Bilamanakah Lonceng Kematian Pemimpin Kristen Berbunyi?

BILAMANAKAH LONCENG KEMATIAN PEMIMPIN KRISTEN BERBUNYI?

Oleh: Nur Wadik

Suatu kali seorang wartawan sebuah surat kabar Inggris melaporkan pekerjaan pelayanan seorang hamba Tuhan yang sangat terkenal bernama D.L. Moody. Diungkapkan bahwa kalau dilihat dari penampilan Moody siapa sangka pelayanannya bisa berhasil luar biasa seperti itu. Ketika Moody membaca laporan jurnalistik tersebut, ia berkomentar, "Justru itulah rahasia terjadinya kebangunan rohani. Kuasa Allah bekerja di dalamnya. Pekerjaan itu pekerjaan Allah, bukan pekerjaan saya." Banyak pemimpin Kristen yang berhasil dalam membangun pelayanan dan menjangkau banyak orang bukan karena kepandaiannya, tapi justru karena pengosongan dirinya dengan merasa tidak mampu, kemudian menyerahkan seluruh pelayanannya kepada kuasa Tuhan dan Tuhan benar-benar bertindak secara luar biasa. Pelayanan mulai maju pesat. Namun, ketika seorang pemimpin diperhadapkan kepada keberhasilan dan mulai terpancing untuk menganggap bahwa karena dirinyalah pelayanan itu berhasil, saat itulah lonceng kematian pemimpin tersebut mulai berbunyi.

Memang harus disadari setiap kita memiliki peluang untuk terpancing dengan kebanggaan dan penonjolan diri. Efek kejatuhan Adam ke dalam dosa memang merambah juga kepada soal kesombongan diri, yang juga menjangkiti para pemimpin Kristen. Deteksi awal dapat kita ketahui ketika seorang pemimpin mulai berkata dengan kalimat-kalimat, "Kalau bukan karena saya," atau "Saya ingin tahu bagaimana hasil pelayanan itu setelah saya pergi," serta kalimat-kalimat yang lain yang isinya lebih kepada penonjolan diri. Celakanya, bila kesombongan diri itu menguasai seorang pemimpin Kristen dalam usaha untuk membuktikan bahwa dirinya mampu melakukan seperti yang diharapkan, pemimpin itu akan berusaha dengan berbagai cara supaya dapat menunjukkan bahwa dia memang mampu. Dan terkadang untuk menunjukkan bahwa seorang pemimpin itu mampu, digunakanlah cara-cara yang tidak lagi sesuai dengan prinsip-prinsip pelayanan hanya sekadar supaya diakui sebagai seorang pemimpin yang mampu.

Pergeseran nilai ini sering kali tidak secara drastis tapi perlahan, sehingga tidak mengundang kegelisahan bagi orang lain. Dan sampai pada masanya di mana seseorang sudah mulai berhasil, memandang Allah sebagai yang empunya pekerjaan pun menjadi nomor dua. Keakuan mulai berbicara dan bila orang tidak mampu mengintrospeksi dirinya, orang tersebut akan sampai kepada apa yang disebut sebagai "pengagungan diri". Apalagi kalau sampai kepada sikap memimpin dengan model "crowd leadership" atau pemimpin kerumunan. Pemimpin model ini menggunakan apa yang disebut oleh Sigmund Freud sebagai "hypnotic theory", sehingga ia seperti menghipnotis orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpin ini bisa dijumpai di tengah-tengah massa-massa yang berkelompok maupun di instansi-instansi, bahkan di gereja atau yayasan Kristen. Bisa juga menjadi pemimpin yang bertindak seperti seorang tuan kepada hambanya atau majikan kepada bawahannya. Hal tersebut bisa terjadi ketika seorang pemimpin bukan lagi melihat Tuhan sebagai pihak yang memercayakan kepemimpinan, tetapi lebih melihat kepada "si aku yang hebat". Keadaan seperti itu adalah tanda bahaya seorang pemimpin Kristen.

Kalau kita menyaksikan tokoh-tokoh Alkitab yang dipanggil Allah untuk melayani Dia, tidak sedikit dari mereka ketika dipanggil tidak langsung mengiyakan. Sebaliknya, mereka mengaku tidak mampu sehingga enggan untuk menanggapi panggilan itu. Akan tetapi, pengakuan jujur ketidakmampuan itu bukan menyurutkan Tuhan untuk memakainya. Justru Tuhan melihat pengakuan jujur merasa tidak mampu itu sebagai modal berharga seorang hamba Tuhan yang mau dipakai oleh-Nya.

Kita melihat bagaimana Musa menjawab panggilan Tuhan untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Musa mengungkapkan dua alasan kepada Tuhan dengan tujuan supaya Tuhan tidak memakai dirinya. Alasan pertama, Musa mengaku tidak bisa bicara. Karena bagaimanapun juga seorang pemimpin itu harus pandai berbicara agar menjadi orator yang baik, dan Musa merasa dirinya bukanlah orang yang lihai untuk yang satu ini. Alasan kedua, Musa merasa takut kalau bangsa Israel tidak memercayainya. Lalu, apakah Tuhan meninggalkan Musa dan mencari orang yang menganggap dirinya bisa dan punya rasa percaya diri sempurna? Tidak! Justru Tuhan memaksa Musa untuk menjadi pelayan-Nya. Akhirnya, siapa yang meragukan keberhasilan Musa membawa bangsa Israel keluar dari Mesir? Selain Musa, kita juga menyaksikan catatan pengakuan jujur nabi Yeremia yang pernah menolak panggilan Tuhan hanya karena merasa tidak mampu. Dua alasan yang diajukan oleh Yeremia yaitu tidak pandai berbicara dan minder karena masih muda (Yeremia 1:6). Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapa pun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apa pun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. (Yeremia 1:7).

