37. KETIKA MEMERANGI FRUSTASI MASALAH SEKSUAL

AYAT ALKITAB UNTUK DIRENUNGKAN

Pelayanan pada tingkat yang paling tinggi

Filipi 3: Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia …. (ay. 8-9)

Tentukan siapa dan apa yang akan Anda layani

Roma 6: Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran. (ay. 13)

Serahkanlah seluruh keberadaan Anda kepada Allah

Roma 12: Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. (ay. 1)

Menjadi hamba kebenaran

Roma 6: Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan. (ay. 19)

Jangan memerangi, tetapi larilah

1 Korintus 6: Jauhkanlah dirimu daripada percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri. Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah,-dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! (ay. 18-20)

Gairah yang mengalahkan gairah lainnya

Markus 12:Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. (ay. 30)

Kita harus menyadari bahwa keinginan seksual itu tidak lebih memalukan dibanding rasa lapar pada makanan. Tetapi, keinginan ini tidak boleh diartikan seperti rasa lapar pada makanan, bahwa keinginan itu harus selalu dipenuhi. Kita tidak mungkin hidup tanpa makanan, tetapi kita dapat hidup tanpa seks. Masalah utama yang mendasari frustasi seksual adalah cara menyalurkan energi seksual. Untuk mereka yang telah menikah, tenaga ini dapat disalurkan secara sah melalui hubungan seksual, tetapi untuk mereka yang masih lajang hal ini dilarang oleh Kitab Suci. Bagaimana cara kaum lajang, dan kadang-kadang dalam kondisi tertentu juga mereka yang sudah berkeluarga, menangani dorongan seks yang menggebu-nggebu? Apakah masturbasi jawabannya? Kitab Suci tidak mengatakan apa-apa tentang hal ini (kecuali pada kasus Onan yang masih diperdebatkan dalam kejadian 38:19), dan memang ada yang berpendapat jika tidak dapat ditemukan cara penyalurannya, masturbasi diperbolehkan asal tidak disertai gambaran-gambaran seksual. Tetapi ada "cara yang lebih baik": melalui sublimasi. Sublimasi adalah menyalurkan energi pada aktivitas lain yang lebih tinggi. Salah seorang yang mempraktekkan hal ini dengan baik sekali adalah Rasul Paulus. Dia jelas tidak menikah (lih. 1 Korintus 7:7), meskipun dorongan seksualnya tidak terpenuhi secara biologis, dia tidak frustasi, karena semua tenaganya dikendalikannya bagi pelayanan Kerajaan Allah. Dia kreatif dalam pikiran dan roh, jadi dorongan biologisnya disublimasikannya. Bila energi rohani dipusatkan pada Kristus dan kerajaan-Nya, energi seksual tidak dihilangkan, tetapi energi itu tidak akan menyebabkan frustasi. Banyak kaum lajang dengan dorongan seksual yang kuat menemukan bahwa kekuatan dorongan ini melemah ketika mereka menenggelamkan diri dalam pelayanan yang kuat untuk Tuhan.

Bapa yang penuh kasih dan karunia, tolonglah aku untuk belajar seni sublimasi, yaitu memakai apa yang terhambat di tingkat fisik yang lebih rendah dan menyatakannya pada tingkat yang lebih tinggi. Aku melihat orang-orang yang punya dorongan melayani yang kuat. Aku serahkan seluruh diriku kini untuk pekerjaan-Mu. Amin.