Bagian E6
PERENCANAAN PERTUMBUHAN GEREJA

Oleh Ralph Mahoney

Isi Dari Bagian Ini:
E6.1 - Perlunya Keseimbangan
E6.2 - Visi : Kunci Untuk Suatu Pencapaian
E6.3 - Menetapkan Sasaran Dan Prioritas
E6.4 - Karunia Administrasi
E6.5 - Bagaimana Merencanakan
E6.6 - Strategi - Pelaksanaan - Evaluasi

KATA PENGANTAR

Kembali ke masa remaja saya, dimana saya berbakti di Gereja "North Hollywood Assembly of God". Pemimpin kami, Arne Vick seringkali mengajarkan bahwa hanya ada dua kunci yang merupakan prinsip untuk pelayanan yang berhasil, yaitu berdoa dan belajar, belajar dan berdoa, lagi sekali yaitu berdoa dan belajar. Kami anak-anak muda percaya kepadanya dan telah mencoba prinsip tersebut tetapi ternyata hal itu tidak berguna sama sekali buat kami.

Ternyata ada hal-hal yang tidak kami sadari bahwa dibalik penjelasan Sdr. Vick tentang keberhasilan pelayanannya, tergantung pula kepada talenta dan karunia rohani yang ada padanya, yang mana justru sangat besar pengaruhnya.

Setelah beberapa tahun tersendat-sendat, saya mulai mengerti bahwa berdoa dan belajar, tidak perduli berapa seringnya, kesetiaan dan kesungguhan yang benar, ternyata masih belum cukup.

Hal itu terjadi setelah saya mulai mengumpulkan dari berbagai sumber dan menyusun Prinsip-Prinsip untuk Pencapaian dari rencana saya, akhirnya saya mulai menghasilkan buah-buah dan menjadi produktif dalam pekerjaan Tuhan. Saya ingin membagikan prinsip-prinsip tersebut kepada saudara.

Prinsip-prinsip ini merupakan suatu sumber tambahan, bukan sebagai pengganti dari dasar-dasar pelayanan yang rohani. Saya menganggap bahwa saudara sudah meletakkan batu-batu fondasi atau dasar rohani seperti : dedikasi, kekudusan, komitmen, syafaat dan pengertian dasar dari Firman Tuhan. Motivasi-motivasi saudara harus sudah dibersihkan dan dikuduskan. Hidup saudara sudah terjual untuk Tuhan.

Jika hal ini belum terjadi dalam hidup saudara, prinsip-prinsip yang akan saya bagikan ini tidak akan membuat saudara berhasil. Kehidupan yang rohani harus yang lebih dahulu. Namun jika semuanya sudah benar dan sesuai, tetap masih diperlukan prinsip-prinsip yang praktis untuk kita bekerja, bagian-bagian pengetahuan yang praktis.

Bagian dari pelajaran ini saya tujukan bagi para pemimpin gereja yang bersedia membayar harga dan mau menyerahkan hidupnya sehingga kehidupannya diperhitungkan untuk Allah hingga kekekalan.

Bab 1
Perlunya Keseimbangan

Pendahuluan

Kita melihat ketidakseimbangan di dalam kelompok karismatik sehubungan dengan sisi subyektif dari kekristenan. Di kalangan kelompok Injili, ketidakseimbangannya nampak dalam sisi yang obyektif.

Subyektif secara harafiah berarti saudara mewujudkan kehidupan saudara "dari subyek itu", atau "dari apa yang berasal dari dalam diri saudara". Intuisi saudara yang menuntun saudara. Apa yang saudara "rasakan di dalam" merupakan sumber utama pimpinan saudara untuk kehidupan dan pelayanan saudara.

Obyektif artinya "berasal dari obyek" atau "apa yang muncul dari luar saudara". Akal, intelek dan logika saudara secara hati-hati menilai setiap detail dan saudara mengambil keputusan berdasarkan informasi yang "obyektif".

Saya sudah mendengar perkataan yang mengatakan bahwa di dalam pengalaman Kristen yang terlalu subyektif menyebabkan saudara "meledak/meletup-letup"; terlalu obyektif menyebabkan saudara "kering", dan keseimbangan yang benar dari masing-masing sisi itu, akan menyebabkan saudara "bertumbuh". Keseimbangan jenis inilah yang saya usahakan untuk terus berkembang di antara orang-orang yang saya layani.

Ijinkan saya memberikan ilustrasi tentang apa yang saya maksudkan dengan ketidakseimbangan yang subyektif.

Beberapa tahun yang lewat seorang sahabat saya dan tua-tua di gerejanya menerima apa yang mereka anggap sebagai "Firman dari Tuhan" untuk pergi ke sebuah pulau tertentu di Caribea dan menginjili orang-orang di situ.

Sesudah menanyakan hal itu dan menerima dukungan dari anggota-anggota gereja, mereka siap untuk pergi, membeli tiket dari travel biro dan berangkat dengan rencana-rencana besar untuk mengadakan kampanye penginjilan.

Mereka membuat rencana yang luar biasa tanpa mengadakan penyelidikan terhadap sejarah penginjilan terdahulu di kepulauan itu, tanpa menyelidiki apakah kebutuhan yang mendesak sekarang ini, atau melihat kesempatan-kesempatan apa saja untuk mengadakan penginjilan di kepulauan tersebut.

Pesawat mereka mendarat pada landasan pesawat terbang darurat sekitar 3 mil jauhnya dari tempat yang akan dituju. Dari situ, mereka menurunkan semua persediaan mereka dan langsung mempergunakan perahu yang dimiliki oleh penduduk setempat yang mau menunjukkan di mana letak pulau itu.

Dengan penuh sukacita mereka berperahu mengarungi lautan Caribea menuju arah tujuan mereka. Ketika mereka tiba ditengah-tengah laut di antara kedua pulau tersebut, penduduk asli yang menyertai mereka itupun bertanya, "Apa yang akan saudara lakukan sesudah mendarat di pulau itu?"

Dengan penuh semangat mereka berkata, "Kami diutus oleh Tuhan untuk menginjili penduduk pulau tersebut!"

"Oh, ketahuilah tuan-tuan, demikian kata penduduk asli tersebut. Di pulau itu tidak ada penghuninya. Bahkan selama-lamanya tidak pernah ada yang menghuninya. Panjangnya pun hanya beberapa mil saja dan saudara hanya akan menjumpai pohon-pohon kelapa melulu."

"Apakah benar demikian?" Mereka bertanya dengan sangat terkejut.

"Segera saudara akan membuktikannya sendiri," jawab penduduk asli yang menemani mereka ke pulau itu.

Ketika mereka mendarat, diperlukan hanya beberapa menit saja untuk menelusuri seluruh pulau itu untuk memastikan bahwa apa yang dikatakan oleh pemandu mereka itu benar atau tidak. Ternyata mereka sendiri sajalah orang-orang yang berada di pulau itu.

Inilah yang saya maksudkan dengan "subyektivitas" di dalam pengalaman Kristen. Terlalu subyektif dapat menyesatkan kita. Suatu penelitian yang obyektif akan menolong orang-orang ini dari kegagalan mereka.

Mereka sudah membuang banyak uang dan memboroskan waktu, karena mengikuti "pimpinan Tuhan." Kalau saja mereka mau mencari konfirmasi obyektif sehubungan dengan "pimpinan" yang subyektif - mereka dan gereja mereka dapat terluput dari persoalan ini.

Mereka harus kembali ke gereja dan melaporkan kegagalan mereka di depan jemaat. Mereka harus menjelaskan mengapa kampanye penginjilan besar-besaran tidak akan pernah terjadi di tempat itu. Jemaat mengampuni mereka - tetapi tidak akan pernah melupakan perbuatan bodoh yang sembrono itu. Kendati pun disertai rasa malu dan permintaan maaf, diperlukan beberapa tahun untuk memulihkan kembali kepercayaan di dalam kepemimpinan mereka.

Itulah keseimbangan yang selalu saya usahakan, baik dalam pelayanan saya sendiri maupun terhadap yang lain. Prinsip pengelolaan yang baik adalah "roh yang mendatangkan kekuatan, kasih dan ketertiban" (2 Tim 1:7); hal ini harus diimbangi dengan "pimpinan Roh Kudus". Artikel ini menunjukkan kepada saudara bagaimana mewujudkan pengelolaan yang obyektif untuk gereja dan pelayanan saudara.

A. DARI MANA KITA MEMULAINYA?

Kita semua memerlukan titik tolak di mana kita dapat memperkirakan sumber daya yang kita miliki untuk setiap kita di dalam pekerjaan kita untuk Tuhan. Saudara harus selalu mulai dari mana saudara berada, dengan apa yang saudara punyai sekarang ini (lihat diagram dibawah).

Apa yang saya punyai ? Ajukan pertanyaan ini pada diri saudara sendiri. Saudara memiliki keberadaan saudara melalui KELAHIRAN, melalui LATIHAN, melalui ANUGERAH ALLAH, dan melalui PENGALAMAN. Semua ini adalah sumberdaya saudara, dan termasuk segala sesuatu yang menunjukkan keberadaan saudara sampai sekarang ini.

Iman selalu melihat masa depan, selalu bekerja untuk mengklaim masa depan dan senantiasa melaksanakan apa yang dikehendaki Allah. Tetapi kita perlu memulai dari masa lalu. Masa lalu saudara menunjukkan dan menempatkan sumber daya yang saudara perlukan, untuk melaksanakan hal-hal di dalam kerajaan Allah.

Di dalam Roma 12:3-6, Paulus memberitahu kita, "Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu; Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing."

Himbauan Paulus untuk saudara adalah mengadakan evaluasi yang tegas dan sungguh-sungguh mengenai keberadaan saudara dan apa yang saudara punyai. Kemudian pergunakan evaluasi tersebut di dalam menjadikan masa depan saudara berbuah-buah bagi Tuhan. Dia mendorong saudara untuk memiliki pengertian yang seimbang mengenai diri saudara. Jangan berpikir terlalu tinggi atau terlalu rendah mengenai diri saudara, daripada yang patut saudara pikirkan.

1. Saudara Mewarisi Sumber Daya

Pokok pertama dalam lembar inventarisasi kita adalah "Karunia-karunia dari orang tua kita". Apa yang bapak dan ibu saudara berikan kepada saudara? Bapak dan ibu saudara mewariskan kepada saudara BAKAT, TEMPERAMEN dan INTELIGENSI (kecerdasan).

Kita perlu menyadari keberadaan kita melalui kelahiran karena hal itu akan berpengaruh juga atas wujud dari apa yang kita lakukan untuk meluaskan kerajaan Kristus.

Di dalam 2 Timotius 1:5 Paulus menunjukkan kepada Timotius kwalitas penting yang dia peroleh melalui orang tuanya. Dia mengatakan, "Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu."

Iman ditumbuhkan melalui neneknya kepada ibunya dan akhirnya kepada Timotius. Paulus berbicara mengenai hal itu, sebagai "iman yang tulus ikhlas" yang ada di dalam Timotius.

a. Bakatmu. Jika saudara melihat pada bakat, ajukan pertanyaan ini: "Dalam hal apa saya mampu dengan baik?" Jawaban-jawaban yang saudara yakini, itulah yang menunjukkan bakat atau keahlian saudara, hal-hal yang untuk itu saudara memiliki karunia-karunia secara alami.

Misalnya, seorang pemain piano yang berbakat dapat memainkan instrumen dengan baik, dapat menjadikan instrumen itu "bernyanyi". Ini merupakan hasil dari bakat yang dimiliki sejak lahir. Walaupun banyak latihan dan praktek, kita yang tidak mempunyai bakat alami sebagai pemusik tidak dapat menampilkan permainan pada tingkatan mereka yang berbakat.

Sementara Allah kadang-kadang akan mengesampingkan karunia-karunia alami kita, pada umumnya Dia tidak akan mengesampingkannya begitu saja. Biasanya Dia bekerja melalui dan dengan ini. Oleh karena itu, berhentilah dan adakan waktu barang lima belas menit untuk menuliskan bakat saudara pada secarik kertas. Daftar ini akan sangat berguna bagi saudara di kemudian hari. Karena itu berhentilah sejenak dan lakukanlah sekarang juga!

b. Temperamenmu. Hal kedua yang saudara perlu perhatikan adalah temperamen saudara. Pertanyaan di sini adalah, "Apakah yang saya senang sekali untuk melakukannya?" Beberapa orang Kristen berpendapat bahwa adalah dosa untuk menikmati apa yang mereka suka lakukan. Memang ada hal-hal yang saudara senang untuk melakukannya, yang menjurus kepada dosa! Tetapi kenyataan bahwa saudara senang melakukan sesuatu, tidaklah dosa.

Apa yang saudara paling senangi sering dapat merupakan bukti sehubungan dengan apa yang seharusnya saudara lakukan. Hal ini karena kesenangan dan ketidak senangan kita seringkali menunjukkan apakah kita secara temperamen cocok atau tidak untuk menangani tugas tertentu. Daftarkanlah pekerjaan apa yang saudara suka untuk melakukannya dalam secarik kertas.

c. Inteligensi. Hal ketiga yang kita punyai melalui kelahiran adalah inteligensi atau kecerdasan. "Sampai sejauh mana saya dapat memikirkan untuk dapat mengerjakan sesuatu?"

Setiap orang di dalam menggambarkan sesuatu adalah baik. Tetapi menggambarkan mengenai sampai sejauh mana kemampuan atau kebaikan kita merupakan kesulitan kita yang terbesar.

Inteligensi atau kecerdasan adalah kemampuan untuk membuat kontribusi yang berguna bagi orang lain dan kemampuan untuk memelihara diri saudara sendiri.

Kemampuan saudara untuk berpikir dengan jernih, jelas dan logis adalah penting sekali untuk kepemimpinan saudara. Kesimpulan saudara dari proses pemikiran saudara senantiasa setuju dengan pengajaran Alkitab. Ini akan merupakan ujian puncak dari inteligensi.

2. Pengaruh Dari Latihan

Hal kedua yang perlu kita evaluasi adalah pengaruh latihan dari lingkungan di mana kita dilahirkan. Ada tiga daerah pengaruh utama yang menimbulkan dampak di dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen.

a. Keluarga. Pertama, pengaruh utama atas kehidupan seseorang adalah keluarga. Situasi orang tua sangat membentuk gaya hidup seorang anak dan kebiasaan-kebiasaan hidupnya.

Jika saudara dilahirkan di tengah-tengah lingkungan keluarga yang baik, di mana ibu dan ayah saudara senantiasa hidup berdampingan dengan baik, hal ini akan sangat menolong saudara. Jika mereka memberikan banyak pengaruh positif kepada anak-anak mereka dari waktu ke waktu sejak mereka dilahirkan, maka saudara akan memiliki kepercayaan diri yang kuat dan bersedia untuk menghadapi resiko sehubungan dengan hal-hal yang mungkin menakutkan orang lain.

Jika orang tua saudara menunjukkan lebih banyak tindakan kasih, banyak belaian dan tepukan kasih, sudah dapat dipastikan bahwa saudara akan lebih banyak memiliki kesempatan untuk bertumbuh sebagai seorang yang mudah bergaul, yang dapat berhubungan dengan orang lain dengan baik dan mendatangkan keberhasilan dalam kehidupan ini.

Tetapi mungkin juga saudara berasal dari lingkungan keluarga yang kurang ideal. Kira-kira sembilan puluh persen dari kita berasal dari lingkungan demikian. Kita mempunyai latar belakang yang penuh dengan hal-hal negatif. Untuk itu, kita perlu menyadarinya.

Pola negatif bukan sebagai alasan untuk melawan kehendak Allah. Tetapi menyadari serta berhati-hati sehubungan dengan pola latihan dalam keluarga akan menolong saudara (dengan pertolongan Allah) untuk mengatasi beberapa aspek negatif dari pola tersebut.

Dengan menyadari hal ini, saudara dapat belajar untuk menjadi seorang pekerja yang bersikap positif dan mantap bagi Tuhan. Jika saudara tidak pernah menyadari adanya dampak-dampak yang diakibatkan oleh pengaruh keluarga saudara, saudara akan menjalani kehidupan ini dengan melakukan hal-hal yang dapat menyakiti banyak orang dan menghambat diri saudara sendiri untuk melakukan banyak hal, karena sikap saudara mengakibatkan orang lain tidak senang bekerja sama dengan saudara.

b. Gereja. Pengaruh besar kedua di dalam kehidupan saudara (jika saudara dibesarkan di tengah-tengah keluarga Kristen) adalah gereja. Gereja pun dapat menanamkan pengaruh-pengaruh yang negatif dalam kehidupan saudara, tergantung pada jenis gereja yang di dalamnya saudara dibesarkan. Pada tahun-tahun awal saya, saya dibesarkan di lingkungan gereja yang sasaran utamanya adalah emosional yang berlebih-lebihan.

Jika saudara dibesarkan di tengah-tengah suasana gereja yang sedemikian, saudara akan berpikir bahwa "emosional adalah kerohanian, dan seperti itulah gereja."

Latar belakang gereja kita dapat membawa kita untuk menyimpulkan bahwa semua kekristenan berarti berputar-putar karena nada-nada tertentu, melompat-lompat karena irama tertentu, dan memberikan tanggapan yang seragam sehubungan khotbah-khotbah tertentu yang sudah digariskan oleh si pengkhotbah di dalam pemberitaannya. Kata-kata kunci dan urutan-urutan tertentu di dalam penekanannya membangkitkan tanggapan emosional tertentu. Semua itu merupakan bagian dari budaya atau kultur gereja kita.

Jika saudara berasal dari sebuah gereja yang sangat konservatif, dan segala sesuatunya didasarkan atas liturgi dan keteraturan, maka jelas bahwa hal yang sama juga akan mempengaruhi pandangan saudara mengenai Allah, kekristenan dan Alkitab.

Tulislah dalam kertas inventarisasi saudara pengaruh-pengaruh positif dan negatif apa saja yang diberikan oleh gereja saudara dalam kehidupan saudara.

c. Sekolah. Pendidikan formal merupakan faktor kritis di dalam proses ini secara menyeluruh. Latihan oleh keluarga, gereja dan sekolah memberi pengaruh dalam kehidupan kita, bersama-sama dengan kwalitas-kwalitas yang kita bawa sejak kita dilahirkan, menjadikan kita sebagaimana keadaan kita sekarang ini.

Latihan atau pendidikan sangat penting. Lukas 12:47 mengatakan, "Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan." Persiapan dan latihan adalah perlu sekali untuk menggenapi kehendak Tuhan.

Saudara yang menduduki jabatan sebagai komisi personalia dan menilai para calon, harus memperhatikan secara khusus apa yang saya katakan di sini. Saudara harus menginventarisasi satu demi satu calon-calon pelayan ataupun utusan Injil untuk melihat apa dan bagaimana mereka itu berdasarkan kelahiran dan pendidikan mereka.

3. Anugerah Allah

Bagian ketiga yang perlu kita pertimbangkan dalam inventarisasi pribadi kita adalah anugerah Allah. Bagi beberapa kita, anugerah merupakan satu-satunya faktor imbangan yang kita peroleh. Saya maksudkan hal ini dengan sungguh-sungguh.

Jika seseorang mengadakan inventarisasi sehubungan dengan kehidupan saya atas dasar kelahiran dan latihan saya, maka mereka akan memberikan nilai kosong sehubungan dengan kemungkinan-kemungkinan saya. Saya sangat berterima kasih untuk penyediaan yang melimpah dari ANUGERAH Allah di dalam kehidupan saya. Kenyataan ini, bagi orang-orang percaya sungguh merupakan imbangan yang besar!

Apa yang saya maksudkan dengan anugerah Allah? Pertama-tama, di dalam konteks studi ini, tidak saya maksudkan "perkenan yang tidak seharusnya atau pada tempatnya", walaupun itu merupakan salah satu arti dari anugerah. Saya tidak maksudkan anugerah sebagai "kebalikan dari apa yang seharusnya kita peroleh atau dapatkan", kendatipun hal itu juga merupakan arti dari anugerah.

Tetapi "anugerah" yang saya maksudkan di sini adalah sebagaimana yang Paulus pergunakan berulang-ulang dalam bagian-bagian Perjanjian Baru, kata anugerah di sini berarti "dimampukan oleh Allah".

a. Kemampuan yang dari Allah. Paulus, di dalam 2 Korintus 12:9 menuliskan apa yang Tuhan sampaikan kepadanya, "Cukuplah KASIH KARUNIAKU bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna".

