Sepuluh Hal yang Perlu Kita Ketahui tentang Kepemimpinan yang Sehat

Kita sering menganggap kepemimpinan adalah sifat yang positif, tetapi pada kenyataannya, itu bisa menjadi baik atau buruk, konstruktif atau destruktif. Atau, seperti yang saya percayai, sehat atau tidak sehat.

Gambar: Mikha 6:8

Bagaimana kita membedakan kepemimpinan yang sehat dari kepemimpinan yang tidak sehat?

Saya percaya ada sepuluh karakteristik pemimpin yang sehat:

1. Mereka memimpin dengan kesehatan spiritual dan emosional.

Pemimpin yang sehat secara rohani dan yang utuh secara emosional, berakar dan mendasar dalam hubungan dengan Allah. Mereka memimpin seutuhnya dari yang dinyatakan dalam Mikha 6:8, "Apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?"

Keduanya adalah rasa hormat kepada Allah dan menghormati orang lain. Ini berarti mereka bersedia untuk mendengarkan, terbuka untuk kritik, dan lebih menginginkan untuk membantu orang hingga berhasil daripada menghukum mereka ketika mereka gagal.

2. Mereka berdedikasi kepada kesehatan orang lain.

Orang-orang suci kuno digambarkan dengan lingkaran cahaya di atas kepala mereka karena mereka memancarkan rasa kesehatan spiritual dan emosional yang jelas. Kearifan seperti itu menular; pemimpin menyebarkan kesehatan di kalangan orang-orang dan organisasi yang mereka layani.

Akan tetapi, seperti dokter yang kadang-kadang meresepkan pengobatan yang tidak nyaman untuk menolong pasien, demikian juga, pemimpin seharusnya bertindak demi kesejahteraan organisasi dalam jangka panjang, bahkan jika itu berarti menimbulkan ketidaksukaan dari yang lain.

3. Mereka mewakili karakter dan misi organisasi mereka, tetapi juga objektivitas yang memadai.

Para pemimpin organisasi mencerminkan nilai-nilai, harapan, dan keyakinan, tetapi juga ambivalensi, konflik, keterbatasan, dan perjuangan dalam jiwanya.

Pemimpin merupakan imam, dan juga nabi. Mereka tidak hanya menghargai tradisi, tetapi juga membayangkan masa depan yang lebih besar. Pemimpin yang sehat menampung harapan dan impian dari orang-orang dan mengartikulasikan itu sebagai rencana yang layak dan dapat dicapai.

4. Mereka memahami organisasi sebagai sistem sosial.

Rabbi Edwin Friedman, seorang tokoh penting dalam penerapan teori sistem keluarga untuk kepemimpinan jemaat, membandingkan hubungan antara organisasi dan pemimpinnya dengan seorang klien dan terapis. Keduanya, yaitu klien dan organisasi, mengatakan kepada terapis/pemimpin mereka, "Kami ingin agar Anda membantu kami supaya sehat, tumbuh, dan bergerak maju, dan kami akan menolak Anda di setiap tahapnya."

Pemimpin harus memahami sifat alami terapeutik kepemimpinan dan peran mereka dalam kaitannya dengan kelompok. Pemimpin harus mampu, dengan kasih karunia dan gigih, menghadapi perlawanan dan bahkan sabotase, mendengarkan dan menanggapi kekhawatiran, tetapi dengan jelas mendefinisikan arah organisasi. Kepemimpinan yang sehat tidak membiarkan anggota organisasinya yang paling sakit dan lemah untuk dijadikan sandera.

5. Mereka memberikan kehadiran yang menenangkan dan kepemimpinan yang secara emosional dapat membedakan dengan baik.

Banyak orang saat ini menggunakan kecemasan untuk memotivasi dan memanipulasi orang lain untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Kecemasan dapat membuat orang melakukan sesuatu karena rasa takut, tetapi menutup kemampuan orang untuk berpikir konstruktif dan kreatif. Ketika berbicara tentang kualitas yang diperlukan untuk kepemimpinan yang sehat, keberanian adalah sebuah dasar yang jauh lebih baik untuk dibangun daripada kecemasan.

Keberanian itu membuat berani. Keberanian melahirkan keberanian. Keberanian dari para pemimpin memungkinkan orang lain dalam suatu organisasi untuk mengambil risiko, mencoba hal baru dan berpikir dengan cara baru.

6. Mereka berencana.

Para pemimpin yang baik bertanya, "Apa yang kita capai? Apakah itu sesuai dengan misi kita? Apa langkah-langkah yang diperlukan untuk menggerakkan organisasi ini dari sini ke tujuan kita? Siapa yang bertanggung jawab untuk apa? Bagaimana kita tahu bahwa kita telah mencapai apa yang kita ditetapkan untuk dilakukan? Apa tanda-tanda dari keberhasilan, dan bagaimana kita tahu di mana kita telah gagal?"

