Bagian F3
PENGHAKIMAN BAGI PEKERJA-PEKERJA YANG TIDAK TAAT PADA
HUKUM

Oleh Ralph Mahoney

DAFTAR BAGIAN INI

F3.1 - Pemimpin-pemimpin Yang Tidak Setia
F3.2 - Pemimpin-pemimpin Yang Setia

Bab 1
Pemimpin-Pemimpin
Yang Tidak Setia

Pendahuluan

Dengan rasa sedih dan malu kami harus me-ngakui bahwa masih ada banyak kepemimpinan Kristen yang melayani dirinya sendiri. Hal ini memang benar. Ini masih merupakan suatu ma-salah paling serius dalam Gereja-gereja di selu-ruh dunia.

Rasul Paulus mengetahui masalah ini pada masanya.

"Karena tidak ada seorang padaku yang sehati dan sepikir dengan dia dan yang begitu bersungguh-sungguh memperhatikan kepen-tinganmu; sebab semuanya mencari kepen-tingannya sendiri, bukan kepentingan Kristus Yesus" (Flp 2:20,21 niv).

Dari ratusan pemimpin-pemimpin Gereja yang mempunyai hubungan dengan Paulus ha-nya satu yang dapat ia percaya untuk menjaga domba-dombanya. Dia adalah Timotius. Timoti-us akan melayani domba-domba ini dan bukan dirinya sendiri. Para pemimpin yang lain akan melayani kepentingan dirinya sendiri.

Ada banyak pria dan wanita yang memiliki kuasa pelayanan yang diberikan oleh Roh Kudus. Susahnya, bukannya mencari wajah Allah dalam kerendahan hati, tapi malah mulai menca-ri apa-apa yang dapat menopang, mengamankan dan mempromosikan "pelayanan mereka". Me-reka menggunakan dan menyalah gunakan karu-nia-karunia rohani mereka untuk keuntungan dan kemuliaan mereka sendiri.

Mereka menjadi puas sendiri (merasa tidak butuh orang lain) dan angkuh. Ada penipuan dalam kebanggaan. Pemikiran secara kedunia-wian dan keegoisan itu makin lama makin me-nyesatkan, sehingga para pemimpin itu tidak sa-dar betapa jauhnya mereka telah terhilang dari hadapan Allah.

A. TIGA MUSUH DOMBA-DOMBA

Dalam Yohanes 10, Yesus dan pemimpin-pemimpin gereja disamakan dengan gembala-gembala. Domba-domba melambangkan para pengikut (orang-orang percaya) Yesus yang be-nar/sungguh-sungguh. Yesus memperingatkan murid-muridNya untuk berjaga-jaga melawan tiga musuh besar dari domba. Musuh ini adalah:

1. Pencuri (Yoh 10:1,8,10)

Seorang pencuri adalah orang yang mencuri dengan pandai dan penuh tipuan. Pencuri biasa-nya datang di malam hari, ketika segala sesuatu gelap dan ia tidak terlihat. Dia licik, pandai dan penuh tipuan dalam jalan-jalannya. Pencuri itu adalah si iblis dan para pemimpin gereja yang sama seperti dia (iblis) (ayat 10).

2. Perampok (Yoh 10:1,8)

Perampok mencuri dengan paksa, secara ka-sar menyerang orang lain dan merampas harta mereka. Dia akan menguasai siapa saja, dimana saja, kapan saja, untuk mengambil apa saja yang diinginkannya. Nabi palsu, pendeta palsu dan lain sebagainya adalah serigala-serigala (Mat 7: 15; Kis 20:29).

3. Gembala Sewaan/Seorang Upahan (Yoh 10:12,13)

Gembala sewaan/seorang upahan adalah se-orang yang bekerja untuk domba-domba hanya dengan motifasi uang atau upah. "... seorang upahan yang menanti-nantikan upahnya" (Ayb 7:2). Penggembalaan hanya merupakan suatu pekerjaan baginya.

Dia tidak setia dalam melakukan tugas-tu-gasnya.

Gembala sewaan/orang upahan akan lari be-gitu ia melihat serigala datang. Tindakannya adalah untuk melindungi dirinya sendiri, jadi ia cepat-cepat berlari jika musuh itu datang (Yoh 10:12).

Seorang upahan tidak mempunyai perhatian yang sesungguhnya bagi domba-domba dari kandang domba Allah (Yoh 10:13).

Paulus membicarakan masalah ini dalam su-ratnya yang kedua pada Gereja di Korintus: "Se-bab kami tidak sama dengan banyak orang lain yang mencari keuntungan dari Firman Allah. Sebaliknya dalam Kristus kami berbicara seba-gaimana mestinya dengan maksud-maksud mur-ni atas perintah Allah dan dihadapanNya" (2 Kor 2:17 niv).

Paulus tidak ingin menjadi seperti mereka yang membuat pelayanan Firman Allah sebagai komoditi dagang atau profesi. Ia ingin menjadi seorang yang tulus.

Paulus akan dapat memperoleh jabatan dan pekerjaan dengan tangannya untuk mendukung dirinya sendiri sebelum memberi bahkan pe-nampilan sebagai seorang upahan (Kis 18:3; 1 Kor 4:12).

Yang menyedihkan, di dalam masyarakat Barat ada trend/mode/kecenderungan untuk membuat pelayanan pilihan Allah itu sebagai profesi. Ada dari mereka yang mau melayani hanya jika mereka dijanjikan suatu kumpulan orang dan uang yang banyak sebelumnya.

Mereka yang membuat berbagai persyaratan bagi pelayanan diri sendiri seperti itu sering tenggelam dalam penipuan dan kesalahan, dan dalam prosesnya, bisa membawa orang lain ma-suk dalam kesesatan.

Seorang pekerja Allah yang sungguh-sungguh tidak akan menjadi rekanan dari ukuran yang egois ini, tapi hanya akan dibimbing oleh perasaan yang tulus, benar dan jujur dari kehen-dak Allah.

Mereka akan memiliki keberanian Petrus. Ketika diuji oleh Simon untuk menjual karunia-nya, "Tetapi Petrus berkata kepadanya: `Bina-salah kiranya uangmu itu bersama dengan eng-kau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang!'" (Kis 8:20).

Karunia Allah seharusnya tidak pernah terse-dia "untuk disewakan". Pelayanan seharusnya "tidak untuk dijual". Para penginjil seharusnya tidak pernah mengijinkan diri mereka dibeli atau dijual!