Apakah yang Allah sampaikan kepada Paulus di sini? Dia tidak mengatakan : "PerkenanKu yang sebenarnya tidak layak bagimu" adalah cukup bagimu. Dia tidak mengatakan kepada Paulus: "Pemberianku yang sebenarnya bertentangan dengan apa yang seharusnya kamu terima" adalah cukup bagimu. Dia mengatakan "PertolonganKu yang memampukanmu" adalah cukup bagimu untuk menikmati kehidupan yang berkemenangan dibalik gocohan-gocohan yang merupakan utusan setan itu.

Jika kita meneliti kelahiran dan latihan kita, maka kita tidak akan dapat memenuhi persyaratan. Kita harus bersandar pada anugerah Allah, kemampuan Ilahi yang Allah dapat berikan untuk kehidupan kita. Itu, bagi orang percaya adalah dimensi imbangan yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang tidak percaya. Anugerah Allah, kemampuan dari Allah, dapat menjadi imbangan yang besar.

Saudara lihat hal ini di dalam kehidupan Daud, ketika sebagai anak muda ke luar untuk berperang melawan Goliat. Apa yang menyebabkannya berhasil di dalam mengalahkan Goliat? Adalah kemampuan dari Allah, anugerah Allah dalam kehidupannya.

Apa yang menjadikan Yusuf berhasil di Mesir? Dia mempunyai latar belakang yang baik dalam kelahirannya, tetapi dia baru berusia tujuh belas tahun ketika dimasukkan ke dalam penjara, karena itu dia tidak banyak mendapatkan pendidikan formal. Dia dibesarkan di dalam kehidupan keluarga yang selalu berpindah-pindah tempat, di bukit-bukit Yudea. Dia mendapatkan campur tangan Ilahi, kemampuan Ilahi di dalam kehidupannya, yang menyebabkan dia diangkat sebagai perdana menteri di Mesir.

Orang-orang ini mengetahui kecukupan dari anugerah Allah. Karena itu kuatkanlah hatimu! Yesus berkata kepada saudara, "Kasih karuniaKu adalah cukup bagimu."

Sekali lagi, adalah kasih karunia (anugerah) inilah yang Paulus maksudkan di dalam 1 Korintus 15:10, "Tetapi karena kasih karunia (anugerah) Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia (kemampuan Ilahi) yang dianugerahkanNya kepadaku tidaklah sia-sia. Sebaliknya aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah (kemampuan Ilahi) yang menyertai aku".

Paulus mengatakan bahwa anugerah atau kasih karunia yang diberikan kepadanya tidaklah sia-sia : "Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku." Paulus menyadari bahwa kasih karunia Allah (anugerah Allah) adalah imbangan yang besar untuk kelemahan dan kekurangan manusia.

Dari pandangan Yahudi, Paulus berasal dari rumah tangga yang baik. Dia keturunan Benyamin. Di dalam hal pendidikan, tidak diragukan lagi kebolehannya. Dia belajar pada Gamaliel dan dididik untuk menjadi anggota Sanhedrin. Untuk dapat diterima, dia harus mampu menghafal lima kitab pertama dari Alkitab dengan lancar. Pengetahuannya mengenai Perjanjian Lama cukup kuat dan mendasar.

Dia mengatakan, "aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, karena kasih karunia (anugerah) Allah" - imbangan yang besar! Apa yang diperolehnya dari kelahiran dan pendidikan, menjadikannya pembunuh, merajam orang-orang Kristen, menjebloskan mereka ke dalam penjara, berdiri menjadi saksi pada waktu Stefanus dirajam, sambil menjaga pakaian orang-orang yang merajam Stefanus.

Melalui kelahiran dan pendidikannya dia sudah menjadi seorang pembunuh. Tetapi melalui anugerah Allah, dia membawa ribuan orang kepada keselamatan dan kehidupan, dan mendirikan banyak gereja. Dia menjadi orang yang menyelamatkan kehidupan orang-orang lain dan membawa mereka pada anugerah Allah.

4. Pengalaman

Pada akhirnya, kita perlu mengevaluasi "PENGALAMAN" kita. Di dalam dunia ini keadaan yang lebih membahayakan adalah lulusan yang baru saja tamat dari Sekolah Alkitab atau Seminari. Tidak ada yang lebih membahayakan selain pengkhotbah yang baru saja tamat dari Sekolah Teologia.

Mengapa dia sangat membahayakan? Barangkali dia mempunyai kemampuan-kemampuan dan latihan alami yang kuat. Dia barangkali sudah menerima atau mendapatkan kemampuan-kemampuan Ilahi (anugerah, kasih karunia). Lalu apa yang masih kurang? Pengalaman!

Dengan sombong mengangkat diri sebagai pemimpin di dalam sebuah gereja, sebuah proyek ataupun pelayanan yang saudara belum pernah mendapatkan pengalaman dalam hal itu, biasanya dapat membawa bencana.

Saudara mungkin punya bakat, latihan dan bahkan anugerah yang menguatkan; tetapi tanpa pengalaman, saudara dapat menimbulkan tragedi untuk diri saudara sendiri dan barangkali juga untuk ribuan orang yang lain.

a. Menguji ide-ide baru. Bilamana ada orang-orang yang muncul dengan pengajaran baru, konsep-konsep baru, ide-ide baru yang mereka klaim akan mengubah gereja secara revolusioner ataupun dunia ini, saya berkata kepada mereka, "Saudaraku, ujilah ide-ide saudara itu selama dua atau tiga tahun dengan sekitar tiga puluh orang dan kemudian datang kembali ke sini, beritahukan kepada kami apakah berhasil atau tidak."

Saya tidak mau menjadi bagian dari "eksperimen/percobaan" besar-besaran secara sosiologis ataupun religius - karena itulah yang akan terjadi untuk dua atau lima tahun pertama.

Alkitab memperingatkan kita di dalam 1 Raja-raja 20:11, "Orang yang baru menyandangkan pedang janganlah memegahkan diri seperti orang yang sudah menanggalkannya." Apa bedanya? Seorang yang baru menyandang pedang, tidak mempunyai pengalaman. Yang lain yang sudah menanggalkan pedang, kembali dari peperangan dengan pengalaman yang sangat berharga.

"Orang yang baru menyandangkan pedang janganlah memegahkan diri seperti orang yang sudah menanggalkannya." Ini mengajarkan kepada kita, bahwa ide/pendapat harus diuji dulu dalam sekolah pengalaman; bila tidak, saudara dapat menyebabkan diri saudara sendiri karam/celaka, demikian juga dengan banyak orang lain.

Tidak ada sesuatu hal yang karena begitu pentingnya tidak dapat diuji melalui berbagai jenis pengalaman ataupun situasi, untuk membuktikan kebenaran dari pandangan/ide tersebut. Dan ijinkan saya memberitahu, kalau saudara mempunyai prinsip-prinsip yang dapat diterapkan dengan berhasil, seluruh dunia akan bergairah untuk mempelajarinya, karena setiap orang ingin mengalami keberhasilan.

Tetapi sebagai pemimpin kita harus menolak konsep-konsep yang tidak teruji ataupun yang tidak terbukti, bahkan seandainya konsep-konsep itu populer sekalipun dan disertai dengan berbagai macam jenis promosi ataupun berbagai macam gembar-gembor.

Jangan sombong, jangan memegahkan diri kalau saudara baru menyandang pedang. Tunggulah sampai saudara mencobanya, mengujinya. Jika saudara ke luar dan mencobanya dalam berbagai peperangan dan ternyata saudara masih hidup, datanglah kembali dan beritahukanlah kami mengenai hal itu. Tehnik-tehnik saudara mungkin berhasil. Tetapi jika saudara kalah dalam peperangan, maka saya perlu berhati-hati dengan prinsip-prinsip saudara.

b. Miliki Pengalaman Daud. Pertimbangkanlah kisah Daud dan Goliat. Kisah ini seringkali ditafsirkan oleh guru-guru Sekolah Minggu sebagai salah satu contoh bagaimana seorang muda yang tidak berdosa, tidak berpengalaman, mampu mengalahkan raksasa hanya karena keberanian dan kemampuan yang dimilikinya.

Tetapi ada sesuatu yang sangat menarik yang saya mau tunjukkan sehubungan dengan kisah ini.

Daud maju ke depan secara sukarela untuk melawan Goliat. Dia merupakan satu-satunya orang di Israel yang bersedia menangani tugas tersebut secara sukarela.

Daud dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang benar. Dia mendapatkan latihan-latihan yang benar. Minyak urapan sudah dicurahkan atasnya oleh nabi (1 Sam 16:12). Dia memiliki di dalam dirinya anugerah Allah; namun, tanpa adanya hal-hal itu yang bekerja di dalam dirinya, Daud tidak akan berani coba-coba memasuki peperangan yang melampaui pengalamannya.

Bacalah 1 Samuel 17:34-40 dengan teliti. Saudara akan melihat bagaimana Daud mempergunakan pengalamannya untuk meyakinkan Saul agar mengijinkan dia maju menghadapi Goliat. Apakah pengalaman itu?

Dia berkata kepada Saul, "Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya, lalu menghajarnya dan membunuhnya."

"Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup."

Dan dia selanjutnya mengatakan, "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu" Komitmennya itu didasarkan atas apa? Pengalaman!

c. Kehilangan Pikiran yang Waras. Ada mentalitas yang dewasa ini nampak menguasai gereja yang mengatakan bahwa seseorang dapat menjadi utusan Injil dengan berjalan seratus langkah ke arah altar dan "menyerahkan hidupnya pada panggilan untuk melayani."

Ini di luar jangkauan akal/pikiran. Saya tidak dapat memahami jenis pemikiran seperti itu. Dan nampaknya itulah persyaratan yang harus dipenuhi oleh banyak utusan Injil.

Kapan mereka mengadakan inventarisasi mengenai sumber daya mereka? Kapankah mereka (atau orang lain) mengadakan evaluasi terhadap apa yang mereka punyai melalui kelahiran, latihan, anugerah Allah, atau pengalaman? Kita harus menyadari bahwa pengalaman merupakan bagian yang sangat penting dari sebuah paket untuk pelayanan.

Perhatikan lebih jauh dalam 1 Samuel 17: 38-39, "Lalu Saul mengenakan baju perangnya kepada Daud, ditaruhnya ketopong tembaga di kepalanya dan dikenakannya baju zirah kepadanya. Lalu Daud mengikatkan pedangnya di luar baju perangnya, kemudian ia berikhtiar berjalan, sebab belum pernah dicobanya."

Mengapa Daud gagal dalam hal ini? "Maka berkatalah Daud kepada Saul, aku tidak dapat berjalan dengan memakai ini, sebab belum pernah aku mencobanya. Kemudian ia menanggalkannya." Daud tidak mau berperang dengan perlengkapan dan senjata yang dia belum berpengalaman dalam mempergunakannya.

Paulus mengetengahkan syarat-syarat untuk kepemimpinan. Dia mengatakan, "Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis. Mereka juga harus DIUJI dahulu!" (1 Tim 3:6,10). Dengan perkataan lain, perlu ada beberapa skreening/ujian, dimana latarbelakang dan pengalamannya harus dibuktikan lebih dulu sebelum masuk ke dalam kepemimpinan.

d. Pentingnya Pengalaman Iman Masa Lalu. Jika saudara membuat sebuah tantangan iman, maka hal tersebut harus didasarkan atas sejarah keberhasilan iman masa lalu. Kembali pada contoh Daud sekali lagi: pertemuannya dengan Goliat tidaklah hanya keberadaannya sebagai seorang anak gembala, dengan iman sebagai satu-satunya senjata, maju berperang menghadapi raksasa yang kuat.

Daud mempunyai latar belakang pengalaman sebelum dengan iman melakukan penaklukan. Sebagaimana yang dikemukakan pada Saul, "Singa dan beruang datang menerkam domba-domba saya dan saya mengusir mereka, saya lawan mereka dan saya menang - hal yang sama akan saya lakukan, sehubungan dengan si mulut besar dari Filistin ini" (terjemahan bebas).

Singkatnya adalah, tindakan-tindakan saudara sekarang ini harus searah dengan sejarah pencapaian iman saudara.

Kadang-kadang saya melihat pendeta-pendeta dengan jemaatnya yang terdiri dari sekitar tiga ratus orang, mengadakan program untuk membangun sebuah balai pertemuan yang dapat memuat sebanyak tiga ribu orang. Mereka menyombongkan diri, "Saudara, Allah memberi visi kepada saya!"

Jika saudara merencanakan untuk membuat lompatan dari 300 ke 3000, saudara dapat saja mempunyai visi, tetapi dapat dipastikan bahwa saudara tidak mempunyai cukup hikmat. Alkitab mengatakan bahwa kita bergerak, "dari iman kepada iman, dari kemuliaan kepada kemuliaan." Hal itu berarti bahwa kita harus melangkah mulai dari langkah-langkah yang kecil yang dapat kita lakukan dan laksanakan, dan atasi.

Pada akhirnya saudara mungkin dapat mencapai jumlah anggota sebanyak 3000 orang tetapi saudara akan lebih berhasil dalam sasaran itu jika saudara bergerak berdasarkan perencanaan yang tertib dan teratur, "langkah demi langkah, baris demi baris."

Jika saudara mempunyai tiga puluh anggota, pertama-tama dirikanlah bangunan yang cukup untuk menampung enam puluh orang. Pada titik di mana saudara sudah dapat mencapai sekitar 80% dari sasaran saudara, mulailah membuat rencana berikutnya. Misalnya, jika saudara sudah mencapai 48 dari sasaran saudara yang 60, mulailah membangun untuk 300, dan demikian seterusnya sampai jumlah 3000. Jika saudara mengijinkan waktu yang cukup, maka saudara akan memiliki sasaran 3000 yang saudara capai di dalam langkah iman yang progresif.

Kita tidak mulai dari tanpa pencapaian sesuatu lalu mencapai secara total dalam satu kali peperangan. Kita melakukannya dalam urutan langkah-langkah iman. Jika saudara baru mulai melangkah dalam urutan langkah-langkah iman, tidak akan selalu tersedia uang untuk langkah-langkah berikutnya. Tetapi, jika saudara sudah pernah mengalami kemenangan iman sebelumnya dan sudah pernah beriman kepada Allah untuk mencukupi semua kebutuhan dan melihat sendiri bagaimana Dia bekerja untuk menggenapi janji-janjiNya, maka saudara mempunyai "iman yang sebenarnya" dan sumber daya itu pun akan datang.

Jika Allah sudah memberikan kepada saudara kepemimpinan dan kredibilitas yang teruji di dalam perencanaan saudara, maka jemaat akan memberikan dukungan keuangan untuk mendukung visi saudara. Iman penaklukan yang baru, bertumbuh atas dasar apa yang sudah pernah dilakukan sebelumnya. Jika saudara memiliki pengalaman, saudara tahu bahwa Allah akan campur-tangan dan saudara akan melihat lebih banyak mujizat daripada yang pernah saudara lihat sebelumnya di dalam kehidupan saudara.

5. Penutup

Keempat hal inilah: kelahiran, latihan, anugerah (kasih-karunia) dan pengalaman yang membentuk dasar yang diatasnya masa depan saudara didirikan. Jika saudara sudah mengadakan inventarisasi sehubungan dengan hal itu, maka saudara sudah siap untuk menghadapi masa depan dan menjalani tantangan serta kesempatan-kesempatan. (Lihat diagram pada bagian awal dari artikel ini).

Sekarang saya menantang saudara, jika saudara belum pernah mengadakan inventarisasi sehubungan dengan kehidupan saudara, sebagaimana sudah saya kemukakan secara garis besarnya, berlututlah sekarang juga untuk berdoa. Adakan waktu untuk memandang Tuhan, dan cobalah menuliskan inventarisasi dari kehidupan saudara.

Jangan menjadi introspektif, jangan menjadi patah semangat sehubungan dengan apa yang saudara lihat dalam hal bakat, temperamen, ataupun inteligensi (kecerdasan). Latihan saudara mungkin lemah, tetapi pandanglah pada anugerah Allah. Itu merupakan imbangan besar sehubungan dengan kelemahan dan kekurangan saudara.

Jika anugerah (kasih karunia) Allah belum pernah dikembangkan di dalam kehidupan saudara, atau bilamana belum ada dasar pengalaman, maka tundalah terlebih dahulu tindakan saudara. Tunda dulu sasaran-sasaran dan rencana-rencana saudara sampai saudara mencari Tuhan sungguh-sungguh di dalam doa, dan menerima pemberian anugerah Allah dan beberapa pengalaman untuk memperkuatnya. Bekerja samalah dengan pemimpin-pemimpin yang berhasil selama dua atau tiga tahun. Dapatkanlah beberapa pengalaman.

Saudara akan mendapatkan bahwa dengan mengadakan waktu secara sabar di dalam mengadakan inventarisasi sehubungan dengan iman saudara, maka saudara akan dipimpin ke arah mana saudara siap untuk melangkah ke luar dengan tantangan yang segar, baru dan menyeluruh bagi Tuhan. Dan saudara akan dapat melakukan hal-hal dengan baik, yang tidak pernah saudara pikirkan sebelumnya bahwa saudara dapat melakukannya.

Bersamalah dengan saya di dalam doa, dengan menyatukan hati kita bersama.

Tuhan Yesus, saya percaya bahwa sesudah setiap orang dengan tegas dan mantap mengadakan inventarisasi di dalam kehidupannya, dia akan dapat berkata bersama-sama dengan rasul Paulus, "aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, karena anugerah (kasih karunia) Allah."

Tuhan, saya berdoa agar kami diilhami untuk pergi dan bekerja lebih giat lagi dan secara sepenuh mencurahkan kehidupan kami agar kerajaanMu datang, kehendakMu yang jadi di bumi maupun di Sorga.

Tuhan lepaskanlah kami dari berpikir terlalu tinggi dan dari ambisi manusia, serta inisiatif yang tidak searah dengan keTuhananMu. Kiranya pengertian atas maksud dan tujuanMu terhadap kehidupan kami dinyatakan kepada kami oleh RohMu.

Bapa tolonglah kami, itulah doa kami, agar kami lebih sepenuh dan efektif di dalam melayaniMu dalam hari-hari yang penuh dengan kesempatan yang mulia ini. Kami naikkan pujian dan syukur, karena semuanya ini kami minta dalam nama Yesus yang tiada taranya. Amin !

Bab 2
Visi : Kunci Untuk Suatu Pencapaian

Pendahuluan

Sekarang kita diperhadapkan dengan suatu persimpangan jalan yang cukup kritis di dalam studi kita mengenai prinsip-prinsip pencapaian. Kita sudah menguraikan dan menguji faktor-faktor penting dari masa lalu kita dan sekarang kita siap untuk mulai meraih masa depan dan menjadikannya milik kita.

A. Mulai Dengan Visi

Perhatikan sejenak diagram dalam artikel ini. Diagram itu berbentuk ketajaman anak panah yang mengarah ke depan. Diagram itu menunjuk pada masa depan.

Saya menyebutnya sebagai "anak panah untuk mencapai sasaran" karena ada langkah-langkah yang melaluinya pencapaian itu sampai ke dalam kehidupan seorang pemimpin Kristen. Semua pencapaian, semua sasaran, semua program - segala sesuatu yang saudara mau kerjakan - harus mulai dengan anak-anak panah penunjuk yang saudara dapat lihat dalam diagram. Segala sesuatunya harus mulai dengan VISI.

1. Tanpa Visi

Agar dapat sungguh-sungguh mengerti apa yang saya kemukakan pada waktu saya berbicara mengenai visi, adalah sangat berguna untuk mendikusikan apa yang terjadi bila tidak ada visi. Amsal 29:18 sangat dikenal di kalangan para utusan Injil: "Dimana tidak ada visi binasalah rakyat" (dalam terjemahan bahasa Indonesia: "bila tidak ada wahyu menjadi liarlah rakyat").

Ayat tersebut secara umum tidak dapat dimengerti dengan begitu saja. Visi yang dimaksudkan oleh penulis Amsal adalah berbicara bukan hanya mengenai visi untuk memenangkan dunia bagi Tuhan Yesus, meskipun saya tidak menyalahkan pendapat seperti itu. Penulis Amsal berbicara mengenai visi nubuat. Dimana tidak ada visi nubuat, binasalah rakyat.

a. Orang-orang Tinggal dengan Seenaknya. Terjemahan lain mengatakan, "Bila tidak ada visi menjadi liarlah rakyat," artinya, tidak terkendali, tidak dapat diatur oleh hukum; mereka menerapkan suatu gaya hidup yang tidak punya arah/ tujuan. Itulah yang akan terjadi bilamana tidak ada visi nubuat."

