Anugerah Tuhan dan Kelemahan Seorang Pemimpin Kristen (2 Korintus 12:1-10) (II)

[Bagian pertama dibahas dalam e-Leadership 126: Anugerah Tuhan tidak menghilangkan kelemahan seorang hamba-Nya.]

Kedua, kasih karunia Tuhan bekerja sempurna justru di dalam kelemahan hamba-Nya. (2 Korintus 12:9)

Pada mulanya, Paulus tidak mengerti alasan mengapa Tuhan menaruh "duri" dalam dagingnya yang membuatnya begitu lemah dan menderita. Namun, setelah ia memohon dalam doa dan Tuhan menolak mengangkat "duri" tersebut, ia mulai melihat "duri" itu dari perspektif yang lain, yakni perspektif Allah: supaya ia tidak meninggikan diri. Dua kali hal ini dinyatakan di ayat 7.

Mengapa Allah kelihatannya begitu "khawatir" kalau Paulus akan meninggikan diri? Benarkah Paulus seorang yang sombong? Atau barangkali Allah terlalu mengada-ada? Untuk mencari jawaban pertanyaan tersebut, saya ingin mengajak pikiran Anda di kehidupan jemaat Kristen mula-mula. Mari membayangkan, seandainya kita menghadiri Sidang Raya Persekutuan Gereja-Gereja di Yerusalem untuk memberikan penghargaan semacam hadiah Nobel sebagai dedikasi dan prestasi pelayanan, kira-kira siapakah yang layak mendapat hadiah tersebut?

Saya terka pilihan dewan majelis akan jatuh pada rasul Paulus. Alasannya adalah karena Paulus memunyai kualifikasi yang sungguh sukar tertandingi. Ia telah merintis dan mendirikan banyak gereja, khususnya di Asia Kecil, Makedonia. Dalam pelayanannya, ia tidak pernah undur setapak pun meski sepanjang hidupnya diancam bahaya maut, kelaparan, kedinginan, karam kapal, dan banyak bahaya lainnya. Bukan hanya itu, ia juga memunyai banyak kelebihan dibanding hamba-hamba Tuhan yang lain, baik secara intelektual dalam pengenalan tentang kebenaran Allah, maupun pengalaman spiritual, khususnya menerima penglihatan dan pernyataan Allah. Salah satu penglihatan yang paling luar biasa adalah ia diangkat oleh Allah ke tingkat tiga dari surga. Hebat bukan? Paulus jelas memunyai alasan untuk merasa lebih dari orang-orang lain.

Di samping itu, saya pikir Paulus tidak akan pernah bisa menerima perlakuan Tuhan yang memberi "duri" dalam dagingnya dan bahkan menolak permohonan doanya, bila memang ia tidak memunyai masalah dengan kesombongan diri. Namun, karena ia sungguh-sungguh menyadari bahwa ia memang orang yang sombong dan punya potensi untuk memegahkan diri, ia bisa menerima keputusan Tuhan itu.

Jadi, "duri" yang sengaja dipancang oleh Allah ke dalam daging Paulus bukanlah untuk menjatuhkannya, tetapi sebaliknya, untuk menopangnya agar ia tidak jatuh dalam pelayanannya. "Duri" itu bukan untuk membatasi pelayanan Paulus, tetapi sebaliknya, untuk membebaskannya dari kesombongan. "Duri" itu bukan untuk mempermalukan dan mengurangi wibawanya sebagai seorang pemimpin, tetapi untuk menyadarkan Paulus akan realitas kemanusiaannya yang serba terbatas, dan mendorongnya untuk terus bergantung penuh pada kasih karunia Allah.

