Membangun Kebenaran tentang Allah

BAB IV

MEMBANGUN KEBENARAN TENTANG ALLAH

Kita telah melihat bagaimana Paulus mendekati pendengarnya di Athena, dengan menggunakan pemikiran mereka sendiri sebagai titik temu. Paulus kemudian menjelaskan bahwa Tuhan Allah yang telah dia jelaskan merupakan pemenuhan atas pemikiran mereka. Kisah Para Rasul 17:24-29 merupakan penjelasan atas kepercayaan Paulus mengenai seperti apakah Tuhan Allah itu. Sebelumnya Paulus telah melakukan hal yang sama yaitu saat dia berkotbah di Listra (Kisah Para Rasul 14:15). Pesan Paulus di dasarkan pada kebenaran mengenai siapakah Tuhan Allah itu dan apa yang telah Tuhan perbuat. Karena orang-orang tidak tahu banyak tentang Tuhan, maka sebelum Paulus meminta mereka memberikan respon atas karya keselamatan dari Tuhan, dia perlu menjelaskan lebih dahulu fakta yang sebenarnya tentang Tuhan Allah, dan Kristus harus diterima dengan suatu kepastian di dalam hatinya.

Ketika Paulus berkotbah kepada orang Yahudi dan kepada orang- orang yang takut akan Allah di sinagoga di Antiokia wilayah Pisidia, dia tidak perlu menjelaskan dasar kebenaran bahwa Allah adalah Sang Pencipta, karena mereka telah mengetahui sejarah bangsa Israel. Sehingga di Antiokia Paulus lebih mengutamakan pada penyertaan Allah dalam sejarah bangsa Israel (Kisah Para Rasul 13:16-22). Dan di Athena Paulus juga mulai mengabarkan Injil dengan pendekatan pada penyertaan Allah. Semuanya ini menunjukkan betapa pentingnya membangun kebenaran tentang Allah sebelum kita menyampaikan berita keselamatan dari Tuhan Allah untuk manusia.

ADANYA KESALAHAN PENGERTIAN MENGENAI ALLAH

Hal ini sangat penting untuk membangun kebenaran tentang Allah ketika kita berhubungan dengan orang non-Kristen, sebab mereka memiliki pengertian yang salah tentang Tuhan Allah. Orang Athena adalah penyembah berhala sehingga pada perikop ini kita melihat bahwa pada saat Paulus menjelaskan tentang siapakah Allah itu, dia juga menunjukkan kesia-siaan dalam penyembahan berhala (Kisah Para Rasul 17:24-29). Dia perlu melakukan hal ini sebab dia ingin menunjukkan kepada orang Athena bahwa ada satu Allah yang Maha tinggi, yang hanya Dialah yang layak mendapat kesetiaan manusia secara total. Setelah membangun kebenaran ini (17:24-29), Paulus dapat menyampaikan Injil Keselamatan (17:30,31).

Demikian pula halnya, apabila kita ingin bersaksi kepada orang non-Kristen yang memiliki pengertian yang keliru mengenai Tuhan Allah. Misalnya, orang humanis sekuler, mereka mengira bahwa ide mengenai Tuhan Allah sebagai sang penopang hanya cocok bagi orang yang lemah. Seseorang yang benar-benar berpotensi beranggapan bahwa dirinya tidak memerlukan topangan ini. Mereka mengira apabila Tuhan itu ada, dan Tuhan sebagai pribadi, maka Dia merupakan seorang kakek - seperti seseorang yang tak tersentuh dengan apa yang terjadi di "dunia nyata". Atau mungkin Tuhan hanya seperti kekuatan yang bertanggungjawab terhadap terjadinya proses evolusi. Bila demikian, maka Tuhan bukan pribadi, dan kita tidak perlu kuawatir untuk berhubungan dengan Tuhan. Pada saat kita bersaksi pada sekelompok orang humanis sekuler, kita perlu membenarkan pengertian mereka yang salah tentang Tuhan.

Ilmu pengetahuan yang matrealis mengatakan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan telah menunjukkan bahwa Tuhan itu tidak ada. Saat ini dunia telah dapat berkembang pesat tanpa bantuan dari sesuatu yang memiliki pengetahuan yang hebat. Kita perlu menunjukkan bukti bahwa keberadaan Tuhan dapat bertahan dari serangan seperempat kelompok ilmuwan. Seperti yang dilakukan oleh Paulus dalam 2Korintus 10:5, "Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubur yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukannya kepada Kristus."

