BAB I

SIKAP LAMA DAN BARU

Seorang pensiunan misionaris, yang sudah siap pulang ke negaranya setelah 28 tahun melayani di Sri Lanka, sedang diwawancarai oleh sebuah surat kabar Minggu berbahasa Inggris yang terkenal di Sri Lanka. Dalam wawancara tersebut dia menjelaskan bagaimana dia berubah sebagai seorang pribadi setelah berada di negara multi-agama ini.

"Saya dulu adalah seorang yang tidak mempunyai toleransi terhadap agama lain dan berpikir bahwa agama sayalah yang paling benar." katanya. "Tetapi semuanya menjadi berubah setelah saya mengunjungi tempat suci orang Budha, yang bernama Anuradhapura." Ia berkata, bahwa ia betul-betul mengalami suatu perasaan damai yang seperti berada dalam hadirat Tuhan. Perbedaan iman tidaklah menjadi masalah. Dari pengalaman itu misionaris ini mengatakan "ajaran pada semua agama, terutama pada taraf yang tertinggi, mengajarkan hal yang sama yaitu kasih dan rasa belas kasihan. Jadi," katanya "sejak saat itu pelayanan saya berubah, tidak lagi sekedar suatu keyakinan (kredo) tetapi suatu kebutuhan."{1}

Misionaris ini menunjukkan suatu sikap yang dengan cepat dapat meningkatkan popularitas di gereja masa kini. Saya sering mendengar baik dari orang Kristen maupun non-Kristen yang berkata bahwa yang menjadi masalah adalah bukan agama apa yang dianut oleh seseorang tetapi bagaimana orang tersebut mempraktekkan keagamaannya dengan tekun. Marilah kita melihat lebih mendalam mengenai sikap-sikap baru yang ditunjukkan orang terhadap agama lain.

BEBERAPA SIKAP BARU TERHADAP AGAMA-AGAMA LAIN

Ketika kita mempertimbangkan beberapa sikap baru terhadap iman agama lain di dalam gereja, maka kita akan menjumpai adanya orang-orang yang masih memegang bentuk keunikan agama Kristen, tetapi ada juga orang- orang yang benar-benar menolak pendapat itu.

Orang sering berkata, "Kekristenan itu memang unik, tetapi ...." Beberapa orang yang percaya bahwa kekristenan itu unik, pada saat yang sama juga berpendapat bahwa keselamatan dapat diperoleh melalui agama lain. Karena mereka percaya bahwa Kristus adalah Juruselamat dunia, maka karya keselamatan-Nya itu akan dapat dialami oleh semua orang bahkan oleh orang-orang di luar agama Kristen. Orang non-Kristen, mengatakan bahwa mereka menerima keselamatan melalui tata cara agama mereka sendiri, walaupun sesungguhnya hanya Kristuslah yang menyelamatkan mereka.{2} Orang-orang yang "diselamatkan" oleh agama lain ini kadang-kadang disebut sebagai "Orang Kristen tak dikenal" sebab meski mereka tidak menyebut dirinya Kristen, tetapi mereka mengaku menerima karya keselamatan dari Yesus Kristus.{3}

Mungkin pernyataan yang paling terkenal mengenai pandangan ini disampaikan oleh Pastor Raymond Panikkar. Dalam bukunya, "The Unknown Christ of Hinduism" (Kristus yang Tidak Dikenal dalam Agama Hindu), dia menuliskan tentang "Kristus yang tersirat dalam agama Hindu. Sekalipun Ia tersembunyi dan tidak dikenal, namun kehadiran-Nya benar- benar nyata."{4}

Dia menulis:

Orang-orang Hindu yang tekun dan jujur diselamatkan oleh Kristus dan bukan karena agama Hindu yang dianutnya, tetapi penyelamatan itu melalui sakramen-sakramen agama Hindu, pesan-pesan moralitas dan kehidupan yang baik, Mysterion yang berasal dari Kristus melalui agama Hindu, yaitu bahwa Kristus juga menyelamatkan agama Hindu.{5}

Seorang teolog Katolik yang lain, Hans Kung, menganggap bahwa iman dari orang non-Kristen merupakan jalan "biasa" menuju keselamatan sedangkan kekristenan merupakan jalan "yang sangat khusus dan luar biasa" menuju keselamatan.{6} Karena kepercayaan ini ada di tempat yang istimewa dimana orang-orangnya telah menerima penginjilan, orang seperti Kung akan mendorong proses pekabaran Injil bagi orang-orang non-Kristen.