Yang sangat menarik dari ayat 9 selain isinya adalah struktur kata-kata pembukanya: "jawab Tuhan kepadaku" yang dalam bahasa Yunaninya tertulis "eireken", memakai bentuk present perfect. Bentuk ini mengandung arti bahwa suatu kejadian telah terjadi di masa lalu, namun pengaruhnya masih dirasakan sampai saat ini. Paulus menggunakan bentuk present perfect untuk kata "jawab Tuhan kepadaku" untuk mengatakan kepada jemaat Korintus bahwa permohonan doanya telah berhenti, tetapi gaung jawaban Tuhan atas doanya masih ia dengar sampai sekarang ini. Apa yang ia dengar pada 14 tahun yang lalu, tetap tinggal menjadi suatu sumber kekuatan dan penghiburan yang tak habis-habisnya bagi dirinya. Meskipun "duri" atau kelemahan masih tertinggal di dalam dirinya, namun ia yakin bahwa kapan pun utusan Setan itu menyerangnya, ia akan memunyai kekuatan dari Allah untuk mengatasinya.

Perhatikan apa yang Tuhan katakan kepada Paulus, "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu." Penekanan jawaban Tuhan ini terletak pada kata "cukuplah" yang diletakkan di depan kalimat, yang berarti "tidak kurang". Ini menunjuk kepada kualitas dan kuantitas dari kasih karunia yang telah Tuhan berikan kepada Paulus. Walaupun "duri" mendatangkan kesakitan, tetapi kasih karunia tidak kurang memberi kelepasan; meskipun "duri" mendatangkan rasa frustrasi, tetapi kasih karunia tidak kurang memberikan penghiburan; kendati "duri" mendatangkan kelemahan, tetapi kasih karunia tidak kurang memberikan kekuatan. Di mana "duri" menusuk di situ, kasih karunia menutup.

"Kasih karunia" itu sendiri sering berarti kebaikan Allah yang jatuh melimpah kepada diri kita dan juga pengampunan yang kita peroleh, meskipun kita tidak layak mendapatkannya. Tetapi, jika di sini dihubungkan dengan kuasa, itu bisa juga berarti kekuatan yang Allah berikan kepada orang percaya, yang memampukannya mengatasi setiap pencobaan yang datang dalam kehidupannya.

Allah berkata kepada Paulus, "Sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa kelemahan merupakan prasyarat mutlak bekerjanya kuasa Allah dengan sempurna dalam diri seorang hamba-Nya. Pada waktu kita merasa kuat, kita tidak akan menyadari betapa besarnya kita memerlukan kuasa Tuhan. Kebutuhan itu hanya akan muncul jika, dan hanya jika, kita berada dalam keadaan yang begitu lemah. Semakin kita lemah, semakin kita bergantung kepada Allah, dan semakin leluasa kuasa Allah bekerja di dalam kita. Paulus, dalam 2 Korintus 4:7 melukiskan dirinya sebagai bejana tanah liat yang tidak memunyai kekuatan yang memadai, dan ia berkata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari dirinya. Semakin lembut si tanah liat, semakin mudah sang penjunan membuatnya menjadi bejana yang sesuai dengan keinginannya.

Atas dasar itulah Paulus berkata, "Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku." Dengan kalimat ini, bukan berarti Paulus menikmati kelemahan yang ada padanya atau ia bermain-main dengan pencobaan yang dapat membuatnya "jatuh". Sebaliknya, yang ia nikmati adalah kuasa Kristus yang bekerja menaunginya, mengontrolnya saat ia dalam keadaan yang lemah tak berdaya, dan bergantung penuh pada-Nya.

Kita banyak menemukan di dalam Alkitab tokoh-tokoh iman yang dipakai oleh Allah dengan luar biasa, berawal dari keadaan mereka yang lemah dan tidak berdaya. Musa tidak pernah dapat dipakai oleh Allah selama ia mengandalkan kekuatannya ketika ia menjadi pangeran Mesir. Tetapi, ia justru dipakai oleh Allah setelah menjadi buronan dan menjadi seorang gembala tak ternama, dan pada waktu kekuatan fisiknya tidak lagi bisa diandalkan serta merasa diri tidak pandai bicara. Dalam kelemahanlah, kekuatan Allah nyata. Allah juga memilih Daud dalam keadaan yang tidak pernah diperhitungkan oleh banyak orang, termasuk kakak-kakak dan ayahnya. Ia masih muda, remaja, dan pekerjaan sehari-harinya adalah penjaga domba.