Banyak orang Budha berpikir bahwa dewa-dewa adalah orang bawahan yang harus senantiasa memberi penghormatan kepada Budha. Dewa- dewa mungkin diperlukan untuk perlindungan. Tapi mereka tidak dapat melihat kebutuhan untuk membawa kehidupan mereka ke tingkat kehidupan dewa-dewa ini. Kesaksian orang Kristen diperlukan untuk menunjukkan kepada orang Budha perbedaan dewa yang mereka kenal dengan Tuhan Allah yang maha Kuasa.

Demikian pula di tempat orang yang beragama Islam, kita harus menekankan Tuhan yang tak terpahami ini sebagai hubungan antara bapa dan anak, bukan sebagai tuan dan budak. Kita perlu menunjukkan kepada mereka kasih Tuhan yang turun ke dunia untuk menebus dosa manusia dan menjadikan mereka sebagai anak-anak yang dikasihi-Nya sambil tetap menjaga kekudusan dan hubungan yang trasenden. Namun kita seringkali gagal untuk menyatakan kebenaran mengenai Tuhan dalam penginjilan kita kepada orang non-Kristen. Kita dapat memulai pelayanan kita dengan kalimat, "Tuhan mengasihi engkau" dan membangun suasana berdasar hal tersebut. Tetapi pendengar kita tidak memiliki pengetahuan dasar tentang siapakah Allah itu. Adakah perasaan ingin tahu dalam hati kita mengenai penginjilan yang kita lakukan ini efektif atau tidak?

PENCIPTA DAN TUHAN (Kisah Para Rasul 17:24a)

Paulus memulai penjelasannya mengenai Tuhan Allah dengan menyatakan, bahwa Dia adalah sang pencipta dan Tuhan: "Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia yang adalah Tuhan atas langit dan bumi." (Kisah Para Rasul 17:24a)

Penciptaan dan ketuhanan merupakan dua dasar penting dalam Penginjilan Kristen dan sangat penting dalam kesaksian kita kepada orang non-Kristen. Hal ini sangat penting bagi Paulus ketika dia berkotbah dihadapan orang Athena, yang memiliki banyak dewa. Paulus perlu menunjukkan pada mereka bahwa Tuhan yang dia beritakan adalah satu-satunya Tuhan yang sangat berarti. Dan Tuhan Allah melebihi semua dewa-dewa mereka.

Kejadian seperti ini juga dapat terjadi pada orang Budha. Bagi mereka tidak semua dewa-dewa itu memiliki kekuatan. Bahkan mungkin dewa-dewa ini adalah hamba Sang Budha. Orang-orang Budha ini perlu ditunjukkan adanya Tuhan Allah dan Pencipta yang melebihi dewa-dewa, bahkan melebihi sang Budha. Mengapa mereka menyembah hamba sementara mereka sebenarnya dapat menyembah langsung pada Tuhan yang paling berkuasa?

Pendapat mengenai Tuhan Allah adalah penguasa tertinggi dan sang pencipta merupakan sesuatu yang bertentangan dengan pemikiran pendengar Paulus yang merupakan orang Athena itu. Mereka melihat dunia nyata yang kotor dan tidak murni. Oleh karena itu mereka percaya bahwa "Penguasa yang Tertinggi terlalu kudus untuk datang ke dalam dunia yang sudah sangat kotor ini."{1} Mereka mengatakan bahwa tuan dari pekerja (atau demiurge), yang merupakan hamba Penguasa Tertinggi ini, sebenarnya adalah buatan dunia.

Kekristenan hadir dengan suatu kepercayaan yang berbeda, yaitu bahwa Tuhan adalah sang Pencipta. Secara tidak langsung hal ini menyatakan bahwa karena Tuhan yang menciptakan dunia ini, maka dunia ini menjadi tempat yang baik. Kekristenan tidak hanya bertentangan dengan kepercayaan orang Yunani saja, tetapi juga dengan agama-agama lain di dunia ini. Orang Budha mengatakan bahwa karena dunia ini telah penuh dengan keinginan yang kotor sehingga kita harus bisa mengatasi segala keinginan duniawi ini sampai kita benar-benar menjadi orang yang tak memiliki keinginan manusiawi -ini merupakan suatu keadaan yang berbeda dengan keadaan manusia sesungguhnya. Agama Budha menganjurkan penghapusan keinginan dan nafsu karena keinginan yang seperti ini termasuk hal yang jahat.

