orangnya dan memberi mereka makan dari uangnya sendiri. Tanpa kerja sama, tembok Yerusalem itu takkan berhasil dibangun kembali [39].

3. Mendengarkan kritik. Pemimpin bertanggung jawab untuk mendengarkan kritik dari rekan-rekannya. "... siapa mengindahkan teguran adalah bijak." (Amsal 15:5) Menangani pengkritik, pengeluh, dan bahkan sering kali si mulut besar adalah pelayanan rutin. Tetapi tidak semua kecaman keras merupakan kritik rutin. Ada batas yang halus antara mudah tersinggung dan keras kepala. Untuk menjadi seorang pemimpin, terutama pemimpin rohani yang berhasil, seseorang harus memiliki pikiran seorang sarjana, hati seorang anak, dan kulit seekor badak [40].

4. Bersikaplah jujur. Pemimpin bertanggung jawab untuk menjaga agar setiap hal terbuka dan jujur. "Orang bebal dibinasakan oleh mulutnya, bibirnya adalah jerat bagi nyawanya." (Amsal 18:7) Keterbukaan berarti tidak mengandalkan kekuatan dan pengertian sendiri. Pemimpin yang tidak mau diajar hampir selalu putus hubungan dengan Allah serta orang-orangnya [41].

5. Bersikaplah adil. Pemimpin bertanggung jawab untuk bertindak adil terhadap bawahannya. "Neraca serong adalah kekejian bagi Tuhan, tetapi Ia berkenan akan batu timbangan yang tepat." (Amsal 11:1) Keprihatinan adalah hasrat untuk melakukan sesuatu yang menguntungkan bagi orang lain. Kalau hati terusik untuk melayani, kecil kemungkinannya bersikap untuk mementingkan diri sendiri [42].

3. Administrator yang Baik

Administrasi adalah pengaturan orang-orang dalam perkumpulan untuk meraih tujuan bersama. Salah satu unsur penting dalam administrasi adalah kesanggupan untuk bergaul dengan orang secara benar-benar ramah, sopan, tetapi mantap [43].

Nehemia adalah seorang pemimpin yang tidak melakukan pekerjaan dengan serampangan. Nehemia mengorganisasikan orang-orangnya menurut keluarga dan menurut prioritas yang telah direncanakannya, mulai dari gerbang kota tersebut. Tembok Yerusalem berhasil dibangun kembali karena kemampuan Nehemia untuk bekerja sama dengan orang lain dan memimpin mereka ke mana mereka harus menuju. Dia berupaya melibatkan sebanyak mungkin orang dalam prosesnya dan bergerak maju dengan mereka yang sudah siap. Dia organisasikan mereka dalam kelompok-kelompok alami berdasarkan hubungan [44].

Persatuan mendorong pengaruh yang kuat. Persatuan penting bagi suatu tim agar menjadi terfokus pada tujuan. Hati, kemauan, dan kekuatan anggota tim harus dipersatukan dengan tujuan dan arah yang sama [45]. Mendengarkan masukan atau dorongan dari bawahan merupakan suatu karakter kepemimpinan yang demokratis. Kepemimpinan jenis ini lebih bertahan lama daripada pemimpin yang menggunakan otoritas tanpa mau bekerja sama dengan orang lain terutama untuk membuat suatu keputusan.

Kesimpulan

Nabi Nehemia telah menunjukkan gaya kepemimpinan yang dapat menjadi salah satu teladan di antara banyak tokoh pemimpin dalam Alkitab. Integritas merupakan kriteria utama dalam diri seorang pemimpin Kristen yang baik dan besar. Keputusan-keputusan yang memengaruhi banyak orang diawali dari karakter.

Nehemia adalah pemimpin yang memiliki kasih dan tanggung jawab dan yakin akan visinya bahwa Allah menuntunnya untuk melaksanakan satu pekerjaan yang menurut orang lain merupakan sesuatu pekerjaan yang tidak mungkin. Namun apa pun kritik banyak orang kepada Nehemia, dia tetap teguh dan fokus kepada tujuan dengan tetap rendah hati meminta kekuatan dan petunjuk dari Allah lewat doa.