Pendapat lain menyatakan "Agama Kristen sejajar dengan agama lain." Teolog Presbiterian Inggris, John Hick, merupakan satu contoh yang baik dari sekelompok pemikir lain yang menolak adanya pemikiran yang menyatakan bahwa agama Kristen lebih tinggi dari agama-agama lain.{7} Hick menyatakan agama-agama yang berbeda adalah sejajar, walaupun masing-masing mempunyai penekanan yang berbeda." Ia berkata bahwa teolog-teolog Kristen telah membuat kesalahan dengan menempatkan agama Kristen sebagai pusat dan menganggap agama yang lain memiliki hubungan dengan agama Kristen. Ia berkata Tuhan adalah pusat. Agama- agama di dunia, termasuk agama Kristen, merefleksikan tentang Allah sesuai dengan caranya masing-masing. Perbedaan dalam agama memang sudah di duga sebab agama-agama tersebut telah bertumbuh dalam situasi budaya yang berbeda-beda. Perbedaan-perbedaan ini harus ditegaskan sebagai bentuk ekspresi dari berbagai macam tipe manusia yang ada di dunia.

Hick, tidak mendukung salah satu agama apapun, sama seperti yang dilakukan oleh orang-orang Baha. Orang-orang Baha mempersatukan agama- agama yang ada di dunia dengan mengkombinasikan hal-hal yang baik dari agama-agama mayoritas. Namun mereka hanya berhasil menambahkan sebuah agama baru dari sekian agama yang sudah ada di dunia. Di lain pihak, Hick mengatakan bahwa ia mencari saat ketika "semangat oikumenis yang telah mengubah sebagian besar agama Kristen yang juga akan meningkatkan pengaruh hubungan antara agama yang ada di dunia".{8} Kemudian kita tidak akan mencoba untuk memaksa orang lain untuk menganut agama kita. Kita akan mencoba untuk hidup secara harmonis dengan sesama, memperkokoh persamaan yang kita miliki dan saling belajar.

Kebaktian multiagama untuk menawarkan perdamaian yang diadakan di Sri Lanka adalah salah bukti dari sikap baru tersebut. Dalam kebaktian ini, wakil-wakil dari masing-masing agama berdoa untuk perdamaian sesuai dengan tata ibadah mereka. Kebaktian tersebut disambut sebagai satu langkah maju dalam memulihkan keharmonisan di negeri ini. Para penginjil Kristen tidak mau terlibat dalam kebaktian semacam ini karena mereka percaya bahwa hanya ada satu mediator antara Tuhan dan manusia yaitu Yesus Kristus (1Timotius 2:5), seperti pernyataan yang dibuat oleh Rasul Paulus saat menjelaskan tentang persekutuan doa.

Jadi para penginjil dalam hal ini telah menyatakan bahwa doa orang non-Kristen sebagai doa yang tidak akan diterima oleh Allah.

Pendekatan Baru Menuju Penginjilan
Sikap-sikap baru terhadap kepercayaan lain yang telah dijelaskan di atas sangatlah diperlukan untuk memikirkan kembali tentang hakekat penginjilan, yang berdampak bagi beberapa pendekatan baru dalam penginjilan.

Kita sering mendengar dari orang-orang yang menggunakan pendekatan baru ini, bahwa tugas penginjil adalah menolong orang Budha untuk menjadi orang Budha yang lebih baik lagi, atau orang Hindu menjadi orang Hindu yang lebih baik lagi. Mereka mengatakan bahwa saat ini tujuannya bukan lagi untuk melihat gereja bertambah banyak. Tetapi lebih ditekankan untuk menciptakan keharmonisan masyarakat dimana orang-orang taat pada agamanya.