Arah dari seorang nabi yang benar harus da-tang dari suatu rasa yakin akan kehendak Allah. Beberapa pewahyuan hanya dapat dilahirkan da-ri suatu ikatan perjanjian terhadap ketulusan ha-ti, doa, syafaat dan mencari wajah Allah.

a. Contoh-contoh Orang Upahan

1) Seorang Lewi. "Tinggallah padaku dan jadilah bapak dan imam bagiku; maka seti-ap tahun aku akan memberikan kepadamu sepu-luh uang perak... dan sepasang pakaian... orang Lewi itu setuju untuk tinggal padanya" (Hak 17:10).

"Katanya... begitulah dilakukan Mikha ke-padaku; ia menggaji aku dan aku menjadi imamnya" (Hak 18:4).

Hakim-hakim 17 dan 18 menghubungkan cerita tentang seorang Lewi yang mengenaskan yang menjual pelayanannya bagi sepuluh uang perak dan sepasang pakaian. Ia merusak suatu prinsip yang penting dari pelayanan yang benar "Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar [darah Yesus]; karena itu janganlah kamu menjadi hamba manusia" (1 Kor 7:23).

Imam ini menjual dirinya sendiri untuk me-layani seorang manusia demi uang. Ia menyerah pada ukuran kerohanian yang rendah pada saat itu. Dengan berlaku demikian ia merusak ke-sempatan untuk mengangkat seluruh suku Dan pada tempat kemurnian dalam penyembahan.

Orang Lewi (imam) yang muda ini memba-kar dupa dihadapan berhala-berhala dan akhir-nya merusak seluruh suku ini.

Sebenarnya dia bisa saja menggerakkan orang-orang untuk melawan penyembahan ber-hala dan membawa kembali kemuliaan Allah. Tetapi ia memilih upah materi atas nilai-nilai tinggi dari kerohanian. Mungkin bisa begitu ber-beda tulisan tentangnya untuk dibaca. Tapi ia gagal - apa yang mungkin bisa terjadi tidak akan pernah terjadi!

Penyembahan berhala menang. Penghakim-an datang dan bangsa itu akhirnya terbawa pada penawanan. Dengan menjual panggilan dan pe-layanannya, orang Lewi itu membuka pintu bagi hukuman dan penghancuran. Janganlah membu-at kesalahan yang fatal ini!

Allah tidak memanggil dan mengurapi pe-mimpin-pemimpin untuk keuntungan priba-di mereka yang egois, tetapi untuk kebaikkan orang lain dan untuk kemulianNya.

Tindakan atau motivasi lainnya hanyalah akan memimpin pada kerugian rohani anda - dan mungkin juga pada kerugian orang lain - seperti dalam kisah dari orang Lewi di atas.

2) Gehazi. Kisah tentang penyembuhan yang dilakukan oleh Elisa pada Naaman seorang jendral Syria, berisi suatu hasil yang mengejut-kan. Setelah menyelam tujuh kali dalam Sungai Yordan, seperti yang telah diperintahkan oleh Elisa, jendral itu menjadi tahir dari penyakit kus-tanya.

"Kemudian kembalilah Naaman dengan se-luruh pasukannya kepada abdi Allah itu. Setelah sampai, tampillah ia ke depan Elisa dan berka-ta: `Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. Karena itu teri-malah kiranya suatu pemberian dari hambamu ini!'"

"Tetapi Elisa menjawab, `Demi TUHAN yang hidup, yang dihadapanNya aku menjadi pelayan, sesungguhnya aku tidak akan meneri-ma apa-apa'. Dan walaupun Naaman mende-saknya supaya menerima sesuatu, ia tetap me-nolak" (2 Raj 5:15,16).

Elisa mengerti bahwa menggunakan karunia Allah untuk keuntungan yang egois itu salah. Jika Elisa menerima uang itu, Naaman akan tidak tahu apa-apa tentang sifat Allah yang tidak egois itu.

Allah memberi pada kita dengan cuma-cuma dan mengharapkan kita juga memberi pada sesa-ma kita dengan cuma-cuma. Perintah Yesus ada-lah: "... tahirkanlah orang kusta... kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma" (Mat 10:8). Elisa telah mentaati perintah itu.

Harus dicatat bahwa reputasi dan hormat pa-da penginjil penyembuhan zaman modern ini akan sangat menakjubkan, jika mereka mencontoh tindakan Elisa. Sayangnya, banyak yang memperdagangkan karunia mereka untuk me-ngambil keuntungan yang sebesar-besarnya. Be-gitu menyedihkan! Dalam beberapa kasus, me-reka tampak lebih memiliki roh Gehazi daripada roh Elisa.

Tetapi Gehazi, pelayan Elisa, melihat apa yang telah dilakukan Elisa dan memutuskan un-tuk pergi mengejar emas dan pakaian Naaman untuk keuntungan pribadinya sendiri.

"Lalu Gehazi mengejar Naaman dari bela-kang. Ketika Naaman melihat ada orang berla-ri-lari mengejarnya, turunlah ia dengan segera dari atas kereta untuk mendapatkan dia..."

"Jawab Gehazi... `berikan kepadaku seta-lenta perak dan dua potong pakaian'."

"Naaman berkata, `Silakan, ambillah dua talenta', Naaman mendesak dia, ... lalu membe-rikan kepadanya ... disimpannya di rumah ..."

"Baru saja Gehazi masuk dan tampil ke de-pan tuannya, berkatalah Elisa kepadanya, `Dari mana Gehazi?' Jawabnya, `Hambamu ini tidak pergi kemana-mana!'"

"Tetapi kata Elisa kepadanya, `Bukankah hatiku ikut pergi, ketika orang itu turun dari atas keretanya mendapatkan engkau?'"

"`... penyakit Naaman akan melekat kepada-mu dan kepada anak cucumu untuk selama-la-manya'. Maka keluarlah Gehazi dari depannya dengan kena kusta, putih seperti salju" (2 Raj 5:20-27 niv).

Gehazi memperoleh emas, pakaian Naaman dan juga - kustanya! Seperti itulah jalan dari mereka yang ingin untuk mencari uang lewat karunia-karunia Allah dan menjadi rakus akan keuntungan.

3) Bileam. ".... Bileam ... suka menerima upah ..." (2 Ptr 2:15). Nabi Bileam menjual pela-yanannya untuk kedudukan (Bil 22:17) dan uang.

Bileam mungkin adalah nabi yang paling fa-sih lidah di seluruh Alkitab. Perkataannya yang tinggi menyatakan kebenaran yang paling men-cengangkan tentang Allah.

