Kerohanian Orang non Kristen

BAB III

KEROHANIAN ORANG NON KRISTEN

Dialog penginjilan Paulus di Athena cukup menarik banyak perhatian sehingga dia mendapat suatu undangan untuk ikut serta dalam suatu pertemuan kelompok orang yang bergengsi yang dikenal sebagai kelompok Areopagus (Kisah Para Rasul 17:19a). Kelompok ini merupakan "dewan yang mengawasi kesejahteraan pendidikan, moral dan kerohanian masyarakat." {1} Para utusan meminta Paulus, "Bolehkah kami tahu ajaran baru mana yang kauajarkan ini? Sebab engkau memperdengarkan kepada kami perkara-perkara yang aneh. Karena itu kami ingin tahu, apakah artinya semua itu." (Kisah Para Rasul 17:19b,20).

Tanggapan Paulus terhadap orang Atena merupakan pidato luar biasa yang akan kita bahas secara rinci dalam buku ini. Catatan yang kita peroleh dari Kisah Para Rasul ini, "tentu saja, suatu laporan singkat yang seharusnya lebih panjang lebar."{2}

TITIK TEMU ( AYAT 17:22)

Paulus memulai pidatonya dengan pengamatannya tentang kerohanian orang-orang Athena. "Hai orang-orang Athena, aku lihat, bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa" (Kisah Para Rasul 17: 22). Beberapa orang mengganggap pernyataan ini sebagai kritikan dan menggunakan kata "superstitious" (takhayul) daripada "religious" (keagamaan) (lihat KJV). Tetapi pemahaman ini tidak sesuai dengan keseluruhan isi pidato Paulus. Sehingga kebanyakan terjemahan modern lebih senang menggunakan kata "religius" (kerohanian). Entah sebagai kritikan ataupun sanjungan. Beberapa orang mengira bahwa Paulus terpaksa menyanjung untuk memperoleh pendengar. Tetapi seorang filsuf abad kedua, Lucian dari Samosata, yang tinggal di Athena, mencatat dalam salah satu tulisannya tentang adanya larangan menggunakan sanjungan pada pernyataan pembukaan yang ditujukan kepada kelompok Aeropagus, untuk menjaga maksud baik.{3} Jika Paulus terpaksa menggunakan kata sanjungan, ia telah mengeluarkan dirinya sendiri dari peran sertanya lebih lanjut di kelompok ini.

Paulus membuat penelitian secara sederhana mengenai cara hidup orang Atena. Mereka merupakan orang yang sangat taat pada agama. Kata "religius" pada intinya berarti berarti menghormati dan takut dengan adanya kekuatan alam yang luar biasa (supernatural).{4} Bentuk ketaatan orang Athena ini diungkapkan dengan penyembahan berhala, yang membuat Paulus sedih hatinya dan marah (ayat 17:16). Paulus tahu bahwa penyembahan berhala tidak akan menyelamatkan hidup orang Athena sehingga dia berdebat untuk menjelaskan hal ini di ayat 24-29, dan mengajak orang Athena untuk bertobat di ayat 30. Tetapi dia juga tahu bahwa di balik penyembahan berhala itu terdapat rasa hormat kepada kekuasaan alam yang luar biasa yang ditanamkan oleh Tuhan.

Perasaan hormat pada kekuatan alam ini merupakan batu loncatan bagi Paulus untuk mengabarkan berita kebenaran mengenai Tuhan Allah. Paulus menemukan suatu "titik temu" untuk penginjilan bagi orang-orang Athena. Mereka sependapat dengan Paulus tentang adanya kekuasaan alam. Paulus menyebutkan ketaatan mereka sebagai cara untuk menempatkan orang-orang Athena dalam kedudukan yang sama dengan Paulus sehingga Paulus dapat membawa mereka terus kepada kebenaran baru yang akan Paulus tunjukkan kepada orang-orang Athena ini.

Dengan cara yang sama, orang Kristen yang akan bersaksi juga harus mengamati orang yang akan ditemui dan diajak untuk berkomunikasi mengenai penginjilan serta mengetahui kondisi tempat tinggal dan budaya orang tersebut. Dengan membuka percakapan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan orang tersebut, maka dia akan dapat memperoleh perhatian mereka.