Suatu ketika saya berbicara di sebuah seminar di Sri Lanka dengan topik Misi Penginjilan Kristen yang intinya tentang pertobatan. Pembicara lain sesudah saya, menyampaikan sudut pandang yang lain yaitu: "Kalau ada orang Budha yang datang kepada saya dan berkata bahwa ia ingin menjadi orang Kristen, saya tidak akan mendorong dia untuk melakukan hal tersebut," katanya. "Saya akan mengatakan kepadanya, 'Kamu telah mempunyai agama yang hebat dan saya sangat menghargainya. Pulanglah dan pelajarilah agamamu dan cobalah untuk menjadi orang Budha yang sungguh-sungguh.'"

Orang lain berkata bahwa musuh kita bukanlah orang-orang non- Kristen, melainkan sekularisasi yang telah melanda baik negara-negara Timur maupun Barat. Mereka menyarankan supaya agama-agama mayoritas di dunia menyatukan kekuatan untuk menyerang paham anti agama tersebut, karena agama, baik itu agama Kristen, Hindu atau Islam, sangatlah perlu untuk membuat manusia menjadi sempurna.

Pendapat lain menekankan ide Alkitabiah bahwa panggilan kita adalah untuk menolong orang mencapai kemanusiaan yang sempurna sama seperti yang Tuhan rencanakan untuk mereka. Mereka mendefinisikan misi Kristen dipandang dari segi kemanusiaan. Namun, banyak yang berpendapat bahwa pendekatan ini hanya memberikan sedikit penekanan pada kebutuhan individu untuk berdamai dengan Allah melalui iman kepada Yesus Kristus. Keselamatan hampir dianggap ekslusif bila dilihat dari sudut pandang kebebasan politik dan pembangunan sosial ekonomi. Jadi, sekarang ini banyak sekali dibicarakan tentang "teologi pembebasan."

PENGINJILAN TRADISIONAL ADA DALAM BAHAYA

Telah terbukti bahwa pendekatan baru untuk penginjilan sangatlah berbeda dengan pendekatan tradisional. Menurut pendekatan tradisional, penginjilan bertujuan untuk menolong orang meninggalkan kepercayaan dan kehidupan lama mereka sehingga mereka mau percaya bahwa keselamatan hanya ada dalam Kristus saja dan bersedia bergabung dengan gereja Kristus. Pandangan ini telah mendapat banyak kecaman beberapa tahun terakhir ini karena banyak alasan.

Alasan pertama, pendangan ini dianggap terlalu picik, mengabaikan pekerjaan Tuhan dalam agama-agama lain dan nilai-nilai besar yang diabadikan didalamnya.

Alasan kedua, pandangan tradisional mengajarkan untuk menentang sikap ketidaktoleransian yang eksklusif karena tidak sesuai dengan semangat toleransi dari Kristus.

Alasan ketiga, pandangan tradisional ini dihubungkan dengan kesombongan. Mereka berkata, "Betapa beraninya Saudara menduga bahwa hanya orang-orang Kristen yang berada di jalur yang benar?"

Alasan keempat, keinginan untuk mengajak orang lain masuk ke 'dipihak kita' disimpulkan sebagai sisa dari sikap imperalis pemerintah kolonial, dimana sekelompok orang mencari untuk menaklukkan, menguasai dan mengeksploitasi kelompok orang yang lain.

Buku ini akan memberikan respon terhadap keberatan-keberatan di atas, tetapi menanggapi keberatan-keberatan tersebut bukanlah tujuan utama penulisan buku ini. Namun, tujuannya adalah menguraikan dengan terperinci sikap alkitabiah terhadap iman kepercayaan lain. Apa yang telah kita bicarakan tentang sikap baru menunjukkan betapa pentingnya bagi kita untuk mempelajari kembali topik ini. Pertama, kita akan memperlajari sikap penginjil terbesar, Rasul Paulus, seperti yang tersingkap dalam pelayanannya di Athena sebagaimana dijelaskan dalam Kisah Para Rasul 17:16-34.