Sebagai contoh : selama bertahun-tahun negara saya sendiri (USA) sudah kehilangan visi dan tujuan. Bangsa ini sudah bagaikan kapal tanpa kemudi. Dan sebagai akibatnya, kami hidup liar. Kami terombang-ambing tak menentu menghadapi pantai yang penuh bahaya.

Ketika saya masih anak-anak, ada pengertian mengenai visi yang dibagikan kepada kami di dalam sekolah kami, pengertian mengenai arah tujuan baik untuk pribadi maupun bangsa.

Dewasa ini, kalau kami berbicara mengenai menularkan visi tersebut kepada generasi muda, banyak di kalangan pendidik yang menuduh bahwa kami terlalu fanatik.

Dan ketika kami sudah jadi pemuda, kami mengajarkan pengertian tentang tujuan dan arah kepada adik-adik kami. Kami memberi hormat kepada bendera dengan penuh kebanggaan setiap hari, kami menghormati dan menghargai pendiri bangsa kami, dan kami menyadari bahwa kami adalah satu bangsa yang dilahirkan untuk menjadi terang bagi bangsa lain.

Sebuah tulisan di patung kemerdekaan kami berbunyi, "Berikanlah kepada kami masyarakatmu yang letih, miskin dan terhimpit yang rindu untuk menghirup kebebasan...."

Rasanya belum terlalu lama sejak kami bertindak seakan negara kami sebagai pelabuhan kemerdekaan. Sekarang kami hidup dengan mengabaikan norma-norma hukum.

2. Perlunya Visi yang Jelas

Berasal dari latar belakang di mana kita berpikir dalam pandangan-pandangan teologia yang abstrak, kita kaum pengkhotbah sering memiliki banyak konsep yang tidak logis. Kita menyatakan diri kita dengan mempergunakan istilah-istilah yang kabur, yang mempunyai definisi, arti dan penafsiran yang luas.

Bilamana seseorang bertanya apakah sasaran kita dalam kehidupan, maka jawabnya adalah, "Sasaran saya adalah untuk memuliakan Allah." Tidakkah hal ini kedengarannya rohani? Bukankah hal itu kedengarannya indah? Berapa banyak dari saudara yang menyadari bahwa hal itu sebenarnya merupakan pernyataan yang kabur, terutama bagi orang kebanyakan?

Respon dari orang kebanyakan terhadap jawaban seperti itu adalah, "Apa yang sedang dibicarakan oleh badut itu?"

Jika saya mengajukan pertanyaan kepada saudara sebagai pembaca, apa artinya "memuliakan Allah," barangkali saya akan mendapatkan banyak jawaban yang sama seperti itu. Tidak ada hal yang pasti dalam pernyataan seperti itu.

a. Dapatkah hal tersebut dihubungkan ? Ijinkan saya menanyakan hal ini : Menurut saudara, apakah visi yang tidak dapat dikomunikasikan kepada orang lain dapat mencapai sesuatu?

Dengan komputer saya, saya diberitahu bahwa saya perlu membersihkan gudang intelektual dari pikiran saya. Karena mengabaikannya, maka gudang pikiran saya sudah dipenuhi dengan debu dan sarang laba-laba -- pernyataan-pernyataan rohani yang seperti klise/terus diulang-ulang yang sudah sangat biasa diucapkan oleh kalangan umat beragama tetapi tanpa dimengerti sama sekali maksudnya.

Apapun panggilan Tuhan kepada saudara, pertama-tama saudara harus menentukan visi saudara dalam kata-kata yang jelas dan dimengerti, dan bukannya dalam ungkapan-ungkapan keagamaan yang asal saja diucapkan dan yang itu-itu juga. Saudara harus mulai dengan definisi visi yang jelas.

b. Mengetahui Kehendak Allah. Hal yang sama berlaku juga untuk pelayanan dan kehidupan saudara. Titik tolak pertama dalam diagram saya adalah visi. Jika saudara tidak mempunyai definisi yang jelas tentang visi, saudara akan mengalami apa yang sering diucapkan oleh kiasan, "Berbahagialah dia yang sehari-harinya berputar-putar dalam lingkaran yang sama, karena dia akan disebut sebagai Roda Besar."

Saudara akan mudah diombang-ambingkan oleh angin, karena saudara tidak punya kompas, tidak punya peta untuk petunjuk jalan saudara. Saudara akan menjadi sama seperti ajaran fatalisme yang melihat dirinya bagaikan daun di musim gugur yang dilemparkan ke dalam sungai kehidupan, terombang-ambing tanpa tujuan/arah, ke mana saja aliran sungai membawa pergi. Terlalu banyak orang Kristen yang menjalani kehidupan seperti itu.

Tetapi Allah tidak merencanakan demikian. Dia menentukan, sesuai dengan maksudNya, agar kita menjalani kehidupan ini dengan arah, dengan visi, tahu ke mana kita pergi atau menuju, memenangkan perlombaan, berketetapan untuk mendapatkan pahala. Kita mempunyai sasaran, tujuan, visi, dan kearah itulah kita senan tiasa bergerak. Tetapi bukanlah cara Allah untuk memaksakan visi itu kepada siapapun. "Pintalah, maka akan diberikan kepadamu," demikian kata Yesus.

B. TOKOH TOKOH ALKITAB YANG MEMPUNYAI VISI

Marilah kita meneliti bersama beberapa contoh dalam Alkitab mengenai orang-orang yang memiliki visi.

1. Yusuf

Kejadian 37:5-11 mengisahkan tentang visi Yusuf. Pada usia tujuh belas tahun, Yusuf menerima visi mengenai kehidupannya melalui dua mimpi yang Tuhan berikan kepadanya. Dinyatakan dengan jelas: bahwa dia akan menjadi penguasa di antara manusia. Saudara-saudaranya, ayahnya, ibunya, pada suatu hari akan tunduk kepadanya dan melayani dia. Itulah visi Allah untuk Yusuf.

Ketika dia memberitahukan visinya itu, saudara semua tahu dengan sikap bagaimana orang tua dan saudara-saudaranya menanggapinya.

Kejadian 37:10 mengatakan, "Maka ia ditegur oleh ayahnya, `Mimpi apa mimpimu itu'?"

Sebelum di dalam Kejadian 37:8, tanggapan saudara-saudaranya terhadap visi Yusuf adalah jelas dinyatakan : "makin bencilah mereka kepadanya karena mimpinya dan karena perkataannya itu."

Kenyataannya mereka kemudian merencanakan untuk membunuh dia tetapi pada akhirnya menjual dia menjadi budak dalam usaha mereka untuk menyingkirkan saudara mereka yang dianggapnya aneh dengan visinya itu.

Berapa banyak dari saudara yang percaya bahwa sebuah visi akan membawa saudara dihormati dan mendapatkan respek/peng hargaan seketika itu juga? Percayalah pada saya, hal itu tidak akan terjadi.

Sebagaimana kisah Yusuf menunjukkannya, sebuah visi justru dapat membawa saudara ke dalam kesulitan yang dalam. Memang kisah Yusuf berakhir dengan menyenangkan, tetapi ada sesuatu yang layak untuk dipelajari, satu pola yang perlu mendapat perhatian kita. Visi dari Tuhan, selalu diuji dengan ujian-ujian dan penderitaan.

2. Musa

Musa sebagaimana halnya dengan Yusuf, mempunyai sebuah visi. Ada sebuah bagian yang menarik dalam Kisah Para Rasul 7:22-25 yang saya mau bagikan kepada saudara:

"Dan Musa dididik dalam segala hikmat orang Mesir, dan ia berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya. Pada waktu itu dia berumur empat puluh tahun, timbullah keinginan dalam hatinya untuk mengunjungi saudara-saudaranya yaitu orang-orang Israel."

"Ketika itu ia melihat seorang dianiaya oleh orang Mesir, lalu ia menolong dan membela orang itu dengan membunuh orang Mesir itu. Pada sangkanya saudara-saudaranya akan mengerti, bahwa Allah memakai dia untuk menyelamatkan mereka, tetapi mereka tidak mengerti."

Allah sudah memberikan visi kepada Musa, sebuah visi bahwa dia akan membebaskan bangsanya. Musa mengira, menduga, dan menganggap, saudara-saudaranya akan memahami. Tetapi apakah mereka mengerti? Apakah mereka dapat mengerti lebih baik dari pada saudara-saudara Yusuf? Tidak, mereka tidak mengerti! bahkan dengan jelas Alkitab mengatakan, "tetapi mereka tidak mengerti."

"Pada keesokan harinya ia muncul pula ketika dua orang Israel sedang berkelahi, lalu ia berusaha mendamaikan mereka, katanya, `Saudara-saudara! Bukankah kamu ini bersaudara? Mengapakah kamu saling menganiaya?" Tetapi orang yang berbuat salah kepada temannya itu menolak Musa dan berkata: `Siapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim atas kami? Apakah engkau bermaksud membunuh aku, sama seperti kemarin engkau membunuh orang Mesir itu?" (Kis 7:26-29 niv).

Fakta bahwa saudara-saudaranya gagal untuk memahami bukan berarti bahwa visi itu tidak berasal dari Allah, demikian pula halnya dalam kasus Yusuf. Visi mereka itu berasal dari Allah. Tetapi kedua-duanya harus bertumbuh melalui masa-masa pengujian.

3. Abraham

Contoh pengujian yang paling sulit dalam Perjanjian Lama adalah yang berkaitan dengan visi Abraham. Allah menyuruh dia untuk mengorbankan anak tunggalnya yaitu Ishak, suatu perintah yang nampaknya berlawanan dengan visi yang Allah sudah pernah berikan kepadanya. Dalam saat-saat tak berpengharapan itu, dengan Ishak di atas mezbah, Allah melangkah masuk dan membangkitkan kembali visi Abraham. Dia mengembalikan Ishak, dan Allah menggenapi perjanjianNya dengan Abraham.

4. Paulus

Paulus memperoleh visi. Dia memberitahu Raja Agripa, "Sebab itu ya raja Agripa, kepada penglihatan yang dari sorga itu tidak pernah aku tidak taat" (Kis 26:19).

Visi Paulus dikomunikasikan kepadanya pada waktu dia bertobat, dan kehidupannya sebagian besar diarahkan oleh visi tersebut. Saya katakan "sebagian besar" diarahkan oleh visi itu, karena ada perkecualian-perkecualian, dan yang terpenting hal itu telah memberikan pelajaran yang sangat penting.

Sekarang, kita masuk ke dalam satu pokok yang nampaknya berlawanan. Kendatipun kita cenderung untuk mengistimewakan tokoh-tokoh dalam Alkitab, Paulus itu sama halnya seperti kita, manusia yang dihadapkan dengan masalah seperti yang menimpa saudara maupun saya. Dia bukanlah manusia super atau orang kudus super. Dia mempunyai segi kemanusiaan juga sebagaimana halnya dengan kita.

Karena dia mempunyai kerinduan besar untuk menyaksikan orang-orang Yahudi bertobat, dia gagal untuk senantiasa berada di dalam lingkaran visi Allah untuknya. Kegagalannya untuk secara jelas membatasi visi Allah di dalam kehidupan dan pelayanannya telah membawanya ke dalam berbagai macam kesulitan.

Saudara mengatakan Paulus tidak pernah menghadapi kesulitan? Menurut saya, dia banyak menghadapi kesulitan.

Kisah Para Rasul 9:15 merupakan satu deklarasi dari sebuah visi. Sesudah Paulus bertobat, Tuhan berfirman, "Orang ini adalah alat pilihan bagiKu untuk memberitakan namaKu kepada bangsa-bangsa lain."

Di dalam Galatia 2:7, Paulus menulis bahwa Injil untuk orang-orang yang tidak bersunat (bangsa-bangsa bukan Yahudi) dipercayakan kepadanya. Dia ditetapkan untuk menjadi rasul bagi orang-orang bukan Yahudi, dan ia tahu dengan jelas hal itu. Paulus tahu jelas apa visi Allah untuk kehidupannya.

Paulus dipanggil untuk melayani bangsa-bangsa lain, tetapi dia dikuasai oleh konsep pemikiran yang lain. Berapa banyak dari saudara mengetahui hal apa yang menguasai dirinya selain visi Allah tersebut ? Yang menjadi kendala bagi Paulus adalah orang-orang sebangsanya sendiri, yaitu orang-orang Yahudi. Di dalam Roma 9:3, 4 dia menulis, "Saya rela diri saya terlaknat bagi Kristus, agar saya dapat menyebabkan sebanyak-banyaknya bangsaku sendiri (orang-orang Yahudi) diselamatkan" (Terjemahan bebas).

a. Penyimpangan dari Visi. Terbukti bahwa Paulus tidak merasa puas untuk terus berjalan dengan visi yang Allah sudah berikan kepadanya untuk memenangkan bangsa-bangsa lain bagi Yesus. Karena itu di dalam hidup Paulus kita jumpai adanya sikap ataupun penampilan yang tidak biasanya.

Paulus berkata, "Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem" (Kis 20:22). Dalam hal ini dia sedang berada di Miletus, berbicara pada tua-tua dari Efesus, menyampaikan nasehat-nasehat terakhir sebelum dia pergi meninggalkan mereka.

Mengapa Paulus pergi ke Yerusalem? Dia pergi karena dia ingin memenangkan orang-orang Yahudi bagi Kristus Yesus. Dia ingin bersaksi di hadapan orang-orang Yahudi, dan karena itu dia berkata, "Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi .... dan tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ, selain daripada yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku."

Mengapa Roh Kudus memberikan berita yang sama kepadanya di setiap kota ? Apakah hal itu berarti bahwa Roh Kudus ingin menyiksa dia dengan belenggu dan aniaya, penjara dan rantai? Tidak ! Kalau Roh Kudus mulai beraksi sedemikian di dalam kehidupan saudara, maka saudara akan mempertimbangkan lagi arah dan tindakan saudara. Saudara akan mempertimbangkan lagi tindakan, tujuan, dan arah saudara, agar saudara terhindar dari penderitaan yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Ke mana saja Paulus pergi, Roh Kudus memberikan kesaksianNya, mengatakan bahwa penjara dan sengsara menantikan dia. Tetapi, Paulus yang sudah tua namun baik hati itu, tetap tak tergoncangkan oleh hal itu. Dia tidak mau merubah pendiriannya. Dia tetap pergi ke Yerusalem.

Paulus sudah menempatkan dirinya dalam suatu perjalanan yang tidak segaris dengan kehendak Allah yang sempurna dan visiNya untuk kehidupannya, "Ketika tiba di Tirus, Paulus tinggal di situ selama tujuh hari dan bertemu dengan murid-murid, yang menasihati dia melalui ilham Roh Kudus, bahwa tidak seharusnya dia pergi ke Yerusalem" (Kis 21:4). Roh Kudus berbicara kepada Paulus melalui saudara-saudara ini. "JANGAN PERGI ke Yerusalem." Dan, apa yang dia lakukan? Paulus tetap saja pergi ke Yerusalem!

Paulus selanjutnya pergi ke Kaisaria, dan seorang nabi yang bernama Agabus datang menjumpai dia. Sekarang, Tuhan mengutus Agabus untuk membawa Paulus kembali pada jalur kehendak Allah. Agabus mengambil ikat pinggang Paulus dan mengikat kaki serta tangannya, memperagakan nubuatnya mengenai Paulus dan berkata, "Demikianlah kata Roh Kudus : beginilah orang yang empunya ikat pinggang ini akan diikat oleh orang-orang Yahudi di Yerusalem dan diserahkan ke dalam tangan bangsa-bangsa lain" (Kis 21:11). Diserahkan kepada siapa? Bangsa-bangsa lain!

Paulus ingin memenangkan orang-orang Yahudi bagi Yesus, tetapi visi yang telah Allah tetapkan untuk kehidupan Paulus akan digenapi, entah dia menyukainya atau tidak. Jika dia terus pergi ke Yerusalem, mereka akan mengikat kaki dan tangannya dan menyerahkannya kepada bangsa-bangsa lain. (Prioritas utama dari panggilan dan visinya).

b. Pilihan Paulus. Paulus dapat menentukan pilihannya. Dia dapat pergi kepada bangsa-bangsa lain sebagai seorang yang bebas. Atau, dia dapat mengesampingkan peringatan-peringatan Tuhan yang disampaikan melalui nabi, melalui saudara-saudaranya seiman di Tirus dan Kaisaria, dan dia dapat pergi kepada bangsa-bangsa lain tetapi dengan tangan dan kaki yang terikat.

Saudara tahu mana yang dia pilih ? Paulus memilih pergi ke Yerusalem!

Dia sedang berdoa di Bait Allah dan masuk ke dalam penyembahan yang dalam, diliputi oleh suasana hadirat Allah. Dia melihat dan mendengar Yesus berbicara kepadanya: "Lekaslah, segeralah tinggalkan Yerusalem, sebab mereka tidak akan menerima kesaksianmu tentang Aku" (Kis 22:18).

Lalu apa yang Paulus kerjakan? Dia mulai berdebat dengan Allah. Dia malah berkata, "Tuhan, mereka tahu bahwa akulah yang pergi dari rumah ibadat yang satu ke rumah ibadat yang lain dan yang memasukkan mereka yang percaya kepadaMu ke dalam penjara dan menyesah mereka."

"Dan ketika darah Stefanus saksiMu itu, ditumpahkan, aku ada disitu dan menyetujui perbuatan itu dan aku menjaga pakaian mereka yang membunuhnya. Tetapi kata Tuhan (Yesus) kepadaku : "Pergilah, sebab Aku akan mengutus engkau jauh dari sini kepada bangsa-bangsa lain."

Adakah Tuhan memberitahu Paulus bahwa Dia akan mengutusnya kepada orang-orang Yahudi ? Apakah misi Paulus untuk mengorganisir orang-orang Yahudi, dan mengesampingkan semua peringatan yang Tuhan sendiri sudah sampaikan kepada Paulus?

Saudara dapat merasakan seolah-olah Tuhan menyerukan di telinga Paulus: "Bangsa-bangsa lain untuk Yesus, Paulus ! Bangsa-bangsa lain untuk Yesus !"

Tahukah saudara, bagaimana Paulus meninggalkan Yerusalem ? Dalam keadaan terikat!

Dibawa kepada siapa dia pada akhirnya ?

Kepada bangsa-bangsa lain !

Saya percaya Paulus akan dapat menikmati kebebasan dan menikmati kehidupan lebih banyak dan leluasa jika saja dia berada dalam visi Allah terhadap dirinya, jika dia berkonsentrasi untuk melayani bangsa-bangsa lain. Dia sangat mengasihi orang-orang Yahudi, orang-orang sebangsanya, dan rindu sekali untuk melihat mereka diselamatkan. Saya bisa saja salah, tetapi saya kira Paulus memaksakan Allah untuk pada akhirnya membiarkan dia pergi ke Yerusalem daripada mentaati kehendakNya yang sempurna.

5. Memelihara Visi

Visi itu sungguh sangat penting, dan saudara harus berpegang erat pada visi yang Allah sudah berikan kepada saudara.

Kita perlu belajar dari contoh-contoh Alkitab, mengenai orang-orang yang memiliki visi, seperti Abraham, Yusuf, Musa dan Paulus.

Jika satu organisasi, institusi atau pribadi melangkah jauh dari visi yang Allah berikan kepada mereka, maka mereka akan mengalami segala jenis persoalan seperti yang dialami Paulus. Tuhan bukanlah manusia yang harus bertobat. Dia juga bukan anak manusia yang dapat berdusta. Jika Dia mengatakan sesuatu, Dia berkehendak untuk diikuti, baik sampai pada titik komanya ! Dapatkah saudara berkata "Amin" terhadap hal itu?

VisiNya dapat saja digenapi, sebagaimana halnya dalam kasus Paulus, tidak peduli penyimpangannya dari visi itu. Pilihannya bisa terjadi, entahkah kita mentaati dalam ketaatan dan tetap berada dalam keleluasaan, atau mengambil yang terbaik kedua (yang kurang baik) dan berakhir dengan terikat dan tertindas. Pilihan ada pada kita. Apakah saudara akan memilih apapun konsekuensinya dengan memaksa Allah untuk mengijinkan saudara melangkah menurut saran saudara? Atau menikmati sukacita dari kehendakNya yang sempurna? Peliharalah visi yang telah diberikan kepada saudara dan hindarilah kesulitan (akibat kesalahan sendiri). Setialah dan bersungguh-sungguhlah pada visi Allah untuk kehidupan saudara, maka saudara akan sedikit mengalami hajaran.