TUHAN YANG TAK DIKENAL

Paulus berusaha untuk menemukan titik temu dengan orang-orang Athena (ayat 23). Melalui pendapatnya mengenai kerohanian orang Athena, dia berhasil memperoleh mereka. Tetapi Paulus menjadi lebih ingin lagi untuk menjelaskan kerinduan mereka. Paulus mengatakan kepada mereka bagaimana dia sampai pada pemikiran bahwa orang-orang Athena itu "sangat saleh". Paulus mengatakan dia "berjalan-jalan di kota Athena dan melihat-lihat barang-barang pujaan (mereka)." Kemudian Paulus melihat bahwa ada salah satu dari sekian banyak objek penyembahan itu dapat membantu dia dalam memperkenalkan Tuhan Allah Yehova. Paulus berkata, "aku bahkan menemukan sebuah mezbah dengan tulisan: 'Kepada Tuhan yang tidak dikenal.'" Paulus melihat adanya petunjuk akan kerinduan yang mendalam yang belum terpuaskan pada diri orang-orang Athena.

Orang Yunani menghubungkan berbagai fenomena alam dengan dewa- dewa mereka. Dewa-dewa yang berbeda dikatakan bertanggung jawab terhadap penderitaan dan keberuntungan mereka sehingga mereka ingin berada di sisi yang baik dari semua dewa-dewa tersebut. Tapi mereka tidak yakin bahwa mereka mengenal semua dewa yang ada, sehingga mereka mempersembahkan pada sebuah altar "kepada Tuhan yang tidak dikenal" untuk meyakinkan bahwa tidak ada dewa yang diabaikan yang mungkin dapat memberi bencana pada kota Athena ini.{5}

Altar ini merupakan pengakuan orang Athena bahwa pengetahuan mereka terhadap kekuasaan yang supranatural tidak lengkap. Paulus menggunakan pengakuan ini sebagai langkah awal dalam penjelasannya tentang Allah Yehova, yang melengkapi segalanya. Mereka memasang altar ini sebagai usaha untuk melengkapi semuanya, tetapi mereka tidak tahu allah mana yang sanggup melakukan hal ini. Jadi dia menjelaskan sebagai Tuhan yang tidak dikenal. Paulus tahu bahwa Tuhan Allah melengkapi segalanya tanpa bantuan dari dewa-dewa apapun. Dia memperkenalkan Tuhan Allah ini kepada orang-orang Atena: "Sekarang apa yang kamu sembah sebagai sesuatu yang tidak dikenal akan aku kenalkan padamu" (ayat 23).

APAKAH TUHAN ALLAH MENERIMA PENYEMBAHAN MEREKA?

Paulus mengatakan bahwa orang Athena menyembah Allah sebagai sesuatu yang tidak dikenal (Kisah Para Rasul 17:23). Apakah ini berarti bahwa penyembahan ini berkenan kepada Allah? Beberapa orang berpendapat bahwa kesimpulan seperti itu dinyatakan dengan pernyataan berikut ini, bahwa penyembahan dari alam seperti ini dapat membawa keselamatan pada seseorang. Penyembah-penyembah ini mungkin tidak tahu siapa Tuhan Allah itu, tetapi mereka diselamatkan karena mereka menyembah Tuhan Allah.{6} Beberapa yang mendukung pandangan ini akan mengatakan bahwa kita masih perlu mengabarkan Injil sebab ini bukan cara yang ideal untuk menyembah Allah.

Namun demikian teks Alkitab tidak memberi tempat kepada kita untuk menyatakan bahwa penyembahan orang Athena adalah berkenan kepada Allah. N.B. Stonehouse sudah menunjukkan bahwa ketidaktahuan mendapat penekanan lebih daripada penyembahan.{7} Paulus memfokuskan pengakuannya pada ketidaktahuan orang Athena, sebab ini memberikan tempat berpijak baginya untuk mengabarkan Injil. Paulus tidak membuat nilai-nilai penghakiman pada penyembahan yang disebabkan oleh ketidaktahuan ini. Dalam kotbahnya yang selanjutnya Paulus menyebutkan bahwa ketidaktahuan tidak lagi dapat diampuni sehingga Allah: "memerintahkan semua orang dimanapun mereka untuk bertobat" (Kisah Para Rasul 17:30). Pernyataan semacam itu menunjukkan bahwa penyembahan seperti yang dilakukan oleh orang-orang Athena ini tidak berkenan pada Allah. Selanjutnya kita akan menunjukkan bahwa semua sikap penyembahan diluar wahyu-Nya dalam Yesus Kristus tidak diperkenankan.