Lalu mengapa ia di hakimi sebagai seorang nabi palsu? Lalu mengapa ia dirajam dengan batu sampai mati dalam penghukumannya?

Hal ini bukan karena nubuatannya yang pal-su - ini karena motifasinya salah. Bileam menge-jar kemuliaan dan emas (kekayaan). Ketika wa-kil dari raja Balak datang pada Bileam, perintah Allah sudah jelas:

"Lalu berfirmanlah Allah kepada Bileam, `Janganlah engkau pergi bersama-sama de-ngan mereka...' Setelah Mereka sampai pada Bileam; berkatalah mereka kepadanya: `Begini-lah kata Balak bin Zipor, janganlah biarkan di-rimu terhalang-halang untuk datang kepadaku:

"Sebab aku akan memberi upahmu sangat banyak, dan apapun yang kau minta dari pada-ku, aku akan mengabulkannya. Datanglah dan serapahlah bangsa itu bagiku..." (Bil 22:12,16, 17).

Allah telah memberi nabi Bileam suatu pe-rintah yang jelas untuk TIDAK pergi ke Raja Balak dan menjadi nabi upahannya. Tapi Bileam tetap berkeras agar Allah mengijinkannya untuk berangkat.

Bileam sangat menginginkan uang, harga diri dan kehormatan yang ditawarkan Raja Balak. Dia terus mendesak agar Tuhan mengijinkannya berangkat.

"... Bileam .. dibunuh mereka dengan pe-dang" (Bil 31:8). Kecintaan Bileam pada kedu-dukan dan uang harus dibayarnya dengan nya-wa. Nubuatan-nubuatannya benar - motivasinya salah. Dia mati di bawah penghukuman.

Jika apa yang kita inginkan itu berlawanan dengan firman dan kehendak Allah, penghu-kuman Allah yang terburuk adalah menyerah-kan kita pada apa yang kita inginkan dengan paksa. Bileam harus belajar pelajaran yang tragis ini tentang Allah. "DiberikanNya kepada mere-ka apa yang mereka minta, dan didatangkanNya penyakit paru-paru di antara mereka" (Mzm 106:15).

Jika kita mendirikan berhala-berhala di da-lam hati kita, Tuhan akan mengirimkan nabi-nabi yang "... dengan kata-kata mereka yang muluk-muluk dan bahasa mereka yang manis mereka menipu orang-orang yang tulus hatinya" (Rm 16:18).

"Dan itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan me-reka percaya akan dusta, supaya dihukum se-mua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan" (2 Tes 2:11,12).

Nabi Yehezkiel menjelaskan tentang hal ini. "Oleh sebab itu berbicaralah kepada mereka dan katakan: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Setiap orang dari kaum Israel yang menjunjung berhala-berhalanya dalam hatinya dan menem-patkan di hadapannya batu sandungan yang menjatuhkannya ke dalam kesalahan, lalu da-tang menemui nabi - Aku, TUHAN sendiri akan menjawab dia oleh karena berhala-berhalanya yang banyak itu" (Yeh 14:4 niv).

Pergi pada seorang nabi dengan berhala da-lam hati anda hanya menyebabkan Allah lebih lanjut meneguhkan anda dalam dosa dan ketidak taatan dan hidup anda akan berakhir seperti Bi-leam.

Saya sudah berkata pada Tuhan, "Tuhan! Sa-ya lebih memilih Engkau untuk membunuh saya daripada menipu saya. Tolong jangan biarkan saya berjalan di jalan saya sendiri jika jalan itu bertentangan dengan kehendakMu. Biarkan sa-ya mengerti kehendakMu dan memenuhinya". Saya berharap itu juga menjadi tindakan dan doa anda.

4) Yudas. Rasul Yudas menjual Kristus untuk 30 keping perak dan tidak pernah mempu-nyai kesempatan hidup untuk menikmatinya. Dia bunuh diri (Mat 27:3-10). Betapa bahayanya untuk membiarkan ketamakan dan cinta akan uang mencengkeram kehidupan seseorang!

b. Contoh-contoh Lain Orang Yang Di-motivasi Oleh Ketamakan:

1) Ananias dan Safira. Safira dan Ana-nias hidup berdusta kepada Roh Kudus tentang uang dan menderita penghakiman kematian (Kis 5:1-11).

2) Simon si tukang sihir. Simon tukang sihir itu berusaha untuk membeli kuasa Allah untuk mendapatkan Roh Kudus lewat penum-pangan tangan, dan dihakimi dengan setimpal (Kis 8:12-24)

3) Mereka Yang Memperdagangkan Pelayanan. Mereka yang membeli dan menjual di Bait Allah (memperdagangkan karunia atau pelayan mereka) akan menghadapi penghukum-an yang berat (Mat 21:12; Mrk 11:15; Luk 19:45; Yoh 2:15). Mereka akan berakhir dengan tanda, nama dan nomor dari Antikris (Why 13:17).

B. JEBAKAN UNTUK DIHINDARI

Iblis memiliki tiga jebakan sederhana untuk membawa pada kehidupan yang tidak diperken-an Allah dan kehancuran pada pemimpin-pe-mimpin gereja:

"Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab untuk memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyik-sa dirinya dengan berbagai-bagai duka" (1 Tim 6:16).

"Seorang hamba tidak dapat mengabdi pada dua tuan ... kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon" (Luk 16:13). Mamon artinya uang, kekayaan, kemakmuran material. Yang menyedihkan, banyak pemimpin-pemim-pin gereja yang melayani mamon. Mereka yang mengikuti Yesus (khususnya para pemimpin ge-reja) harus menolak ketamakan dan cinta akan uang (Luk 14:22; 1 Tim 3:3).

"Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal mamon ... siapa yang akan mempercayakan ke-padamu harta yang sesungguhnya?" (Luk 16: 11). Kekayaan yang sesungguhnya menampil-kan karunia-karunia rohani dan nilai-nilai yang baik: urapan untuk berkhotbah, mengajar, me-nyembuhkan, dan sebagainya. Yesus mengajar-kan bahwa penggunaan uang yang benar atau salah adalah satu jalan untuk melihat apakah pe-layanan itu benar atau palsu.

Ribuan pemimpin gereja memiliki roh se-orang upahan dan menindas jemaat Allah. Mere-ka menggunduli domba dan bukan memberi ma-kan domba-domba.

