Kepemimpinan Model Gembala

Pendahuluan

Saat ini, gaya kepemimpinan menjadi isu yang hangat dibicarakan. Dalam kajian soal kepemimpinan umat, para pemimpin gereja saat ini banyak dikeluhkan soal kepemimpinan yang bukan memimpin dengan hati gembala (herding leadership), melainkan memimpin dengan gaya "herder". Masalah ini banyak terjadi di gereja atau institusi di mana banyak pemimpin menjadi putus asa terhadap penerapan prinsip kepemimpinan dan memilih jalan pintas, yaitu dengan gaya autokrasi bahkan kekerasan (gaya "herder"). Sonny Eli Zaluchu menuliskan, "Kelemahan kepemimpinan gembala biasanya ditandai dengan sejumlah aktivitas yang cenderung memaksakan kehendak, gaya penggembalaan yang tidak berkenan, mulut yang tidak terkontrol, menguatnya pengaruh dan intervensi orang-orang tertentu dalam keputusan gembala (orang kuat, anak, menantu), visi yang lemah, doa yang kurang, dan sikap yang mencerminkan kekunoan (seperti plinplan, tidak mau mengakui kesalahan, dan sikap tidak mau tahu). Hal yang paling utama adalah gembala yang tidak mau berubah dan selalu tertutup untuk menerima masukan karena menganggap diri benar."

Jalan ini sering kali diambil karena paling "aman", yaitu adanya anggapan bahwa mereka (baca: pengikut atau jemaat) tidak perlu tahu. Namun, model kepemimpinan "herder" ini menghasilkan kehancuran, baik pada diri sendiri maupun organisasi yang dipimpin.

Lawan dari kepemimpinan otoriter adalah kepemimpinan dengan hati gembala, yang berbicara tentang melayani, menuntun, mengarahkan, menantang, dan membantu untuk bertumbuh. Kepemimpinan gembala tidak berbicara soal aktivitas manajemen belaka, tetapi menumbuhkan orang yang dipimpin. Itu sebabnya, mengawasi dan menuntun yang dipimpin akan lebih mudah dan akan menunjukkan hasil yang berbeda. Sudah dibuktikan bahwa orang yang dipimpin tidak dapat digerakkan atau dimotivasi oleh sebuah birokrasi atau prosedur, sebagaimana teori manajemen. Orang hanya digerakkan oleh visi, nilai-nilai, prinsip-prinsip, dan keyakinan tentang diri. Anthony D'Souza memberikan uraian tentang kepemimpinan gembala:

"Bagi pemimpin gembala, produknya adalah para pengikut. Bukan keuntungan, bukan pangsa pasar. Para pengikut itu sendiri yang menjadi tujuan dan produk dari upaya pemimpin gembala. Dan, karena itu, ketika dombanya tetap hidup menghadapi berbagai bahaya dalam perjalanan, ketika mereka bertambah kuat, gembala dengan setia menunaikan tugasnya. Domba memang harus dibimbing, didorong, dan dimotivasi untuk mencapai kinerja terbaik. Namun, domba-domba inilah yang memenuhi pemimpin gembala ketika tidur di malam hari dan yang pertama dicari ketika sinar mentari pagi menandai setiap hari baru. Gembala benar-benar merupakan pelayan domba-dombanya. Pertumbuhan dan pemeliharaan terhadap mereka menjadi tugas dan agendanya dalam mencapai kesuksesan."

Akan tetapi, dalam pengamatan saya, masalah terbesar yang dihadapi beberapa pemimpin Kristen adalah memiliki minat yang rendah kepada orang-orang dan tidak memiliki kemampuan menjalin hubungan dengan rekan-rekan (interpersonal relationship) serta tidak peduli pada masalah-masalah emosional orang yang dipimpinnya. Hal lain adalah adanya sikap pesimis terhadap kehidupan di depan sehingga menurunkan semangat organisasi yang dipimpinnya. Ciri lainnya yang paling banyak muncul dalam kepemimpinan adalah bersikap antisosial, skeptis, kurang senyum, suka mendominasi, dan agresif terhadap kepemimpinan berhati gembala.