SIKAP RASUL PAULUS TERHADAP AGAMA LAIN (Kisah Para Rasul 17:16, 17)

Paragraf pertama dalam perikop ini menggambarkan secara jelas tentang sikap Paulus terhadap iman kepercayaan lain yang dianggapnya sebagai "roh yang menggusarkan". Lukas menulis, "Ia (Paulus) sangat sedih hatinya karena ia melihat, bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala" (17:16). Berhala dan tempat-tempat pemujaannya yang mereka gunakan merupakan hasil karya seni yang luar biasa, mencerminkan betapa tingginya budaya Yunani saat itu. Tetapi Paulus lebih terkesan dengan dosa penyembahan berhala dari pada keindahan berhala itu sehingga ia "sangat sedih hatinya."

Kata dalam bahasa Yunani "Paroxuneo" yang artinya "sangat sedih hatinya" adalah kata yang sangat keras yang dalam bahasa Inggrisnya adalah "paroxysm", yang merupakan kata lain dari "cocok" atau "ledakan". Kata ini juga sering diterjemahkan sebagai "gusar" (NASB, RSV). G. Campbell Morgan melukiskan situasi ini dengan baik sekali: "Di tengah-tengah keindahan dan kemuliaan dan seni dan filsafat dan sejarah orang-orang Athena, orang-orang Athena yang bangga dan mengagumkan, orang-orang ini ada dalam api kemarahan, dibuat gusar."{10}

Di sini Paulus merefleksikan sikap yang sama terhadap para berhala yang digambarkan oleh Alkitab Perjanjian Lama. Ini adalah reaksi yang normal dari seorang yang hatinya senada dengan Allah. Tujuan utama orang seperti itu merupakan kemuliaan bagi Allah. Berhala adalah kehinaan bagi kemuliaan Allah, sehingga Paulus gusar hatinya karena penyembahan berhala itu.

Reaksi yang sama dicatat dalam buku harian Henry Martyn, seorang misionaris di India dan Persia (Iran). Setelah dia tiba di Calcutta dia menulis dalam buku hariannya "Biarlah aku terbakar untuk-Mu." Ia telah melihat sebuah upacara penyembahan di kuil Hindu. Ia melihat para penyembah-penyembah itu melacurkan diri dihadapan patung-patung itu dan memukul-mukulkan dahi mereka ke tanah. Ia tidak melihat ini dengan sikap tertarik secara akademis seperti biasanya dilakukan oleh orang-orang asing. Ia tidak terkesan sama sekali oleh kesungguhan orang-orang Hindu ini sebagaimana kecenderungan banyak orang Kristen sekarang ini. Martyn menulis "Bagi saya ini lebih mengerikan daripada yang saya ungkapkan."

Reaksinya mengenai kengerian inilah yang paling penting. Ia berkata, "Saya berpikir seandainya saya punya kata-kata yang akan saya gunakan untuk berkotbah kepada orang banyak itu sepanjang hari walaupun saya harus kehilangan hidup saya untuk itu."

Reaksi Paulus terhadap kesedihan hatinya itu sama. Tetapi tidak seperti Henry Martyn, Paulus "mempunyai kata-kata", karena dia menguasai bahasa Yunani, bahasa yang dipakai oleh orang Athena. Lukas mencatat, "Karena itu di rumah ibadat ia bertukar pikiran...dan juga di pasar setiap hari dengan orang-orang yang dijumpainya di situ." (17:17).

Seperti ayat yang pertama dalam perikop ini menjelaskan "roh menggusarkan" ayat selanjutnya menjelaskan "roh mengekang". Dengan mengamati pelayanan Paulus di Athena, kita melihat bahwa walaupun berhala-berhala menggusarkan dia, ia tidak memperlihatkan dan menunjukkan kegusarannya. Bahkan ketika ia menyebutkan dalam kotbahnya bahwa ia "berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu"(17:23), ia tidak menyebutkan penyebab dari kegusarannya atas pengamatannya ini. Sebaliknya, ia menyimpulkan dari pengamatannya itu bahwa "dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa" (17:22). Paulus mengontrol kotbahnya, dan secara hati-hati dia bertukar pikiran membela kekristenan (22-31).