Akan tetapi, perencanaan adalah lebih dari sekadar cetak biru yang dibuat. Bahkan, perencanaan yang baik merupakan proses yang berkesinambungan, bergulir terus-menerus, menyesuaikan diri dengan realitas yang baru, dan mengubah caranya jika diperlukan.

7. Mereka menerima kebijaksanaan dalam permusyawaratan.

Masyarakat kita menyukai mitos tentang pemimpin tunggal yang memiliki semua jawaban. Akan tetapi, kami ingin menghargai kebijaksanaan dari apa yang disebutkan oleh penulis James Surowiecki sebagai 'wisdom of crowds' (kebijaksanaan orang banyak). Dalam situasi yang tepat, dengan keragaman yang cukup dan kemandirian berpikir, maka secara konsisten kelompok akan membuat keputusan yang lebih baik daripada anggota kelompok yang paling pandai.

Pemimpin yang sehat mendukung dan memperkuat proses pengambilan keputusan dengan hati-hati. Pemimpin yang tidak sehat melemahkan proses ini dengan menjaga rahasia dan manipulasi pengambilan keputusan di belakang layar, baik melalui perjanjian maupun ancaman.

8. Mereka tidak pernah terlalu tua untuk belajar.

Dalam sebuah studi pemadam kebakaran profesional, Karl Weick, seorang profesor perilaku organisasi dan psikologi di University of Michigan, menemukan bahwa di antara petugas pemadam kebakaran yang menjadi korban sebagian besar adalah yang hanya memiliki satu atau dua tahun pengalaman dan mereka yang telah memerangi api selama lebih dari 15 tahun. Para siswa, jelas, belum cukup belajar, tetapi kematian para veteran lebih mengejutkan. Mereka cenderung meninggal dalam kebakaran karena mereka mengira sudah mengerti semuanya, mereka berpikir tidak ada hal baru tentang api yang perlu dipelajari.

Hal tersebut merupakan pandangan yang sangat penting bagi para pemimpin. Sangat penting untuk diingat bahwa kita tidak pernah terlalu tua -- atau terlalu berpengalaman -- untuk belajar. Api dari kepemimpinan organisasi selalu memiliki hal-hal baru untuk kita pelajari.

"Sangat penting untuk diingat bahwa kita tidak pernah terlalu tua
-- atau terlalu berpengalaman -- untuk belajar."

Facebook Twitter Telegram WhatsApp

9. Mereka tahu apa yang harus diperhatikan.

Para pemimpin yang baik mengembangkan intuisi untuk mengetahui apa yang harus diperhatikan, dan apa yang harus diserahkan kepada yang lain. Scott Cormode, seorang kepala sekolah di Max De Pree Center for Leadership di Fuller Seminary, telah mengamati bahwa baik pengemudi pemula maupun pemimpin yang masih muda membuat kesalahan karena mereka memperhatikan terlalu banyak hal.

10. Mereka meminta pengikut dalam perubahan.

Ada perbedaan yang signifikan antara tujuan, perubahan strategis, dan gerakan belaka. Pemimpin yang sehat menggunakan pengaruh dan kekuasaan mereka untuk memastikan bahwa organisasi mereka membuat perubahan yang diperlukan dan efektif.

Menurut Paul Hersey dan Kenneth Blanchard, peneliti terkenal dan penulis tentang kepemimpinan, pemimpin harus membantu anggota organisasi mereka untuk mengetahui dan memahami situasi tertentu yang menyerukan perubahan. Pengetahuan tersebut dapat menyebabkan perubahan sikap di antara kelompok. Para anggota organisasi akan melihat bahwa perilaku individu mereka sendiri perlu diubah untuk mencerminkan pemahaman baru mereka, dan ini akan menyebabkan perubahan perilaku kelompok.

Pemimpin, bagaimanapun juga, harus terbuka dan bersedia untuk memungkinkan proses menjadi milik organisasi, yang berarti hasil akhirnya mungkin tidak tepat seperti yang dia bayangkan.

Sebuah Refleksi Penutup/Akhir

Kepemimpinan adalah suatu panggilan yang luar biasa, suatu panggilan yang menantang, tetapi bermanfaat. Sebagaimana Frederick Buechner, seorang pendeta Presbyterian dan novelis, pernah menulis, "Tempat di mana Allah memanggil Anda adalah tempat di mana kegembiraan Anda yang mendalam dan kelaparan dunia yang hebat bertemu."

Semoga sukacita yang mendalam dan kelaparan dunia yang hebat bertemu di tempat-tempat Anda memimpin. (t/Jing Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Faith and Leadership
URL : http://www.faithandleadership.com/content/ten-things-we-need-know-about-healthy-leadership
Judul asli artikel : Ten Things We Need To Know About Healthy Leadership
Penulis artikel : Michael Jinkins
Jenis Bahan Indo Lead: 
Kolom e-publikasi: 
Situs: 

Komentar