C. VISI YANG BENAR

Kita akan berhenti sejenak di sini dan akan mengupas beberapa pokok tertentu sehubungan dengan visi yang benar. Sekali lagi, saya bermaksud menekankan bahwa visi itu sungguh sangat penting. Tanpa adanya visi, kepemimpinan tidak akan mencapai sesuatu. Tanpa visi, liar dan binasalah rakyat, orang-orang kesana-kemari tanpa arah/tujuan, orang-orang hidup semau-maunya.

1. Visi itu Inisiatifnya dari Allah

PERTAMA, visi yang benar berasal dari Allah, dengan satu tujuan yang Dia nyatakan kepada saudara ke dalam hati saudara, disampaikan pada roh saudara. Visi itu tidak selalu datang melalui mimpi, sebagaimana yang dialami Yusuf. Tidak juga datang dalam wujud cahaya yang membutakan di jalan menuju Damsyik sebagaimana yang dialami oleh Paulus.

Tidak juga datang kepada saudara sebagaimana yang dialami Musa. (Alkitab tidak memberitahu bagaimana Musa mengetahui sejak permulaan bahwa dia ditetapkan sebagai pelepas bangsanya, tetapi entah bagaimana dia memahami hal itu !) Visinya dibaharui di semak duri yang menyala. Empat puluh tahun sebelumnya dia mencoba untuk menggenapi visi tersebut di dalam kekuatannya sendiri dan dia gagal.

Visi itu bisa juga datang seperti dalam kehidupan saya dan di dalam kehidupan banyak orang lain. Selama bertahun-tahun, Allah secara bertahap menanamkan visi itu secara mendalam ke dalam roh saya, memberikan kepada saya keyakinan yang tidak dapat dihindari lagi, mengenai beberapa hal yang akan dilaksanakan melalui kehidupan saya. Saya tahu kehidupan saya harus diabdikan pada pelayan-pelayan tertentu dan pelayan-pelayan ini harus dilahirkan dari visi tersebut.

Entah dengan cara apapun visi saudara itu datang, visi itu harus berasal dari Allah.

2. Visi Itu Akan Diuji

KEDUA, visi akan diuji melalui banyak masalah/persoalan, melalui banyak tantangan dan hal-hal yang tidak menyenangkan lainnya. Pada umumnya visi itu akan membawa saudara ke dalam konflik dengan orang-orang lain yang berusaha agar saudara ke luar dari visi tersebut dan mengatakan bahwa visi saudara itu bukan dari Allah. Bahkan beberapa tindakan tertentu akan ditujukan kepada saudara, sementara saudara bergerak ke dalam visi yang Allah sudah berikan kepada saudara.

Itu merupakan bagian dari proses ujian Allah sehubungan dengan visi yang telah diberikan kepada saudara. Firman Tuhan selalu diuji. Selalu diuji, dan bagian dari proses pengujian adalah dengan diijinkannya oleh Tuhan timbulnya oposisi untuk melawan saudara, ketika saudara bergerak ke luar untuk mewujudkan visi tersebut.

3. Visi Itu Mempunyai Batas-batas

KETIGA, kita dapat berada dalam batas atau melangkah melampaui batas dari visi tersebut. Allah dapat memberikan kepada kita visi, tetapi kemudian kita dapat berjalan berlawanan dengan visi tersebut. Itulah "kebebasan kehendak". Jika kita melihat seseorang yang sungguh-sungguh menyerahkan diri kepada Kristus seperti Paulus sedang berjalan melampaui batas-batas dari visi Allah, kita perlu mengawasinya. Mengasihi Tuhan tidak menutup kemungkinan dari kesalahan-kesalahan kita sebagai akibat dari semangat kedagingan kita sendiri.

4. Mengerami Visi

KEEMPAT, jika seseorang telah menerima visi dari Tuhan - dan mengetahui hal itu dengan jelas - nampaknya ada dorongan kuat yang menggebu-gebu yang tidak dapat ditahan untuk segera melaksanakan visi tersebut, untuk melakukan segala sesuatunya dengan terburu-buru. Ketahuilah, kadang-kadang ada garis tipis yang memisahkan antara semangat untuk Tuhan dan ketidaksabaran, dan saya percaya kita perlu berjalan melalui garis tipis tersebut dengan hati- hati.

Yonggi Cho dari Korea mengatakan bahwa penyampaian visi itu bagaikan mengerami sebutir telur. Induk ayam harus mengerami dan memanasi telur itu sampai pada akhirnya menetas, ke luar menyatakan kehidupan.

Di dalam pengertian secara praktis, kata Yonggi Cho, cara yang kita pergunakan untuk mengerami visi tersebut adalah dengan melalui puasa, doa dan merenungkan, di mana kita dipanggil untuk membulatkan pikiran kita sehubungan dengan visi yang Allah sudah berikan kepada kita dan merefleksi pada penggenapan dan penyataannya sampai Allah menjelaskan perinciannya.

"Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air" (Kej 1:2). Kata "melayang-layang" di dalam bahasa Ibrani, arti harfiahnya adalah "mengerami". Allah mengeram di atas permukaan air.

Allah mempunyai visi untuk duniaNya, dan visi itu dinyatakan melalui Roh Allah yang mengerami kegelapan yang menutupi samudera raya. Dari kegelapan yang menutupi samudera raya itu, memancar ke luar sabda yang mengadakan penciptaan kembali yang memulihkan bumi, sehingga dapat dihuni oleh manusia.

Apakah saudara memiliki visi yang jelas ? Jika tidak, nantikanlah Tuhan, sampai Dia memberikan visi tersebut kepada saudara. Ijinkanlah Dia mengkomunikasikan. Visi itu akan menjadi anak panah, yang menunjuk pada tujuan Allah untuk kehidupan saudara. Kemudian, bilamana visi itu datang, "eramilah, pikir-pikirkanlah, pertimbangkanlah", izinkanlah visi itu muncul dalam kehidupan melalui pengeraman.

5. Tuliskanlah Visi Tersebut

"Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanya" (Hab 2:2).

Tuhan berkata, "Tuliskanlah visi (penglihatan) itu."

Tuliskanlah visi itu. Bagikanlah kepada orang lain. Orang ingin mengetahui apa visi saudara itu, dan sementara visi itu dikomunikasikan kepada orang lain, beberapa akan merasa terpanggil untuk bekerjasama dengan saudara. Saudara akan membentuk satu team, tentu saja saudara akan dapat mengerjakan banyak hal lebih dari pada yang dapat saudara kerjakan sendiri.

"Seorang yang mengatasi segala sesuatunya sendiri" tidak akan dapat melakukan banyak di dunia ini. Tetapi, seorang yang dapat mengorganisir orang lain untuk bekerjasama sehubungan dengan visi yang sama, seorang yang dapat membangun suatu team, dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bermanfaat untuk kerajaan Tuhan.

Alkitab berbicara mengenai seorang yang dapat memenangkan seribu dan dua orang yang dapat memenangkan sepuluh ribu. Sungguh suatu lonjakan yang luar biasa ! Bagaimana kalau tiga atau empat atau lima puluh semua bekerja bersama-sama dalam visi yang sama? Barangkali mereka dapat menerangkan jutaan dan memenangkan kemenangan yang besar di dalam nama Tuhan.

Sebuah visi yang dapat dikomunikasikan dengan jelas adalah hal yang sangat kritis, istimewa yang berkaitan dengan menggerakkan orang-orang dan uang untuk dapat mewujudkan tugas yang Tuhan ingin untuk dikerjakan.

Jika saudara dapat mengkomunikasikan dengan baik ke arah mana saudara menuju, banyak yang akan siap dan bersedia untuk menolong saudara mencapai sasaran itu. Sumber-sumber akan berdatangan. Masalahnya bukanlah uang, masalahnya adalah kepemimpinan yang tidak mengkomunikasikan visi dan sasaran.

Mengatasi masalah sehubungan dengan dukungan keuangan yang memadai mungkin merupakan persoalan yang lebih mudah di dalam kepemimpinan. Ada tersedia cukup banyak uang di dunia ini, daripada orang-orang yang mengetahui bagaimana mempergunakan uang tersebut. Jika saudara mulai mengkomunikasikan visi dan sasaran-sasaran, orang-orang akan berbaris, berbondong-bondong ingin menolong saudara dengan masalah keuangan dan hal-hal lainnya.

Masalah keuangan yang paling banyak dialami oleh para pendeta dan pemimpin Kristen lainnya muncul karena mereka tidak mengetahui ke arah mana mereka menuju.

Bukankah sesuatu yang sangat menarik, betapa banyak masalah timbul sebagai akibat dari tidak adanya visi ? Jika seorang pemimpin mulai kehilangan visi, orang-orang akan hidup semau-maunya.

Jika saudara kehilangan visi, atau tidak punya visi sama sekali, orang-orang tidak akan pernah peduli untuk memberikan dukungan kepada gereja ataupun kepada organisasi saudara. Saudara perlu untuk mengkomunikasikan sasaran dan arah saudara; juga sebuah rencana yang jelas, mengenai cara bagaimana saudara akan mencapai sasaran tersebut. Barulah saudara akan mendapatkan dukungan.

Saya terlalu sering mendengar omelan dari pemimpin-pemimpin yang tidak mengkomunikasikan visi. Mereka mengatakan bahwa jemaat mereka mengirimkan uang kepada orang atau organisasi-organisasi yang mempunyai pelayanan radio atau televisi, "gereja elektronik" sebagaimana yang mereka sebut. Dapatkah saudara terka mengapa? Sudah tentu saudara dapat.

"Pelayan-pelayan media" ini mengkomunikasikan visi, sasaran dan rencana-rencana mereka melalui "gereja elektronik". Mereka mempunyai visi, dan orang-orang menanggapi.

Saya beritahu kepada saudara, pemimpin-pemimpin gereja. "Orang-orang di dalam gereja saudara tidak akan mengirimkan uang mereka ke tempat lain, jika saudara mengkomunikasikan visi saudara kepada mereka. Mereka akan mendukung saudara. Jika saudara tidak tahu ke mana saudara pergi, dan anggota-anggota saudara tidak tahu arah tujuan saudara, mereka akan mengirimkan uang mereka kepada orang lain yang mereka tahu memiliki arah tujuan dan sasaran."

Namun demikian ada syarat-syarat untuk dapat membuka kelimpahan Allah guna pelayanan saudara, khususnya di dalam bidang dukungan keuangan. Kita dapat mengatakan bahwa hal itu "adalah terletak pada baris-baris terakhir" dari kalimat-kalimat di dalam kontrak yang akan kita tanda tangani. Jika kita kehilangan hal itu, saudara bisa saja mengkomunikasikan visi dan masih kehilangan dukungan keuangan.

Apakah persyaratan yang dimaksudkan dalam baris-baris terakhir pengkalimatan kontrak itu? Allah menuntut agar kita mempergunakan uang yang Dia sediakan dengan hikmat (bijaksana) dan kejujuran (ketulusan). Dia tidak akan menghargai penipuan. Dia tidak akan meneruskan untuk memberikan dukungan kepada pendeta atau pemimpin yang mempergunakan uang tanpa perhitungan atau hidup terlalu mewah.

Jika saudara adalah pria atau wanita yang jujur, jika saudara mempergunakan dana untuk sesuatu yang saudara katakan dibutuhkan dan tidak memboroskannya, Allah akan memperhatikan kebutuhan keuangan saudara. Allah memperhatikan seseorang yang jujur, yang memperhatikan etika dan benar di dalam menangani urusan-urusannya. Dia akan mencurahkan dengan berlimpah-limpah, sumber-sumber yang memadai untuk melaksanakan apa yang Dia panggil untuk saudara lakukan. Tetapi saudara harus mengkomunikasikan visi yang Allah telah berikan kepada saudara, dan hidup tidak mementingkan diri.

Mari Kita Berdoa

Tuhan Yesus, perjelaslah kepada kami hari ini visi yang Kau berikan untuk kami dan biarlah tidak satupun dari kami menyimpang dari apa yang telah Engkau Sendiri tetapkan. Kiranya kami merangkul visi itu dengan sukacita, dan hati yang sedia.

Berikan kami anugerahMu untuk menggenapinya, dan kami akan memberikan kepadaMu ucapan syukur di dalam nama Kristus. Amin !

Bab 3
Menetapkan Sasaran Dan Prioritas

A. Milikilah Visi Yang Lebih Luas

Saya kira hampir setiap kita di dalam pekerjaan Kristiani dapat mempergunakan visi yang diperluas. Kami pernah mengadakan pelayanan bersama dengan saudara-saudara dari suatu organisasi penginjilan. Beberapa dari staf mereka berkata kepada saya, "Bapak Ralph, salah satu dari masalah-masalah kami adalah bahwa pendiri kami selalu tampil dengan visi-visi yang luas dari Tuhan. Kemudian kami harus melaksanakannya!"

1. Tujuan Membantu untuk Memenuhi Visi

Allah menghendaki agar kita semua memiliki visi yang luas dan menyatakan visi itu di dalam cara-cara yang praktis dan dapat dilaksanakan. Kita melakukan hal ini dengan menetapkan sasaran-sasaran yang jelas dan tujuan-tujuan yang dapat kita laksanakan dan mengabdikan diri kita untuk itu, serta memobilisir orang-orang lain untuk menolong kita mencapai hal itu.

Apakah sasaran dari organisasi gereja saudara untuk jangka waktu lima tahun? Apa yang saudara harapkan akan terjadi dalam pekerjaan saudara di dalam enam bulan mendatang?

2. Tujuan Menentukan Iman

Apakah jangkauan iman saudara? Itulah yang dimaksudkan dengan sasaran-sasaran jangkauan atau pandangan iman yang melangkah jauh ke depan. Jangan batasi rencana saudara pada apa yang dapat dilakukan oleh orang-orang, tetapi pada apa yang Allah dapat kerjakan, dan ingin kerjakan. "Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!" (Mrk 9:23).

3. Tujuan Menentukan Tindakkan

Tujuan dari sasaran-sasaran adalah menentukan tindakan yang dapat mendatangkan hasil dalam wujud pencapaian-pencapaian tertentu. Sebuah visi dikatakan berhasil, bilamana dapat diwujudkan dalam tindakan. Untuk mewujudkan visi dalam tindakan, tindakan yang berhasil, menuntut adanya sasaran-sasaran yang diarahkan kepada Tuhan.

B. Kualitas Dari Tujuan

Untuk dapat memahami apakah "sasaran" itu, pertama-tama kita harus meninggalkan kata-kata/istilah agamawi dan memakai istilah bisnis saja. Banyak dari kita mempergunakan istilah-istilah agamawi sehingga seorang sahabat saya menyebutnya sebagai "sampah kata-kata rohani". Kita para pengkhotbah seringkali memakai istilah-istilah agamawi yang muluk-muluk untuk menutupi kekurangan kita dalam hal berpikir yang jelas, nyata dan konkrit.

"Apakah sasaran saudara ?"

"Oh, sasaran saya adalah memuliakan Allah."

"Bukan main !" Bagaimana saudara tahu kalau saudara sudah memuliakan Allah ? Tindakan-tindakan apa yang membuktikan bahwa saudara sungguh sudah memuliakan Allah ?"

"Oh, Dia akan mendatangkan damai sejahtera khusus di dalam hati saya."

Biasa kita dengar begitu, bukan ?

Tentu saja suatu hal yang indah untuk memuliakan Allah. Tetapi pada waktu saya berbicara mengenai sasaran-sasaran, saya tidak berbicara mengenai konsep-konsep yang kabur, subyektif, tidak dapat didefinisikan, tidak dapat dinilai.

Sasaran saudara barangkali mendirikan tiga gereja di tengah-tengah masyarakat dekat gereja induk saudara. Hal itu memenuhi kriteria untuk suatu sasaran. Bukan sesuatu yang abstrak sebab hal itu jelas. Saudara tahu bila hal itu telah terlaksana.

Marilah langsung saja pada pokok persoalannya.

Sasaran adalah :

  1. Dapat dilihat/dimengerti/dipahami (tidak abstrak)
  2. Dapat dikomunikasikan (bukan ide yang tidak tepat/tidak jelas arah tujuannya)
  3. Dapat dicapai (bukan impian kosong, atau lamunan melulu)
  4. Dapat diukur/dinilai (bukan ideal yang tidak dapat diukur/dihitung).
  5. Definitif/pasti (ada tindakan-tindakan yang akan saudara ambil).

Salah satu sasaran yang sangat berguna bagi saudara mengingat-ingat dengan baik lima kwalitas yang sangat diperlukan ini sekarang juga.

C. Sasaran Harus Didefinisikan

Definisi dari sasaran dengan lima kwalitas ini sangat penting untuk penggenapan visi saudara. Saudara harus menggenggam erat-erat hal ini.

Saya tidak dapat memberitahu saudara sasaran tindakan apa yang dapat menolong untuk menggenapi visi yang Allah sudah berikan kepada saudara.

Sekali Dia sudah memberikan visi kepada saudara, saudara harus datang kepada Tuhan dan berkata, "Tuhan, langkah-langkah praktis apa yang harus saya ambil untuk menjadikan visi ini dapat diwujudkan?"

Saya masih ingat beberapa tahun lalu, sekelompok kami duduk bersama dalam sebuah konperensi, untuk merencanakan sesuatu. Kami ingin memulai apa yang kami rasa Allah kehendaki untuk kami lakukan selama jangka waktu lima tahun.

Kami duduk bersama untuk melakukan "jangkauan-jangkauan iman," untuk datang kepada Allah dalam doa dan puasa, merencanakan hal-hal yang menurut pemikiran kami adalah tidak mungkin.

Di dalam jangka waktu lima tahun berikutnya, Allah menyebabkan hal-hal terjadi, yang jauh melampaui apa yang telah kami rencanakan. Dia selalu melebihi apa yang kita tetapkan untuk dilakukan di bawah pimpinanNya.

Lima tahun kemudian, kami sungguh terkesima ketika melihat kembali pada rencana kami lima tahun yang lalu, karena Allah sudah menyelesaikan "jauh lebih banyak daripada yang kita doakan dan pikirkan" (Ef 3:20).

Saya tahu Allah sangat menghargai "jangkauan iman", karena kami sudah melihat sendiri bahwa hal itu dapat terjadi. Kami sudah menyaksikan sendiri, apa yang terjadi manakala orang-orang duduk bersama dalam iman, dalam doa, dalam puasa, dan menghadapi masa depan tanpa rasa takut/kuatir, mengetahui bahwa Allah sedang mempersiapkan jalan bagi mereka.

Kita akan menguasai masa depan dengan "menjangkau melalui iman" apa yang Allah kehendaki untuk kita menjadi dan apa yang Allah kehendaki untuk kita kerjakan. Jika saudara masuk ke dalam latihan mengadakan jangkauan iman, Allah selalu mendatangkan hasil yang jauh lebih besar dari apa yang saudara rencanakan, jika rencana saudara itu sesuai dengan kehendak dan visi Allah.

D. HARUS MENETAPKAN PRIORITAS

Sampai di sini saudara perlu berhenti sejenak dan membuat daftar prioritas.

Di dalam salah satu dari perencanaan kami yang pertama, pertemuan-pertemuan untuk menentukan prioritas, kami mendapatkan bahwa kami terlibat dalam tidak kurang dari dua puluh tujuh pelayanan yang berbeda. Diperlukan orang-orang yang genius untuk mengatur sebanyak dua puluh tujuh waktu yang berbeda dan sasaran yang menghabiskan tenaga itu. Itu terlampau banyak. Tidak seorang pun yang sanggup melayani dalam terlalu banyak bidang seperti itu.

Persoalan dengan banyak organisasi adalah bahwa mereka berusaha melakukan terlalu banyak hal dengan hasil sedang-sedang saja, daripada beberapa hal tetapi dengan hasil yang istimewa di dalam mengerjakannya. Organisasi akan mengerjakan dengan lebih baik bilamana mengadakan spesialisasi dan memberikan waktu mereka pada beberapa sasaran yang direncanakan dan ditetapkan dengan baik.

1. Tiga Kategori

Di dalam kasus pelayanan kami yang banyak itu, kami menyeleksi dua puluh tujuh proyek itu ke dalam tiga kategori :

  1. Prioritas yang tertinggi
  2. Yang masih diteruskan
  3. Sasaran-sasaran yang dibatalkan

Inilah cara yang kami pakai. Kami mengajukan pertanyaan ini, "Jika kami harus membatalkan semuanya kecuali satu, apa yang tetap akan kami teruskan?" Pada waktu kami menjawab pertanyaan tersebut, maka yang terutama adalah yang mendapatkan prioritas tertinggi di dalam daftar urutan pelayanan kami. Kami mengulangi pertanyaan itu kembali dan bertanya, "Jika kami harus membatalkan semua yang ada dalam daftar ini, kecuali satu - apa yang harus tetap kami lakukan? Jawaban tersebut menjadi nomor dua dalam prioritas pelayanan kami.