1. Jerat Dari Memerintah dan Mengklaim Dengan Iman

Kita perlu menjadi sangat berhati-hati me-ngenai "memerintah dan mengklaim dengan iman" segala sesuatu yang kita ingin sebutkan. Ada bahaya dalam setiap pengajaran yang me-ngatakan bahwa kita dapat memperoleh segala sesuatu yang kita akui/klaim jika kita punya cu-kup iman.

Beberapa orang akan mengambil satu ayat dan menyendirikannya sebagai dasar dari pe-ngajaran atau dotrin mereka. Contohnya: Bebe-rapa orang berkata bahwa Yesus mengajarkan bahwa kita dapat memperoleh apa saja yang kita inginkan. "Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam namaKu, Aku akan melakukannya" (Yoh 14:14).

Apakah anda percaya bahwa jika anda me-minta pada Allah seorang pelacur untuk memu-askan nafsu anda, Allah akan memberikannya pada anda? Apakah anda dapat meminta Allah untuk membunuh seseorang yang anda tidak su-kai dan Dia akan memenuhinya? Sebenarnya, kita harus mengambil perkataan Yesus dalam konteks dari "... seluruh nasehat Allah" (Kis 20:27). Kita harus "usahakanlah supaya engkau layak dihadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu" (2 Tim 2:15).

Dalam gambaran yang dipakai diatas, kami menunjukkan bagaimana perkataan Yesus dapat diputar balikkan untuk membenarkan doa yang kedagingan. Ayat yang langsung mengikuti Yo-hanes 14:14, "Jikalau kamu mengasihi Aku, ka-mu akan menuruti segala perintahKu" (Yoh 14:!5).

Jika kita mengasihi Dia, Kita tidak akan me-minta hal-hal yang berlawanan dengan kehen-dak dan perintah-perintahNya. Inilah apa yang kita sebut sebagai "PENYEMPURNA", kita mengambil suatu ayat yang akan kita artikan dan melihat ayat-ayat lain dalam alkitab tentang masalah/hal yang sama.

a. Kita Membutuhkan Seluruh Nasehat Allah. Apabila kita kumpulkan semua ayat-ayat itu, kita akan memperoleh "... seluruh nasehat Allah" tentang hal tersebut. Contohnya, Yako-bus berbicara tentang dua masalah dalam doa:

Lebih lanjut, Yohanes mengajarkan pada ki-ta: "... dan inilah keberanian percaya kita pada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jika-lau kita meminta sesuatu kepadaNya menurut kehendakNya:

"Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabul-kan ... maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang kita minta ke-padaNya" (1 Yoh 5:14,15).

Jadi pengertian kita tentang Yohanes 14:14 ini harus disempurnakan oleh surat-surat dari Yohanes dan Yakobus. Kita mengerti bahwa ki-ta harus meminta dengan motivasi yang benar dan meminta segala sesuatu sesuai dengan ke-hendak Allah. Dengan "PENYEMPUNA" dalam pikiran kita, "Jika kamu meminta sesuatu kepadaKu dalam namaKu, Aku akan melaku-kannya" (Yoh 14:14). Itulah yang dimaksud de-ngan "... seluruh nasehat Allah".

Saya telah banyak melihat pemimpin-pe-mimpin gereja berdoa dengan salah - karena me-reka ingin menyenangkan manusia dan bukan Tuhan.

Betapa lebih bijaksananya untuk menunggu firman Allah dan kehendak Allah yang dibuka-kan (dinyatakan) oleh Roh Allah sebelum salah berdoa atau mengucapkan perkataan nubuat se-cara salah.

Salah satu bahaya terbesar bagi pribadi-pri-badi yang telah dikaruniakan Roh Kudus per-kataan nubuatan dan mujizat adalah orang-orang yang mereka layani.

b. Hindarilah Pelacuran Karunia-karunia Rohani. Ada banyak pribadi-pribadi di dunia ini yang ingin suatu "penampilan (pertunjukkan) berdasarkan perintah" dari kuasa Roh Kudus. Mereka belum bahagia sebelum ada pertunjukan kuasa mujizat yang dramatis.

Kita teringat akan raja Herodes yang me-nginginkan Yesus datang di hadapannya dan mempertunjukan mujizat seperti itu (Luk 23:5, 6). Itu adalah "pertunjukan berdasarkan perin-tah" untuk memuaskan keingintahuannya.

Herodes yang sama ini pernah sekali meme-rintahkan Salome untuk mempertunjukan suatu tarian di hadapannya dan tamu-tamunya untuk memuaskan keinginan-keinginan mereka yang penuh nafsu (Mrk 6:19-29). Salome melacurkan atau menjual kecantikannya untuk sebuah ha-diah - kepala Yohanes Pembaptis. Ia bersedia mempertontonkan diri berdasarkan perintah.

Yesus tidak mau!

Empat puluh tahun yang lalu, Amerika ber-ada di tengah-tengah kegerakan kebangunan ke-sembuhan rohani yang besar. Sejumlah penginjil menyeberangi negara dalam tenda-tenda perte-muan yang besar dan mengadakan kebangunan rohani kesembuhan. Banyak dari mereka adalah pelayan-pelayan yang benar dan sah.

Walaupun demikian sebagai seorang anak muda saya merasa sangat tertekan. Beberapa, tampaknya, mau "melacurkan" karunia-karunia rohani mereka untuk kebanggaan dan keun-tungan - nama dan kekayaan. Mereka bersedia mempertontonkan karunia-karunia itu untuk suatu harga.

Beberapa orang bahkan menyatakan bahwa kuasa kesembuhan Allah akan datang pada orang-orang jika mereka memberi uang untuk mendukung sang penginjil. Tragisnya, sementa-ra saya menulis, hal yang sama terjadi lagi. Pe-nginjil-penginjil di TV menggunakan karunia-karunia mereka untuk mendapatkan uang bagi diri dan kemuliaan mereka sendiri.

Saya berteriak pada Allah untuk suatu ja-waban. Mengapa tidak ada ketulusan dan ke-murnian pada sebagian dari umat dan pelayan-pelayan Tuhan? Tuhan memberi saya alenia be-rikut ini dari Alkitab:

"Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: `Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari padaMu'.

"Yesus menjawab: `angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi ke-pada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus'" (Mat 12:38,39).

Dengan perkataan lain, ada pemimpin-pe-mimpin yang tidak setia yang rela "melacurkan" atau menjual pelayanan mereka untuk memuas-kan keinginan daging dari para pengikutnya. Ada juga orang-orang ingin melihat atau pun mengalami mujizat dan untuk itu mereka mau membayarnya.

