RENUNGAN

KEMULIAAN DI PADANG

R. C. Sproul

R. C. Sproul adalah mantan profesor Sistematik Teologi di Reformed Theological Seminary, Jackson Mississippi. Artikel ini diambil dari bukunya yang berjudul, "The Glory of God"

Ada sesuatu yang bersifat sakral mengenai Palestina. Palestina merupakan Tanah Suci, titik pusat bagi berbagai penyelidikan mengenai periode waktu dan tempat kudus. Penyelidikan ini seperti suatu perjalanan melewati waktu yang bersifat melengkung.

Mengunjungi Tanah Suci melibatkan lebih dari sekedar suatu kekagetan budaya. Ada kejutan-kejutan tambahan terhadap jiwa seseorang yang muncul karena memasuki tempat terjadinya inkarnasi. Sejarah menjadi begitu aktual. Tubuh bergetar pada saat merasakan waktu yang berhenti. Peristiwa itu terjadi di tempat terbuka, menggores batu karang yang tandus. Tanah datar, pemandangan, jalanan, pengembara, keledai semuanya berkata bahwa inilah tempat di mana Allah semesta alam mengunjungi kita.

Ada suatu perbedaan besar antara yang berhubungan dengan sejarah (historical) dan yang bersejarah (historic). Segala sesuatu yang terjadi di dalam ruang dan waktu merupakan hal-hal yang berhubungan dengan sejarah. Tetapi hanya yang penting dan berarti merupakan hal- hal yang bersejarah. Yang penting dan berarti (significant) disebut demikian karena mempunyai "tanda" (sign). Sesuatu yang penting dan berarti menyatakan hal-hal yang lebih besar yang melampaui dirinya sendiri. Tidak ada tanah yang lebih bersejarah dan bermakna daripada Palestina. Di sinilah tempat terjadinya peristiwa yang menghasilkan seluruh sejarah. Makna hidupku, akar dari keberadaanku tertanam di dalam batu-batu di tanah ini.

Setiap kali mendengar kata-kata Injil Lukas mengenai kelahiran Yesus, hal itu selalu membakar hatiku. Setelah dikunjungi malaikat, para gembala berbicara satu dengan yang lainnya: "Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita." Saya pergi ke Betlehem sebagai bagian dari perjalanan wisata ke Israel. Betlehem, adalah kota yang kecil kurang lebih lima mil, barat daya dari Yerusalem. Daerah yang kaya akan sejarah bahkan sebelum kelahiran Yesus. Kuburan Rahel ada di tempat ini (Kej. 35:19). Tempat ini merupakan latar belakang dari kisah-kisah Rut. Warga terkenal Perjanjian Lama yang hidup di Betlehem adalah Daud. Di sinilah Daud diurapi oleh Samuel. Pada tempat inilah nabi Mikha menulis:

Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.

Mikha 5:1

Kunjungan saya ke Yerusalem mengikuti pola para turis. Kami pergi dengan bis ke tempat kelahiran Yesus. Tempat ini ditandai dengan berdirinya gereja Kelahiran Yesus, yang sebenarnya dibangun oleh Kaisar Bizantium Justinus I pada abad ke-enam. Di sana kami menemukan gua kelahiran Yesus yang terukir di batu karang dan di gariskan dengan pualam di dalam sebuah gua di antara ruangan di bawah tanah.

Kemegahan gereja ini bertolak belakang dengan kisah kesederhanaan palungan yang sesungguhnya. Catatan Alkitab mengenai kelahiran Yesus memberikan tekanan penting pada perendahan diri melalui tidak adanya ruangan di dalam penginapan.

Setiap tahun selama Natal kita mendengar tentang aspek perendahan diri dari kelahiran Yesus. Kita mendengar tentang kain kafan, palungan, perjalanan yang sulit dari Maria dan suaminya. Realitas yang sederhana ini menekankan perendahan diri yang menandai masuknya Kristus ke dalam dunia.

Melalui aspek-aspek kelahiran Yesus kita disadarkan akan kerelaan mengosongkan diri dari kemuliaan yang dinikmati-Nya bersama dengan Bapa sejak kekekalan. Kedatangan-Nya ke dalam dunia dengan cara yang sederhana merupakan sebuah selubung yang menyembunyikan keagungan kekal yang dimiilki-Nya. Ini merupakan suatu kerelaan untuk menundukan diri-Nya pada perendahan diri yang dinyatakan Paulus melalui himne di Filipi 2:5-11.

Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Himne ini menekankan kemuliaan Krstus yang dipulihkan kembali setelah perendahan diri di dalam dunia. Himne ini merefleksikan saat turun dari surga maupun saat naik ke surga. Sebelum Ia naik ke dalam kemuliaan, Ia pertama-tama harus turun dari kemuliaan.