KRISTUS MEMENUHI PEMIKIRAN MEREKA

Penanganan Paulus atas penyembahan kepada allah yang tak dikenal menceritakan kepada kita sesuatu yang penting tentang bagaimana dia menghargai iman kepercayaan lain dalam hubungannya dengan Kekristenan. Dia melihat iman kepercayaan lain ini sebagai ekspresi rasa haus seseorang akan Tuhan, tetapi Paulus tahu bahwa hanya Kristuslah yang dapat memuaskan rasa haus mereka. Jadi dia mendekati orang non-Kristen dengan suatu keyakinan bahwa mereka haus akan Tuhan Allah. Blaise Pascal menggambarkan kehausan ini dengan istilah Tuhan mengisi kekosongan dalam manusia. Tiap orang mengungkapkan rasa haus ini dengan ekspresi yang berbeda-beda, walaupun beberapa orang tidak menyadari keberadaan rasa haus ini. Di Athena, rasa haus akan Tuhan ini diwujudkan dalam bentuk sebuah altar persembahan kepada Tuhan yang tidak dikenal.

Jadi kita juga dapat mendekati orang non-Kristen dengan suatu keyakinan bahwa Injil akan memenuhi pemikiran mereka. Saat ini mungkin pemikiran tersebut berbentuk sesuatu yang tidak kita setujui. Tetapi kita harus melihat lebih jauh adanya kekosongan tanpa Tuhan Allah sebagai penyebabnya dan menunjukkan bahwa Kristus dapat mengisi kekosongan tersebut.

Ketakutan akan adanya kekuatan yang tak dikenal merupakan faktor pengontrol yang sangat menguasai kehidupan orang Budha dan Hindu di Sri Lanka. Mereka secara teratur pergi ke astrolog, kuil-kuil, dukun, pengusir setan, paranormal atau orang-orang semacam itu, yang mengaku memiliki kekuatan untuk mengontrol atau mengarahkan kekuatan supranatural. Ketika orang menghadapi suatu penyakit atau kesulitan hidup, mereka bertanya, "Apakah ini disebabkan karena adanya kekuatan gaib atau roh-roh jahat?" Apabila betul, mereka ingin menetralkan kekuatan jahat tersebut, dengan menggunakan alat apapun yang mereka miliki.

Beberapa kaum rasionalis, bahkan beberapa penginjil, mencemooh praktek ini, dan mengatakan bahwa hal ini merupakan hasil imajinasi seseorang. Tetapi sikap ini tidak bijaksana dan tidak benar. Tidak bijaksana karena kita tidak dapat secara mudah mengabaikan perasaan yang sudah mendarah daging dalam diri manusia. Apabila kita menghilangkan hal itu dengan mudah, mereka juga dengan sangat mudah akan mengabaikan kita karena tidak ada hal-hal yang berhubungan untuk dikatakan kepada mereka. Tidak benar karena Alkitab dengan jelas mengatakan kepada kita bahwa ada berbagai macam kekuatan supranatural yang bekerja di dunia ini. Bahkan orang Kristen berperang melawan kekuatan-kekuatan supranatural ini (Efesus 6:12).

Pendekatan alkitabiah terhadap adanya ketakutan pada kekuatan supranatural ini dan bentuk-bentuknya adalah suatu cara untuk menunjukkan bahwa Tuhan Allah kita lebih berkuasa. Alkitab mengajarkan bahwa karena Allah adalah pencipta langit dan bumi, maka semua kekuatan di alam ini bersumber dari Tuhan Allah sendiri. Jadi metode kesaksian orang Kristen adalah untuk memahami pertanyaan dan pemikiran yang dimiliki orang-orang ini dan menunjukkan bahwa Kristus adalah jawaban atas pemikiran ini.