Dalam hal ini Paulus sangat berbeda dengan para nabi dalam Perjanjian Lama. Ketika para nabi mengamati berhala-berhala mereka, mereka juga menjadi sangat gusar, sama seperti Paulus. Tetapi mereka menunjukkan kegusaran mereka dengan kemarahan seperti kilat melawan penyembahan berhala. Ini dikarenakan oleh perbedaan antara pendengar Paulus dengan pendengar para nabi. Para nabi berbicara kepada orang- orang Yahudi -yang suka memberontak- yang menerima wahyu khusus Allah dan sangat tahu bahwa penyembahan berhala adalah salah. Mereka perlu dimarahi karena ketidaktaatan mereka kepada wahyu Allah yang telah mereka ketahui.

Sebaliknya, orang-orang Athena tidak mempunyai wahyu seperti itu. Mereka perlu diyakinkan tentang kesia-siaan dalam penyembahan berhala dan kebenaran untuk menyerahkan hidup mereka kepada Tuhan, Bapa Yesus Kristus. Jika Paulus menghardik penyembahan berhala dengan marah mungkin dia akan kehilangan pendengarnya. Orang Athena yang berpengalaman akan memandang Paulus sebagai orang fanatik yang eksentrik dan tidak menganggap berita yang disampaikannya. Karena itu Paulus menggunakan metode bertukar pikiran untuk melawan penyembahan berhala dan mendukung pandangan Kristen akan Allah.

Tujuan Paulus maupun para nabi adalah pertobatan dari penyembahan berhala (17:30). Mereka semua gusar terhadap berhala-berhala. Bagi para nabi yang melihat hal itu, tepat baginya untuk mengekspresikan kegusaran dengan marah besar. Dan Paulus melihat hal itu, tepat baginya untuk menahan kemarahannya dan mengekspresikan dirinya dengan cara bertukar pikiran dan berargumentasi.

Jadi di sini kita melihat ada dua sisi sikap Paulus terhadap agama-agama lain. Pada satu pihak ada keyakinan teguh bahwa hidup di luar Kristus merupakan kesalahan. Di pihak yang lain ada rasa hormat kepada semua individu sebab mereka manusia yang berakal budi yang dikaruniai Tuhan dengan hak dan kewajiban untuk memilih antara menerima atau menolak Injil. Hal inilah yang menyebabkan Paulus bertukar pikiran dengan para nabi itu tentang kebenaran Allah. Kombinasi antara keyakinan yang teguh tentang kebenaran dan rasa hormat kepada individu dimunculkan berulang kali di dalam buku ini dan membentuk seseorang pada prinsip-prinsip dasar dan membentuk sikap kita terhadap iman kepercayaan agama lain.

CATATAN:

  1. Alfreda de Silva, "Change of Heart After Anuradhapura Visit", The Sunday Observer, March 18,1984.

  2. Untuk mengetahui lebih lanjut baca di Nihal Abeyasingha, "A Theological Evaluation of Non-Christian Rites" (Bangalore: Theological Publications in India, 1979); and Patrick Kililombe, "The Salvific Value of African Religions," di "Mission Trends No. 5 Faith Meets Faith", ed. Gerald H. Anderson and Thomas F. Stransky (New York: Paulist Press and Grand Rapids: Eerdmans, 1981), hal.50-68.

  3. Karl Rahner, "Christianity and the Non-Christian Religions," dalam buku "Christianity and Other Religion", ed. John Hick and Brian Hebblethwaite (Glasgow: Collins, Fount Paperbacks, 1980) hal. 75-77.

  4. Raymond Panikkar, "The Unknown Christ of Hinduism" (London: Darton Longman, and Todd, 1964), hal. 137.

  5. Dalam buku yang sama, hal. 54

  6. Joseph Neuner, ed., "Christian Revelation and World Religions" (London: Burns and Oates, 1967), hal. 52, 53.

  7. John Hick, "Whatever Path Men Choose Is Mine," dalam buku "Christianity and Other Religions", hal. 171-190.

  8. Dalam buku yang sama, hal. 188.

  9. Leopold Ratnasekara, "Chritianity and The World Religions: A Contribution to the Theology of Religions" (Ph.D. diss., Institute Catholique, Paris, 1982) hal. 140-144.

  10. G. Campbell Morgan, "The Acts of the Apostles" (1924; reprint, Old Tappan N.J.: Fleming H. Revell Co., 1979), hal. 411.

  11. Constance E. Padwick, "Henry Martyn: Confessor of the Faith" (New York: George H. Doran Company, n.d.), hal. 167