Kami melanjutkan proses tersebut sampai keduapuluh tujuh pelayanan tersebut kami kelompokkan dalam kelompok sasaran tertinggi, terus dilanjutkan, atau dibatalkan.

Saya beritahu kepada saudara rahasianya: Sasaran-sasaran yang dibatalkan biasanya tidak lagi berfungsi atau tidak pernah diperhatikan sama sekali, karenanya jangan pikirkan lagi hal itu. Karena hal-hal itu dapat saja merupakan lembu kudus seseorang, sehingga saudara tidak ingin untuk membunuhnya. Saudara biarkan saja mereka mati pelan-pelan dengan cara tidak memberikan perhatian.

2. Proses Pemisahan

a. Menajamkan Anak Panah. Banyak organisasi mempunyai sejumlah besar lembu-lembu kudus yang seharusnya dikumpulkan ke dalam "kandang sasaran-sasaran yang dibatalkan/dihapuskan saja." Hal itu akan memberikan kepada mereka "status yang dikuduskan" dan tidak ada lagi yang akan menguatirkan mengenai mereka. Tetapi jika saudara menembak lembu tersebut, setiap orang akan merasa kecewa.

Dari dua puluh tujuh pokok, kami mempertahankan sebanyak enam yang kami masukkan dalam kategori tertinggi di dalam daftar kami. Kami berketetapan untuk mencapai yang paling atas dari enam prioritas tadi. Kami mempertimbangkan bahwa enam sasaran utama ini sebagai yang terbaik untuk dapat memenuhi atau menggenapi visi kami.

Kami menempatkan sekitar enam pokok lain ke dalam daftar urutan "terus dilanjutkan". Kami tidak membiarkan ke enam pokok tersebut mati, tetapi kami juga tidak mengadakan usaha atau waktu untuk peluasan dari keenam pokok berikutnya itu. Kami biarkan saja terus berjalan, kendatipun tersendat-sendat, dan kami mendorong untuk pertumbuhannya ataupun memberikan suntikan-suntikan kepada mereka.

Sisanya kami tempatkan pada status "dibatalkan", dan kebanyakan dari hal-hal itu pada akhirnya mati karena dibiarkan saja.

Jika kita berhasil memusatkan perhatian kita pada beberapa prioritas tertinggi dan sungguh-sungguh mengutamakan hal itu, kita dapat memberikan kepada prioritas-prioritas itu apa yang kita punyai. Saya sebutkan ini sebagai "menajamkan anak panah." Kemudian, perhatikan apa yang terjadi manakala saudara melepaskan anak panah tersebut. Anak panah itu akan melesat ke arah sasaran, dan menancap dalam-dalam.

Paulus mengatakan, "Satu hal ini yang kulakukan" (Flp 3:13). Kita dapat mengatakan, "Ketiga hal ini..... " atau "Keenam hal ini yang kita utamakan". Jika lebih dari itu, maka kita tidak akan mampu untuk mengerjakan dengan sebaik-baiknya. Mencoba untuk mencapai terlalu banyak prioritas pada waktu yang bersamaan, akan membawa pada keadaan sedang-sedang saja, bahkan hanya mencapai sedikit saja atau tidak mencapai apa-apa sama sekali.

Memprioritaskan adalah disiplin yang sangat penting. Kita harus mengerjakan hanya satu hal saja jika kita harus membatalkan yang lain-lain. Apakah satu hal yang akan terus kita pegang itu? Apakah pusat atau titik sentral dari visi yang Allah sudah berikan kepada kita itu? Tentukan apakah prioritas utamanya dan jadikan sebagai yang nomor satu di dalam daftar urutan saudara.

Kemudian tentukan prioritas kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Jika saudara memprioritaskan waktu saudara, jemaat dan uang saudara ke dalam sasaran-sasaran yang terbatas, saudara akan melihat kembali dalam beberapa tahun mendatang pencapaian/hasil yang sangat bermanfaat baik di dalam gereja maupun organisasi saudara.

3. Menentukan Iman

Sampai sekarang ini, kami berada di dalam proses jangkauan iman untuk lima tahun mendatang. Allah sudah membuka pintu-pintu kesempatan bagi kami secara luar biasa.

Di satu bangsa saja, kami menerima undangan untuk masuk dan melayani ribuan pemimpin gereja. Hasilnya sungguh mengejutkan! Ribuan pemimpin gereja yang sedikit sekali mengetahui atau bahkan tidak tahu sama sekali mengenai kuasa dan pekerjaan Roh Kudus, akan mengetahuinya segera sesudah mereka menghadiri Seminar Pembaharuan Rohani yang kami adakan.

Kesempatan di dalam satu bangsa tersebut akan menuntut lebih dari ratusan juta rupiah, waktu dan usaha bertahun-tahun dari suatu team pelayanan yang kuat.

Kami berharap kepada Tuhan dan mohon kepadaNya untuk memberikan kepada kami iman untuk memenuhi kesempatan- kesempatan yang sekarang ini berdatangan pada kami dari seluruh dunia dan dari banyak bangsa. Allah sedang bergerak, mencari orang-orang yang akan memberikan tanggapan pada kesempatan-kesempatan penuaian yang dihadapi oleh generasi sekarang ini.

Percayalah pada saya, duapuluh tahun mendatang akan merupakan waktu-waktu yang sangat berarti di dalam sejarah gereja. Allah sedang mencari orang-orang yang kepada mereka Dia dapat mengkomunikasikan visi dan tujuanNya. Dia mencari orang-orang yang dapat menterjemahkan visi dan tujuan itu ke dalam tindakan. Orang-orang yang dapat memprioritaskan tindakan-tindakan tersebut ke dalam rangkaian langkah-langkah yang masuk akal, logis dan berusaha untuk mewujudkannya.

Mereka yang mengambil langkah untuk menentukan jangkauan iman dewasa ini akan mampu melihat ke belakang dalam beberapa tahun kemudian dan melihat hasil yang lebih besar daripada yang dapat mereka bayangkan.

Saya menantang saudara untuk bangkit ke tingkat keterlibatan yang baru di dalam pekerjaan Tuhan. Barangkali saudara sudah merasa putus asa, atau barangkali tidak tahu bagaimana memulainya. Ambillah prinsip-prinsip Alkitab untuk pencapaian keberhasilan, dan melangkahlah maju dalam iman. Harapkanlah hal-hal yang besar dan sesuai dengan iman saudara, hal itu akan terjadi.

E. Pelaksanaan SASARAN

Ada beberapa hal yang perlu kita pahami sehubungan dengan sasaran-sasaran yang diarahkan oleh Tuhan. Satu bagian dalam Kitab Wahyu akan menggambarkan hal ini dengan baik.

"Lalu aku pergi kepada malaikat itu dan meminta kepadanya, supaya ia memberikan gulungan kitab itu kepadaku. Katanya kepadaku : `Ambillah dan makanlah dia, ia akan membuat perutmu terasa pahit, tetapi di dalam mulutmu ia akan terasa manis seperti madu."

"Lalu aku mengambil kitab itu dari tangan malaikat itu, dan memakannya : di dalam mulutku terasa manis seperti madu, tetapi sesudah aku memakannya perutku menjadi pahit rasanya" (Why 10:9,10).

Beberapa tahun yang lalu saya mendengar seorang teman berkata : "Seperti itulah halnya dengan visi. Pada waktu Allah berbicara kepada saudara tentang apa yang Dia kehendaki untuk saudara lakukan, saudara sangat menyukainya, dan betapa indah, luar biasa, manis dan menyenangkan! Tetapi, pada saat saudara mulai memunculkan visi itu, pada waktu saudara mulai bekerja keras untuk mewujudkannya, apa yang Allah bicarakan itu, akan berubah menjadi pahit dalam perut saudara."

1. Kerja Keras itu Penting

Seorang konsultan usahawan yang sangat terkenal, bernama Peter Drucker, sudah menunjukkan bahwa persoalan dengan visi dan sasaran adalah bahwa kedua-duanya itu mungkin saja merosot menjadi suatu PEKERJAAN belaka. Itulah yang dimaksudkan dengan "lemak bertemu dengan api" atau "karet bertemu dengan jalan", seperti yang biasa dikatakan oleh orang-orang Amerika.

Saya ingat seorang pendeta , yang beberapa tahun lalu jemaatnya terdiri dari lima ratus orang. Dia berada di lapangan golf tiga hari dalam seminggu, menikmati gaya kehidupan yang santai, menyenangkan. Gerejanya memberi dia honor yang cukup baik. Dia berada dalam keadaan yang tidak berkekurangan. Selama beberapa tahun dia menjalani hidupnya bersama anggota jemaatnya yang lima ratus orang itu.

Pada suatu hari di lapangan golf itu, Tuhan berbicara kepadanya. "Apakah kau bermaksud untuk menjadi pendeta yang sedang-sedang saja sepanjang hidupmu, dengan jemaat yang sedang-sedang saja, dengan tanggung jawab dan jadwal pelayanan yang sedang-sedang saja? Atau, kamu bersedia pergi dan bekerja?"

Pendeta itu harus memutuskan di antara kehidupan yang enak, mudah, serba kecukupan atau bekerja dengan sungguh-sungguh. Dan itulah keputusan yang biasanya melibatkan diri saudara dengan visi dan sasaran, dan bukan sekedar mengikuti arus kehidupan. Dia menjawab, "Tuhan, saya mau bekerja."

Selama kurang lebih tiga tahun sejak dia membuat keputusan untuk mengadakan waktu, bekerja dan bertanggung jawab sehubungan dengan apa yang Tuhan sudah berikan kepadanya, gerejanya bertumbuh dan jumlah anggotanya meningkat sampai sekitar 2000 anggota. Tetapi itu terserah kepadanya, apakah bersedia mewujudkan visi itu menjadi suatu tindakan.

Ada banyak pendeta yang tidak pernah belajar untuk bekerja. Saya tahu karena banyak kali saya bertemu dengan mereka. Di seluruh dunia, saya bertemu dengan pendeta-pendeta yang hidup dalam keadaan setengah pensiun, bahkan ada yang hidup dalam keadaan pensiun sama sekali.

Mereka heran, mengapa tidak ada sesuatu pun yang terjadi di dalam pelayanan mereka. Mereka tidak bersedia untuk bekerja: mereka malas, mereka tidak dapat bangun pagi karena hampir sepanjang malam mereka melihat TV. Mereka tidak dapat menerapkan tanggung jawab, perencanaan, visi dan pertumbuhan.

Bangsa-bangsa yang berada dalam kondisi yang tidak baik, seringkali miskin, karena kebanyakan dari orang-orang tidak mau bekerja. Hal itu seperti wabah penyakit. Kita dapat menyebutnya sebagai "gejala penyakit menunda-nunda."

Saudara tahu bagaimana bekerjanya hal itu: "Matahari bersinar dengan cerah. Mengapa susah-susah membetulkan atap yang bocor?" Kemudian waktu hujan datang, orang tersebut akan berkata, "Sekarang hujan. Saya akan membetulkan genteng nanti saja kalau hujan sudah berhenti."

Keadaan seperti itu menguasai dunia bagaikan satu kutukan. Tidak ada inisiatif, tidak ada tanggung jawab, tidak ada kesediaan untuk bekerja.

2. Waktu : Milik Kita atau Milik Tuhan?

Pada waktu visi itu diterjemahkan ke dalam sasaran-sasaran seseorang harus pergi untuk melaksanakannya. Siapakah "seseorang" itu menurut saudara ? Benar, seseorang itu adalah saudara! Saudara yang harus mulai memimpin persiapan-persiapan untuk mewujudkannya. Dan hal itu tidak berupa pekerjaan yang dimulai pada jam delapan pagi, kemudian berhenti pada pukul lima sore. Orang-orang yang memiliki visi, tidak hanya bekerja dari jam delapan pagi sampai jam lima sore.

Mereka tidak menunggu-nunggu cuti empat minggu setiap tahun dengan tunjangan-tunjangan pensiun. Mereka mencari kesempatan untuk melayani Raja segala Raja dan Tuan segala Tuan.

Manusia-manusia yang mempunyai visi akan memberikan segala sesuatu yang mereka peroleh dan miliki. Saudara tidak dapat mengerjakan pekerjaan tersebut dengan berhasil karena ada jaminan gaji untuk saudara, peraturan-peraturan kerja perusahaan dan jumlah pekerjaan yang ditentukan sebanyak empat puluh jam kerja selama seminggu. Alkitab mengatakan, "Selama enam hari kamu bekerja." Itu paling tidak harus merupakan minimum. Dari matahari terbit sampai tenggelamnya ada sebelas jam kerja, menurut perhitungan waktu Alkitab. Jadi ada sebanyak enam puluh enam jam untuk memulainya. Barangkali sebesar itulah limitasi jam kerja dalam Alkitab.

Kendatipun kita hidup pada zaman di mana banyak orang hidup dalam keadaan santai-santai saja, setiap visi, setiap sasaran, jika itu hendak dicapai, menuntut kerja keras dalam beberapa hal. Siapakah yang akan mengerjakan pekerjaan Tuhan? Dari sinilah kita dapat membedakan antara pekerja upahan dan pekerja yang sebenarnya.

Tentu saja sepanjang hari saudara dapat membicarakan mengenai visi - bicara itu gampang - tetapi jika sampai pada melakukan pekerjaan sebagai hal yang penting untuk dapat mewujudkan visi itu, pada saat itulah dapat diketahui dan terjadilah pemisahan antara orang-orang yang sungguh sudah dewasa dan yang masih kanak-kanak.

Pada waktu saya mulai mengerjakan pekerjaan World MAP di California pada tahun 1963, saya tidak punya cukup uang.

Tuhan menyediakan untuk kami sebuah kandang ayam untuk memulainya. Kami membersihkannya, menempatkan sebuah mesin cetak kecil dan mulai bekerja. Kami berada di kandang ayam itu, mengerjakan tugas kami. Itulah "kantor pusat dari penerbitan" kami, bekas kandang ayam yang kami bersihkan.

Tahukah saudara bagaimana mereka membuat kandang ayam? Kandang ayam itu dibuat dengan ukuran kira-kira 2,10 meter tingginya di bagian muka, dan 1,20 meter tingginya dibagian belakang, dengan atap yang menjorok ke belakang.

Hal itu membawa kami untuk terus berada di dalam "sikap doa" karena atapnya tidak cukup tinggi. Kami tidak dapat berdiri dengan tegak lurus. Banyak kali saya bekerja semalam-malaman dalam keadaan membungkuk pada mesin cetak di dalam kandang ayam tersebut. Kerja itu harus terus berlangsung, dan kami tidak punya cukup uang untuk mengupah pekerja. Karena itu saya menanganinya sendiri, seringkali menangani dua mesin cetak dengan kecepatan yang tinggi.

Sekarang Tuhan sudah memberkati kami dengan fasilitas yang indah, yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah.

Kantor pusat kami yang indah di Burbank, California diberikan kepada kami oleh Tuhan melalui mujizat yang indah dan luar biasa. Pekerjaan yang kami mulai di bekas kandang ayam itu bertumbuh karena kerja keras dan Allah memberkati kami fasilitas yang bernilai ratusan juta rupiah.

Demikianlah caranya visi itu diwujudkan. Jika saudara tidak bersedia untuk bekerja keras, lupakan saja. Bergabung saja pada perusahaan atau serikat pekerja lokal dan bekerja secara rutin dari pukul delapan pagi sampai lima sore setiap hari. Hiduplah sebagai semi pensiun dan nikmatilah hidup santai.

Tetapi bila saudara mau bekerja, Allah mempunyai kesempatan kerja yang luar biasa untuk saudara. Dia akan menjadikan jam-jam kerja yang cukup panjang itu dengan konsekwensi yang mentakjubkan, hasil yang tidak pernah saudara pikirkan sebelumnya, dan yang tidak pernah saudara pikirkan bahwa itu mungkin terjadi. Dia akan melipatgandakan buah dari kerja enampuluh atau tujuhpuluh jam per minggunya ke dalam pencapaian-pencapaian untuk Injil. Allah memberikan pahala terhadap pengabdian dan komitmen.

3. Contoh Komitmen Dari Paulus

Jika saudara membaca mengenai pelayanan Paulus, saudara akan melihat komitmen (tekad untuk menyelesaikan tugas) yang dinyatakan dalam pekerjaannya. Dia memberitakan Injil sampai mempertaruhkan nyawanya.

Berbicara mengenai kesukaran-kesukaran yang dihadapinya, Paulus berkata, "Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalanan aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku puasa, kedinginan dan tanpa pakaian" (2 Kor. 11:24-27). Mengapa dia kepayahan, kelelahan? Mengapa dia kesakitan?

Kalau saudara memperhatikan pekerjaan Paulus, pada siang hari dia mengerjakan tenda, mencari penghasilan untuk hidupnya dan tujuh orang rekan sekerjanya yang lain. Dia adalah seorang pengajar, pengkhotbah dan rasul pada malam hari. Dia melaksanakan kedua tugas pelayan tersebut bersama-sama. Dalam hubungannya dengan pekerja-pekerja yang lain, dia mengatakan bahwa dia bekerja lebih keras dari mereka yang lain.

Karunia Allah, Paulus mengatakan, tidaklah dikecewakan atau disia-siakan karena dia bekerja lebih keras daripada rasul-rasul yang lain. Catatan sejarah membuktikan hal itu.

Sehubungan dengan hal ini ada peristiwa yang menarik terjadi di Efesus, "Oleh Paulus Allah mengadakan mujizat-mujizat yang luar biasa."

"Bahkan orang membawa saputangan atau kain yang pernah dipakai oleh Paulus dan meletakkannya atas orang-orang sakit, maka lenyaplah penyakit mereka dan keluarlah roh-roh jahat" (Kis 19:11,12).

"Saputangan-saputangan" yang dimaksud adalah "kain-kain sobekan" yang dipergunakan Paulus untuk menyeka peluh yang keluar dari seluruh tubuhnya, sebagai akibat dari kerja keras. Ada lebih banyak kuasa di dalam peluh Paulus daripada khotbah-khotbah pengkhotbah. Urapan menyertai peluh-peluh yang membasahi sobekan-sobekan kain tersebut kepada banyak pribadi yang Paulus tidak dapat menemuinya - karena dia melakukan pekerjaan dengan jam-jam yang cukup panjang.

Akan merupakan latihan-latihan yang sangat berharga bagi banyak pengkhotbah yang malas untuk mencoba metode-metode Paulus sesekali. Mereka akan memperoleh hasil yang lebih baik.

Ketika Paulus menulis kepada orang-orang Tesalonika, sehubungan dengan mentalitas "tidak mau bekerja" yang sungguh memprihatinkan, dia mempergunakan kata-kata keras untuk menegur kemalasan mereka. "Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan" (2 Tes 3:10). Dia berbicara kepada mereka perlunya dikuasai oleh pekerjaan yang menghasilkan buah, untuk menyingkirkan kemalasan dan memberikan diri mereka setiap hari pada disiplin kerja keras (2 Tes 3:6-12).

Sepanjang surat-suratnya secara terus-menerus dia menyinggung mengenai komitmennya untuk kerja keras. berpeluh, air mata, senantiasa berjerih lelah, demi untuk kemajuan pekerjaan Kristus. Dia tidak mencari-cari waktu yang singkat, tidak juga mengijinkan sejumlah tawaran keuangan untuk menentukan bagaimana dan di mana dia bekerja bagi Tuhan. Dia menyerahkan hidupnya secara sepenuh tanpa syarat. Dia rindu untuk melihat kehendak Allah dan maksudNya digenapi di dalam kehidupannya.

4. Orang-orang akan Membantu untuk Mencapai Sasaran

Saudara akan mendapatkan bahwa orang-orang sedia bekerja sama dengan saudara. Mereka akan memberikan korban-korban persembahan untuk menolong, memberikan sumber dana dan daya mereka untuk menolong saudara mencapai sasaran saudara jika saudara tahu ke arah mana saudara menuju. Jika tidak, uang, orang-orang, dan keberhasilan akan mengikuti pemimpin-pemimpin dan organisasi yang mengetahui ke arah mana mereka menuju.