Yesus menolak baik pembelinya maupun pa-ra penjualnya. Nafsu jahat yang menyebabkan Herodes membayar tarian telanjang dari Salome, adalah akar yang sama bagi keinginan kedaging-an untuk melihat mujizat.

Herodes (sama halnya dengan banyak orang yang hidup di dunia sekarang ini) hanya ingin untuk memuaskan keingintahuan yang bersifat kedagingan. Yesus sama sekali tidak mau mene-rima hal ini. Kiranya Allah menjaga para pe-mimpin untuk tidak mengejar keinginan yang bersifat daging itu saat-saat ini!

Sekali lagi Allah ingin bergerak dengan kuasa melalui karunia RohNya. Ia mengingin-kan seorang saksi yang baik dimana peker-jaan maupun pekerja itu sendiri membawa kemuliaan bagi NamaNya yang suci.

2. Jerat Dari Kesombongan Rohani Dan Ke-dudukan

Di akhir zaman ini Allah ingin membangkit-kan nabi-nabi dari doa, namun ada bahaya besar dalam pekerjaan kenabian itu. Bahaya itu adalah kesombongan rohani dan kedudukan. Saya ingin membagi beberapa pandangan yang Allah beri-kan selama bertahun-tahun mengenai hal ini de-ngan anda.

Beberapa waktu yang lalu saya diundang un-tuk berbicara di sebuah gereja. Saya diperkenal-kan sebagai "nabi besar Allah".

Saya sepenuhnya percaya pada lima macam pelayanan dari para rasul, para nabi, para peng-injil, gembala dan guru di dalam Tubuh Kristus (Ef 4:11).

Namun, ketika orang-orang bertanya kepada saya, apakah jabatan saya, saya mengatakan bahwa saya sungguh-sungguh tidak tahu. Saya hanya melihat diri saya sendiri sebagai "suara yang berseru-seru di padang gurun" (Yoh 1:23). Bagi saya tidaklah penting untuk menyan-dang gelar dalam melakukan kehendak Allah. Ketika Ia menunjukkan kepada saya hari demi hari, minggu demi minggu dan bulan demi bu-lan, saya hanya mencoba untuk melakukannya.

Saya merasa sedih dengan adanya para pe-mimpin yang menyandangkan pengurapan, hor-mat dan gelar-gelar bagi diri mereka sendiri. Na-mun saya pun merasa kuatir pada orang-orang yang kadang-kadang memberi penghargaan-penghargaan yang tinggi pada seseorang yang dikatakan terpanggil oleh Allah untuk melayani.

Saya sangat mengkhawatirkannya. Karena ada bahaya kesombongan yang dapat mengikuti panggilan yang tinggi dari Allah, yang akan membuat orang itu berlagak dalam masyarakat.

Saya tidak mengatakan bahwa kita harus me-nunjukkan rasa kurang hormat pada para pe-mimpin gereja. Saya tentu saja tidak akan pernah mengatakan bahwa kita tidak usah menghormati mereka yang menduduki tempat sebagai seorang pemimpin yang penuh tanggung jawab. Saya mengatakan bahwa kita harus berhati-hati untuk tidak meninggikan atau mengagung-kan seseorang pada suatu tempat yang dapat menyebabkan ia dihancurkan oleh kesom-bongan akibat sanjungan-sanjungan dan pu-jian-pujian.

a. Carilah Sebuah Rencana Kerja, Bukan Gelar. Sangat menarik untuk memperhatikan di dalam Perjanjian Baru bahwa istilah-istilah rasul, nabi, penginjil, gembala dan guru itu (Ef 4:11) tidak pernah digunakan sebagai gelar. Se-butan-sebutan itu hanyalah dipakai untuk meng-gambarkan tugasnya dalam Tubuh Kristus.

Di dalam dunia kerja istilah yang digunakan adalah "rencana kerja". Para montir, para tu-kang kayu dan tukang pipa mempunyai tugas-tugas yang berbeda mengenai apa yang mereka lakukan dan tugas-tugas yang dapat mereka ker-jakan. Kita tidak akan memperkenalkan sese-orang sebagai "yang agung dan yang mulia tu-kang pipa Jones" tapi cukup menyebutkan na-manya saja.

Hal yang sama seharusnya juga menjadi ke-benaran dari orang-orang yang melayani peker-jaan di dalam Tubuh Kristus. Tugas-tugas mere-ka tak seharusnya dipakai sebagai gelar mereka. Apabila beberapa orang masih melakukannya, tentu saja saya tidak menyalahkan mereka. Saya percaya bahwa hal ini dapat merupakan jerat yang membahayakan, yang dapat menimbulkan kesombongan karena kedudukan itu.

Penginjil dunia yang paling terkenal adalah Billy Graham. Mungkin anda telah memperhati-kan bahwa setiap kali salah satu dari anggota tim penginjilannya memperkenalkan dia, ia ha-nya diperkenalkan sebagai "Bapak Graham".

Orang-orang lain dapat memanggilnya "Dr Graham" dan menambahkan lagi banyak kata-kata penghormatan dan penghargaan. Namun Billy Graham tidak memperdulikan kata-kata pujian semacam itu karena ia tidak memerlukan-nya. Ia lebih suka melayani Tuhan dalam keren-dahan.

Kerinduannya adalah untuk menjadi seperti yang Allah inginkan dan melakukan apa yang Allah ingin dia lakukan. Ia amat yakin akan panggilan Allah dalam kehidupannya. Tak ada lain yang lebih penting baginya. Ini adalah tanda-tanda dari hamba Tuhan yang benar dan rendah hati. Saya berdoa agar kerinduan itu dapat men-jadi kerinduan kita juga.

Kita tidak memerlukan "kedudukan dan ge-lar" yang resmi dan formil dalam Tubuh Kristus Yesus, untuk melayani Tuhan. Yohanes pem-baptis pun tidak. Ia bahkan tidak dapat menja-wab beberapa pertanyaan yang diajukan pada-nya tentang dirinya. Rasul Yohanes mencatat percakapan yang menarik ini:

"Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia... Ia mengaku dan tidak ber-dusta, katanya: `Aku bukan mesias'."

"Lalu mereka bertanya kepadanya: `Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?' Dan ia menja-wab: `Bukan!' `Engkaukah nabi yang akan datang?' Dan ia menjawab: `Bukan!'"

"Maka kata mereka kepadanya: `Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawaban kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?'" (Yoh 1:19-22).