Jika kita melihat ke dalam Perjanjian Baru, kita akan mendapati bahwa Yesus tidak memilih murid-murid yang memunyai kepandaian dan kuasa yang luar biasa, untuk melakukan pekerjaan yang sangat luar biasa, yaitu menjadikan seluruh bangsa murid-Nya. Sebaliknya, Ia memilih orang-orang sederhana: nelayan, gembala, dan orang yang lemah lainnya.

Yesus Kristus, Allah yang menjadi manusia, yang memunyai kuasa memimpin berlaksa-laksa bala tentara malaikat untuk mengambil alih dunia, malah turun sebagai manusia dan menjadi hamba yang dipukul, dihina, dan akhirnya mati di kayu salib sebagai orang lemah. Sesungguhnya, itu bukanlah Mesias yang diharapkan oleh orang-orang Yahudi yang mewakili pandangan dunia. Dunia mengharapkan seorang pemimpin yang akan mengubah dunia adalah seorang manusia yang datang dengan kekuatan dan kekuasaan yang luar biasa, tetapi Yesus memorakporandakan pandangan dunia. Ia datang menjadi manusia yang terbatas untuk membiarkan kuasa Allah, Bapa-Nya, yang tak terbatas masuk ke dalam dunia menjangkau mereka yang lemah.

Seorang teman saya pernah menceritakan tentang kisah menyedihkan yang terjadi di gerejanya. Sejak pendetanya yang berusia 70-an tahun meninggal karena penyakit kanker, gereja tempat ia berbakti mengalami kemunduran, baik secara kualitas maupun kuantitas. Walaupun beberapa pendeta telah diundang untuk melayani di gereja yang besar itu, tidak ada seorang pun yang mampu menandingi reputasi pendeta yang telah tiada itu. Sampai suatu saat, mereka mendapat seorang pendeta muda yang berusia belum 40 tahun untuk melayani gereja itu, seorang yang energik, pandai berkhotbah, dan kaya talenta. Dalam waktu singkat, gereja itu mengalami kemajuan, bahkan lebih dari yang pernah dicapai oleh almarhum pendeta mereka.

Namun, untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Suatu hari sang pendeta tersebut mendapat kecelakaan karena mobil yang dikendarainya ditabrak oleh sebuah kereta api. Walaupun ia tidak meninggal dunia, tetapi kedua kakinya harus diamputasi. Berbulan-bulan lamanya, ia mengalami perawatan di rumah sakit, sebelum ia bisa berjalan dan melayani kembali dengan kedua kaki palsunya. Betapa berat beban kejiwaan yang harus ia tanggung, dari seorang yang penuh dengan vitalitas menjadi seorang yang selalu berjalan dengan menyeret-nyeret kaki palsunya, dari seorang yang kompeten dan siap menolong siapa saja menjadi seorang yang invalid yang selalu dibantu oleh siapa saja. Namun, pergumulan batin yang ia alami tidak pernah seorang pun yang tahu. Ia tidak bisa menerima sorot mata belas kasihan dari jemaatnya karena kelemahannya.

Suatu hari, jemaat dikejutkan dengan berita bahwa pendeta muda mereka telah bunuh diri dalam ruang garasinya, dan meninggalkan sepucuk surat yang mengisahkan betapa beratnya menjalani hidup seperti itu. Saya hanya mencoba menghubungkan apa yang dialaminya dengan apa yang Paulus alami dalam kasus yang disebut "duri" dalam daging, yang membuatnya tidak bisa membanggakan dirinya selain selalu bergantung kepada Allah. Paulus melihat dengan perspektif lain, perspektif Allah, bahwa semakin ia lemah maka kuasa Allah semakin bekerja dengan sempurna. Dengan pemahaman ini, selama belasan tahun bahkan sampai akhir hidupnya, Paulus tetap bertahan untuk melayani Tuhan. Perpaduan antara kelemahan yang permanen dan kasih karunia Tuhan yang tak berkesudahan, menghasilkan buah-buah pelayanan yang lebat dan kekal.