Sebaliknya, kita menyaksikan bagaimana murid-murid Tuhan Yesus yang justru berebut kekuasaan dengan istilah "ingin menjadi yang terbesar," tapi pada kenyataannya sangat memalukan. Tentu keinginan untuk menjadi yang terbesar itu dilatarbelakangi oleh perasaan bahwa dirinya mampu menjadi yang terdepan, terhebat, dan paling berprestasi. Mereka lupa bahwa Tuhanlah yang empunya Kerajaan. Namun, saat mereka menghadapi masalah dimana Guru mereka ditangkap, diadili, dan disalibkan, "pemimpin-pemimpin" itu kocar-kacir entah ke mana. Jangankan mempersatukan orang-orang yang pernah dilayani oleh mereka atau Guru mereka, mereka sendiri malahan tidak berani menampakkan batang hidungnya. Bahkan Petrus yang seakan-akan mewakili murid-murid lainnya, justru menyangkali Guru yang pernah diikutinya itu. Memang tragis.

Tuhan Yesus pernah mengingatkan ketidakmampuan kita di dalam melakukan sesuatu tanpa kita bergantung kepada Dia. "Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." (Yohanes 15:5). Seorang pemimpin Kristen boleh memiliki kehebatan dalam soal manajerial atau pengetahuannya yang tinggi untuk mendukung pelayanan. Tetapi bila hanya mengandalkan "kehebatan" dirinya itu, maka tinggal menunggu waktunya kepemimpinan orang itu akan berakhir. Kalaupun ia berusaha dengan sekuat tenaga untuk mempertahankan kedudukannya, biasanya ia hanya akan menjadi tertawaan orang saja.

Karena itu, Rasul Paulus dengan tegas mengatakan kepada sekelompok jemaat yang memang suka mengagung-agungkan pemimpin, "Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk

memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti ..." (1Korintus 1:27-28). Apa yang dikatakan Paulus ini bukan sekadar teori semata. Paulus sendiri sebagai seorang hamba Tuhan dan pemimpin jemaat pada dasarnya seorang yang jenius, ahli teologi yang hebat di dalam keilmuannya. Akan tetapi, di dalam suratnya kepada jemaat Filipi dia mengaku semuanya itu tidak ada artinya sama sekali bahkan dianggap rugi karena Kristus (Filipi 3:7-8).

Kalau demikian, apakah Tuhan tidak mau memakai orang-orang yang memiliki kelebihan-kelebihan tertentu seperti keahlian manajemen, kemampuan menganalisa, atau keahlian-keahlian yang lain untuk mendukung pelayanannya? Tentu tidak, tetapi Tuhan tidak mau orang-orang yang memiliki kelebihan-kelebihan tersebut mengandalkan kelebihan-kelebihannya dan tidak mau bergantung kepada Tuhan. Itulah pokok permasalahannya.

Ketika Saul hendak diangkat menjadi raja bagi bangsa Israel, ia merasa minder karena dirinya berasal dari suku minoritas yaitu suku Benyamin. Tetapi Tuhan memilihnya dan Saul benar-benar diangkat menjadi raja pertama atas Israel. Awal-awal pemerintahannya berjalan stabil dan kepemimpinannya dalam menumpas orang-orang kafir berjalan mulus. Tetapi ketika Saul berani mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan yang sebenarnya bukan haknya, kepemimpinannya mulai goyah. Tuhan mulai meninggalkan dia dan menggantikannya dengan orang lain, yaitu Daud. Oleh Saul, Tuhan bukan lagi dilihat sebagai penyelamat, tetapi logika Saul lebih dominan sampai kepada keputusan untuk bertindak sendiri mempersembahkan korban.

Demikian juga Tuhan akan memakai dan memberkati pelayanan kita jikalau kita mengandalkan-Nya dalam setiap langkah dan keputusan kita. Sehingga tepat apa yang dikatakan oleh Rasul Petrus setelah dia mengalami berbagai tempaan yang membawanya kepada satu kesadaran yang tinggi tentang merendahkan diri di hadapan Tuhan. Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya (1Petrus 5:6). Tetapi sebaliknya, ketika "keakuan" kita mulai muncul dan menganggap bahwa keberhasilan dan kemajuan pelayanan kita oleh karena kekuatan kita -- sadar ataupun tidak -- sebenarnya lonceng kematian kepemimpinan kita sudah mulai berbunyi. Karena itu berhati-hatilah!

Kategori Bahan Indo Lead: 
Jenis Bahan Indo Lead: 
File: 
AttachmentSize
bilamana-a.htm9.4 KB
bilamana.pdf10.1 KB

Komentar