Nabi Nehemia berhasil membangun kembali tembok Yerusalem. Pekerjaan berat namun dia menjadi seorang pemimpin yang mampu sampai pada sasaran. Kepuasan total dia peroleh bersama dengan orang-orang yang mendukungnya.

Daftar Pustaka:

Barna, George. 2002. "Leaders On Leadership". Malang: Gandum Mas.

Eims, Leroy. 2003. "12 Ciri Kepemimpinan yang Efektif". Bandung: Kalam Hidup, 2003.

Gangel, Kenneth O. 1998. "Membina Pemimpin Pendidikan Kristen". Malang: Gandum Mas.

Gordon, Bob. 2000. "Visi Seorang Pemimpin". Jakarta: Nafiri Gabriel, 2000.

Harefa, Andrias. 2001. "Kepemimpinan Kristiani". Jakarta: UPI STT, 2001.

Maxwell, John C. 2002. "21 Menit Paling Bermakna dalam Hari-hari Pemimpin Sejati". Batam Centre: Interaksara.

Meyer, Joyce. 2002. "Membangkitkan Roh Kepemimpinan". Jakarta: Trinity Publishing.

Rinehart, Stacy T. 2003. "Paradoks Kepemimpinan Pelayan". Jakarta: Immanuel.

Sanders, Oswald, J. 2002. "Kepemimpinan Rohani". Batam Centre: Gospel Press.

Sinamo, Jansen H. 2001. "Kepemimpinan Kristiani". Jakarta: UPI STT, 2001.

Tomatala, Yacob. 2005. "Anda Juga Bisa Menjadi Pemimpin Visioner". Jakarta: YT Leadership Foundation.

Zenger, John H., and Joseph Folkman. 2004. "The Handbook For Leaders". New York: McGrawHill.

Catatan kaki:

[26] George Barna, Op. Cit., hlm. 137.
[27] John C. Maxwell, Op. Cit., hlm. 87-88).
[28] Jansen H. Sinamo, Kepemimpinan Kristiani. (Jakarta: UPI STT, 2001, hlm. 143-144.)
[29] Leroy Eims, Op. Cit., hlm. 143
[30] Kenneth O. Gangel, Op. Cit., hlm. 164-165.
[31] Leroy Eims, Op. Cit., hlm. 14.
[32] John C. Maxwell, Op. Cit., hlm. 84.
[33] Stacey T. Rinehart, Op. Cit, hlm. 76.
[34] J. Oswald Sanders, Op. Cit., hlm. 217.
[35] Leroy Eims, Op. Cit., hlm. 15.
[36] J. Oswald Sanders, Loc. Cit.
[37] George Barna, Op. Cit., hlm. 159.
[38] John H. Zenger and Joseph Folkman, Op. Cit., hlm. 38.
[39] John C. Maxwell, Op. Cit., hlm. 85.
[40] George Barna, Op. Cit., hlm. 136.
[41] John C. Maxwell, Op. Cit., hlm.115
[42] Ibid., hlm. 77.
[43] Kenneth O. Gangel, Op. Cit., hlm. 142-143.
[44] John C. Maxwell, Op. Cit., hlm. 82-84.
[45] George Barna, Op. Cit., hlm. 291.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

START_SUMBER: SUMBER 1: __Halaman : __Bab : __Judul Artikel : __Penulis Artikel :Jonni Arifson Gultom, M. Th. (Pengirim) __Nomor Edisi : __Tahun Edisi : __Judul Buku : __Judul Buku Asli: __Penulis Buku : __Penerjemah : __Penerbit : __Kota : __Status Bahan :Situs __Tahun Terbit : __Website :http://jonarifgultom.blogspot.com/2007/11/profil- kepemimpinan-nabi-nehemia.html (Wisdom from Heaven) __Email :

Kategori Bahan Indo Lead: Self Leadership

Komentar