Fakta lain adalah pemimpin, apa pun jenisnya, senang pendidikan formal, training, menghargai prinsip-prinsip kepemimpinan, dan juga kemampuan manajemen. Namun, ada kelemahan mendasar kalau tidak memiliki kepemimpinan gembala, yaitu hubungan (relationship). Padahal, kepemimpinan yang efektif, sebagaimana yang ditemukan dalam riset pakar kepemimpinan, Kouzes dan Posner, adalah "hubungan" (leadership is a relationship). Mereka berdua berkata, "Kepemimpinan adalah sebuah hubungan. Kepemimpinan merupakan hubungan antara mereka yang terpanggil untuk memimpin dan mereka yang memilih untuk mengikuti".

Dr. Stacy Rinehart dalam bukunya, "Upside Down", menuliskan, "Sebagian besar orang percaya familier dengan resep Yesus untuk keberhasilan kepemimpinan (Markus 10:43-44), tetapi ketika tiba saatnya untuk mempraktikkan hal itu, banyak pemimpin meninggalkan nasihat Yesus di jalanan, di Galilea, dan mengikuti tren kepemimpinan masyarakat." Banyak pemimpin mencoba mengikuti tren kepemimpinan dan melupakan prinsip Yesus tentang kepemimpinan gembala.

Oleh karena itu, penulis akan mengkaji model kepemimpinan Kristen dan mencoba menemukan signifikasi, modifikasi, dan formulasi ulang konsep kepemimpinan yang dapat diterapkan dalam konteks kepemimpinan Kristen yang dikaji secara hermeneutika dan teoretis.

Prinsip-Prinsip Kepemimpinan Gembala

Pada bagian ini, penulis membahas hasil konsep kepemimpinan gembala yang juga sudah banyak diadopsi oleh tren teori kepemimpinan secara umum.

Prinsip Kebaikan

Memimpin dengan kebaikan harus berpola pada kebaikan hati Allah. Dalam teologi, kata "kebaikan" ("goodness" atau "chrestotes") diidentikkan dengan kemurahan Allah (di bawah pembahasan Allah Mahakasih). Albert Barnes (teolog) memberikan arti kata ini sebagai "kindness" yaitu kebaikan hati, keramahan, perbuatan baik, kasih sayang. Allah itu baik, Ia penuh belas kasih, baik hati, penuh anugerah, mementingkan kepentingan orang lain (altruisme) sehingga Allah yang penuh dengan kebaikan berarti Allah yang mengasihi umat-Nya, Allah yang lemah lembut, baik hati, dan selalu memberikan anugerah, dari zaman Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru. Kasih setia Allah dicurahkan kepada umat-Nya, Israel, meskipun mereka terus berdosa. Ketika Allah harus menghukum Israel karena kebebalan hati mereka yang terus menyembah berhala, Ia tetap mengasihi mereka sehingga setelah mereka bertobat, Allah tetap mengasihi dan memulihkan keadaan mereka. Namun, kebaikan Allah tidak pernah boleh dipisahkan dengan keadilan-Nya.

Konsep kebaikan ini dapat diaplikasikan dalam kepemimpinan Kristen. Sifat moral Allah yang Mahabaik menantang pemimpin Kristen untuk memiliki kebaikan moral dan semangat "altruisme" dalam karakternya.

Prinsip Ketulusan Hati

Kajian hermeneutika tentang ketulusan hati berbicara tentang integritas seorang pemimpin. Raja Daud dalam Kitab Suci dikatakan, "Ia menggembalakan umat Israel dengan ketulusan hatinya, dan menuntun mereka dengan kecakapan tangannya." (Mazmur 78:72) Itu sebabnya, memiliki kompetensi saja dalam sebuah kepemimpinan tidaklah cukup, dibutuhkan juga ketulusan hati.