Kekristenan, pada sisi yang lain, melihat keinginan manusia sebagai sesuatu yang baik karena keinginan juga merupakan karunia dari Tuhan. Walaupun keinginan manusia ini ternoda dengan adanya dosa tetapi kita tidak perlu menghancurkan keinginan itu karena kita sudah diselamatkan. Kita harus menyerahkan keinginan kita itu kepada Tuhan Sang Pencipta dan memohon pengampunan dari Tuhan sehingga pada saat Tuhan menyelamatkan kita, Dia tidak menghancurkan kemanusiaan kita tetapi menjadikan kita sebagai manusia yang utuh.

Doktrin tentang penciptaan juga menentang orang Hedonis. Kaum Hedonis memandang bahwa hal yang utama bagi manusia terletak pada pengejaran kesenangan. Sedangkan para pertapa mengatakan bahwa kita harus menghapuskan keinginan-keinginan kita, dan orang Kristen mengatakan bahwa kita seharusnya menyerahkan segala keinginan kita pada Tuhan sehingga Tuhan mengampuni keinginan kita, orang Hedonis mengatakan bahwa kita harus menuruti keinginan kita. Sementara itu filsafat orang kaya yang senang bepergian menyatakan, "Jangan berikan godaan pada menit kedua, berikanlah pada menit pertama!"

Tetapi keinginan kaum Hedonis untuk mengejar kesenangan tidak bisa terpenuhi. Ketika Tuhan menciptakan kehidupan, Dia juga telah menentukan melalui bagaimana seseorang dapat memenuhi segala kebutuhannya. Apabila manusia menyimpang dari rencana-Nya maka manusia tidak akan bisa mengalami kepenuhan yang sejati.

Doktrin mengenai penciptaan dan Ketuhanan Allah juga memiliki sesuatu yang penting untuk dikatakan pada orang sekuler. Orang sekuler telah membangun lingkaran kehidupannya untuk mencukupi dirinya sendiri dan orang sekuler tidak memiliki tempat bagi Juruselamat. Orang sekuler seringkali menertawakan ide mengenai "kasih Allah" dan merayu orang agar datang pada-Nya dan menerima keselamatan dari-Nya. Mereka mengira bahwa keselamatan seperti ini hanya dibutuhkan oleh orang yang lemah, yang tidak mampu menghadapi tantangan dalam hidupnya. Hal seperti ini pernah saya alami, pada saat saya bersaksi kepada seorang usahawan yang sukses, yang sangat membanggakan dirinya. Dan kepada usahawan yang sukses ini, saya menggunakan perumpamaan "Anak Yang Hilang", dimana anak ini sangat boros dalam hidupnya, sehingga akhirnya pulang kembali ke rumah ayahnya.(Lukas 15:11-32)

Kaum sekuler yang merasa dapat mencukupi kebutuhannya sendiri perlu dihadapkan pada Allah yang Maha Kuasa. Mereka perlu tahu bahwa semua usahanya tidak akan menghasilkan suatu kehidupan yang sebenarnya, sebab mereka telah mengabaikan perintah-perintah Allah. Mereka perlu diingatkan bahwa Tuhan merupakan hakim yang terakhir. Dan pada saat penghakiman terakhir, mereka akan langsung berhadapan dengan Tuhan Allah untuk memberikan pertanggung-jawaban atas perbuatan yang telah dilakukan sepanjang hidupnya. Tempat bagi pemuasan dirinya sendiri perlu dihancurkan dengan menyadarkan mereka tentang segala keterbatasan dirinya di hadapan Allah. Kemudian mereka akan mengakui bahwa mereka memerlukan Allah, yang menjadi langkah pertama untuk percaya pada keselamatan yang dari Allah.

KECUKUPAN HIDUP DARI ALLAH SENDIRI (Kisah Para Rasul: 17:24,25)