"Jawabnya: Akulah suara orang yang ber-seru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesa-ya" (Yes 40:3).

Musa telah menubuatkan dan telah mengata-kannya 1500 tahun sebelumnya bahwa Tuhan Allah akan membangkitkan seorang `nabi yang lain yang seperti dirinya' (Kel 18:18). Nabi Ma-leakhi telah mengatakan bahwa: "Sesungguh-nya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari Tuhan yang besar dan dahsyat itu" (Mal 4:5). Karena itu umat Israel menunggu datangnya nabi yang besar se-perti Musa dan Elia.

Ketika mereka bertanya apakah Yohanes adalah salah satu dari mereka (seperti Musa atau Elia), ia menjawab bahwa ia hanyalah "suara yang berseru-seru di padang belantara".

Setelah kematian Yohanes, Yesus mengata-kan kepada kita bahwa Yohanes Pembaptis me-ngenakan jubah (urapan) dari Elia (Mat 17:11-13). Tampaknya Yesus mengetahui siapa Yoha-nes, tapi Yohanes sendiri tidak tahu fakta-fakta tentang dirinya sendiri!

Untuk hal ini Yohanes hanya melakukan apa yang Allah katakan padanya. Dan Allah memang berkata padanya. Ia kemudian dengan berani mengatakan, "Allah berkata padaku...!"

Untuk melakukan kehendak Allah, Yohanes tidak memerlukan gelar atau tanda pengenal ten-tang siapa dia. Yang ia perlukan adalah mende-ngar dan mentaati suara Allah.

Yohanes tidak memperdulikan gelar ataupun kedudukannya diantara orang banyak itu. Ia ha-nya melakukan kehendak Allah. Ia menyerahkan dirinya sebagai seorang yang masih muda, kira-kira berumur 30 atau 31 tahun.

Tak heran kalau Alkitab mengatakan bahwa ia akan disebut "nabi Allah yang maha tinggi... untuk mempersiapkan jalan bagiNya, ... dalam roh dan kuasa Elia" (Luk 1:17,76).

Hendaklah kita BERHATI-HATI AKAN JERAT INI!

Bab 2
Para Pemimpin Yang Setia

A. TANDA-TANDA DARI RASUL-RASUL YANG BENAR

1. Tidak Melayani Diri Sendiri

Tanda YANG PERTAMA dari seorang ra-sul, nabi, penginjil, gembala, atau guru yang be-nar adalah; ia tidak akan memakai karunia Roh atau pelayanan yang diberikan Allah untuk me-layani atau menyelamatkan diri sendiri. Ia akan memakai karunia-karunia ini hanya apabila Roh Kudus membimbing dan memberi petunjuk un-tuk memakainya.

Ketika Yesus tergantung di atas kayu salib, salah satu olokan yang dilontarkan padaNya adalah "Orang lain Ia selamatkan tapi diriNya sendiri tidak dapat Ia selamatkan" (Mat 27:42).

Dan ini memang benar sekali. Yesus tidak memakai pelayananNya dengan alasan untuk melayani atau menyelamatkan diriNya sendiri.

2. Tahan Penderitaan

KEDUA, rasul, nabi, penginjil, gembala atau guru yang benar akan rela untuk mengalami pen-deritaan atau kesulitan dalam memenuhi pela-yanan yang Kristus berikan padanya. Itulah si-kap yang dimiliki rasul Paulus.

"Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam penganiayaan dan kese-sakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku le-mah, maka aku kuat" (2 Kor 12:10).

Setiap pelayanan yang meniggikan Kristus akan mempunyai sikap yang sama, "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikir-an dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus" (Flp 2:5 niv).

B. BEBERAPA CONTOH DARI PARA PE-MIMPIN YANG SETIA

1. Elia - Nabi Yang Setia

"Lalu berkatalah Elia ... kepada Ahab: `De-mi Tuhan yang hidup Allah Israel, yang kula-yani, sesungguhnya tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau kuka-takan'" (1 Raj 17:1 niv).

Ketika hukuman yang telah diucapkan secara nubuatan ini berlanjut selama beberapa tahun, negeri Israel dilanda kekeringan dan bahaya ke-laparan yang sangat dahsyat.

Untuk sementara, segala sesuatu berjalan wajar bagi Elia. Allah menuntunnya ke sungai kecil dimana ia dapat minum. Allah juga mengi-rimkan burung-burung gagak yang dengan setia memberinya makan roti dan daging setiap pagi dan petang. Suatu gambaran yang indah. Pada saat semua orang menghadapi banyak kesulitan karena kekeringan dan bahaya kelaparan ini, Elia tidak mengalami situasi yang separah me-reka.

Namun, ketika suatu saat sungai itu pun ak-hirnya mengering, Elia menjadi korban dari nu-buatannya sendiri! Roti kering tanpa air sung-guh-sungguh bukan merupakan piknik yang me-nyenangkan. Tentunya ia telah tergoda untuk memerintahkan turunnya hujan.

Andaikata ia melakukan keinginannya itu, ia jelas-jelas berada diluar kehendak Allah. Allah belum menyuruh Elia untuk memberi perintah agar hujan turun. Andaikata Elia mengucapkan-nya pada saat dimana ia seharusnya diam, salah satu dari dua hal ini akan terjadi:

Seperti halnya Tuhan Yesus ketika Ia meng-hadapi pencobaan di padang gurun (Mat 4:1-4), Elia menolak menggunakan karunia yang di-milikinya untuk melepaskan dahaga dan rasa la-par. Ia menantikan Allah untuk datang dan memberitahunya kapan ia dapat menggunakan karunia tersebut. Hanya bila hal itu terjadi ia akan mengucapkan Firman Allah dan masa ke-keringan pun akan berakhir.

Tapi Allah itu setia. Kisah ini tertulis dengan sederhana dalam Alkitab: "Maka datanglah Fir-man Tuhan kepada Elia; `Bersiaplah, pergilah ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah disana. Ketahuilah, Aku telah memerin-tahkan seorang janda untuk memberi engkau makan'" (1 Raj 17:8,9 niv).

Karena baik Elia ataupun janda itu mentaati Firman Tuhan, kedua-duanya diberi upah berkat dan pemeliharaan dari Allah yang bijaksana dan penuh kasih.

Kebutuhan mereka ternyata menjadi kesem-patan Tuhan untuk melakukan mujizat "minyak dan tepung" yang kemudian menyelamatkan hi-dup mereka.