Jika saudara berhadapan dengan visi Allah dan sasaran-sasarannya dan mulai untuk mengkomunikasikan, menyatakan hal-hal itu, ijinkanlah orang lain mengetahui ke arah mana sasaran saudara ditujukan, maka mereka akan mengikuti di belakang saudara dan mendukung saudara, dan bekerjasama dengan saudara untuk mencapai sasaran tersebut. Demikianlah, saudara akan memimpin/menunjukkan jalan, membayar harganya dan bekerja berjam-jam untuk menjadikannya terwujud.

Pada saat saudara mengetahui ke arah mana Allah menghendaki saudara pergi dan bagaimana dapat menuju sasaran itu, saudara akan mendapatkan orang banyak yang berlomba-lomba untuk mendekati dan bekerjasama dengan saudara. Sekali saudara menjelaskan visi saudara, sekali saudara sudah menetapkan sasaran yang jelas, dan menterjemahkannya ke dalam pertanyaan-pertanyaan yang jelas, mengkomunikasikan apa yang saudara percayai Allah kehendaki untuk saudara mencapainya, saudara akan mendapatkan hasilnya yang melebihi kemampuan saudara untuk menguasainya.

Marilah Berdoa

Tuhan, tolonglah kami untuk membuat komitmen baru untuk mengerjakan pekerjaanMu. Tolonglah kami untuk mengambil tindakan yang berani sementara kami melangkah maju dan menyatakan visi yang Kau punyai untuk kami. Jadikanlah kehidupan kami, pelayanan kami, organisasi yang kami bekerja di dalamnya untuk memajukan kerajaanMu.

Ajarlah kami untuk bersandar, bukan pada prinsip-prinsip ini, tetapi pada Pemula dari prinsip-prinsip ini, untuk siapa prinsip-prinsip itu kami pergunakan. Ajarkanlah kami untuk memprioritaskan sasaran-sasaran kami sesuai dengan kehendakMu, agar kami dapat dengan berhasil menyatakan visi yang Engkau sudah berikan kepada kami. Kami berikan semua kemuliaan kepadaMu sementara kami pohonkan semuanya ini dalam nama Yesus.

Amin !

Bab 4
Karunia Administrasi

Pendahuluan

Di dalam pasal-pasal terdahulu, kita mendiskusikan perlunya mengambil langkah-langkah yang menentukan dari visi kepada aksi (tindakan). Kita berbicara mengenai perlunya sasaran dan untuk memprioritaskan sasaran-sasaran yang langsung diarahkan dan difokuskan pada langkah tindakan yang tepat. Kita mendefinisikan sasaran-sasaran sebagai tindakan yang nyata, dapat dikomunikasikan, dapat dilaksanakan, dan diukur (dinilai) dan tindakan yang secara pasti akan kita lakukan yang mengarah kepada perwujudan dari visi kita ke dalam program-program yang dijalankan.

Sekarang kita perlu bertanya pada diri kita sendiri, "Siapakah yang akan mengatur dan merangkum semuanya ini? Siapakah yang akan menyediakan penilaian praktis mengenai cara-cara yang terbaik untuk mempergunakan personil, uang, dan waktu agar dapat mewujudkan pekerjaan tersebut?"

Saudara mungkin adalah pemimpin dari sebuah jemaat, persekutuan atau organisasi. Tetapi apakah saudara mempunyai waktu, keahlian, latihan, pengalaman dan bakat untuk merencanakan, mengkoordinir dan melaksanakan semua hal yang diperlukan yang sudah kita diskusikan itu?

A. Administrator Adalah Penting

Ada keperluan di antara para pemimpin Kristen untuk mencari penasihat yang bijaksana dan berhikmat di dalam hal-hal tersebut di atas yang mereka sendiri tidak mempunyai bakat, latihan dan pengalaman. Hal ini membawa kita pada peranan para administrator dan administrasi.

1. Sebuah Proyek Yang Gagal

Pemimpin-pemimpin Kristen kebanyakan terlalu menghindari nasehat-nasehat praktis, pengetahuan dan pengertian yang sebenarnya tersedia dari jemaat mereka. Barangkali tanpa sengaja, mereka sudah mendirikan tembok yang tidak nampak di sekeliling mereka. Bagaimana mereka melakukan hal ini? Dengan membuat pengumuman-pengumuman yang tinggi.

"Tuhan memberitahu saya ini," atau "Tuhan menunjukkan pada saya bahwa, "itu yang mereka katakan.

Dan tentu saja tidak seorangpun mempertanyakan Tuhan. Jika seseorang berani untuk menyampaikan sanggahannya terhadap rencana "Pemimpin Besar", maka pemimpin jenis ini biasanya akan menulikan telinganya terhadap hal-hal itu.

Pada musim gugur tahun 1935, seorang pemimpin dari sebuah denominasi Pantekosta menerima apa yang dia katakan sebagai wahyu dari Tuhan. Di sebuah bukit yang indah di California Selatan, dia membangun sebuah tabernakel yang besar untuk penyelenggaraan konperensi-konperensi dan pertemuan-pertemuan musim panas bagi denominasinya.

Sesudah membeli sebidang tanah di dekat Danau Beruang Besar, dia menyewa krew kontruksi bangunan untuk memulai mendirikan tabernakel.

Tabernakel ini sungguh sangat besar, berbentuk segi empat, dengan atap yang luas dan rata.

Beberapa anggota dari persekutuannya yang memiliki pengalaman dalam hal kontruksi bangunan di daerah perbukitan, mendekati dia dan mengatakan, "Tuan, saya percaya bahwa tuan sudah melakukan kesalahan besar dalam hal membuat kontruksi bangunan ini."

"Saudaraku yang baik," demikian dia menanggapi nasehat itu. "Jangan bertanya-tanya mengenai rencana saya. Tuhan yang sudah memberikan perencanaan itu kepadaku!"

Kemudian sesudah itu, seorang insinyur setempat secara kebetulan mengendarai kendaraannya melalui daerah perbukitan itu dan melihat bagaimana pemimpin ini memberikan instruksi pada para pekerja konstruksi. Dia berhenti, mendekati yang diberi tugas untuk mengerjakan bangunan itu dan mencoba untuk menasihatinya bahwa ada kesalahan di dalam merancang bangunan tersebut. Tanggapan yang diberikan sehubungan dengan nasehat dan saran yang baik itu, adalah sikap yang dingin dan tidak mau mendengar.

Program pendirian bangunan ini dilaksanakan sebelum ada aturan-aturan yang mengatur mengenai konstruksi bangunan, sehingga setiap orang dapat membangun apapun yang di masa itu juga merupakan masa depresi, dimana uang berada dalam posisi yang menyulitkan dan setiap dolar sungguh sangat diperhitungkan.

Orang-orang yang tinggal di daerah bersalju tahu jelas apa yang salah dengan rancangan bangunan tabernakel itu. Salju-salju banyak terdapat di daerah tinggi, kendatipun di daerah California yang benderang karena sinar matahari!

Di sini, didirikan tabernakel besar, luasnya sekitar 60 meter memanjang, dengan atap yang rata dan sangat panjang, tanpa adanya tiang-tiang penyangga. Pada ketinggian sekitar 1800 meter di daratan yang agak tinggi, bukan hal yang aneh lagi kalau terdapat gundukan-gundukan salju setinggi satu sampai satu seperempat meter pada musim salju yang berat. Saudara dapat memperkirakan, apa yang terjadi ?

Musim salju pun tiba, sebelum satu pertemuan pun diadakan di tabernakel besar itu. Angin kencang bertiup, dan salju pun mencair dengan derasnya ke bawah, dan bangunan itupun porak-poranda - begitu parah kerusakan bangunan tabernakel tersebut. Salju yang berat yang memenuhi atap tabernakel yang luas dan panjang itu, menyebabkan semua bangunan ambruk, rata dengan tanah.

Sekarang, ijinkan saya untuk mengingatkan pemimpin-pemimpin yang dikuasai oleh sikap "memuja-muja visinya" di dalam karya pelayanan Kristiani. Setiap kali kalau ada orang-orang yang menulikan telinganya terhadap nasehat, saran dan koreksi, pada dasarnya mereka mempersiapkan bagi diri mereka sendiri (dan biasanya juga bagi orang lain) tragedi dan kesulitan-kesulitan.

2. Kesulitan Keuangan

Sebagai anggota dewan penasehat untuk beberapa organisasi Kristen di Amerika Serikat sebelah Barat, saya sudah menghadiri pertemuan-pertemuan di mana pada pertemuan-pertemuan seperti itu para usahawan menyatakan keprihatinannya sehubungan dengan tidak adanya perencanaan secara finansial dari proyek-proyek dan proposal pemimpin-pemimpin gereja tertentu.

Berulang kali saya mendengar pendeta dan pemimpin-pemimpin gereja menyuruh usahawan-usahawan ini untuk tidak berbicara lebih lanjut, dengan komentar sinis seperti, "Saudaraku, kalian ini tidak tahu apa-apa. Kami tidak mengatur organisasi ini seperti pedagang, kami melaksanakannya dengan iman."

Di dalam siklus semantik keagamaan, "berjalan dengan iman" kadang-kadang diartikan juga meminjam lebih daripada kemampuan untuk mengembalikan bunganya, dalam jangka waktu yang tidak realistis penentuannya. Hal itu mereka sebut sebagai "iman".

Sehingga para usahawan ini, karena nasihat mereka tidak digubris, melepaskan diri dari situasi itu dan membiarkan saja pemimpin-pemimpin gereja berjalan dalam kebodohan mereka. Beberapa tahun kemudian, sesudah berjalan beberapa langkah, proyek-proyek "iman" sedemikian itu pada akhirnya mengalami kebangkrutan dan malapetaka.

Banyak pelayanan Kristen yang baik mengalami kegagalan karena seorang pemimpin gereja menolak karunia administrasi dari seorang saudara yang lebih berpengalaman.

Jika saudara bukan seorang administrator, demi kemuliaan sorgawi, akuilah hal itu, dan ijinkanlah mereka yang memiliki karunia-karunia dalam bidang ini mendatangkan ketertiban dan keberhasilan di dalam bidang yang saudara sudah lakukan untuk Tuhan.

Tanpa adanya karunia administrasi, gereja atau pelayanan manapun akan berakhir dengan kesulitan yang serius, entah dengan jemaat atau pun dengan diri mereka sendiri.

B. Administrasi Di Dalam Gereja Mula-mula

Di dalam gereja mula-mula, sebagaimana diketengahkan dalam Kisah Para Rasul, kita jumpai urutan peristiwa yang menarik. Ini sudah terbukti sangat menolong saya memahami perkembangan dan kemajuan organisasi.

Bila terjadi persungutan, maka hal itu merupakan sesuatu yang kritis yang terjadi di dalam suatu gerakan. Pemimpin bisa mengambil dua atau tiga langkah pilihan sehubungan dengan hal ini.

PERTAMA, mereka dapat membungkam yang merasa tidak puas dan bersungut-sungut tersebut dengan mengatakan, "Jika kalian benar-benar rohani, maka kalian tidak akan bersungut-sungut."

KEDUA, mereka dapat mengatakan, "Jangan menentang kepemimpinan yang sudah ditetapkan Allah. Tunduk ! atau memisahkan diri saja !" Hampir semua kita biasa mendengar tanggapan seperti itu.

KETIGA, mereka bisa berkata, "Saudara, kami mendengar saudara menghadapi masalah. Silahkan jelaskan dan mungkin kami dapat menolong mengatasinya."

1. Memecahkan Masalah

Pendekatan ketiga inilah yang diambil oleh gereja mula-mula. Mereka mengambil langkah pendekatan yang baik di dalam menanggapi persungutan yang timbul di kalangan tertentu dari gerakan rohani itu. Mereka tidak mencoba untuk menutup mulut atau membungkam para pesungut; mereka mengatasi permasalahannya. Mereka mengatasinya dengan karunia administrasi.

Para rasul mengarahkan orang-orang tersebut untuk memilih tujuh orang yang dikenal baik, penuh Roh Kudus dan hikmat, untuk menangani tugas pelayanan meja.

Banyak orang menganggap bahwa tujuh orang ini dipilih hanya untuk menangani pembagian makanan. Tetapi yang ditangani ini bukanlah sekedar pembagian makanan di meja.

Mereka ini menangani urusan pengelolaan keuangan. Kata Gerika yang dipergunakan di sini adalah trapeza, menunjuk pada meja untuk makanan dan untuk pengurusan keuangan.

Janda-janda keturunan Ibrani yang berbahasa Gerika merasa diabaikan. Barangkali mereka tidak diberi jatah uang yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Ada unsur rasial nampaknya bilamana masalah itu tidak segera diatasi, suatu situasi membahayakan yang dapat menimbulkan sikap membenci dari orang-orang Gerika terhadap orang-orang Yahudi.

Para rasul menghadapi masalah rasial, keuangan dan sosial yang menyulitkan itu dengan memberitahukan kepada orang-orang untuk memilih tujuh orang di antara mereka sendiri yang mempunyai karunia administrasi untuk mengawasi pengurusan dan pembagian keuangan, sehingga rasul-rasul dapat terus memusatkan perhatian dalam pelayanan Firman Tuhan dan doa.

2. Siklus yang Berkesinambungan

Karunia administrasi, sebagaimana yang dipergunakan di sini berasal dari enam langkah dari kebangunan rohani yang terjadi.

  1. Orang-orang yang digerakkan oleh Allah diberi suatu
  2. pelayanan yang melaluinya terjadi
  3. pelipat gandaan, dan dari pelipat gandaan itu melahirkan
  4. gerakan, yang darinya muncul
  5. persungutan, dari persungutan itu muncul
  6. administrasi.

Dan keenam hal itu berjalan dalam siklus yang berkesinambungan. Dari adanya pengelolaan secara administrasi yang pada tempatnya, maka sejumlah orang dihasilkan untuk pelayanan selanjutnya untuk mendatangkan pelipat gandaan yang lebih banyak, kemudian mendatangkan gerakan yang lebih besar dan dari kegerakan itu sekali lagi timbul beberapa persungutan yang lebih besar. Sejauh tingkat persungutan itu dapat diatasi, maka gerakan itu akan terus berkembang dan bertumbuh.

Tetapi jika saudara sampai pada suatu tingkatan di mana administrasi diperlukan dan saudara mengabaikan hal itu, saudara berada di dalam kesulitan yang besar. Saudara dapat memblokade atau melewati taraf persungutan. Jika saudara tidak mau tahu hal itu dan mencoba untuk melewatinya saja, saya menasihati saudara, dalam jangka waktu beberapa bulan pekerjaan saudara akan ambruk dan menderita kerusakan. Entahkan itu kerusakan dalam hal keuangan ataupun dalam hal organisasi.

C. Administrasi diperlukan untuk pertumbuhan

Jika saudara ingin bertumbuh, saudara harus memperhadapkan diri saudara pada tanggung jawab keuangan ataupun organisasi. Dan hal itu berarti bahwa saudara memerlukan administrasi.

Delapan puluh lima persen dari keseluruhan jemaat yang ada di gereja-gereja Amerika Serikat sebagian besar anggotanya kurang dari dua ratus orang. Mengapa jemaat-jemaat tersebut tidak dapat berkembang melampaui jumlah dua ratus? Karena pemimpin-pemimpinnya tidak menyadari perlunya administrasi.

Seorang saja tidak akan dapat secara berhasil menangani lebih dari seratus tujuh puluh lima orang, oleh karena itu hanya beberapa gereja saja yang mencapai jumlah di atas yang ada itu. Saya tidak mengatakan bahwa hal itu salah, dan saya juga tidak mengkritik jemaat-jemaat yang kecil.

Saya merintis gereja yang saya gembalakan, dan gereja-gereja yang saya rintis itu dimulai dengan jemaat-jemaat kecil. Selama sebelas tahun mengadakan pekerjaan perintisan dan penggembalaan sungguh merupakan berkat dari Tuhan, karena selama waktu itulah saya belajar menimba pengalaman, yang kemudian menolong saya untuk bekerja di dalam tingkat tanggung jawab yang lebih besar.

Menurut penilaian saya, seorang gembala baru harus belajar untuk mendapat keahlian di dalam bidang administrasi, bila tidak dia hanya akan dapat berhasil secara terbatas di dalam pekerjaannya. Jika saudara menggembalakan gereja yang saudara rintis sendiri dan saudara baru saja memulainya, saudara tidak dapat hanya "menunjuk, menodong" seseorang di dalam jemaat saudara dan mengatakan, "Saya mau memusatkan perhatian saya pada khotbah dan bimbingan, karena itu saya mau saudara mengatasi semua permasalahan yang timbul dan membuat perencanaan untuk pertumbuhan gereja." Saudara tidak dapat berbuat demikian, dan itu bukan suatu langkah permulaan.

Jika seorang gembala baru tidak mampu mengenali setiap persungutan dan tidak belajar untuk mengatasinya, maka dia akan mengalami keadaan tidak maju-maju di dalam pertumbuhan secara jumlah. Jika dia berusaha untuk melakukan pekerjaannya tanpa memikirkan hal administrasi, dia akan menciptakan entah kekacauan organisasi ataupun keuangan. Pekerjaannya akan runtuh, karena peristiwa-peristiwa akan semakin bertumbuh diluar jangkauan gembala untuk mengatasinya satu demi satu sementara permasalahan terus saja bermunculan.

Nasihat saya kepada para pendeta baru adalah untuk mempelajari prinsip-prinsip dasar administrasi di dalam bagian ini dan mulai mempraktekkannya dengan segera.

Bab 5
Bagaimana Merencanakan

Pendahuluan

Kita sudah berbicara mengenai sasaran-sasaran dan perlunya sasaran yang dapat diukur, dijangkau, dikomunikasikan, dapat dilihat dan didefinisikan. Sasaran-sasaran menyediakan langkah-langkah spesifik sehubungan dengan apa yang akan kita lakukan untuk mewujudkan visi yang Tuhan sudah berikan kepada kita. Kita sudah menyebutkan sebelumnya perlunya memprioritaskan sasaran-sasaran tersebut.

Selanjutnya, kita sampai pada satu langkah yang menentukan pekerjaan saudara sebagai seorang administrator atau pendeta atau pemimpin organisasi. Saudara harus tampil dengan sebuah rencana untuk setiap sasaran.

A. Kita Harus Mempunyai Rencana

Untuk setiap sasaran di dalam daftar urutan prioritas tertinggi, saudara harus mempunyai sebuah rencana. Sekali lagi, saya ingin menekankan bahwa saudara jangan sekali-kali mengerjakan lebih dari tiga sampai enam sasaran yang saudara prioritaskan dalam waktu yang sekaligus.

1. Allah Mempunyai Sebuah Rencana

Allah mempunyai "sebuah rencana keselamatan". Dan kapan Allah membuat rencana ini? Dia membuat rencana itu sebelum dunia dijadikan!

Jika kita berhenti dan memikirkannya, maka dengan mudah kita akan sampai pada kesimpulan bahwa Allah sudah memberikan satu teladan bagi kita untuk diikuti. Dia mempunyai sebuah rencana yang sudah disusun dengan sistematis sebelum dunia dijadikan. Alkitab tidak mengatakan bahwa Dia merencanakan bersamaan dengan mengerjakannya bukan? Jika demikian, maka kita juga perlu membuat garis besar perencanaan kita sebelum kita meletakkan dasar, dan memulai untuk membangun.

Namun demikian, dalam pengalaman saya, tidak seperti itu kebanyakan organisasi Kristen berfungsi. Banyak dari mereka yang mencoba untuk memulai suatu proyek sebelum memikirkan perencanaan terlebih dahulu.

Allah tidak menetapkan cara seperti itu. Allah tidak memulai, sebelum Dia mempunyai satu rencana. Dia membuat perencanaan sebelum Dia meletakkan dasar, sebagaimana dilakukan oleh seorang arsitek. Setiap ahli bangunan yang bijaksana selalu mempunyai sebuah rencana sebelum memulai konstruksi.

Terlalu sering, menurut penilaian saya, orang-orang Kristen bukanlah seorang ahli bangunan yang bijaksana. Paulus membuat satu pernyataan sehubungan dengan hal ini. Paulus menulis di dalam 2Timotius 2:5 bahwa kita tidak akan dapat memenangkan pertandingan kalau tidak bermain dengan memperhatikan aturan - kita harus bertanding dengan memperhatikan peraturan-peraturan tertentu, prinsip-prinsip dan perencanaan.

Di dalam 1 Korintus 3:10, dia memberitahu kita untuk memperhatikan bagaimana kita meletakkan dasar bangunan kita. Hal ini mencakup doktrin, dan juga perencanaan. Jika saudara tidak mempunyai rencana, jangan sekali-kali mencoba untuk membangun.