Tahun 1969 saya bertemu dengan seorang penatua, Henry Barraclough. Ia menulis sebuah himne yang menjadi terkenal "Istana Gading". Ia berkata kepada saya bahwa ketika waktu muda di Philadelphia, ia mendengar sebuah khotbah menggemparkan yang didasarkan pada himne Paulus di Filipi 2. Setelah mendengar khotbah tersebut, Henry duduk dan menulis beberapa kata dalam himnenya: "Keluar dari istana gading, masuk ke dalam dunia kesengsaraan..." Yesus turun ke dalam dunia kesengsaraan dengan kemuliaan ilahi yang tersembunyi di antara selubung perendahan diri. Selubungnya ada di sana, namun tidak suram. Selubung ini diikuti sinar cahaya yang menyinari dari waktu ke waktu. Di saat yang paling hina, pada momen penderitaan, yang amat sangat, ada terang dari pancaran cahaya yang menjadi milik natur ilahi-Nya.

Bahkan di dalam perendahan diri saat Kelahiran-Nya ada suatu penerobosan kemuliaan: Hal ini terjadi di padang di luar Betlehem. Selama kunjungan ke Betlehem ketika saya mendengar perkataan pemimpin tur di gereja Kelahiran Yesus, saya merasa mau meninggalkan gedung dan pergi keluar. Saya menyimpang dari kelompok tur dan berjalan menuju sebuah dinding batu tua yang merupakan perbatasan menuju padang Betlehem. Saya duduk di pinggir dinding dan memandang ke suatu padang yang luas dan kosong. Saya menutup mata dan berimajinasi akan malam itu - malam di mana para gembala menjaga kawanan dombanya. Saya berpikir, seperti apa memiliki pekerjaan yang menuntut kewaspadaan selama dua puluh empat jam sehari. Saya teringat akan tugas jaga malam di pabrik dan merasa jemu bersamaan dengan semakin larutnya malam.

Hal yang monoton menjadi bagian dari pekerjaan ini yang secara rutin terjadi dari hari ke sehari. Para gembala menghabiskan malam-malam yang tak terhitung jumlahnya di padang di luar Betlehem. Hanya sedikit daya tarik dan pekerjaan ini.

Tetapi pada malam Yesus dilahirkan hal yang spektakuler terjadi. Dataran Betlehem menjadi teater bagi salah satu pertunjukan musik dan cahaya yang paling spektakuler dalam sejarah hidup manusia. Seluruh langit bergetar.

Lukas mengatakan kepada kita apa yang terjadi:

Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan." Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara surga yang memuji Allah, katanya: "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya." (Lukas 2:8-14)

Kunjungan malaikat diliputi dengan kemuliaan Allah. Kemuliaan itu bersinar. Kemuliaan itu bukanlah milik para malaikat. Ini merupakan kemuliaan Allah, yang mengandung makna keberadaan ilahi-Nya. Ini merupakan kemegahan ilahi yang menyelimuti utusan surgawi, suatu pancaran ilahi yang bersifat nyata.

Makna dasar dari istilah malaikat adalah "utusan". Malaikat adalah makhluk roh yang melayani Allah dan yang diutus sebagai utusan yang menyatakan pengumuman dengan megah. Ia memikul tanggungjawab sebagai utusan yang menyampaikan pengumuman ilahi. Kepercayaan terhadap tugas ini terlihat secara jelas melalui menyatunya pancaran kemuliaan Allah yang menyertai pengumuman ini.

Catatan Injil Lukas menyatakan respons langsung dan para gembala berupa suatu kegentaran yang luar biasa. Terjemahan Alkitab yang lebih awal menyatakan, "Dan mereka ketakutan dengan sangat berat." Sambil duduk di tembok yang membatasi padang di Betlehem, saya berpikir akan kegentaran yang dihadapi para gembala. Saya berimajinasi akan kegentaran yang saya alami jika bertemu dengan fenomena yang sama. Hal ini sama seperti melintasi suatu dimensi, menatap suatu penglihatan yang pernah disaksikan oleh beberapa orang yang telah meninggal. Saya bergetar memikirkan hal itu. Saya berpikir akan respon Habakuk ketika Allah menampakan diri padanya: "Ketika aku mendengarnya, gemetarlah hatiku, mendengar bunyinya, menggigillah bibirku, tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dan aku gemetar di tempat aku berdiri, namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan, yang akan mendatangi bangsa yang bergerombolan menyerang kami" (Hab. 3:16).