Saya berusaha membayangkan apa yang terjadi jika pendeta muda itu sungguh-sungguh bisa menerima keadaan dirinya yang lemah, dan kemudian bergantung penuh pada kasih karunia Allah? Bukan tidak mungkin ia akan melihat buah-buah pelayanan yang jauh lebih lebat daripada sebelumnya.

Kelemahan sering kali membawa kita pada jalan buntu dan keputusasaan karena kita berpikir kelemahan membuat kita kontraproduktif, apalagi disertai dengan perasaan tidak layak. Namun, firman Tuhan saat ini menyaksikan hal yang sebaliknya. Di dalam kelemahan-kelemahan yang kita miliki, kita masih dapat menjadi seorang pemimpin Kristen yang efektif dan produktif. Dengan dasar itulah, kita tidak boleh berputus asa. Di dalam kasih karunia Tuhan selalu terbuka segala kemungkinan.

Namun, yang perlu kita cermati adalah tidak semua kelemahan akan menjadi tempat bekerjanya kuasa Allah dengan sempurna. Dari pergumulan Paulus, kita dapat melihat bahwa kelemahan yang mendatangkan kekuatan Allah adalah kelemahan yang diakui. Kita perlu jujur terhadap diri kita sendiri, terhadap Allah, dan juga orang lain bahwa kita bukan "superman" yang steril dari kelemahan. Tinggalkanlah kesibukan melabur citra diri, tanggalkanlah segala bentuk "perisai" yang membuat kita ingin tampak lebih dari keadaan diri kita yang sebenarnya. Satu hal yang tidak kalah penting yang harus kita ingat adalah, mengakui kelemahan bukan berarti kita terlena dalam kelemahan dan menjadikannya sebagai dalih untuk kita mendapat maklum dari orang lain. Sebaliknya, pengakuan itu membawa kita untuk sungguh-sungguh mencari dan bergantung penuh pada sumber kekuatan yang dari atas, yaitu kasih karunia Tuhan. Kasih karunia Tuhan itulah yang akan memberi dukungan kuasa yang tak ada habis-habisnya dalam diri kita dalam menghadapi kesulitan apa pun, sehingga kita akan dapat berkata seperti Paulus, "Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.... Sebab jika aku lemah, maka aku kuat" (2 Korintus 12:9-10a).

Mungkin tidak ada seorang pun dari jemaat di Korintus dan guru-guru palsu yang selalu mencari kelemahan-kelemahan Paulus untuk menjatuhkannya, pernah menduga bahwa selama ini pelayanan Paulus yang luar biasa itu dihasilkan dari seorang Paulus yang memunyai kelemahan yang permanen. Begitu permanennya sehingga sama sekali tidak ada tempat dalam pelayanannya untuk bersandar pada kekuatan dirinya sendiri, kecuali pada kasih karunia Tuhan.

C.S. Lewis berkata: "Rasa sakit/pedih adalah megafon Allah untuk membangunkan dunia yang tuli." Dengan penekanan yang sama namun aplikasi yang berbeda, saya ingin berkata, "Kelemahan adalah megafon Allah untuk menyadarkan setiap pemimpin Kristen bahwa ia bukanlah manusia yang luar biasa di luar kasih karunia Allah."

Diambil dan disunting dari:

Judul Jurnal: VERITAS, Volume 3, Nomor 2 (Oktober 2002)
Penulis : Benny Solihin
Penerbit: Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT), Malang 2002
Halaman : 187 -- 192
Kategori Bahan Indo Lead: 
Jenis Bahan Indo Lead: 
File: 

Komentar