Berikut ini kita akan membahas mengenai tiga pernyataan Paulus yang menjelaskan tentang Allah yang mencukupi. Pertama, Allah "tidak tinggal dalam kuil buatan tangan manusia"(ayat 24b). Pernyataan ini tentu saja merupakan sebuah "penolakan yang tegas terhadap kebenaran tentang adanya kuil-kuil terkenal yang mengelilingi-Nya." {2} Paulus tidak takut untuk memilliki pemikiran yang bertentangan dengan pemikiran pendengarnya. Jika Paulus ingin agar orang Atena menerima penginjilan, maka yang pertama kali harus dilakukan Paulus adalah menghacurkan kepercayaan mereka yang tidak sejalan dengan Injil. Sejak awal Paulus telah menemukan titik temu dengan orang Athena. Dan dia melakukannya kemudian. Dia tidak ragu untuk menyetujui pendapat dari pendengarnya sebab diskusi penginjilannya bukanlah suatu diskusi yang bertujuan untuk memperdebatkan pendapatnya dengan pendapat orang Athena. Tujuan Paulus adalah untuk mengarahkan pendengarnya agar dapat menerima kebenaran Allah. Dia menegaskan kebenaran yang samar-samar yang telah didapatkan oleh pendengarnya. Tetapi Paulus tahu bahwa ketika dia mengabarkan kebenaran, dia juga harus menunjukkan segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran. Dan segala sistem non Kristen adalah tidak benar dalam hati mereka.

Pernyataan kedua Paulus juga menyangkal kebenaran dari praktek- praktek agama orang Athena: "Dia tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Dia kekurangan apa-apa" (Kisah Para Rasul 17:25a). Tuhan Allah tidak membutuhkan bantuan manusia. Dia bisa mencukupi semua kebutuhannya sendiri. Dan ketiga, Paulus menambahkan tentang Allah yang bisa memenuhi kebutuhannya sendiri: "Sebab Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu yang dibutuhkan manusia." (Kisah Para Rasul 17:25b). Orang-orang Athena telah mencoba untuk mencukupi keperluan Tuhan melalui sesajian yang mereka berikan. Padahal sesungguhnya Tuhanlah yang mencukupi kebutuhan mereka.

KESATUAN SELURUH RAS MANUSIA (Kisah Para Rasul 17:26a)

Paulus kemudian menegaskan bahwa semua suku berasal dari satu orang: "Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi" (Kisah Para Rasul 17: 26a). Paulus menambahkan bahwa melalui satu keturunan yang sama, semua suku adalah sama.

Bangsa Athena memiliki kepercayaan yang berbeda. Mereka percaya bahwa mereka berasal dari tanah kelahiran mereka, yaitu Attica. Pada kenyataannya F.F. Bruce menegaskan, "Mereka berasal dari bangsa Yunani yang melakukan imigrasi lebih dulu ke tempat tersebut. Kemudian orang 'Achaen' dan 'Dorian' menyusul pindah ke tempat tersebut. Dan orang Athena telah kehilangan ingatan mereka tentang sejarah kepindahan mereka."{3} Oleh sebab itu maka orang Athena disebut sebagai keturunan yang tertua, orang Yunani menganggap dirinya lebih tua dibanding dengan orang yang bukan Yunani, yang disebut sebagai orang Barbar.

Tetapi Paulus tidak membiarkan adanya rasialisme ini. Rasialisme merupakan dosa, dan saat mengabarkan Injil kepada orang yang rasialis kita tidak boleh mengabaikan kesalahan ini. Kenyataannya, pada saat seorang yang rasialis datang pada Kristus, salah satu dosa yang harus ditebus adalah perasaan rasialnya. Dosa-dosa yang terdapat dalam masyarakat seperti rasialis, perbedaan kasta, perbedaan kelas sangat berlawanan dengan hukum Allah, seperti dosa pribadi, misalnya karakter buruk, kemarahan, dan nafsu.

Pernyataan Paulus juga mengingatkan kita bahwa kita tidak boleh berprasangka buruk dan bersikap fanatik kepada pendengar kita untuk mendapatkan perhatiannya. Suku Sinhala di Sri Lanka memiliki ketegangan sejarah dengan suku Tamil. Seperti seorang Sinhala, saya tidak boleh menggunakan kepedihan yang dialami bangsa Tamil untuk mendapatkan perhatian bangsa orang Sihala. Demikian pula sebaliknya. Saya mungkin merasa senang dengan keturunan ras yang saya miliki. Tetapi saya tidak boleh meremehkan suku lain atau menganggap bahwa suku saya lebih unggul dibanding suku yang lain. Prinsip yang sama ini juga diterapkan pada pendeta-pendeta yang berkulit hitam maupun putih. Hitam itu indah. Hal ini perlu ditegaskan. Tetapi putih juga indah, karena baik hitam atau putih keduanya adalah ciptaan Tuhan dan sama pentingnya dihadapan Tuhan.