Mujizat ini dapat luput dari mereka jika me-reka tidak percaya, atau berbicara pada saat me-reka seharusnya diam, atau mereka diam pada saat mereka seharusnya berbicara.

Elia menunjukkan teladan yang baik. Ia tidak memakai kekuatan karunianya untuk memecah-kan masalah atau mencukupi kebutuhan priba-dinya. Ia tetap menahan karunia itu di bawah pengaturan kehendak dan kendali Allah.

2. Tiga Pemimpin Gereja Yang Setia

"Aku menasehatkan para penatua ... gem-balakanlah kawanan domba Allah yang ada pa-damu ... jangan karena mau mencari keuntung-an (uang) ... Apabila Gembala Agung datang kamu akan menerima mahkota kemuliaan ..." (1 Ptr 5:1-4).

a. Paulus. Rasul Paulus adalah seorang pe-mimpin yang sungguh-sungguh berhati gemba-la. Ia sebenarnya berhak untuk menerima du-kungan dari gereja-gereja (1 Kor 9:17,18; 1 Tim 5:17,18).

Untuk memberi teladan, ia membiayai diri-nya sendiri. "Sampai pada saat ini ... melakukan pekerjaan tangan yang berat..." (1 Kor 4:11, 12).

Ia bukan gembala upahan. "Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapa-pun. Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tangan-ku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku..." (Kis 20:33-35).

b. Petrus. Ketika kepada Petrus ditawarkan uang, ia mengatakan, "... binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat mem-beli karunia Allah dengan uang" (Kis 8:20). Apakah anda mau menyerahkan diri untuk men-jadi pemimpin seperti Petrus? Memang begitu-lah seharusnya.

Semua pemimpin yang benar dari umat Allah harus selalu menjaga dirinya dengan me-lawan roh gembala upahan itu dan membenci "rasa cinta akan uang".

c. Timotius. Paulus berkata, "Tetapi dalam Tuhan Yesus kuharap segera mengirimkan Ti-motius kepadamu ... karena tak ada seorang pa-daku, yang sehati dan sepikir dengan dia dan yang begitu bersungguh-sungguh memperhati-kan kepentinganmu. Sebab semuanya [yang lainnya] mencari kepentingannya sendiri ..." (Flp 2:19-21).

Ini seharusnya menjadi kata-kata yang pa-ling menyedihkan dalam Perjanjian Baru - "Se-mua mencari kepentingannya sendiri ..." Paulus hanya menemukan seorang pemimpin yang mempunyai motivasi yang bersih dan tulus, un-tuk dikirim guna menolong sidang di Filipi.

C. UPAH ATAU PENGHUKUMAN

Tuhan memberi tahu kita "... janganlah kamu kuatir dan berkata: `Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? ...Bapamu yang di Sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebe-narannya, maka semuanya itu akan ditambah-kan kepadamu'" (Mat 6:31-33).

1. Upah Bagi Pelayan Yang Setia

Allah akan memberkati mereka yang mau mengorbankan dirinya bagi Yesus untuk mela-yani sesamanya. Ia dengan murah hati akan me-melihara dan memperhatikan hamba-hamba-Nya.

Tetapi Allah tidak memanggil kita ke tempat dimana ada banyak emas (kekayaan), Ia me-manggil kita untuk pergi kemana saja Roh Kudus memimpin kita.

Mungkin pada umat yang keras seperti pang-gilan Yeremia (Yer 6:19); atau pada bangsa yang siap memberikan tanggapan seperti yang dialami Nabi Yunus (Yun 3:5-10). Apa yang harus kita perhatikan adalah bahwa kita harus selalu melakukan kehendak Allah yang suci de-ngan hati yang penuh cinta kasih. Itulah yang seharusnya menjadi komitmen yang utama dalam hidup kita!

2. Hukuman Bagi Ketidaksetiaan

"Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: `Tuhan, Tuhan' akan masuk ke dalam Kera-jaan Sorga, melainkan dia yang melakukan ke-hendak BapaKu yang di Sorga."

"Pada hari terakhir banyak orang akan ber-seru kepadaKu: `Tuhan, Tuhan bukankah kami bernubuat demi namaMu dan mengusir setan demi namaMu dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga?'"

"Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: `Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyalah daripadaKu kamu se-kalian pembuat kejahatan" (Mat 7:21-23 niv).

Upah anda di Sorga tergantung pada apa yang anda lakukan bagi Kristus di atas bumi ini dan BAGAIMANA (dengan motivasi apa) anda melakukannya. Menggunakan kuasa Kristus un-tuk menyembuhkan, mengusir setan dan bernu-buat - namun sementara itu anda hidup dalam kecemaran karena cinta akan uang, senang dipu-ji orang dan hidup amoral - akan membawa hu-kuman kekal.

Apakah hukuman itu?

Hukuman dalam kelompok Kristen semacam ini adalah: "ENYAHLAH DARI PADAKU!"

Yang didapatkan adalah sesuai dengan ketetapan! Seberapa dekat anda diijinkan men-dekati Yesus kelak di Sorga? Apabila anda tidak tinggal dekat dengan Yesus dalam perjalanan anda dan dalam pekerjaan anda selama anda di dunia ini, anda tidak akan dapat mendekati Dia di Sorga.

a. Enyalah Dari PadaKu. Selama masa ke-murtadan (keingkaran) di Israel, sebagian besar imam menjadi penyembah-penyembah berhala dan memberikan pengorbanan-pengorbanan pa-da berhala, PUTERA-PUTERA ZADOK tetap hidup benar dan dekat dengan Tuhan.

Ketika masa penilaian itu tiba, hukuman bagi imam-imam yang murtad adalah ini: "... Tetapi orang-orang Lewi yang menjauh dari padaKu ... sesat dari padaKu dengan mengikuti berhala-berhala mereka, akan menanggung hukuman ... Mereka tidak akan mendekati Aku ..."

Tetapi bagi mereka yang setia dan hidup be-nar akan memperoleh upah ini: "Tapi ... orang-orang Lewi dari bani Zadok yang menjalankan tugas-tugas di tempat KudusKu waktu Israel se-sat dari padaKu, merekalah yang akan mende-kat padaKu untuk menyelenggarakan kebaktian dan bertugas dihadapanKu ... demikianlah Fir-man Tuhan Allah" (Yeh 44:10-15).

Hukuman bagi ketidak-taatan dan kegagalan adalah ditolak dari hadiratNya. Saya tidak ingin kehilangan kebanggaan ini (untuk berdiri diha-dapanNya).