Rendahnya integritas telah menjadi masalah kepemimpinan, termasuk dalam kepemimpinan Kristen. John Maxwell berkata, "Menurut survei di Amerika yang dilakukan terhadap sekitar 1.300 pimpinan perusahaan dan pejabat di pemerintahan, ketika ditanya kualitas apakah yang paling penting dimiliki untuk sukses menjadi pemimpin, sebanyak 71% dari mereka memilih integritas.

Kata "integritas" berarti keadaan yang sempurna, perkataan dan perbuatan menyatu dalam diri seseorang. Seseorang yang memiliki integritas tidak meniru orang lain, tidak berpura-pura, tidak ada yang disembunyikan, dan tidak ada yang perlu ditakuti. Kehidupan seorang pemimpin adalah seperti surat Kristus yang terbuka (2 Korintus 3:2).

Integritas sebagai karakter bukan dilahirkan, melainkan dikembangkan setahap demi setahap dalam hidup kita melalui kehidupan yang mau belajar dan keberanian untuk dibentuk Roh Kudus. Itu sebabnya, seorang pemimpin terkenal berani berkesimpulan bahwa karakter yang baik akan jauh lebih berharga dan dipuji orang daripada bakat atau karunia yang terhebat sekalipun. Kegagalan sebagai pemimpin bukan terletak pada strategi dan kemampuannya dalam memimpin, melainkan pada tidak adanya integritas pada diri pemimpin.

Prinsip Kecakapan

Memimpin dengan kecakapan berarti memiliki kompetensi. Menurut Dr. Yakob Tomatala, kompetensi meliputi banyak hal, yaitu kompetensi karakter, pengetahuan, dan keahlian. Dalam tulisan ini, penulis khusus mengambil dua hal dari kompetensi keahlian yang menolong menguatkan kepemimpinan gembala kita, yaitu kecakapan hubungan antarmanusia (relationship) dan kecakapan keahlian teknis. Ada dua kompetensi kepemimpinan. Pertama, kecakapan yang berkenaan dengan "hubungan antarmanusia" atau disebut juga "keterampilan atau kecakapan sosial". Seorang pemimpin yang baik tidak hanya menyadari bahwa ia membutuhkan orang lain, tetapi juga dengan penuh tanggung jawab dapat membina hubungan baik dengan orang lain yang menjamin kerja sama yang baik dan keberhasilan kerja. Hubungan baik dengan orang lain harus dimulai oleh pemimpin. Ia harus memiliki tekad untuk menyukainya, dan menghidupinya dengan penuh tanggung jawab. Prinsip kepemimpinan Tuhan Yesus tetap berlaku di sini, yaitu: "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka ...." (Matius 7:12) Tekanan utama yang diberikan di sini adalah bahwa apa saja yang dilakukan oleh seorang pemimpin mencerminkan apa saja yang akan/telah diperbuat orang kepadanya. Apabila pemimpin menghendaki dan melaksanakan/membina hubungan baik dengan siapa saja, ia pun akan menerima kebaikan dari tindakannya.

Kedua, kecakapan yang berkaitan dengan "hubungan pelaksanaan tugas", yaitu seorang yang disebut ahli, tahu dan dapat melakukan tugasnya dengan baik dan benar. Keterampilan, keahlian, atau kecakapan tugas berkaitan erat dengan hal-hal praktis yang bersifat teknis sehingga dapat juga disebut keahlian teknis/praktis. Keahlian ini berkaitan erat dengan "bagaimana melaksanakan tugas", yang harus dilaksanakan dengan baik dan pemimpin harus memiliki keahlian khas, khususnya yang berkenaan dengan kecakapan memimpin.

Itu sebabnya, dalam memimpin, seseorang tidak boleh pernah berhenti belajar, baik dalam bentuk formal maupun informal. Pembelajaran yang terus-menerus akan menghasilkan kecakapan yang lebih banyak lagi. Pembelajaran tidak berfokus pada gelar, namun pada pemenuhan salah satu kunci sukses pemimpin gembala, yaitu cakap, yang meliputi cakap mengajar, cakap berelasi, dan cakap memimpin.