KUASA TUHAN MENGATASI SEMUA BANGSA (Kisah Para Rasul 17:26b)

Paulus terus memberikan penjelasan bahwa Tuhan adalah Allah dari alam semesta, "Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka" (Kisah Para Rasul 17:26b). Paulus menambahkan bahwa kekuasaan Tuhan mengatasi seluruh bangsa yang berdiam di bumi. Beberapa orang memahami bahwa dua pernyataan ini merujuk pada musim- musim dalam setiap tahun (Kisah Para Rasul 14:17). Tetapi maksud Paulus yang sebenarnya adalah Tuhan menunjukkan masa-masa bagi masing- masing bangsa agar segala sesuatu dapat berjalan dengan baik.{4} Suatu kuasa yang berpengaruh besar di bumi diijinkan Tuhan agar dapat berjalan baik. Saat ini sepertinya mereka sangat berkuasa. Tetapi Tuhan telah menunjukkan masa saat mereka kehilangan kuasanya.

Pendekatan dalam pekabaran Injil pada pernyataan ini sangat luas sekali. Pada saat seseorang dihadapkan pada pernyataan tentang Kristus, pertanyaan pertama yang ada dalam pemikiran mereka berhubungan dengan kuasa lain yang mempengaruhi mereka. Mereka bertanya, "Jika saya mengikuti Kristus, apa pendapat teman-teman mengenai saya? Apakah mereka akan mengejek saya? Apakah mereka akan menolak saya? Bagaimana dengan orangtua saya? Apakah mereka akan menganggap saya kafir sebab saya telah murtad dari kepercayaan keluarga saya? Apakah saya akan dihukum? Apakah bisnis yang saya kelola akan gagal sebab saya akan harus menghindari praktek-praktek yang salah? Akankan saya merasa canggung dalam masyarakat saya? Apakah saya akan menghadapi resiko dalam pernikahan saya? Akankah saya menghadapi pembalasan dari dewa-dewa saya dahulu? Pertanyaan- pertanyaan seputar tekanan seperti ini dihadapi oleh petobat baru.

Tentu saja, kekuatan lain menggunakan beberapa kuasa yang terdapat dalam dunia ini. Tetapi orang Kristen tidak perlu takut menghadapi hal ini, karena kuasa mereka hanyalah sementara. Tuhan Yang Maha Kekal memegang kendali yang tertinggi dan semua kuasa berada dalam kuasa-Nya. Sistem yang saat ini berkuasa penuh akan jatuh pada suatu hari nanti. Tuhan Allah telah menentukan saatnya. Maka merupakan suatu kebodohan apabila membungkuk dan takut pada setiap sistem yang berlawanan dengan Allah, entah itu sistem agama, sosial maupun ekonomi. Jalan yang bijaksana yang harus diikuti adalah ketaatan pada Tuhan Penguasa tertinggi.

MANUSIA YANG MENCARI ALLAH (Kisah Para Rasul 17:27)

Ayat 27 memiliki arti besar bagi proses pembelajaran agama manusia, dan dampaknya akan diselidiki lebih jauh dalam bab 8. Paul berkata bahwa salah satu alasan mengapa Tuhan menciptakan apa yang telah dijelaskan diatas adalah "supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan mereka" (Kisah Para Rasul 17:27b). Di bab awal kita telah membicarakan mengenai kehausan setiap orang pada pengetahuan mengenai kekuatan supranatural. Kehausan ini sebagian disebabkan oleh apa yang manusia lihat dalam penciptaan, yang memberikan perasaan akan sesuatu, atau seseorang, di antara ciptaan yang ada. Perasaan supernatural ini menyebabkan manusia "mencari" Tuhan dan mencoba "menemukan Dia".

Setiap kesaksian akan dilakukan dengan baik untuk mendapatkan apa yang ditegaskan secara serius oleh Paulus. Orang meraba-raba untuk mengetahui kekuasaan alam. Mereka ingin mencari sesuatu diantara mereka sendiri. Pencarian ini bentuknya berbeda-beda, rohani atau sekuler, spritual atau material. Kita menunjukkan kepenuhan pencarian manusia ini karena Tuhan yang kekal telah menampakkan diri-Nya dalam Yesus Kristus dan membuka jalan bagi kita untuk memenuhi pencarian kita yang mendalam mengenai dimensi kekekalan.

Paulus mengatakan bahwa Tuhan "tidak jauh dari diri kita masing-masing." Jalan menuju Tuhan tidak melalui pencarian besar- besaran pada sesuatu yang tersembunyi sebab sebenarnya Tuhan sangat dekat.