Upah bagi yang taat dan setia dalam hal ini bukanlah Sorga. Namun peluang untuk masuk dalam hadiratNya. "Mereka akan datang dekat kepadaKu ... Firman Tuhan Allah!" Inilah yang harus menjadi kerinduan kita melebihi apapun dalam hidup ini dan dalam kekekalan - untuk dekat dengan Yesus.

Anda ingin sedekat apakah dengan Yesus kelak di Sorga? Sama dekatnya ketika anda ma-sih bersama dengan Dia di bumi ini. Apabila anda hidup dalam nafsu dosa, tamak akan uang, ingin dipuji manusia lebih daripada Allah (Yoh 12:43), Yesus akan berkata, "ENYALAH DARI PADAKU!" Anda akan menderita kerugian be-sar yaitu kehilangan semua upah dan api akan membakar habis semua pekerjaan anda (lihat 1 Kor 3:10-15; 1 Yoh 2:28).

Apabila anda hidup dalam kesetiaan, dalam panggilan dan pelayanan anda, bila anda tetap berada dalam motivasi yang benar dan berbobot, Yesus akan menganugrahi anda upah yaitu suatu tempat bersama Dia di TahtaNya (Why 3:21). Anda akan menikmati hadiratNya yang begitu dekat sepanjang masa kekekalan.

D. PENGHAKIMAN ATAS ORANG BER-IMAN

"Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat" (Yak 3:1).

"Sebab kita semua harus menghadap tahta pengadilan Kristus, supaya setiap orang mem-peroleh apa yang patut diterimanya, sesuai de-ngan yang dilakukannya dalam hidup ini, baik maupun jahat" (2 Kor 5:10).

Alkitab mengajarkan bahwa para pemimpin dan orang-orang beriman suatu hari harus mem-beri pertanggung-jawaban di depan "tahta pe-ngadilan Kristus" untuk semua perbuatan yang dilakukan dalam Tubuh, baik atau pun jahat. Mengenai penghakiman atas orang-orang ber-iman, fakta-fakta berikut ini harus diperhatikan:

1. Semua Orang Kristen

Semua orang Kristen harus menghadap pe-ngadilan; tak ada perkecualian (Rm 14:3; 1 Kor 3:12-15; 2 Kor 5:10).

2. Ketika Kristus Kembali

Pengadilan (penghakiman) ini terjadi saat Kristus kembali untuk gerejaNya (lihat Yoh 14: 3; 1 Tes 4:14-17).

3. HakimNya Adalah Kristus (Yoh 5:22; 2 Tim 4:8)

4. Khusuk dan Serius

Alkitab mengatakan tentang penghakiman orang beriman ini sebagai suatu yang khusuk dan serius, terutama karena adanya kemungkinan, dirusak atau `menderita kerugian' (1 Kor 3:15; cf. 2 Yoh 8) "menjadi malu di hadapanNya pada saat kedatanganNya" (1 Yoh 2:28) dan ke-mungkinan "terbakarnya" seluruh pekerjaan yang telah dilakukan selama hidupnya (1 Kor 3:13-15). Namun penghakiman orang-orang beriman termasuk keputusan tentang hukuman oleh Allah.

5. Segala Sesuatu Akan Diketahui Umum

Segala sesuatu akan dinyatakan. Kata "tampak" (dalam bahasa Yunani = phaneroo, 2 Kor 5:10) berarti "dinyatakan secara terbuka di hadapan umum".

Saat itu, Allah akan memeriksa dan dengan terbuka menyatakan semua kebenaran mengenai:

  1. Tindakan-tindakan Rahasia Kita (Mrk 4:22; Rm 2:16),
  2. Sifat Kita (Rm 2:5-11),
  3. Perkataan Kita (Mat 12:36,37),
  4. Pekerjaan Baik Kita (Ef 6:8),
  5. Sikap-sikap Kita (Mat 5:22),
  6. Motivasi Kita (1 Kor 4:5),
  7. Kurangnya Kasih Kita (Kol 3:18 - 4:1),
  8. Pekerjaan Dan Pelayanan Kita (1 Kor 3:13).

6. Memberi Suatu Pertanggung-jawaban

Singkatnya orang percaya akan harus mem-beri pertanggung-jawaban tentang tingkat kese-tiaannya dan ketidak setiaannya pada Allah (Mat 25:21,23; 1 Kor 4:2,5) dan juga tentang per-buatannya dan tindak tanduknya dalam terang kasih karunia kemurahan, kesempatan dan pe-ngertian yang disediakan baginya (Luk 12:48; Yoh 5:24).

7. Perbuatan-perbuatan Orang Percaya

Orang percaya yang berbuat hal-hal yang ja-hat tapi kemudian telah bertobat, diampuni dan terlepas dari hukuman kekal (Rm 8:1), tapi per-buatan-perbuatan itu masih harus dipertang-gung-jawabkan saat diadili untuk pengimbalan (menerima imbalan): "Barang siapa berbuat ke-salahan, ia akan menanggung kesalahan itu, ka-rena Tuhan tidak memandang orang" (Kol 3: 25; lihat Pkh 12:14; 1 Kor 3:15; 2 Kor 5:10). Perbuatan baik dan kasih orang beriman akan diingat oleh Allah dan akan diberi upah (Ibr 6:10): "... setiap orang ... kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasan-nya dari Tuhan" (Ef 6:8).

8. Untung Atau Rugi

Akibat-akibat dari penghakiman atas orang-orang percaya akan beragam. Akan ada peroleh-an atau kehilangan menyangkut:

  1. Sukacita (1 Yoh 2:28),
  2. Perkenanan Ilahi (Mat 25:14-30),
  3. Tugas-tugas Dan Otoritas (Mat 25:14-30),
  4. Kedudukan (Mat 5:19; 19:30),
  5. Upah-upah (1 Kor 3:12-14; Flp 3:14; 2 Tim 4:8),
  6. Penghargaan (Rm 2:10; lihat 1 Ptr 1:7).

9. Takut Akan Tuhan

Antisipasi dari penghakiman orang-orang Kristen yang akan datang, menyempurnakan rasa takutnya akan Tuhan (2 Kor 5:11; Flp 2:12; 1 Ptr 1:17) dan membuatnya sadar untuk berjaga-jaga dan berdoa (1 Ptr 4:5,7), untuk hidup dengan tingkah laku yang suci dan taat [saleh] pada Tuhan (2 Ptr 3:11) dan untuk menunjukkan kemurahan dan kebaikan pada semua orang (Mat 5:7; lihat juga 2 Tim 1:16-18).