Ketika para gembala gemetar dalam ketakutan, mereka diingatkan oleh malaikat "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud." (Luk. 2:10).

Setiap manusia mengharapkan seorang juruselamat. Kita melihat seseorang atau sesuatu yang dapat menyelesaikan problema kita, menentramkan kesakitan kita, atau menjamin tujuan utama dari segala sesuatu yaitu kebahagiaan. Mulai dari pencarian kesuksesan dalam bisnis hingga menemukan pasangan hidup atau teman yang sempurna, kita selalu mencari.

Bahkan dalam keasyikan berolahraga kita selalu menunjukan pengharapan akan seorang juruselamat. Seperti berakhirnya sebuah kegiatan olahraga dengan lebih banyak yang kalah daripada yang menang, kita mendengar teriakan yang berkata "Tunggu sampai tahun depan!" Lalu datanglah kelompok pertahanan yang baru, dan para pendukung menaruh harapan dan mimpi mereka pada kelompok anak-anak yang baru ini agar dapat memberikan kemuliaan kepada kelompok mereka. Pertahanan, anggota baru, alat-alat yang baru, berita-berita yang akan muncul di surat pada esok hari - semuanya diinvestasikan dengan pengharapan yang jauh lebih besar daripada orang lain yang mungkin memberikannya.

Melimpahnya cahaya di padang Betlehem merupakan suatu pengumuman kedatangan Juruselamat yang mampu menyelesaikan tugas ini.

Perhatikan bahwa Juruselamat yang baru lahir juga disebut sebagai "Kristus Tuhan". Bagi para gembala yang kebingungan, sebutan ini adalah sebutan yang bermakna. Juruselamat ini adalah Kristus, Mesias yang telah lama ditunggu oleh bangsa Israel. Setiap orang Yahudi ingat akan janji Allah bahwa suatu hari Mesias, yang diurapi Allah, akan datang untuk membebaskan Israel. Juruselamat - Mesias ini adalah Tuhan. Ia bukan saja menyelamatkan umat-Nya tetapi Ia akan menjadi Raja mereka, yang berdaulat penuh.

Malaikat menyatakan bahwa Juruselamat Mesias - Tuhan lahir "bagimu". Pengumuman ilahi bukanlah suatu ungkapan penghakiman tapi suatu deklarasi kasih karunia. Raja yang baru lahir itu lahir bagi kita.

Kemudian malaikat mengumumkan pemberian suatu tanda yang akan menjadi pembuktian deklarasi kebenaran tersebut: "Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan." (Luk. 2:12). Tanda palungan ini kontras dengan semaraknya kemuliaan di Padang. Dalam jarak yang begitu dekat dengan kemegahan cahaya dan suara tersebut, akan ditemukan Juruselamat yang berjubah kehinaan dan kerendahan.

Ketika paduan suara yang lembut itu selesai, para gembala berdiskusi mengenai peristiwa yang terjadi di sekitar mereka. Tempo diskusi sangat mengagumkan dan sulit menjadi tenang. Mereka menjadi begitu jelas di samping penuh dengan ketakutan, kekaguman dan kemuliaan yang begitu luar biasa. Mereka kemudian menetapkan untuk meninggalkan tempat itu menuju ke tanda yang dijanjikan.

Alkitab menyatakan kepada kita bahwa mereka meninggalkan tempat itu dengan terburu-buru untuk menuju tempat kelahiran Kristus. Apakah dalam sikap ini dan ketertarikannya, mereka meninggalkan kawanan dombanya. Tindakan seperti ini mungkin tidak terpikirkan oleh gembala yang bertanggungjawab. Apakah mereka meninggalkan satu atau sekelompok kawanan domba? Jika demikian bagaimana merasakan kerinduan mereka akan petualangan atas segala petualangan ini? Alkitab tidak bicara mengenai hal ini dan kita harus meninggalkan spekulasi ini.

Lukas menyimpulkan kisah para gembala ini dengan menulis:

Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Maka kembalilah gembala-gembaia itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka. (Luk. 2:16-20).

Para gembala kembali ke domba-domba mereka. Perjalanan pulang ini ditandai dengan pemujaan dan pujian yang secara spontan dinaikkan oleh mereka. Orang-orang ini bukanlah orang-orang yang sama seperti sebelumnya. Mereka telah melihat dengan mata mereka sendiri dan mendengar dengan telinga mereka sendiri manifestasi dari kemuliaan Allah.(TE)

Judul Buku : Momentum 38 Desember 1998
Judul Artikel : Kemuliaan Di Padang
Penerbit : LRII
Penulis : R. C. Sproul
Halaman : 1-8