KELUARGA MANUSIA DAN KELUARGA YANG DITEBUS (Kisah Para Rasul 17:28)

Paulus memperkuat apa yang telah dia katakan dengan menggunakan dua kutipan dari puisi bangsa Yunani yang telah sangat akrab di telinga bangsa Yunani.

Kutipan pertama, "Sebab dalam Dia kita hidup dan kita bergerak dan kita ada," telah dihubungkan dengan Epimendes orang Kreta. Pernyataan ini mengabarkan ketergantungan manusia pada keberadaan Tuhan. Kemudian pernyataan kedua, "Kita adalah keturunan Allah," memiliki maksud yang sama dengan pernyataan pertama. Ini berasal dari puisi karya Aratus mengenai Penguasa Tertinggi dari filosofi bangsa Stoika.{5} Hal ini memberitahukan bahwa manusia memperoleh hidupnya dari Tuhan.

Kesan pertama yang mungkin didapat seseorang mungkin dari dua pernyataan ini adalah bahwa Paulus telah menggambarkan hubungan antara Tuhan Allah dengan anak-anak tebusan-Nya. Jika hal ini benar, maka pernyataan pertama akan menyatakan secara tidak langsung bahwa bangsa Athena mengalami "kehadiran Yesus Kristus" seperti apa yang dikatakan Paulus di mana-mana. Pernyataan kedua berarti bahwa semua orang adalah anak Allah, yang dilahirkan dalam Keluarga Allah dimana Kristus adalah putra sulung-Nya.

Tapi hal ini bukan seperti yang dimaksudkan Paulus disini. Pada ayat sebelumnya memperlihatkan bahwa Paulus berkata mengenai sumber kehidupan manusia. Ayat 24 mengatakan Tuhan "membuat dunia dan segala sesuatu di dalamnya." Paulus mengatakan mengenai suatu hubungan yang Tuhan miliki dengan manusia sebab Tuhan adalah sang pencipta.

Alkitab membedakan antara keluarga manusia dimana Tuhan Sang Pencipta sebagai Bapa dalam pengertian umum, dan keluarga yang telah ditebus di mana Tuhan sebagai Bapa dalam pengertian khusus. Saya tidak keberatan menyebut orang Budha sebagai saudara saya sebab bersama dengan dia saya menjadi keluarga secara manusiawi. Tetapi dalam Kristus, saya tidak merasa bahwa dia keluarga saya.

Dalam bagian pertama dalam pernyataan Paulus, Paulus berkata mengenai kekeluargaan secara manusiawi dan hubungannya dengan Tuhan (Kisah Para Rasul 17:24-29). Dalam bagian kedua Paulus menunjukkan bagaimana manusia dalam keluarga manusia dapat masuk dalam keluarga yang telah ditebus Tuhan. Mereka perlu bertobat. Jika mereka tidak bertobat mereka akan diadili (Kisah Para Rasul 17:30-31). Dalam bagian pertama kita melihat bahwa Tuhan adalah Pencipta. Dan pada bagian kedua kita melihat bahwa Tuhan adalah Penebus.

Pencipta dan Penebus bukanlah hal yang sama. Hal itu dipisahkan oleh tiga peristiwa besar, yaitu jatuhnya manusia dalam dosa, yang menjadi kutukan bagi semua umat manusia; Karya Kristus, yang membuka jalan penebusan dosa; iman manusia, yang sejalan dengan pengampunan dosa tersebut.

CATATAN - CATATAN:

  1. F.F. Bruce, "Paul: Apostle of the Heart Set Free" (Grand Rapids: Eerdmans, 1977), hal. 240.

  2. E.M. Blaiklock, "The Acts of the Apostles, The Tyndale New Testament Commentaries" (Grand Rapids: Eerdmans, 1959), hal. 140.

  3. F.F. Bruce, "The Acts of the Apostles: The Greek Text with Introduction and Commentary" (Grand Rapids: Eerdmans, 1952), hal. 336.

  4. I. Howard Marshall, "The Acts of the Apostles, The Tyndale New Testament Commentaries" (Grand Rapids: Eerdmans, 1980), hal. 288.

  5. Bruce, "Paul", hal. 242

Kategori Bahan Indo Lead: 
Jenis Bahan Indo Lead: 
File: 
AttachmentSize
atitude04.txt23 KB
atitude04.htm24 KB

Komentar