Di sepanjang kehidupan saya, saya sudah menyaksikan kemampuan banyak pemimpin gereja untuk menggerakkan orang-orang, mengilhami mereka dan menangani beberapa proyek yang luar biasa, dan memulainya secepat kilat. Tetapi, karena mereka tidak mempunyai rencana, saya perhatikan selama lima atau enam tahun dari mulai berjalannya proyek itu, visi itu pada akhirnya hancur, jatuh menjadi kesulitan ekonomi dan kekacauan organisasi.

Saya percaya bahwa kecuali orang-orang bersedia untuk bekerja sebagaimana Allah bekerja, mereka akan menghadapi kehancuran ditengah jalan, dan paling tidak mencapai sedikit hasil saja. Kita harus ingat bahwa Allah mempunyai sebuah rencana sebelum Dia memulai sesuatu.

2. Perencanaan dengan Pertolongan Tuhan

Penting sekali bahwa di dalam perencanaan itu, melakukannya dengan senantiasa mengadakan hubungan dengan Tuhan melalui saat-saat doa dan menyendiri dengan Tuhan. Saudara tidak dapat menyingkirkan Allah dari perencanaan saudara lalu mengharapkannya untuk dapat berhasil. Saudara harus berdoa "Tuhan, tunjukkanlah pada saya rencana itu. Engkau tahu arah yang Kau kehendaki. Engkau tahu apa yang Kau kehendaki untuk dicapai dan bagaimana mewujudkannya. Tolonglah saya untuk mengerjakannya sesuai dengan caraMu, Tuhan."

Jika kita bekerja sama dengan Allah, kita mengikuti teladanNya dan mengembangkan sebuah rencana untuk melaksanakan setiap sasaran kita. Jadi, kita bekerja dengan visi Allah, dengan sasaran-sasaran Allah, dengan rencana Allah.

Komponen ini biasanya muncul sebagai hasil kerjasama dari kelompok saudara-saudara yang berhikmat, yang berdoa bersama-sama, mencari Allah dan bekerja sama. Visi akan muncul dari hati dan pikiran seseorang, tetapi rincian dari pelaksanaan itu biasanya muncul dari sekelompok saudara-saudara.

B. Lima Langkah Untuk Membuat Sebuah Rencana

Lima pertanyaan harus secara cermat dan menyeluruh dijawab sebelum saudara membuat sebuah rencana. Kelima pertanyaan itu adalah:

  1. Apa yang akan kita kerjakan? (sasaran ditetapkan)
  2. Bagaimana kita akan mengerjakannya? (Langkah-langkah yang akan diambil/ditetapkan)
  3. Kapan kita akan mengerjakannya? (Jadwal dari langkah-langkah itu)
  4. Dengan siapa kita akan mengerjakannya? (Syarat-syarat personil)
  5. Berapa banyak biaya yang dibutuhkan? (Membuat anggaran belanja).

1. Sasaran Ditetapkan

Jika saudara sudah mendefinisikan dengan jelas dan memprioritaskan sasaran-sasaran, saudara sudah menyelesaikan langkah Nomor Satu. Sasaran-sasaran adalah pernyataan mengenai tindakan-tindakan yang saudara harapkan akan saudara ambil untuk melaksanakan dan menggenapi visi Allah untuk kehidupan dan pelayanan saudara.

2. Langkah-langkah yang akan Diambil

Bagaimana kita melakukannya? Menetapkan "bagaimana" adalah salah satu dari aspek-aspek pencapaian yang paling menantang. Menetapkan/mendefinisikan bagaimana saudara akan melaksanakan dan mencapai sasaran-sasaran adalah pekerjaan yang berat, dan memerlukan banyak waktu.

Seorang sahabat saya disewa oleh Korps Marinir Amerika Serikat. Tugasnya adalah untuk menentukan bagaimana caranya me manggil ke dalam tugas aktif Korps Marinir Cadangan. Ribuan cadangan Marinir harus dipersiapkan untuk siap berperang di antara tiga puluh hari untuk berjaga-jaga seandainya terjadi keadaan darurat secara nasional.

Frank kemudian menyewa sepuluh ahli perencana lainnya yang top untuk menolongnya. Diperlukan waktu selama tiga tahun oleh 11 orang ini untuk mendefinisikan "bagaimana" sasaran itu dapat dilaksanakan. Sedangkan untuk mendefinisikan "bagaimana" mencapai sasaran itu diperlukan waktu selama tiga puluh tiga tahun.

Sasaran saudara mungkin tidak sekompleks seperti ini. Untuk mendefinisikan "bagaimana" sasaran saudara dilaksanakan tidak akan memakan waktu sampai tiga puluh tiga tahun. Tetapi jangan menipu diri sendiri. Potensi yang saudara miliki untuk keberhasilan adalah dalam hubungan yang langsung dengan waktu yang saudara ambil untuk menentukan cara bagaimana saudara akan mencapai sasaran-sasaran saudara.

3. Jadwal dari Langkah-langkah itu

KAPAN kita akan melaksanakan? Sekali langkah-langkah untuk mendefinisikan "BAGAIMANA" sudah diselesaikan, saudara harus mengambil sebuah kalender dan kemudian menentukan KAPAN setiap tindakan itu akan diambil.

Untuk melakukan hal ini, buatlah perkiraan berapa banyak waktu dibutuhkan untuk langkah pertama itu. Kemudian tentukan berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk langkah kedua. Buatlah perkiraan waktu untuk setiap tindakan di dalam rencana saudara dan tuliskanlah dengan jangka waktu yang berdekatan dengan langkah tindakan sebagaimana yang sudah didefinisikan di dalam Langkah Nomor Dua.

Kemudian tentukan batas waktu terakhir untuk mana setiap langkah itu harus diselesaikan. Jika saudara sudah melakukan hal ini, maka saudara punya jadwal waktu untuk pelaksanaan. Hal ini akan sangat berguna bagi saudara di kemudian hari. Saudara akan mampu untuk menentukan dan menilai, apakah proyek itu berjalan sebagaimana yang direncanakan. Jika ternyata tidak sesuai dengan waktu yang ditentukan (katakanlah lambat sekali jalannya), tindakan harus segera diambil atau waktu-waktu krisis tertentu harus dilewati, karena jika tidak demikian tidak mungkin mencapai sasaran.

Misalnya : jika saudara merencanakan untuk mengadakan konperensi kaum muda untuk menjangkau pemuda-pemudi bagi Kristus, saudara harus mengumumkan tanggal pelaksanaan. Jika langkah-langkah tindakan sudah ditentukan dan perkiraan waktu sudah ditetapkan, saudara dapat melihat bahwa paling tidak dibutuhkan waktu enam bulan untuk mempersiapkan konperensi tersebut.

Jika pengumuman tidak dibuat, dicetak ataupun dibagikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, bisa saja tidak ada seorangpun yang akan muncul di dalam konperensi tersebut.

Saya pernah mengetahui ada satu konperensi yang pengumumannya baru selesai dari percetakan sesudah konperensi itu selesai. Apa akibatnya? Nampaknya tidak ada yang datang hadir dalam konperensi tersebut karena tidak pernah ada pengumumannya yang ke luar. Memboroskan uang dan waktu, dan rencana yang baik itu pada akhirnya berakhir demikian sebab waktu-waktu yang seharusnya dipergunakan dengan sebaik-baiknya untuk mengambil langkah tindakan yang penting dibiarkan berlalu begitu saja.

4. Mendelegasikan Pekerjaan

Dengan SIAPA kita akan melaksanakan hal itu? Hampir semua rencana melihat orang-orang lain untuk menolong. Jika saudara mencoba untuk melakukannya sendiri, maka saudara bukanlah seorang pemimpin. Seorang pemimpin adalah orang yang dapat melaksanakan tugas dengan bantuan orang-orang lain. Sesudah dengan jelas mendefinisikan langkah-langkah tindakan pelaksanaan (Nomor Dua di atas) - dengan perkiraan waktu untuk penyelesaiannya - sederhanakanlah tugas untuk mendelegasikan pekerjaan, tuliskanlah nama seseorang atau beberapa orang yang mungkin mampu untuk melaksanakan setiap langkah tindakan.

Hubungilah calon-calon penolong saudara. Jika mereka bersedia, bekali mereka dengan latihan yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan, kemudian jelaskan kepada mereka batas waktu terakhir yang harus diperhatikan, kemudian saudara monitor terus kemajuan yang mereka alami untuk meyakinkan bahwa semuanya berjalan menurut waktu yang sudah ditentukan.

(CATATAN : Adalah PENTING SEKALI untuk diingat bahwa orang tidaklah melakukan seperti apa yang saudara HARAPKAN - mereka akan melakukan apa yang saudara AWASI. Tindak lanjut sesudah memberikan pendelegasian adalah perlu atau pekerjaan itu tidak akan dapat dikerjakan).

5. Menetapkan Anggaran Belanja

Berapa besar biayanya nanti? Yesus berkata, "Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?"

Untuk menentukan biaya yang dibutuhkan, saudara harus melihat pada setiap langkah (Nomor Dua di atas) dan buatlah perkiraan biaya untuk melaksanakan langkah itu. Jika saudara sudah melakukan hal ini - tambahkanlah biaya yang dibutuhkan untuk setiap langkah dan saudara akan mengetahui "biaya total" untuk mencapai sasaran saudara.

Jika biaya itu ternyata lebih besar dari sumber dana dan iman, maka saudara harus merevisi kembali sasaran atau rencana untuk mencapainya. Rencana yang direvisi itu harus terus dilakukan sampai langkah kelima (anggaran) itu sesuai dengan sumber dana dan iman saudara.

Saya peringatkan saudara agar jangan membuat perhitungan dengan menduga-duga. Alkitab mengajarkan kepada kita untuk mengambil langkah iman. Ada perbedaan besar antara menduga-duga dan langkah-langkah iman.

Langkah-langkah iman mencakup kemajuan yang terus berlangsung sehubungan dengan pertumbuhan rohani dan perkembangannya. Seorang anak kecil mengambil langkah-langkah pendek dan berulang-ulang untuk dapat berjalan satu mil. Seorang atlit dewasa yang terlatih baik akan mengambil langkah-langkah panjang. Jika seorang anak kecil mencoba-coba untuk melompati lubang yang dalam yang garis tengahnya selebar 4,5 m, maka dia akan jatuh dan mati. Sedangkan atlit yang dewasa tadi akan dapat melompatinya dengan selamat.

Jadi jika sasaran saudara jauh melampaui iman dan keuangan saudara, turunkanlah dan telitilah kembali. Bantai dulu singa dan beruang sebelum saudara mengambil tindakan untuk membantai Goliat (lihat bagian Pengalaman pada halaman 1092).

Jika saudara sudah mengambil langkah-langkah di atas dengan cermat, pergunakanlah akal sehat yang sudah Allah berikan (2 Tim 1:7), maka kesempatan saudara untuk berhasil akan menjadi sepuluh kali lipat.

C. Penutup

Hampir sekitar sembilan puluh delapan dari seratus usaha-usaha baru yang ada mengalami kegagalan. Mengapa ? Karena pemimpin-pemimpin mencoba mengambil jalan pintas dari prinsip-prinsip Alkitab ini. Dan hasilnya biasanya adalah kegagalan.

Jangan biarkan waktu, tenaga dan uang saudara diarahkan pada kegiatan-kegiatan yang tidak ada kaitannya dengan visi Allah untuk kehidupan dan pelayanan saudara. Musuh akan mendatangi saudara dengan segala macam godaan dan tekanan untuk mengurus sumber daya saudara dengan hal-hal yang tidak ada kaitannya sama sekali atau dengan perkara-perkara yang sebenarnya tidak ada manfaat atau kegunaannya.

Beberapa ide yang fantastik bisa saja tiba-tiba muncul di hadapan saudara, yang nampaknya lebih bermanfaat dan hebat dari apa yang saudara sedang kerjakan. Berdirilah teguh, peliharalah iman dan yakinkanlah bahwa sasaran-sasaran saudara terus berhubungan dengan visi Allah. Jika prioritas-prioritas saudara sudah ditentukan, tetap pusatkan perhatian saudara pada prioritas-prioritas itu.

Bab 6
Strategi - Pelaksanaan - Evaluasi

A. Mengembangkan Strategi

Kita berperang dengan kuasa-kuasa dan penguasa-penguasa rohani yang menguasai bangsa-bangsa selama berabad-abad. Kita menantang penguasa-penguasa kegelapan tersebut. Allah akan menolong kita di dalam menentukan strategi dan rencana untuk pergi mendatangi bangsa-bangsa ini dan memporak-porandakan penguasa-penguasa dan kuasa-kuasa kegelapan ini, untuk melepaskan negara-negara yang belum terjangkau oleh Injil dengan permasyuran Injil.

1. Strategi dan Pelaksanaan Yang Dipimpin oleh Roh

Tetapi setan adalah oknum yang licin, dan sudah berpengalaman selama ribuan tahun di dalam menghadapi rencana-rencana orang-orang Kristen. Oleh karena itu, kita memerlukan strategi dan perencanaan yang diilhami oleh Roh Kudus untuk menggoncangkan musuh dan menghadapi, secara langsung serangan-serangannya.

Di dalam ruangan ini kami akan mengetengahkan gambaran-gambaran mengenai kejeniusan Roh Kudus yang luar biasa di dalam memberikan berbagai macam strategi yang sudah Dia berikan untuk usaha-usaha pengutusan Injil.

a. Strategi di Mexico. Saya bermaksud untuk menyampaikan kepada anda sebuah kisah mengenai seorang saudara di Mexico. Saudara perlu memahami terlebih dahulu, bahwa sulit sekali untuk menginjili di Mexico, demikian juga halnya dengan beberapa negara di Amerika Latin karena adanya berbagai macam larangan dan karena adanya kebiasaan-kebiasaan tertentu dan perbedaan budaya. Tetapi Allah, melalui kejeniusan Roh Kudus, menanamkan rencana di dalam hati sahabat saya ini, dan dengan sangat berhasil dilaksanakan di seluruh Mexico sekarang ini.

Dia memobilisasi ratusan orang-orang awam Mexico dari gereja-gereja di Mexico, mengajarkan kepada mereka cara-cara bersaksi yang sederhana sesuai dengan budaya dan pengertian orang-orang Amerika Latin. Hal itu sungguh luar biasa!

Di Mexico, jika anda memberikan sebuah hadiah kepada seseorang, maka hal itu harus dilakukan dalam suatu upacara kecil di hadapan umum. Etika kesopanan mereka mengharuskan bahwa tidak seorangpun diperbolehkan meninggalkan upacara tersebut sampai selesai. Meninggalkan tempat sementara upacara berlangsung dianggap tidak sopan menurut adat-istiadat mereka.

Oleh karena itu, sahabat saya dan rekan-rekan sekerjanya mengatur untuk mengadakan pertemuan di sebuah rumah, yang dihadiri oleh sekitar tiga puluh orang, untuk mengadakan upacara pemberian Alkitab dalam bahasa Spanyol kepada kepala rumah tangga.

Ketika upacara pemberian itu diadakan, mereka mulai dengan mengajukan pertanyaan "Mengapa kami memberikan Alkitab kepada para kepala keluarga?" Kemudian mereka menjelaskan bahwa bilamana Kristus masuk ke dalam hati dan kehidupan dari seorang kepala keluarga, maka hal itu akan menjadikan mereka sebagai orangtua yang baik, yang lebih mengasihi.

Hal itu akan mendatangkan pertumbuhan yang stabil, dari kehidupan anak-anak yang mengasihi Allah, yang akan menjadikan mereka tumbuh sebagai warga negara Mexico yang lebih baik.

Kemudian mereka menjelaskan rencana keselamatan yang sangat sederhana. Mereka menyajikan dengan sangat sederhana (sehingga dapat dipelajari oleh setiap orang awam di Mexico untuk menarik perhatian setiap orang yang hadir). Selama satu jam, tidak akan ada seorang pun yang meninggalkan tempat.

Pada akhir dari penyajian yang sederhana mengenai Injil, mereka mengundang setiap orang untuk "menghormati keluarga" untuk menerima Kristus sebagaimana yang diketengahkan di dalam Alkitab, dan yang baru saja "disampaikan kepada mereka". Mereka semua berlutut dan menaikkan doa pertobatan dan penerimaan terhadap Yesus, sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka yang sudah bangkit. Banyak dari mereka yang mengalami kelahiran baru.

Kemudian diberi penjelasan mengenai suatu program pemahaman Alkitab. Sesudah itu mereka ditanya, "Berapa banyak dari saudara yang ingin mengadakan acara seperti ini di dalam rumah masing-masing?" Tentu saja hampir semuanya mengatakan, "Ya, saya mau, saya mau!"

Di antara bangsa Mexico, di mana sulit sekali untuk menginjili, kegeniusan Roh Kudus menyediakan strategi yang sederhana ini. Injil diberitakan oleh orang-orang awam, melalui sebuah rencana yang sederhana namun indah.

Allah berkenan memberikan strategi-strategi kepada anda jika anda dapat menyatunada dengan Dia, dan mengijinkan Dia mengkomunikasikan pikiranNya, kehendakNya dan pengertianNya kepada anda.

B. PELAKSANAAN - Tetap Fleksibel

Sekarang kita sudah siap untuk bergerak maju ke langkah pelaksanaan. Pelaksanaan dapat didefinisikan sebagai "langkah-langkah tindakan yang direncanakan dan diwujudkan kearah pencapaian sasaran."

Jika saudara mempunyai sebuah rencana, saudara dapat mengatasi masalah-masalah yang tidak diharapkan dan tetap mengerjakan semuanya itu, dengan mempergunakan pendekatan yang berbeda. Saudara dapat menyingkirkan dan membetulkan hal-hal yang dapat menyebabkan timbulnya kekacauan, sebelum keadaannya memburuk. Jika saudara tidak punya perencanaan, saudara akan terombang-ambing kesana-kemari. Saudara mengkin tidak akan mengetahui apa yang keliru, apa sebabnya atau apa yang harus dikerjakan selanjutnya.

Rencana saudara adalah blueprint untuk pelaksanaan. Jika saudara membandingkan dengan sebuah bangunan yang sedang didirikan dengan blueprint yang spesifik, dan kemudian melihat ada sesuatu yang tidak cocok, jelaslah bahwa si pelaksana bangunan tidak mengikuti rencana yang sudah ditetapkan. Mungkin ada alasan-alasan yang masuk akal. Barangkali rencana itu perlu dimodifikasi, ditata kembali.

1. Umpan Balik sangat Penting

(Lihat kembali Diagram pada halaman 1097 khususnya bagian Umpan Balik).

Sebagaimana sudah kami tunjukkan sebelumnya, sekalipun saudara sudah membuat perencanaan - tidak ada yang secara mulus akan berjalan sesuai dengan perencanaan. Oleh karena itu dalam pelaksanaan kita perlu memiliki umpan balik. Kita perlu belajar dari kesalahan-kesalahan kita dan belajar menyingkirkan rintangan-rintangan yang tidak pernah diharapkan sebelumnya.

Apa yang kita pelajari dari pelaksanaan seringkali menjadikan kita menata kembali rencana kita, entah menopang yang lemah atau mengambil manfaat dari yang kuat. Itulah hikmat dari menggunakan umpan balik.

Sebagai contoh sederhana, jika saudara sedang mendirikan sebuah bangunan gereja, dan merencanakan untuk melapisi pegangan pintu depan gereja dengan emas, ketika harga emas masih sekitar Rp. 50.000,- per ons, tetapi karena pemerintah kemudian mengadakan ketetapan baru, sehingga harga emas melonjak menjadi Rp. 750.000,- per ons, maka saudara perlu meninjau/menata kembali rencana anda yang semula itu.

Berita mengenai perubahan harga emas yang melonjak itu merupakan umpan balik. Umpan balik itu menyebabkan adanya peninjauan terhadap rencana semula, karena harga emas yang melonjak itu mempengaruhi anggaran belanja saudara juga. Sehingga akhirnya saudara memutuskan untuk memakai pegangan pintu dari tembaga saja.

Selama proses pelaksanaan, saudara akan menghadapi hal-hal yang tidak diharapkan sebelumnya; informasi mengenai hal-hal itu merupakan umpan balik (masukan) bagi rencana yang sudah anda tetapkan, yang kemudian dimodifikasi/ditata kembali; pelaksanaan terus berjalan berdasarkan rencana yang sudah diperbaiki/ditata kembali itu.

Di dalam lingkungan Kristiani adalah hal yang biasa untuk menghadapi orang-orang yang alergi terhadap masukan ataupun evaluasi.