Beberapa orang mungkin merasa keberatan dengan metode kesaksian dengan mengatakan bahwa kita harus menekankan pertanyaan mendasar dari manusia, mengenai kebutuhannya untuk berhubungan dengan Allah, yang merupakan hubungan yang tidak dialaminya karena dosa. Mengenai hal ini kita dapat menyetujuinya. Tetapi banyak orang yang tidak mengakui bahwa hal ini adalah pertanyaan dasar mereka. Pada saat kita bertemu dengan orang non-Kristen, kita dapat mengatakan padanya bahwa dia memerlukan suatu hubungan yang khusus dengan Tuhan, sehingga dia harus bertobat dari dosanya. Tanggapan orang tersebut mungkin menyatakan bahwa dia tidak percaya memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan Tuhan Allah. Namun, ada kebutuhan lain yang dia miliki dan dia ketahui, misalnya kebutuhan untuk lepas dari pengaruh kekuatan jahat. Sekarang kita dapat memulai penginjilan dari pertanyaan mengenai kebutuhannya ini, selanjutnya kita menuntun orang tersebut pada pertanyaan yang paling mendasar, yaitu mengenai hubungannya dengan Tuhan Allah, yang terhalang karena dosa. Kita harus tetap dalam tahap yang sama pada pertanyaan yang mendasar ini. Tetapi kita tidak boleh langsung memulai dengan pertanyaan itu, sebab apabila kita melakukannya, dia bisa saja mengabaikan kita karena kita tidak punya hak untuk berbicara sesuatu hal yang berhubungan dengan hidupnya.

Orang Kristen selalu mencari pemikiran dari orang non-Kristen dan mencari tahu bagaimana orang Kristen tersebut dapat menunjukkan bahwa Kristus memenuhi pemikiran mereka. Kita percaya bahwa Kristus adalah jawabannya. Tetapi kita juga harus bertanya apakah yang menjadi pertanyaannya. Pertanyaannya yang terdapat dalam pikiran manusia bisa jadi tidak seperti apa yang kita pikirkan atau apa yang seharusnya kita pikirkan.

Apakah hal ini juga dapat diterapkan untuk kepuasan diri sendiri, seperti dunia sekuler orang Barat? Apakah mereka menanyakan pertanyaan seperti itu? Mereka tidak merasa bahwa mereka membutuhkan agama. Mereka merasa sudah cukup mampu untuk menghadapi tantangan hidup tanpa pertolongan dari Tuhan. Jadi kita dapat mengambil kesimpulan bahwa mereka tidak memberikan pertanyaan tentang perlunya beragama. Masalahnya mungkin karena kita bersaksi di tempat yang salah. Gaya hidup kita sangat berbeda dengan gaya hidup yang mereka miliki sehingga kita tidak mengetahui hasrat yang terpendam dalam hati mereka. Mereka juga memiliki pemikiran tentang agama. Tetapi pemikiran yang mereka miliki itu berbentuk sesuatu yang tidak kita kenal sebagai sesuatu yang rohani.

Semuanya ini menunjukkan kepada kita betapa pentingnya bagi kita untuk mengerti dunia orang non-Kristen. Kita melakukannya dengan cara yang berbeda. Salah satu cara adalah bersahabat dengan orang yang non- Kristen dan dengan selalu siap sedia menolong jika mereka membutuhkan kita. Dengan sungguh-sungguh memberikan perhatian kepada mereka dan mengakrabi mereka, kita dapat ikut merasakan suka dan duka mereka, pemikiran mereka dan pertanyaan mereka. Cara lain untuk mengerti dunia orang non-Kristen adalah melalui media yang ada. Buku-buku literatur, musik, drama, film, televisi, dan media berita memberikan kita informasi penting tentang dunia non-Kristen dan pemikirannya. Mereka sangat penting bagi kita sekalipun mereka bukan orang Kristen.