Prinsip Kesetiaan dalam Kebenaran

Kajian hermeneutika terhadap kata "kesetiaan" adalah penting dalam kosakata teologi Kristen dan juga pemimpin gembala. Setidaknya, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, pemimpin dituntut Tuhan untuk mencintai kesetiaan (love mercy), di samping adil dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah (Mikha 6: 8). Kesetiaan harus ditunjukkan di samping kasih sayang kepada masing-masing karena Tuhan akan menjadi Allah mereka dalam kesetiaan dan kebenaran (Zakharia 7:9 dan 8:8). Setidaknya, ada tiga alasan mengapa kesetiaan itu penting. Pertama, kesetiaan adalah yang terpenting dalam Hukum Taurat (Matius 23:23); kedua, kesetiaan merupakan salah satu buah Roh Kudus yang harus ada dalam kehidupan kita (Galatia 5:22); ketiga, kesetiaan merupakan salah satu yang harus dikejar di samping keadilan, kasih, dan damai (2 Timotius 2:22).

Menurut pengamatan saya, banyak ahli kepemimpinan, dalam buku mereka, tidak menyukai kata "kesetiaan" karena sering kali, kata itu disalahgunakan sebagai tameng untuk berlindung dari kegagalan memimpin. Walaupun demikian, kesetiaan tidak boleh dihilangkan dalam kamus pemimpin gembala karena tanpa kesetiaan, kita tidak berhak menuntut loyalitas yang sama dari pengikut kita. Justru ini yang menjadi kunci keberhasilan pemimpin gembala.

Kesimpulan

Tren kepemimpinan telah berkembang sangat pesat dan dapat dengan mudah dipelajari secara mandiri. Bahkan, nilai dan prinsip biblika telah mewarnai semua lini prinsip ilmu kepemimpinan. Namun, dalam lini praktika, gereja diperhadapkan pada kompleksitas kultural, masalah sosial, dan konteks yang sangat beragam. Saat ini, pemimpin tidak boleh berhenti dengan penerapan kepemimpinan dalam kehidupan. Ada banyak keunikan yang akan ditemukan di lapangan. Seperti kata Robert Clinton, pemimpin sedang memasuki "university of life", tempat penerapan nilai kepemimpinan tidak pernah berhenti. Nilai-nilai itu harus terus digali.

Salah satu hal yang menjadi solusi dalam kepemimpinan saat ini adalah perlunya pengembangan kepemimpinan yang berhati gembala. Nilai ini bersumber dari Yesus sendiri, melalui hidup dan pengajaran-Nya. Prinsip itu didasarkan pada kebaikan, ketulusan hati, kecakapan, dan kesetiaan dalam kebenaran. Prinsip ini kekal, tetapi penerapannya membutuhkan waktu dan kerja keras dalam konteks masyarakat pascamodern ini.

Hal ini ditegaskan oleh pernyataan Anthony D'Souza tentang hasil dalam menerapkan pemimpin gembala, "Gembala adalah model bagi para pemimpin dari segala organisasi, termasuk perusahaan industri dan komersial. Pemimpin dituntut untuk bertindak sebagai gembala sejati atas organisasinya, yang pertama-tama dan terutama dilihat sebagai komunitas manusia. Dengan demikian, pemimpin semacam ini akan memperoleh loyalitas dan komitmen dari para pegawai dan pelanggan; dan pada gilirannya, akan meraih apa yang tidak pernah dapat diperintahkan oleh pemimpin lain."

*) Catatan: Untuk melihat daftar pustaka, silakan melihat sumber aslinya.

Disunting dari:

Nama situs : Daniel Ronda
URL situs : http://danielronda.com/index.php/kepemimpinan/55-kajian-atas-kepemimpina...
Judul asli artikel: Kajian atas Kepemimpinan Model Gembala
Penulis : Daniel Ronda
Tanggal akses : 7 Maret 2014
Kategori Bahan Indo Lead: 
Jenis Bahan Indo Lead: 
File: 

Komentar