Pemimpin-pemimpin yang menyatakan bahwa mereka dituntun oleh "wahyu, pernyataan" barangkali akan dengan tegas menolak untuk menata kembali rencana mereka. "Kalau Allah mengatakannya demikian, maka itulah yang akan saya lakukan, saudara. Jadi saya tidak akan dipengaruhi oleh apapun."

Masalahnya adalah, mereka seringkali tidak berjalan dengan rencana Allah tetapi dengan kesan-kesan mereka sendiri yang dianggap benar; barangkali juga karena perencanaan itu menuntut banyak pikiran dan pekerjaan. Bagi beberapa orang adalah lebih mudah untuk mengklaim penyataan-penyataan dan visi-visi daripada melakukan sesuatu untuk mengembangkan sebuah rencana. Lebih mudah untuk mengatakan, "Tuhan menunjukkan kepadaku," atau "Tuhan berkata....."

Umpan balik atau masukan, nasihat dan evaluasi, dalam hal ini akan dianggap oleh mereka sebagai kritikan terhadap apa yang Allah kehendaki untuk dilakukan. Dan siapa yang berani mengritik Allah?

Saya tidak mengatakan bahwa Allah tidak dapat menunjukkan kepada saudara sebuah rencana, karena Dia dapat. Bukan juga karena Dia tidak dapat berbicara, karena sesungguhnya Dia dapat berbicara. Tetapi orang-orang yang menggantikan rencana Allah dengan kesan-kesan mereka sendiri yang mereka anggap dari Allah sebagai alasan untuk tidak menyediakan diri bekerja keras membuat perencanaan yang aktual, sama halnya dengan menipu diri mereka sendiri.

Mereka mengelabui diri mereka sendiri dan orang-orang yang dipimpinnya, karena dapat menutupi kemalasan mereka dengan kata-kata, "Tuhan berkata". Orang-orang yang mereka pimpin, mau tidak mau akan mempercayainya dan tidak lama kemudian pemimpin-pemimpin juga akan mempercayainya, padahal semuanya itu hanya tipuan belaka.

2. Umpan Balik Mengatasi Tipu Muslihat

Kita perlu mempergunakan umpan balik untuk mengatasi kemungkinan adanya pengelabuan atau kurangnya hikmat sehubungan dengan apa yang sedang kita lakukan, atau kekurangan-kekurangan dalam hal pelaksanaan rencana kita.

Saya berbicara bertolak dari sejumlah pengalaman dan pemahaman sehubungan dengan hal ini, selama berada di dalam pekerjaan Tuhan sejak tahun 1947.

Sebagai contoh, saya mengenal seorang pendeta yang mengklaim bahwa dia menerima sebuah wahyu (pernyataan) yang memimpin dia untuk pergi ke sebuah tempat yang jauh dan mendirikan sebuah Sekolah Alkitab. Tidak ada rencana mengenai hal itu sama sekali.

Dia bersama temannya mengadakan perjalanan ribuan mil jauhnya ke negara lain, di mana Tuhan memaksudkan mereka untuk membeli sebidang tanah. Mereka dipimpin oleh malaikat-malaikat dan penglihatan-penglihatan, bergerak setuju dengan pengarahan subyektif itu.

Pendeta yang memimpin proyek tadi, bersiap-siap untuk meninggalkan jemaat besar yang dilayaninya, secara menyeluruh dia tunduk pada visi yang baru diperolehnya itu. Seseorang bertanya, "Mana perencanaan anda sehubungan dengan proyek baru itu?"

"Tuhan memimpin saya untuk melakukan hal ini," demikian katanya.

"Barangkali Dia benar memimpin, tetapi Dia tetap menghendaki agar anda punya perencanaan. Dia mempunyai rencana juga sebelum meletakkan dasar bumi ini, dan Dia menghendaki andapun punya perencanaan juga. Anda belum mendefinisikan proyek tersebut. Tuhan tidak bekerja secara gegabah seperti itu."

Mereka yang menyatakan perhatian dan keprihatinan mereka, ternyata tidak digubris sama sekali, dan pemimpin-pemimpin itu nampaknya menulikan telinga terhadap nasihat-nasihat yang bijaksana tadi. Mereka tidak mau menerima masukan-masukan.

Kendatipun saya tidak sampai menghadapi situasi seperti itu, namun saya tahu mereka mempergunakan ribuan dolar untuk proyek itu, dan setelah beberapa tahun, Sekolah Alkitab itu masih belum ada. Ada ketidakberesan dalam cara kerja dari organisasi tersebut. Ada jurang kredibilitas, yang memerlukan waktu bertahun- tahun lamanya untuk menjembataninya. Orang-orang banyak yang merasa dikecewakan, bahkan bertanya-tanya, jangan-jangan mereka sudah menjadi korban penipuan.

3. Umpan Balik Menjaga Keseimbangan

Mengapa hal-hal sedemikian dapat terjadi? Kerena tidak mencari konfirmasi yang obyektif, sehubungan dengan apa yang mereka alami secara subyektif. Tidak ada sasaran. Tidak ada prioritas. Tidak ada rencana.

Percayalah pada saya, saya tidak menolak adanya komunikasi subyektif dari Allah. Allah mempergunakan karunia-karunia intuisi yang kita punyai, tetapi hal itu perlu diperkuat dengan fakta-fakta. Masukan-masukan menunjukkan apakah rencana itu - sejalan atau tidak sejalan - dengan langkah-langkah sasaran yang dituju.

Jika subyektif dan obyektif itu ternyata seimbang, maka saudara berada dalam pijakan yang kuat dan aman. Saudara berada didalam rel yang meluruskan arah tujuan dan sasaran saudara. Tetapi saudara tidak akan dapat menjalankan kereta api hanya dengan satu rel saja; saudara memerlukan dua rel. Tuntunan yang subyektif dan fakta-fakta yang obyektif perlu sejajar, dan kedua-duanya membutuhkan konfirmasi timbal-balik. Bilamana hal itu diperhatikan dengan seksama, maka hasilnya pun pasti baik.

Pencapaian yang berhasil, memerlukan perencanaan yang cermat. Hal itu memerlukan kerja keras, pemikiran dan perencanaan yang praktis. Jika saudara tidak memiliki karunia administrasi untuk mengendalikannya, ambillah seseorang yang memilikinya untuk menolong saudara.

Tidak peduli apa yang Tuhan berikan kepada saudara baik dalam hal visi dan sasaran, seseorang harus merencanakan untuk pelaksanaan dalam cara yang teratur, logis, langkah demi langkah, sehingga visi dan sasaran itu dapat diwujudkan.

Jika saudara tidak mengikuti prinsip-prinsip ini, saya dapat memastikan pada saudara bahwa kegagalan dan kekecewaan akan saudara alami sehubungan dengan apa saja yang saudara coba untuk melakukannya.

Di dalam taraf pelaksanaan, jangan melihat rencana saudara dalam bentuknya yang konkrit. Sesudah saudara membuat rencana, ijinkanlah fakta-fakta dan pengetahuan yang saudara temukan selama proses pelaksanaan itu memodifikasi rencana saudara.

Jangan praktekkan teologi konkrit (semua tercampur dan ditetapkan, sehingga kaku dan harga mati). Buatlah rencana saudara itu fleksibel (lentur), sehingga dapat dimodifikasi, sementara proses pelaksanaan menunjukkan mana yang perlu diubah, ditambah, disesuaikan dan lain sebagainya.

C. EVALUASI - SANGAT PENTING

1. Menunjukkan Kepada Kita Apakah Tujuan Tersebut Tercapai

Sesudah saudara melaksanakan dan menyelesaikan rencana saudara, saudara perlu untuk selalu mengadakan evaluasi. Apakah sasaran itu telah dicapai? Apakah kita telah menyelesaikan tujuan-tujuan kita? Sudahkah visi itu pada akhirnya direalisasikan? Ataukah mungkin kita menghadapi hambatan-hambatan dari musuh, atau hambatan-hambatan akibat kesombongan dan kebandelan kita?

Salah satu hal yang paling tidak menyenangkan dalam 20 tahun terakhir ini adalah evaluasi dari pelayanan seorang utusan Injil. Pada umumnya para utusan Injil (misionari), tidak mau dievaluasi. "Beri saja saya ijin untuk pergi ke Afrika dan memuliakan Allah, Saudara, dan jangan ganggu saya dengan segala macam pertanyaan." Nampaknya itulah sikap yang seringkali ditampilkan.

Jika saudara mulai menilai para utusan Injil dengan kriteria yang obyektif, saudara dapat membuat evaluasi secara kasar. "Apa yang sudah saudara capai di Afrika, selama dua puluh tahun memuliakan Allah? Apa yang sudah terjadi selama tahun-tahun tersebut? Mana buah-buahnya? Dapatkah saudara memberikan ringkasan sehubungan dengan hasil-hasil yang dapat diukur?"

Saya tidak maksudkan bahwa team yang mengadakan evaluasi harus terdiri dari orang-orang yang keras dan kritis, bagaikan jendral-jendral dalam kemiliteran. Team evaluasi kita tidak akan masuk ke dalam bidang pelayanan misi yang dinilai, tanpa memahami permasalahan, ataupun penderitaan yang dialami di dalam kehidupan utusan Injil dan karirnya, dengan maksud untuk mencabik-cabiknya. Tidak dengan cara demikian.

Team evaluasi itu jelas peka terhadap situasi di berbagai negara. Jika mereka menjumpai seorang utusan Injil yang hanya memenangkan beberapa jiwa untuk Tuhan di tengah-tengah situasi yang sangat sulit dan menekan, mereka akan menyatakan penghargaan mereka untuk apa yang telah dicapainya. Kami sebagai team evaluasi, senang dan memuji Tuhan, untuk utusan Injil yang produktif.

2. Menunjukkan Kepada Kita Apakah Usaha Tersebut Memuaskan

Tetapi banyak usaha-usaha misi yang tidak dapat dibenarkan berdasarkan atas apa yang sudah dicapai, bilamana mempertimbangkan tenaga, sumber daya, waktu, orang yang dipekerjakan, dan pembiayaan. Itulah sebabnya, mengapa evaluasi sangat diperlukan. Bilamana tidak ada evaluasi, ada kecenderungan untuk menyalah gunakan dan ketidak mampuan cenderung berkembang.

a. Menghabiskan Waktu dan Uang. Di salah satu bagian dunia, seorang utusan Injil sudah berada di situ selama lima tahun dan menggunakan dana sebesar Rp. 400. 000.000,- sebelum team evaluasi dikirim untuk melihat apa yang dilakukannya. Tempatnya di pedalaman, sekitar satu jam perjalanan dengan perahu motor. Untuk mempercepat waktu, pada akhirnya team penilai memutuskan untuk naik pesawat dan mendarat di suatu bangunan yang luas dari beton.

Di tengah-tengah rimba itu, utusan Injil ini merencanakan untuk "mendirikan sekolah Alkitab, untuk melatih orang-orang menginjili penduduk asli." Masalahnya adalah, desa yang terdekat dari tempatnya itu sekitar satu jam perjalanan dengan perahu motor.

Bahkan desa yang terdekat ini hanya berpenduduk sekitar 2.700 orang, miskin dan buta huruf. Mereka adalah orang-orang Indian. Jika saja letaknya di tengah-tengah desa itu, masih agak dapat dimengerti. Tetapi letak dari Sekolah Alkitab yang direncanakan oleh utusan Injil ini terpencil dari daerah-daerah terdekat yang dihuni manusia, dan bermil-mil jauhnya untuk dapat berkomunikasi dengan dunia luar.

Seluruh daerah masih lenggang dan tidak ada penduduknya sama sekali, sehingga bilamana saudara mempergunakan pesawat dan melayang-layang di atasnya, saudara akan dapat menentukan tempat-tempat mana yang dihuni oleh orang-orang untuk dapat diinjili. Dan ternyata tidak banyak.

Untuk mendirikan bangunan beton, utusan Injil ini sudah menghabiskan sebanyak Rp. 400.000.000,- selama lima tahun. Mahalnya ongkos membawa bahan-bahan bangunan melalui sungai ke lokasi itu, dan pekerja-pekerja yang didatangkan dari Amerika, menyebabkan meningkatnya jumlah anggaran melampaui yang sudah ditentukan sebelumnya.

Apa yang sudah ditunjukkan oleh utusan Injil ini untuk uang sejumlah Rp. 400.000.000,- dan selama lima tahun berada di sana? Dia belum memulai satu kelaspun, dia juga belum mempunyai satu murid pun yang mendaftar, dan dia berada di sana dengan sebuah bangunan kecil.

Ada banyak pencari dana yang mondar-mandir di Amerika Serikat menunjukkan film mengenai utusan Injil yang hebat dan luar biasa ini, yang mengadakan petualangan di rimba belantara. Mereka mengatakan, "Puji Tuhan, kami akan menginjili yang terhilang dan memenangkan mereka bagi Yesus! Kami sedang mendirikan Sekolah Alkitab! Bukankah ini sesuatu yang indah? Perhatikan saja betapa indah dan mentakjubkan pemandangan di sekitar hutan rimba itu! Lihatlah kera-kera, burung-burung parkit dan betet itu - LUAR BIASA!

Saudara perlu mempertimbangkan gambaran itu secara menyeluruh. Orang-orang Indian lokal tersebut tidak dapat membaca, jadi kalau bermaksud melatih mereka ke Sekolah Alkitab, dari mana saudara akan mulai melatih mereka? Dengan pertama-tama mengadakan waktu sekitar lima sampai sepuluh tahun untuk mengajar mereka membaca? Lalu kapan saudara akan mulai mengajar mereka membaca? Lalu kapan saudara akan mulai mengajar kepada mereka Alkitab ? Orang-orang tersebut belum dapat menghitung dua tambah dua.

Apakah tidak lebih masuk akal untuk mendapatkan orang-orang yang sudah tahu membaca dan menulis, dan melatih mereka untuk pergi dan bersaksi kepada orang-orang di desa-desa tersebut? Ini adalah hal-hal yang perlu sekali untuk saudara pertimbangkan di dalam pekerjaan pengutusan Injil dan di dalam mengevaluasi usaha-usaha pelayanan Injil.

Ada masalah-masalah khusus dengan bertempat tinggal di daerah-daerah yang masih primitif, di tengah-tengah hutan rimba itu, tidak ada listrik, tidak ada sumber mata air yang bersih. Pasangan utusan Injil ini harus merebus terlebih dahulu air untuk persediaan minum mereka. Mereka harus pergi ke sungai untuk mandi. Mereka senantiasa waspada terhadap lintah-lintah hutan dari berbagai jenis. Dan mereka juga mencoba untuk membesarkan dan mendidik anak-anak mereka di tengah-tengah keadaan yang sedemikian itu.

Lalu kapan mereka punya waktu untuk mengelola sebuah Sekolah Alkitab? Jika mau jujur dan apa adanya, mereka tidak punya cukup waktu. Untuk mengurusi diri mereka sendiri, diperlukan waktu sekitar delapan sampai sembilan jam setiap harinya. Lebih dari itu, ini bukan hal yang semestinya terjadi di ladang pelayanan misi.

Biar bagaimanapun, utusan Injil ini orang yang baik, dan seandainya dia adalah anggota gereja saudara, saudara akan menyukai mereka juga. Tetapi selama proses evaluasi melalui wawancara, ketika dia diperhadapkan pada kenyataan-kenyataan yang tidak logis, sehubungan dengan situasi di mana dia berada, pada akhirnya dia mengaku, "Saudara, tanah ini satu hari kelak akan ada gunanya. Saya punya sekitar dua ratus hektar dan sedang membangun semua ini demi masa depan anak-anak saya, dan mereka yang akan memilikinya nanti."

Team evaluasi itu sangat terkejut, hampir-hampir tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Untuk tempat tinggal anak-anak mereka? Dia menghimbau semua orang di seluruh Amerika Utara, mencari dana dari mereka untuk mendirikan sebuah Sekolah Alkitab di tengah-tengah hutan rimba, yang barangkali tidak akan sampai bernilai dua dolar atau Rp.4.000,- per hektar pada waktu Tuhan datang.

Karena motivasinya salah, keliru, dia dikuasai oleh khayalan bahwa tanah hutan rimba itu nantinya akan bernilai ratusan ribu rupiah perhektarnya. Dengan demikian dia dapat meninggalkan warisan dan tempat tinggal bagi anak-anaknya.

Dia sudah menyia-nyiakan waktu banyak selama bertahun-tahun dan nampaknya dia berketetapan untuk terus melangkah dalam pemborosan dan kesia-siaan lebih lanjut. Orang-orang di Amerika Utara sungguh sangat tertipu dalam hal memberi sumbangan dana terus menerus kepadanya, sampai pada jumlah sekitar Rp. 80.000.000,- per tahunnya.

Sangat diperlukan perencanaan yang sehat. Adanya visi yang hebat yang dikatakan oleh seorang sebagai yang diperolehnya dari Allah, perlu dievaluasi oleh team evaluasi secara obyektif.

Bila tidak, apa yang kita punyai? Kita punya sebuah Tabernakel (kemah pertemuan) dengan 2000 tempat duduk, dengan atap yang rata yang dibangun di daerah yang bersalju dan akhirnya runtuh berantakan pada waktu musim salju. Kita sudah mengadakan perjalanan sejauh ribuan mil untuk menginjili kepulauan Caribea yang ternyata tidak berpenduduk. Kita punya sekolah Alkitab yang bernilai ratusan juta rupiah di tengah-tengah hutan belantara, namun tanpa ada satu murid pun.

D. Bagaimana Kita Dapat Memantapkan Proyek-Proyek Yang Layak

Untuk menjaga dan menghindarkan proyek-proyek yang menipu, sungguh sangat sulit.

Di dalam 1 Tesalonika 5:12, Paulus berkata, "Kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu." Itulah yang merupakan satu-satunya perlindungan nyata yang saudara miliki. Hal itu akan menolong di lingkungan persekutuan yang dikenal, di mana setiap pribadi secara teratur dievaluasi oleh yang lain-lain, dan di mana setiap orang mengetahui apa yang sedang terjadi.

Salah satu contoh yang baik sehubungan dengan hal ini adalah di dalam Keluaran Pasal 25, ketika Allah memberikan kepada Musa, visi mengenai Tabernakel, Proyek ini memerlukan penyerahan sejumlah ratusan milyard rupiah dalam bentuk emas, perak, batu-batuan permata dan bahan-bahan lainnya.

Bagi rakyat Israel, tidak ada masalah untuk komitmen mereka dengan memberikan persembahan kasih yang besar nilainya itu, karena ada bukti yang nyata dan jelas bahwa Musa mendengar dari Tuhan, berdasarkan pada iman yang dimilikinya yang telah terbukti dan hasil-hasil yang telah dicapainya.

Tetapi jika Musa mencoba melakukan hal itu ketika dia masih bersama dengan bangsanya di Mesir, dia tidak akan berhasil. Atau, jika dia bergabung dengan mereka sebagai orang asing di padang gurun, mereka tidak akan mendengarkan usul itu. Dia sudah bersama dengan mereka selama bertahun-tahun dan dia mempunyai sejarah kredibilitas.

Kedua, Musa mengajukan sebuah rencana yang komplit. Rencana yang dapat diukur, dijangkau, dan dikomunikasikan, bisa dilihat dan didefinisikan dalam wujud sasaran atau langkah-langkah tindakan. Bilamana seseorang meminta kepada saudara untuk terlibat dalam suatu proyek atau menyumbangkan sejumlah uang untuk proyek itu, jangan takut untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Jika mereka tidak dapat memberikan jawaban-jawaban yang jelas sehubungan dengan sasaran dan rencana-rencana mereka, saudara punya alasan yang baik untuk tidak memberikan dukungan saudara.

E. Penutup

Ada prinsip-prinsip Alkitab untuk suatu pencapaian. Seseorang mengatakan, "Bila sebagai tambahan saja, Allah akan berkati, tetapi bila sebagai pengganti, Allah akan kutuki." Maksudnya, jika saudara mencoba prinsip-prinsip ini sebagai ganti untuk dedikasi, doa, pengudusan, ketulusan dan prinsip-prinsip rohani lainnya, maka hal-hal itu justru akan menjadi kutuk bagi saudara.

Tetapi jika semuanya itu untuk suatu tambahan, alat/sarana yang saudara pergunakan untuk memajukan kerajaan Allah, saya merasa positif bahwa hal-hal itu akan menjadi berkat.

Kiranya saudara mempunyai lebih banyak tuaian untuk dipersembahkan di bawah kaki Yesus pada waktu Dia datang kembali.