PERTANYAAN DAN JAWABAN (17:24-31)

Sangat membesarkan hati bahwa sekarang kita melihat banyak orang Kristen mencoba untuk mengenal pertanyaan dan kerinduan hati orang- orang. Tetapi ini hanyalah langkah pertama dari proses pekabaran Injil. Sekarang ini beberapa musik, drama, film, dan kotbah yang berasal dari gereja ternyata berhasil dalam menganalisa bagaimana orang merasakan suatu kehidupan dan bagaimana manusia hidup dalam masyarakat. Tetapi keberadaan metode ini sering kali memiliki kelemahan dalam menguraikan secara rinci cara pemecahan permasalahan yang dihadapi oleh manusia yang berhasil digambarkan.

Menggunakan kreatifitas kita dalam menganalisa kesulitan manusia tidaklah cukup. Kita harus menguraikan Injil secara rinci sedemikian rupa sehingga pendengar kita tahu bahwa Injil merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan mereka. Sering kali metode kita dalam menguraikan Injil sangat klise dan polos sehingga kita kehilangan pendengar-pendengar kita pada saat proses berjalan. Mereka menghangatkan analisa kita terhadap masalah mereka, tetapi pemecahan masalah yang kita sampaikan membuat mereka menjadi dingin. Mereka mengenalkan diri dengan masalah yang mereka hadapi, tetapi mereka tidak memiliki keinginan untuk menemukan cara pemecahan masalahnya.

Sekali lagi, Paulus merupakan contoh bagi kita. Penjelasannya yang terperinci dalam pekabaran Injil (Kisah Para Rasul 17:24-31) memiliki hubungan dengan analisisnya terhadap pemikiran orang Athena. Penjelasannya sangatlah alkitabiah. Dan pesan yang disampaikan sama dengan apa yang dia kotbahkan di tempat-tempat lain. Ia mengenalkan Tuhan Yesus dan Kebangkitan-Nya serta diakhiri dengan ajakan untuk bertobat. Tetapi cara Paulus menyampaikan Injil yang tidak berubah ini merupakan cara yang sangat tepat karena pendengar yang dihadapi Paulus adalah pendengar yang bergaya filosofis. Paulus secara terus menerus berinteraksi dengan kepercayaan dan praktek-praktek ibadah yang dilakukan orang-orang Athena. Bahkan dia mengutip dari tulisan-tulisan para filsuf Yunani.

Dari contoh Paulus, kemudian, kita melihat beberapa kunci penting untuk bersaksi secara efektif kepada orang-orang non-Kristen. Kita harus mengetahui Injil secara menyeluruh dan memberitakan dengan penuh percaya dan jelas. Kita harus juga mengetahui keadaan dan kondisi dunia secara keseluruhan. Pengetahuan akan keadaan dunia ini akan membantu kita dalam menyampaikan Injil. Karena itu apabila kita mengabarkan Injil, kita harus berhubungan secara terus menerus dengan pemikiran, kepercayaan serta praktek keagamaan dari para pendengar kita. Seorang saksi yang baik merupakan seorang murid baik, baik dari Firman Allah maupun dunia.

CATATAN - CATATAN :

  1. Everett F. Harrison, "Acts: The Expanding Church" (Chicago: Moody Press, 1975), hal. 269.

  2. E.M. Blaiklock, "The Acts of the Apostles, The Tyndale New Testament Commentaries" (Grand Rapids: Eerdmans, 1959), hal. 140.

  3. Terdapat dalam F.F. Bruce, "The Book of Acts, New International Commentary on the New Testament" (Grand Rapids: Eerdmans, 1954), hal. 355.

  4. Alan Richardson, "Superstition," dalam "A Theological Word Book of the Bible", ed. Alan Richardson (London: SCM Press Ltd., 1950), hal. 253.

  5. Blaiklock, "Acts", hal. 140.

  6. Raymond Pannikar, "The Unknown Christ of Hinduism" (London: Darton, Longman, and Todd, 1964), hal. 253.

  7. Terdapat dalam Bruce, "Acts", hal. 356.

Kategori Bahan Indo Lead: 
Jenis Bahan Indo Lead: 
File: 
AttachmentSize
atitude03.txt17 KB
atitude03.htm18 KB

Komentar